Different Side

Different Side
BAB 1: Dari Pandangan Turun Ke Perasaan



Gadis berambut Shaggy sebahu itu sedang terburu-buru menyelusuri koridor sekolah. Dia tak peduli dengan teriakan bariton sang satpam yang terus memanggilnya sedari tadi.


Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya yang sudah menampilkan sederet angka 07.43. Waktu bunyinya bel sekolah sudah berjalan selama 13 menit dan sekarang dia baru sampai ke sekolah, berarti kata 'terlambat' sudah tertempel dirinya.


Meisya Kyrana Aurel, dialah gadis yang kini tengah berdiri di ambang pintu kelas. Kalau saja dia tidak lupa bahwa hari ini wali kelasnya yang killer akan masuk untuk proses pembelajaran matematika, mungkin ia tak akan menonton anime film favoritnya hingga larut malam. Keringat dingin sudah bercucuran di dahinya. Sebentar lagi, hukuman akan menantinya di dalam.


Seteguk liur sudah ditelannya dalam-dalam. Tangannya mulai memutar perlahan gagang pintu. Suara gesekan daun pintu terdengar nyaring.


Ketika setengah terbuka, tiba-tiba... mendarat sebuah benda keras hingga menumbuk wajahnya yang molek itu, lalu jatuh ke lantai. Seisi kelas terkejut ketika melihat Meisya yang mendadak masuk sampai terkena lemparan penghapus papan tulis oleh salah satu teman sekelasnya yang sedang iseng bermain.


Tapi, bukan ekspresi marah yang ditujukan oleh gadis itu malah ia mengelus dadanya pertanda perasaan lega karena wali kelasnya, Pak Devan belum tampak batang hidungnya ketika sorot mata Meisya menangkap meja guru itu. Ia kemudian melangkah ke kursi duduk nya dengan santai.


Seketika para penghuni kelas menertawakannya, mereka tahu sepertinya Meisya tak menyadari tentang tumbukan penghapus tadi, pikiran gadis itu sudah melayang entah kemana akibat takut yang berlebihan karena datang terlambat.


Sampai-sampai kejadian disekitarnya pun tidak dihiraukannya lagi. Alis Meisya berkerut, mengekspresikan kebingungan. Kenapa mereka tertawa? apa aku terlalu menor memakai make-up? pikirnya.


Seorang gadis bertubuh mungil dengan rambut diikat ekor kuda menghampirinya yang sedang dilanda kebingungan. Dia lalu duduk di samping Meisya seraya memberikan cermin kepadanya.


Gadis itu pun menatap pantulan dirinya, terpampang mukanya penuh belepotan dengan bubuk hitam yang menempel di sana. Ia lalu cepat-cepat menghapus noda tersebut dengan tisu yang selalu dia bawa di tas.


Gadis yang kini tengah tertawa kecil menatap tingkah Meisya adalah Divya, sahabat kecilnya. Setelah bersih tersapu, Ia mengembalikan cermin sahabatnya itu kemudian berdiri anggun.


Dengan rasa bangga dia mengumumkan bahwa bekas noda hitam itu sudah hilang. Teman-teman sekelasnya langsung geleng-geleng kepala, mereka sudah pasrah dengan sikap Meisya yang sangat blak-blakan. Bahkan dia tak punya rasa malu ketika kejadian tersebut menimpa dirinya.


Tapi di sisi lain, Meisya memiliki sifat tegas yang bisa membuat orang tunduk kepadanya. Dia sering menjadi ketua dalam setiap pemilihan umum anggota kelas ataupun sekolah, di ruang kelasnya sendiri dia sudah menjabat sebagai ketua kelas.


Seperti sekarang ini, teman sekelasnya yang tak sengaja melempar penghapus tadi mendatangi Meisya sambil meminta maaf atas perbuatannya. Mereka langsung mengaku tanpa ditanya lagi.


Sudah seharusnya, Meisya sebagai korban layak memaafkannya. Gadis periang itu bahkan memberikan coklat kepada temannya tersebut sebagai apresiasi karena telah jujur kepadanya.


Sebuah rangkulan berlabuh di bahu Meisya ketika gadis itu selesai beradu pengakuan dengan teman yang melemparinya penghapus tadi, dialah Nanda salah satu teman lelaki yang paling dekat dengannya.


Mereka sangat dekat sampai-sampai pernah tersebar beberapa rumor berpendapat bahwa mereka berpacaran. Tapi, itu hanya mitos belaka. Meisya hanya menganggap Nanda sebagai teman berharganya saja.


"Buat apa aku memberikan mu hadiah, kau kan tidak berbuat kesalahan apapun. Jangan mencubit pipiku sembarangan, Nanda!"


"Jadi, aku harus melakukan kesalahan dulu kalau mau diberikan hadiah oleh mu, begitu?"


"Hadiah itu kan sebagai apresiasi dari aku karena telah jujur. Amit-amit, aku memberikannya buat orang yang suka berbohong. Kalau kau yang berbuat kesalahan sampai tahun depan baru kau mengaku atau mungkin tidak pernah."


"Hahahaha, rupanya kau lebih tahu aku ya."


Meisya mengacak rambut Nanda geram ketika lelaki itu dengan beraninya mencolek hidungnya. Melihat tingkah konyol mereka membuat seisi kelas melempar sorakan riuh 'cie-cie' kepada keduanya, membuat kegiatan mereka terhenti dengan efek salah tingkah.


"Kalian ini sudah seperti pasangan romantis saja!" seru Divya saat Meisya sudah duduk kembali ke tempat asalnya begitu pun Nanda.


"Tidak kok, kami itu cuman teman, nggak lebih!" Bantah Meisya tak terima.


Divya langsung memutar bola mata malas ketika menerima tanggapan sahabatnya itu, gadis itu terlalu tidak peka terhadap perasaan disekitarnya. Entah sampai kapan, Meisya bisa merasakan sepucuk rasa cinta yang mulai tumbuh di dalam dirinya.


Waktu terus berdetak hingga jarum jam sudah berdiri di pukul 08.00 wib. Tumben sekali Pak Devan belum juga masuk, biasanya beliau sudah mengambil posisi di kelas sebelum bel berbunyi, untuk berjaga-jaga agar tidak ada satu pun muridnya yang terlambat datang. Tapi kali ini berbeda, barangkali urusan beliau sudah menumpuk jadi ia lupa ada jadwal mengajar di ruang kelasnya sendiri.


Tak lama kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar. Seorang pria paruh baya dengan wajah khas dinginnya memasuki kelas dengan membawa seorang laki-laki imut dengan rambut poni yang sedikit menutupi sebagian wajahnya.


Detik itu juga, tanpa di beri aba-aba jantung Meisya sudah berdegup kencang seperti terkena listrik. Pandangan nya tak pernah lepas dari lelaki tersebut. Sepertinya sesuatu yang lain telah mekar di hatinya.


"Saya minta maaf karena sedikit terlambat, karena ada urusan penting yang harus diselesaikan. Baiklah, Hari ini, kita kedatangan murid pindahan dari SMA Chukyo, Jepang. Dikarenakan orang tuanya mendapat tawaran pekerjaan di Indonesia jadi mereka mulai tinggal di negara kita. Nah Nico, silahkan memperkenalkan dirimu."


"Selamat pagi, semua! Namaku Nico Ryosuke Yamada, kalian bisa memanggilnya Nico. Yoroshiku onegai shimasu!" ucapnya dengan logat bahasa Indonesia yang masih terdengar tabu sembari membungkukkan badannya.


Tiba-tiba, gebrakan meja menggema di ruang kelas. Asal dari suara tersebut adalah Meisya sendiri, dia sudah mengambil ancang-ancang dengan berdiri tegak di kursinya. Lalu...


"Nico, aku mohon jadilah pacarku!!!"