Different Side

Different Side
BAB 11: Hipotesis Sementara



"Nico, kau baik-baik saja?" Tanya Meisya ketika menyadari sikap Nico terkesan tegang dan tak biasa. Tak ada respon dari Nico semakin membuatnya dilanda kekhawatiran.


Meisya menepuk pundak lelaki itu, sontak Nico langsung menoleh menatap Meisya seraya berusaha bertingkah normal, menutupi gelagat anehnya. Tapi, Meisya sudah tahu itu.


"Kau tak pandai berbohong, Nico. Katakan apa ada sesuatu yang mengganjal hati mu?"


"Aku bersumpah tidak ada apa-apa. Mungkin Aku hanya merasa tak enak badan, tapi tak pa aku bisa mengatasinya. Kau tak perlu khawatir, Meisya."


"Kau yakin?"


Nico mengangguk mantap, mengulum senyum. Dia bereaksi semu begitu untuk meyakinkan Meisya supaya tak terkecoh dan curiga mengenai perubahan dirinya. Dia tak ingin Meisya jatuh ke pikiran negatif sebelum Nico mencari kebenarannya terlebih dahulu.


Nico tak tahu pasti apa ini ada hubungannya dengan kejadian penculikannya ketika berkencan di taman lalu. Biar dia dulu yang melakukan penyelidikan lalu setelah mendapat kesempatan yang mendukung barulah mengatakannya kepada Meisya.


Untuk kali ini Nico hanya bisa menduga-duga saja, belum ada kepastian yang kuat jadi dia tak perlu membeberkannya dulu. Untungnya Meisya langsung mempercayai ucapan Nico dengan tak banyak bertanya lagi dan kembali bersenda gurau dengan teman-teman lainnya.


Untuk surat ini dia pasti membutuhkannya sebagai petunjuk nanti, Nico pun buru-buru menyelipkan surat tersebut ke tasnya, lalu memperbaiki sikapnya dan lanjut bergabung dengan yang lainnya.


...***...


Kamar bernuansa mamba itu menjadi tempat latar belakang seorang lelaki yang tengah asyik membolak-balikkan sebuah surat dengan simbol ikan koi. Tatapannya mengintimidasi, berpikir keras bagaikan sebuah detektif yang berusaha memecahkan teka-teki.


Siapa lagi kalau bukan Nico. Dia sangat bingung sekarang harus mulai dari mana untuk menyelidiki surat putih ini. Sejak pulang sekolah tadi kepalanya hampir pecah karena terus-menerus dihantui oleh isi di dalamnya. Karena warga negara pindahan juga menjadi pemicu Nico susah untuk mengenal orang-orang di sini, tak tahu harus meminta bantuan siapa.


"hahhh!" Nico menghela napas panjang, menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Pikirannya buntu tak ada ide apapun yang didapat, yang ada justru menguras energinya.


Tiba-tiba, ketukan pintu terdengar. Nico menyuruhnya masuk dan tampaklah kakak laki-lakinya, Aizen, menghampirinya dengan membawa susu coklat panas.


Aizen yang melihat adik kesayangannya itu terduduk lemas seperti orang yang lagi tertimbun banyak beban berminat untuk bertanya seraya menaruh minuman tersebut di meja. "Kau kenapa, Ryo-chan?"


"Aku sedang bimbang, Kak. Ada masalah yang harus aku pecahkan dan ini sangat sulit. Aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikannya."


"Tugas sekolah?"


"Bukan, ini lebih rumit dan berbahaya."


Aizen pun duduk di kasur bermaksud untuk mendengarkan cerita Nico dengan seksama. Nico yang paham kode dari kakaknya langsung memulai bercerita.


"Jadi begini, kak. Tadi teman aku di sekolah dapat surat entah dari mana asalnya. Isi suratnya berupa ancaman seperti muncul hasrat untuk membunuh si penerima surat. Aku ingin menyelidikinya, aku tak ingin temanku ini terkena dampaknya dia sangat berharga bagiku. Tapi, aku tak tahu harus berbuat apa. Apa kakak saran?" Nico memberikan surat tersebut kepada kakaknya untuk dicermati.


Mata Aizen fokus membaca lantas mencerna tujuan dari surat itu. "Apa teman mu itu pernah terlibat dalam suatu kejadian? atau, Apa ada orang yang membencinya sampai berujung dendam? atau mungkin dia punya kesalahan tapi dia tak ingat lagi?"


Nico menggigit bibir bawahnya, lelaki itu tak berani menjawab. Sebenarnya ini tidak ada hubungannya dengan Meisya sama sekali tapi Nico lah penyebab utama Meisya menjadi korban.


Nico lah dalang dari semua ini. Kepala Nico menunduk beberapa lama, berusaha mengatur kalimat yang jelas untuk menjawab pertanyaan Aizen.


Diliriknya Aizen yang masih sabar menunggu, Nico menarik napas, dia pun menceritakan semuanya pada Aizen dimulai dari dirinya yang ditembak oleh Meisya saat pertama masuk sekolah, diajak pulang bersama, ketika pergi kencan ke taman garden world dan hal yang paling penting kejadian Nico diculik oleh dua orang asing yang sekarang telah mengubah keadaannya, menyeretnya dalam jurang malapetaka.


Aizen tampak manggut-manggut, dia tak habis pikir adiknya yang baru beradaptasi di negara ini sudah mendapatkan banyak masalah.


"Hmm.. sebelum kau diculik itu, kau sedang membeli gelang kan untuk Meisya?"


Nico mengangguk. Aizen memberi jeda sedikit lantas tatapannya beradu ke manik mata Nico, raut mukanya mulai serius.


"Kau benar, Kak. Tapi, bagaimana aku bisa ke sana? Aku baru pertama pergi dengan Meisya jadi tak terlalu hapal tempatnya."


"Kau bisa ajak pacar mu itu. Kalian kan harus saling membantu satu sama lain sebagai pasangan."


"Ish, aku kan sudah bilang, aku tak ingin melibatkannya dulu biar aku yang menyelidiki akar-akarnya setelah semua terkuak dengan jelas baru aku bisa mengatakannya. Aku tak ingin membuatnya tertekan dan khawatir."


"Baiklah, kalau begitu biar kakak saja yang menemani mu ke sana. Kau sudah jujur kepada kakakmu ini dan sebagai apresiasi aku akan membantu adik kesayanganku."


"Terima kasih, Kak. Kau memang kakak terbaik!"


Aizen tersenyum manis seraya mengelus kepala Nico lembut. Setelah itu, Aizen izin keluar dari kamar Nico.


Perasaan Nico sudah sedikit lega mengingat kakaknya, Aizen bersedia menyelami kasus ini bersama. Nico beranjak dari tempat duduknya dan merebahkan tubuhnya ke kasur. Besok akan menjadi hari yang paling sibuk, jadi dia akan mengecas energinya sepanjang malam ini. Matanya tertutup dan mulai menjelajah ke alam mimpi.


...***...


"Kak, ini tempatnya!"


Seperti yang telah dijanjikan, Nico bersama dengan Aizen pergi ke garden world untuk kedua kalinya. Mereka akan melakukan penyelidikan pertama di toko aksesoris ini. Mereka melangkah masuk, membuka pintu lebar-lebar. Penyusunan pernak-pernik masih sama seperti Minggu lalu saat kencan, indah dan berkualitas.


Agar tak mengundang kecurigaan oleh pemilik toko, mereka berperan layaknya pembeli biasa. Melihat-lihat aneka barang yang ada, menanyai harganya berapa dan mengetes apakah cocok atau tidak.


"Apa kau menemukan sesuatu, Kak?" Nico berbisik pelan.


"Belum, sepertinya ini akan lebih rumit dari dugaanku. Coba kau cari aja lagi, mungkin bersembunyi di tumpukan perhiasan kecil itu." Aizen menunjuk ke arah kotak-kotak perhiasan yang berjejer rapi di atas meja sudut.


"Ada yang bisa kami bantu?" Sang pemilik toko menghampiri mereka, sikap linglung mereka terbaca.


"Tidak ada, Pak. Kami bisa mencarinya sendiri." Aizen menjawab.


"Tak perlu sungkan untuk bertanya, saya bisa membantu memilihkan yang lebih bagus buat kalian. Siapa tahu kalian suka."


"Tak perlu, Pak! Kami bisa menyesuaikannya sesuai dengan daya tarik kami sendiri, Bapak tak perlu repot-repot memilihkannya."


"Tapi---"


"Permisi, maaf menganggu. Saya mau membayar barang-barang ini." Seorang pemuda berusia dua puluhan tahun dengan rambut keriting memotong pembicaraan mereka, tangannya penuh dengan aksesoris dan perhiasan yang ditaruh pada kotak kaca.


"Oh maafkan saya, silahkan ke kasir." Sang pemilik toko membimbingnya menuju kasir dan mulai melakukan transaksi jual-beli.


Entah kenapa, mata Nico menangkap sesuatu yang tak asing. Dileher si pemuda tersebut ada tato bergambar kalau tak salah mirip ikan koi. Nico memperjelas penglihatannya dan benar saja dia tak salah lihat itu memang ikan koi. Yang paling menarik perhatiannya ikan koi itu persis sama dengan simbol di surat ancaman tersebut.


"Ada apa, Nico?"


"Kak, itu, tatonya sama seperti simbol di surat yang semalam aku tunjukkan."


Aizen pun melihat ke objek yang disebutkan oleh Nico. Ya, tak salah lagi itu memang bentuk gambar ikan koi yang ada di surat.


"Nico, kita ikuti dia."


Nico pun mengangguk setuju.