
"Terima kasih, Nico." ucap Meisya sambil mengulum senyum.
Angin melambai kencang meruntuhkan dedaunan dari pohon maple yang berdiri tegak, seakan ikut memeriahkan hubungan kedua sejoli yang sudah terjalin itu dengan sengaja menebarkan serpihan-serpihan daun kuning dan menciptakan suasana hangat ke arah mereka.
Kemudian Meisya mendekati lelaki itu dan menggenggam tangannya. "Mulai sekarang kita akan selalu pulang bareng."
"Tungg---"
Tanpa menunggu jawaban dari Nico, gadis itu langsung menariknya keluar dari halaman sekolah. Meninggalkan seseorang yang menjadi saksi bisu mereka jadian di balik tembok gedung perpustakaan, tangannya mengepal erat.
Kedua pasangan itu telah sampai di pertengahan jalur dua. Dikarenakan rumah mereka berada di rute yang berbeda jadi mereka harus berhenti melangkah tepat di tengah persimpangan jalan. Meisya menatap Nico, terlalu berat baginya berpisah dengan lelaki imut itu padahal mereka baru saja merengkuh keakraban di hari pertama.
"Cepat sekali sampainya. Padahal aku ingin lama-lama berdua denganmu."
Nico tertawa renyah. "Yah, mau bagaimana lagi, rumah kita kan nggak berdekatan."
Meisya menghela napas lesu. "Yaudah lah, kalau begitu sampai ketemu besok di sekolah, Nico-chan!"
Lelaki itu tertegun, mendadak wajahnya memerah ketika gadis itu menambahkan kata "Chan" diakhir namanya. Lelaki itu langsung menutup mukanya dengan kedua tangan sedangkan Meisya sudah berlari meninggalkan Nico yang masih terdiam ditempatnya.
"Kenapa kau malah memanggilku dengan kata chan!"
...***...
Matahari sudah mengambil posisi di cakrawala, siap melaksanakan tugasnya. Begitu pun dengan gadis berambut Shaggy itu, dia telah tiba di sekolah pagi-pagi sekali karena tugas piket yang sudah menunggu untuk diselesaikan. Ia langsung bergegas masuk ke kelas sebelum siswa-siswi sekelasnya datang. Saat sampai di ambang pintu, tampak seseorang sedang meringkuk di atas meja.
Rupanya ada yang datang lebih awal daripadanya. Kelas masih dihinggapi sunyi hanya sederetan kursi dan meja yang berbaris di ruangan. Ia lalu menghampiri lelaki tersebut. Sepertinya dia tertidur, dengkurannya sedikit menggema di telinga Meisya. Gadis itu membiarkannya dan mulai mengambil sapu ijuk di belakang pintu.
Sebenarnya bukan hanya ia seorang yang menjalankan piket hari ini. Masing-masing dibagi dalam empat orang dalam satu hari untuk menjalankan jadwal piket. Waktu piketnya sudah ditentukan yaitu sepulang sekolah. Dikarenakan Meisya tidak sempat jadi dia memilih untuk melaksanakannya di pagi hari.
Urutan lantai meja dan kursi sebelah kanan telah disapu satu persatu. Dia menuju ke arah kiri. Ketika tiba di barisan meja kedua dari belakang, tak sengaja ia menyenggol bahu lelaki itu. Lantas, dia mengerang dan terbangun.
"Maafkan aku. Aku tak sengaja."ucapnya seraya menunduk.
"Kenapa kau cepat sekali datangnya, Meisya?"
Mendengar namanya disebutkan gadis itu langsung menengadahkan kepalanya dan menatap lelaki yang masih berusaha mengumpulkan nyawa itu. Reflek ia menepuk pipi Nico, sapu yang ada ditangannya sudah tergeletak di lantai. Nico merenggut kesakitan.
"Aduh! apa yang kau lakukan?!"
"Seharusnya aku yang menanyakan mu. Kenapa kau tidur di sini?"
"Lepaskan dulu tanganmu ini."
Meisya menurunkan tangannya dan duduk di hadapan Nico. Sambil menunggu penjelasannya, lelaki itu mengucek matanya sambil sesekali menguap.
"Tadi malam aku begadang karena keasyikan bermain game. Jadi, aku berniat datang lebih awal untuk tidur sebentar."
"Seharusnya kau jangan berlebihan bermain game. Kalau kau sakit bagaimana?"
"Jangan biasakan kelakuanmu itu. Aku tak ingin pacarku sampai sakit nanti."
"Iya, iya."
Gadis itu mengelus puncak kepala Nico. "Good boy!" Dan itu pasti membuat wajah lelaki imut itu memerah, ia menunduk tak berani menatap Meisya. Terbesit sebuah ide nakal dari pikirannya, ia jadi ingin selalu mengerjai pacarnya itu dan membuatnya malu. Ekspresi Nico terlalu menggemaskan baginya dan sayang kalau tidak digunakan.
"Ka..u ha..rus melanjutkan tu..gasmu itu,"ucapnya gugup.
Gadis itu hanya bisa tertawa lalu bangkit dan melanjutkan menyapu kelas. Waktu terus berjalan, satu persatu siswa kelas Meisya mulai berdatangan. Ia telah selesai mengerjakan tugasnya dan menaruh kembali sapu ijuk ke tempat semula. Sorot mata Meisya menangkap Nico yang tengah berbincang dengan tiga orang siswa.
Gadis itu menghampirinya. Karena tak ingin diganggu Meisya menyuruh ketiga siswa tadi untuk melepaskan obrolan mereka sebentar. Tentu saja, mereka langsung menyetujuinya. Saat keadaan sudah tenang, Meisya mulai menatap Nico lekat. Lalu tangannya menggenggam tangan lelaki itu. Nico gugup dan malu seperti biasa, dia sampai menutup matanya.
"Kau tak perlu menutup matamu, Nico."
"Maafkan aku. Aku belum terbiasa begini."
"Eumm... kalau begitu bagaimana kalau kita adakan kencan saja akhir pekan ini?"
"A...pa, Kencan?!"
"Iya, kau kan belum terbiasa jadi dengan kencan mungkin bisa membuat kita dekat dan mengenal satu sama lain. Sehingga kegugupan mu itu bisa lenyap. Bagaimana?"
Lelaki itu terdiam sejenak sambil memainkan pena di atas meja. Meisya sudah memasangkan mimik wajah super imut agar bisa meluluhkan hati Nico yang sedang berpikir.
Lelaki itu menghela napas. "Baiklah!"
Meisya bersorak kegirangan lantas memeluk Nico erat. Ia tak menyadari bahwa puluhan pasang mata sudah menatap tingkah mereka sedari tadi hingga seorang lelaki jangkung mendatangi mereka dan menarik tangan Nico, membiarkan kedua mata coklat itu saling beradu. Riuh-rendah mulai membisiki ruangan tak ada yang berani ikut campur, yang berada di kelas itu hanya bisa menyaksikan dimulainya perdebatan di posisi mereka.
"Apa yang kau lakukan pada, Meisya?! Dan kenapa kau dan Meisya bertingkah seperti orang pacaran begini!"
"Tenang dulu, Nanda! Aku bisa menjelaskannya. Tolong jangan buat Nico ketakutan begitu."
Nanda langsung melepaskan tangan Nico. "Apa yang sebenarnya terjadi?" Kini matanya berbalik memandang gadis cantik di depannya.
"Seperti yang kau lihat. Kami memang sudah berpacaran sejak kemarin sore. Aku yang kembali menyatakan perasaanku, kau tau kan? saat sesi perkenalan, aku sudah menyukainya."
"Apa?! Bukankah kau hanya bercanda waktu itu?!" Nanda terkejut mendengar penuturan Meisya. Selama ini gadis itu tak pernah berminat untuk menyukai laki-laki. Tapi, sekarang...
Tiba-tiba, seseorang membuka suara meredakan kondisi kelas yang semakin keruh. "Wah, ini berita besar. Aku tak menyangka kau akan menembaknya dua kali. Sifat pantang menyerah mu emang tak diragukan lagi." Ucap Dino, wakil ketua kelas.
"Iya, aku pikir ketua kelas kita tidak punya perasaan cinta seperti ini." sambung siswa lainnya.
"Selamat, Meisya!"
Akhirnya seisi kelas mulai membuka suara dan mendukung Meisya. Tak ingin membuat pertengkaran mereka berlangsung. Meisya mengukir senyum di bibirnya ketika melihat Nanda yang melotot ke arahnya seakan tak terima. Meisya lalu kembali ke tempat duduknya bersamaan dengan bel yang sudah berbunyi.