Different Side

Different Side
BAB 7: Rasa Khawatir



"Nico, kau tidak apa-apa? Dari tadi kau melamun terus. Apa ada masalah?" Meisya mendekatkan dirinya untuk melihat jelas wajah Nico. Sedari tadi lelaki itu hanya menundukkan kepalanya.


Dengan jarak yang begitu dekat, Nico tersadar dan sedikit tersentak. Dia memalingkan mukanya tak ingin Meisya melihat pipinya yang sudah merona. Walaupun mereka sudah cukup dekat tapi sifat Nico yang pemalu masih sering muncul.


"A..ku tidak apa-apa."


Gadis itu tidak puas dengan jawaban Nico. Ia juga merasa kesal karena Nico tidak menatap wajahnya ketika berbicara. Tangan Meisya menangkup kedua pipi Nico dan memutarnya ke depan. Tampak warna merah memenuhi wajahnya.


"Apa kau sakit? Mukamu merah sekali."


"Sudah ku bilang aku tidak apa-apa, Meisya."


Nada bicara Nico terdengar sarkas. Meisya memilih untuk tak menanyakan lagi. Sejak kejadian waktu kencan dua hari yang lalu Nico jadi lebih banyak diam. Hari ini pelajaran kedua kosong dikarenakan guru mengadakan rapat sampai jam istirahat. Meisya dilanda rasa bosan, Divya sahabatnya juga sedang absen katanya dia demam dari tadi malam.


Tak ada teman untuk diajak mengobrol, Meisya pindah ke samping Meja Nico yang kebetulan sedang kosong. Yah, seperti sekarang ini kondisinya tetap sama malah lebih parah. Dari tadi Meisya berusaha terus mengoceh memecah keheningan di antara mereka tapi lelaki itu hanya merespon dengan singkat.


"Sepulang sekolah aku ingin menjenguk Divya apa kau mau ikut?" Ajak Meisya antusias. Gadis itu sempat berpikir kalau Nico baru beberapa hari menginjakkan kakinya di sekolah SMA angkasa jadi tak ada salahnya kalau ia mengajak lelaki itu untuk lebih mengenal teman-teman dekatnya.


"Maaf Meisya, aku sedang tak ingin kemana-mana." tolak Nico seadanya.


Meisya menghela napas. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Nico. Rasa khawatir kini mengerubungi dirinya melihat sikap Nico yang begitu dingin. Karena merasa tak enak Meisya akhirnya kembali duduk di tempatnya. Ia melirik Nico sekilas, lelaki itu telah fokus ke buku pelajaran yang ada dihadapannya.


......***......


"Divya, aku masuk ya!!" Meisya sudah berada di depan pintu kamar Divya sambil menenteng parsel yang berisi buah-buahan. Sebelumnya dia sudah mengabari sahabatnya itu kalau dirinya akan datang menjenguk.


Terdengar sahutan dari dalam. Meisya pun membuka pintu dan mendapati Divya terkulai lemah di kasur pokemon nya. Seulas senyum menyambut Meisya ketika ia sudah duduk di samping gadis imut itu.


"Apa demam mu sudah turun?" tanya Meisya begitu selesai menaruh parsel di atas nakas.


"Lumayanlah." jawab Divya singkat. Mana pacarmu itu? Dia tidak ikut?" Mata Divya yang tidak menangkap sosok Nico menjadi penasaran, biasanya kan mereka sering pulang bareng semenjak berstatus menjadi pasangan.


"Entahlah, katanya dia tidak ingin ikut. Dia tidak ingin kemana-mana hari ini." Jawab Meisya terus terang.


"Apa kalian berantem?"


Gadis itu tidak menjawab. Pikirannya menerawang. Apa ia telah berbuat suatu kesalahan? Sangat tak logis jika Nico marah kepadanya tanpa sebab. Meisya menghela napas, memikirkan perasaan orang lain itu begitu rumit.


Divya menepuk pundak sahabatnya itu. Ia tak perlu menunggu jawaban dari Meisya karena baginya jika gadis itu sudah diam maka sudah tentu jawabannya 'iya'.


"Kalau ada masalah kau perlu selesaikan itu secepatnya. Kau harus tanya ke Nico alasan kenapa dia bisa marah sama kau." Nasehat Divya.


"Baiklah, nanti aku tanya ke dia. Terima kasih Divya."


Divya hanya menyunggingkan senyumnya. Setelah itu, mereka tidak membahas Nico lagi melainkan mengganti topik tentang keadaan sekolah hari ini dan seterusnya berlanjut dengan percakapan random mengisi waktu mereka.


Meisya sangat menyukai pemandangan senja. Maka dari itu, ia mengambil langkah pelan-pelan untuk menikmati ciptaan tuhan yang satu itu. Selang beberapa menit, tiba-tiba terdengar deru motor mengikuti langkahnya dari samping. Meisya pun berhenti dan menoleh ke arah pemilik motor tersebut.


Dia melepaskan helmnya. Ah! rupanya Nanda.


"Kau dari mana saja, aku tak melihatmu tadi sepulang sekolah."


"Oh itu, aku tadi menjenguk Divya. Kau tahu kan dia sedang sakit."


Nanda mengangguk mengerti. "Kau mau pulang kan? Sini biar aku antar kau ke rumah. " Lelaki itu menyodorkan helmnya kepada Meisya. Gadis itu tampak ragu menerima tawarannya.


"Tak apa Nanda, aku bisa pulang sendiri, kok."


Dari raut wajah Meisya, Nanda tahu bahwa gadis itu keberatan. Semenjak Meisya pacaran hubungan pertemanan dia dan gadis itu menjadi renggang. Padahal sebelumnya tak jarang mereka sering pulang bareng bahkan nongkrong hingga sore begini.


Nanda dan Meisya sudah berteman sejak kelas 1 SMP. Mereka terjalin karena bisnis antar keluarga. Bagi Nanda, Meisya adalah cinta pertamanya tapi karena sifat gadis itu yang tidak peka dia harus memendam perasaan itu. Tak masalah baginya, asalkan mereka tetap berteman. Tapi mendengar kabar Meisya menembak Nico secara terang-terangan membuat hatinya sakit.


Bagaimana bisa Meisya yang sudah bertahun-tahun bersama dengannya tak menyadari perasaannya itu. Terkadang menjadi orang asing yang dicintai itu lebih baik daripada menjadi teman dekat yang tak terbalas perasaannya.


Walaupun begitu ia tidak peduli dengan kondisi apapun yang dihadapinya nanti. Meisya adalah teman berharganya bahkan sampai kapanpun itu.


"Ayo cepat naik! Aku nggak mau dengar nanti ada berita tentang penculikan gadis SMA yang pulang sendiri."


Mendadak Meisya tertawa renyah. "Kau terlalu khawatir, Nanda. Itu tidak mungkin terjadi. Siapa coba yang mau menculik ku, kalau ada sini aku retak kan ginjalnya."


Nanda dibuat melongo dengan perkataan Meisya, detik selanjutnya tawanya lepas. Merasa gemas, tangan Nanda mengacak-acak pelan rambut Meisya.


"Yaudah cepetan naik! Nanti Bibi khawatir kalau kau masih keluyuran begini."


Meisya akhirnya naik ke jok motor Nanda dan menyambar helm yang ada di tangan lelaki itu. Meisya tahu bahwa ini tak baik baginya, tapi Nanda tetaplah teman dekatnya jadi mungkin tak masalah. Selama perjalanan, mereka banyak bercerita tentang masa lalu seperti teman yang sudah tak lama berjumpa, mengulang semua kenangan yang pernah tercipta.


Mereka pun sampai ketika azan berkumandang lewat surau tak jauh dari blok rumah Meisya. Gadis itu turun dan mengembalikan helm milik Nanda.


"Terima kasih sudah mengantarku, Nanda."


"Tak masalah. Oh ya, sebelumnya aku minta maaf karena sudah marah-marah kepadamu dan juga Nico waktu itu." Ungkap Nanda.


"Tidak apa-apa, aku juga salah karena tidak memberitahukan mu. Seharusnya sebagai teman aku tidak menyembunyikan apapun."


"Oke lah, Kalau begitu aku pergi dulu ya." Ucapnya yang langsung menyalakan mesin motor dan pergi berlalu dari hadapan Meisya.


Meisya masih berdiri memandang punggung Nanda yang sudah jauh lalu menghilang di belokan. Gadis itu pun berbalik ingin membuka pagar rumah. Tapi, tangannya terhenti ketika derap langkah seseorang menggelitik telinganya. Meisya pun menoleh.


"Nico!"