
"Aduh Divya, jangan teriak-teriak dong, malu diliat orang."
Sorot mata Meisya sudah menyebar ke kalangan kantin, dia menyadari bahwa puluhan pasang mata sekarang sedang menatap ke meja mereka. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian gara-gara kehebohan sahabatnya itu.
"Iya, iya, maaf."
Divya segera duduk sebelum Meisya lebih mengomelinya lagi. Dia langsung menatap binar ke arah gadis itu seakan menunggu jawaban yang sudah menumbuk untuk siap dibongkar.
"Huh!.. jadi begini, entah kenapa, Nico sudah mencuri hatiku ketika perkenalan tadi. Jantungku berdebar dengan sendirinya saat menatap lelaki itu. Aku yakin pasti ini perasaan cinta yang menggebu-gebu dan sudah saatnya aku mengungkapkannya."
Meisya menepuk dadanya, dengan kepercayaan yang tinggi menjulang dia yakin Nico pasti menerimanya.
"Kau ini benar-benar percaya diri sekali, aku jadi iri, deh! Baiklah, aku akan mendukungmu, Meisya. Aku berharap cinta kau itu terbalas, ya."
"Terima kasih, Divya! kau benar-benar sahabatku yang paling pengertian deh!"
Mereka kembali menyantap bekal sampai habis sebelum bel tanda pelajaran dimulai berdering. Selesai menghabiskan bekalnya, Meisya memilih pergi ke toilet terlebih dahulu sebelum kembali ke kelas. Saat tiba di sana, tak sengaja dia menciduk seorang laki-laki yang tengah dihadang oleh sekelompok kakak kelas.
Salah satu kakak kelas tersebut memukul perutnya hingga membuat dia merintih kesakitan. Gadis itu langsung mendatangi mereka untuk segera melerai takut terjadi pertengkaran yang lebih besar.
"Hei, berhenti kalian bisa melukainya!!"
Mereka terkejut dengan kedatangan Meisya dan berhenti menghajarnya.
"Kenapa kau malah ikut campur. Ini bukan urusanmu, gadis blak-blakan! cepat minggir!"
Meisya tersenyum miring mendengar sebutan atas namanya. Dia merasa bangga bahwa dirinya terkenal dikalangan kakak kelas. Walaupun mereka menyebutnya demikian, dia tidak pernah tersinggung tapi jika kejadiannya seperti ini dia takkan terima. Meisya menarik kerah baju laki-laki berambut cepak di hadapannya itu, sepertinya dialah ketua dari sekelompok ini.
"Aku memang blak-blakan. Asal kau tahu seberapa blak-blakan nya aku sampai ingin menghajar wajahmu yang penuh dosa ini. Cepat pergi atau aku akan melakukannya."
"Ba...iklah ka..mi pergi sekarang."
Melihat amarah Meisya yang sudah membara membuat mereka langsung berlari tunggang langgang. Gadis itu kesal sekali kenapa coba Kakak kelas harus bersikap seperti itu, seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada bawahannya. Toilet pun sudah sepi kini tinggal dia dan laki-laki yang dihajar tadi. Meisya berbalik ke arahnya dan mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri.
"Kau tidak apa-apa, kan?"
Dia mendongak ke arah Meisya. Sungguh diluar dugaan, ternyata lelaki itu adalah si murid pindahan berwajah imut, Nico. Kemudian dia mengangguk lalu menyambut tangan gadis itu.
Lelaki itu sedikit salah tingkah saat bertatapan langsung dengan orang yang telah berani menyatakan cinta kepadanya. Pupil mata Meisya menubruk luka lebam yang ada di wajah Nico serta bibirnya yang berlumur sedikit darah.
"Nico, kau terluka." Gadis itu memegang pipi Nico. "Kau harus diobati, ayo kita ke UKS!"
"Eh! itu..."
Tangan lelaki itu langsung ditarik oleh Meisya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Sesampainya di ruang UKS, Meisya menyuruh Nico duduk di atas kasur, dia mengambil kotak P3K dan menaruhnya di atas meja.
"Kenapa kau bisa dipukuli sama mereka, apa kau melakukan sesuatu?"
Nico menggeleng. "Aku tidak melakukan apapun."
"Mereka itu!! benar-benar perlu dihajar, deh! maaf ya, baru pertama masuk sekolah kau sudah mendapat perlakuan buruk seperti ini."
"Kau tidak perlu minta maaf, aku tidak apa-apa kok!"
Nico mulai menatap wajah Meisya ketika gadis itu fokus sekali mengobati lukanya. Pesonanya benar-benar manis sampai membuat ia tak bisa memalingkan mukanya. Cukup lama ia terpikat dengan rupa Meisya hingga tak menyadari bahwa gadis itu sudah selesai dengan tugasnya.
Meisya memanggil Nico tapi dia tetap tak bergeming. Sepertinya gadis itu tahu kenapa Nico sampai tak bisa lepas memandangnya, terbesit sebuah ide jahil dipikirannya. Perlahan dia memajukan kepalanya ke arah Nico. Dan...
Sebuah kecupan mendarat di pipi lelaki itu. Tentu saja, itu membuat Nico terkejut setengah mati. Dia tak tahu harus berbuat apa lagi, bubuk -bubuk merah sudah terbit di kedua pipinya.
"A...pa ya..ng sudah kau la..kukan?"
Lihat, dia sampai tergagap berbicara dengan Meisya. Justru itulah yang membuat gadis itu semakin gemas dan menyukainya. Meisya hanya tertawa kecil melihat reaksi Nico. Sebelum dia beranjak dari ruangan itu, Meisya membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kau menatapku begitu lama, apa berarti kau sudah menyukaiku sekarang? Aku akan menunggu jawaban darimu nanti sepulang sekolah di taman. Jadi, tunggu aku ya!"
Gadis itu pun lenyap dari balik pintu meninggalkan Nico yang masih perlu menjernihkan pikirannya dengan apa yang baru saja terjadi.
...***...
Meisya tengah duduk di bangku taman sembari menunggu kedatangan Nico. Bunga-bunga taman mulai bermekaran seakan mendukung dirinya dengan memberikan sensasi yang pas buat menyatakan cintanya kembali. Tak butuh waktu lama, dari kejauhan tampak seorang laki-laki sudah berjalan mendekatinya.
"Kau datang tepat waktu, Nico."
Meisya tersenyum manis sampai-sampai membuat Nico salah tingkah lagi. Wajahnya disembunyikan di bawah syal yang di pakainya.
"Anak inu sangat baperan sekali!" batinnya.
"Baiklah, aku ingin menyatakan kembali perasaanku padamu, Nico. Tak perlu penjelasan yang berbelit-belit dan kau hanya perlu menerimanya saja. Aku menyukaimu, Nico! Maukah kau menjadi pacarku?"
Hening menyelimuti mereka sejenak. Masih dengan wajahnya yang sedari tadi menunduk. Meisya menunggu dengan sabar barangkali Nico tengah berpikir keras tentang perasaannya. Beberapa menit pun berlalu, Nico masih tetap diam dan Meisya sudah lelah menunggu.
"Ah sudahlah, seharusnya aku tidak mengatakannya terlalu cepat. Maafkan aku karena telah menganggu mu, kau pasti merasa tak nyaman dengan semua ini. Kalau begitu aku akan pergi."
"Tunggu!... kalau kau mau menembak seseorang, kau harus menunggunya. Kau ini benar-benar tak sabaran." Nico menatap gadis itu lekat dan menyunggingkan sebuah senyuman yang mampu membuat jantung Meisya berdebar kencang.
"Baiklah, aku mau menjadi pacarmu."