
Sontak seluruh penghuni kelas langsung mengedarkan pandangannya ke arah Meisya, terkejut batin. Suasana kelas seperti ditelan bumi, semuanya membisu. Tingkah gadis itu benar-benar berlebihan kali ini.
Bagaimana bisa dia seberani itu bahkan sampai mengungkapkan perasaannya di saat sesi pembelajaran? pertanyaan itu menggelembung di setiap pikiran orang-orang yang tengah menatapnya. Divya yang mulai merasa jengah berusaha memperingatkannya pelan agar bersikap normal.
Meisya tidak peduli dengan keadaan sekitarnya, seakan-akan dunianya telah tenggelam dan hanya menyisakan dia yang sedang menunggu jawaban dari murid pindahan itu. Bahkan gadis itu tak menyadari bahwa dia telah memancing emosi guru dingin yang ada di depannya.
Gejolak amarah telah membara di tubuhnya Pak Devan terlihat dari ekspresinya yang sedari tadi membisu, biasanya pria itu sudah kebal dengan sifat blak-blakkan Meisya sehingga dia tidak terlalu menghiraukannya.
Beliau terlalu pelit untuk menguras tenaga hanya untuk menangani murid rusuh seperti Meisya. Tapi, sekarang dia seperti singa yang siap menghantam mangsanya, dan itu membuat seisi kelas merinding seketika.
"Kenapa kau diam saja, Nico? Apa kau tidak mau menjadi pacarku? Ayolah! jangan membuatku menunggu, kau hanya perlu mengatakan 'iya' dan semua akan kelar."
Meisya bersikeras membujuk Nico atau lebih spesifiknya memaksa Nico untuk menuruti keinginannya.
"Meisya Kyrana!! sudah cukup dengan tingkah memalukan mu itu! Tidak bisakah kau bersikap dewasa sekali saja? Jangan Kekanak-kanakan begini, kau tahu kan ini masih dalam sesi belajar. Kau membuatku harus menguji kesabaran setiap hari."
Akhirnya Pak Devan pun angkat bicara, sepertinya kesabarannya sudah sampai puncak batasan. Asal kalian tahu Pak Devan sangat jarang marah tapi sekali marah ucapannya bisa begitu dingin dan menusuk.
Oleh karena itu, semua murid yang berhadapan dengan Pak Devan tak akan berani melakukan suatu tindakan yang membuat nya terpancing emosi. Tapi tidak bagi Meisya, Bahkan Gadis itu sudah menjadi langganan melahap kata-kata bentakan dari Pak Devan. Meskipun demikian, Meisya sebagai murid yang teladan tetap harus mengikuti perintah Gurunya.
"Ck! Baiklah aku akan duduk diam. Tunggu saja Nico sepulang sekolah nanti aku akan memburu mu!"
Mungkin hanya dengan guru itu saja nyali Meisya sedikit menciut walaupun begitu dia takkan tinggal diam dengan incarannya yang belum didapatkannya.
Dari sikapnya yang blak-blakan bisa kita lihat bahwa Meisya adalah gadis yang sangat pantang dengan kata menyerah. Jika keinginannya belum terpenuhi maka dia akan berusaha keras untuk mencapainya, bukan berarti Meisya egois. Hanya saja prinsip itu sudah tertanam di dirinya.
Pria dingin itu pun melanjutkan sesi akhir perkenalan yang sempat tertunda tadi. Beliau menyuruh Nico untuk duduk di bangku kosong ujung dekat jendela. Tapi, tidak ada tanda-tanda respon dari lelaki itu. Dia hanya menunduk dan masih terpaku di tempat. Guru itu mencoba memanggil Nico, tapi tetap saja dia tidak bereaksi.
Apa yang terjadi padanya? Apakah dia sedang melamun sampai tidak mendengarkan suaraku? pikir Pak Devan. Dia pun menepuk pundak muridnya itu.
Saat Nico Mengangkat kepalanya, terlihat rona merah yang membara di sela-sela wajahnya bahkan dia sampai mengeluarkan air mata yang menyangkut di sudut mata kanannya. Tentu saja itu membuat seisi kelas tertegun.
Nico benar-benar tersipu dengan pernyataan Meisya bahkan dia sampai tidak berani memalingkan mukanya untuk menatap wajah teman-temannya. Dan itu membuat seisi kelas menangkap gemas dengan tingkah murid pindahan itu apalagi dengan raut polosnya yang nggak ketolongan. Meisya yang menyadari itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan meraih tangan Nico.
"Apa yang kau lak---"
"Tenang, Pak! aku hanya ingin membawa Nico ke tempat duduknya. Dia pasti ketakutan karena perlakuanku tadi maka dari itu, aku yang akan bertanggung jawab!" Setelah mengatakan itu, dia lalu menarik Nico dan mengusungnya ke tempat duduk lelaki itu.
Untuk mengubah perilaku Meisya membuatnya harus berpikir dua kali dalam mengarunginya. Dia tak punya pilihan lagi selain membiarkan Meisya bertingkah sesuka hatinya, walaupun itu selalu mengusik pikirannya. Membuat gadis itu diam sudah cukup baginya selama sesi pembelajaran tidak terganggu.
Selepas itu Meisya kembali ke tempat duduknya. Waktu pembelajaran pun dilangsungkan oleh Pak Devan sampai bel istirahat berdering memanggil.
...***...
"Meisya, kau benar-benar sudah gila! Bagaimana bisa kau berbuat hal memalukan seperti tadi. Astaga, aku sampai merinding duduk di samping tahu, nggak?"
Jam istirahat telah datang. Seperti biasa, dua sahabat karib itu tengah menghabiskan waktu emas mereka di pojokan kantin. Dilihat dari sifat ekstrovertnya Meisya bukan berarti dia harus ikut berkumpul dalam situs keramaian kantin, gadis itu lebih suka memilih tempat yang tenang bersama dengan teman berharganya.
Sembari menyantap bekal mereka masing-masing, membincangkan kejadian yang baru saja terjadi sudah diterapkan sebagai kebiasaan mereka.
Seperti sekarang ini, Divya langsung menyambarnya dengan topik "tingkah gila Meisya" yang menjadi awal pembahasan mereka. Tahu kemana arah percakapan mereka kali ini, membuat gadis itu tersedak oleh teh dingin yang baru diminumnya.
"Kenapa kau malah mengambil topik tentang aku, sih!"
Kekesalan Meisya langsung disambut oleh tawa renyah gadis mungil itu. Divya kan hanya mengungkapkan pendapatnya saja, tidak seperti biasanya gadis itu merasa kesal seperti ini.
Gunjingan tentang sifat Meisya adalah hal yang lumrah bagi teman-teman sekelasnya, dan dia sama sekali tidak keberatan memang dasar sifatnya seperti itu. Tapi kali ini berbeda, sepertinya ini akan menjadi hal yang rumit.
"Kenapa kau malah kesal, apa ada yang mengusik pikiranmu kali ini?"
"Aku gelisah, Nico tidak menjawab permintaanku. Apa jangan-jangan dia mulai membenciku karena tingkahku tadi. Aduh, aku harus bagaimana?!"
Rupanya karena hal itu. Wajar saja sih jika Nico sampai membencinya. Siapa coba yang nggak malu dengan peristiwa tadi bahkan orang yang nggak terlibat pun pasti akan merasa malu.
"Sudahlah, tidak usah memikirkan hal yang tidak penting. Oh ya, soal pengakuan kau tadi itu hanya candaan mu saja kan?"
"Aku serius lah, mana mungkin aku main-main dengan cinta pandangan pertamaku. Kalau bisa aku akan buat Nico jatuh cinta kepadaku. Sepulang sekolah nanti, aku akan mencoba menyatakan kembali perasaan ku."
Mendengar jawabannya Meisya langsung membuat ekspresi Divya berubah. Tegukan air yang sudah masuk ke dalam mulutnya nyaris meluncur keluar. Tiba-tiba, dia mengebrak meja keras.
"Bagaimana bisa????!!!!"