
Bel akhirnya berbunyi menyelamatkan para pelajar yang terjebak dengan angka-angka yang telah dua jam menyerbu diri mereka.
Gerbang sekolah terbuka lebar siap menyambut lautan manusia yang telah berhamburan keluar dari kelas. Percakapan riang terdengar menggema di kawasan halaman sekolah.
Tapi tidak bagi kedua pasangan yang masih menukik di dalam kelas itu. Yang satu tengah bertarung dengan soal yang diberikan oleh wali kelas mereka dan yang satunya lagi sedang menunggu dia nya selesai sambil menyalurkan beberapa penjelasan jika ada materi yang tidak di mengerti.
Nico menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia benar-benar merasa frustasi melihat sederetan aljabar yang bermain di lembar bukunya. Wajar sih, jika dia lambat menangkap pembelajaran yang diberikan selama ini.
Karena metode cara belajarnya berbeda dengan di negaranya yang dulu. Sebab lainnya, ketinggalan materi yang membuatnya harus bisa menguasai ulang.
"Kenapa kau tidak pulang aja, Sya? kayaknya aku bakalan lama dengan urusan ni." Lelaki itu merasa tak enak hati melihat Meisya menunggunya terlalu lama. Padahal tampaknya gadis itu juga sudah kelelahan.
Meisya yang sedang berselancar dengan layar handphonenya segera menghentikan aktivitasnya dan melirik Nico. "Nggak papa kok, aku juga belum pengen pulang cepat."
"Kau udah selesai atau mau aku bantu lagi?"
"Belum nih! tapi nggak pa aku bisa selesain sendiri. Kau duduk aja di situ."
Bukannya menuruti ucapan Nico, gadis itu malah merebut bukunya dan mulai mengotak-atik soal tersebut, memasukkan rumus dan menghitungnya. Lelaki itu sempat protes tapi Meisya malah menyuruhnya untuk diam. Lebih baik Meisya mengerjakan semuanya segera.
Waktu terus berlalu, senja sudah menampakkan dirinya di permukaan langit. Memamerkan keelokan di sepanjang wadah bumi. Cahaya jingganya menelusup masuk ke dalam kelas yang jendelanya dibiarkan terbuka.
Gadis itu telah selesai mengerjakan soal tersebut, ia meregangkan otot jari-jarinya yang kaku akibat kebanyakan menulis.
Dilihatnya Nico sudah tertidur di atas meja dengan pensil yang masih digenggamnya. Meisya tertawa manis seraya geleng-geleng kepala. Tak habis pikir segitu lelahnya ia menghadapi materi hari ini.
Lantas, ia pun ikut berbaring berhadapan dengan lelaki itu. Matanya menatap lekat setiap titik wajah Nico yang diprediksi kelihatan polos. Jika dipandang dari jarak dekat, wajahnya benar-benar terpahat sempurna. Meisya meraih rambut Nico dan mengelusnya lembut.
Tiba-tiba Ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Sejak pertama bertemu, daya tarik yang dimiliki lelaki itu sudah berhasil merampas hatinya sampai ia benar-benar jatuh cinta.
Meisya mengecup kening Nico pelan, jangan sampai lelaki itu tahu apa yang telah dilakukannya. Setelah itu, ia berusaha menggoyangkan tubuhnya supaya bangun.
Refleks rasa terkejut Nico itu langsung membangun kesadarannya dan mencari Meisya yang ternyata masih ada di depannya.
"Astaga Meisya..!! Maafkan aku, aku ketiduran. Jadinya, malah kau yang mengerjakan semuanya. Maaf, aku benar-benar minta maaf."
"Sudah, tidak apa-apa. Aku malah senang bisa membantumu, sekarang kemas semua peralatan belajarmu dan mari kita pulang."
Nico mengangguk, lalu cepat-cepat membenahi alat tulisnya ke dalam tas. Ia tak mau lagi terlalu membebani pacarnya itu. Tapi sebelum mereka keluar dari kelas, Meisya mengingatkan lagi tentang janji kencan mereka. Mereka sepakat di akhir pekan ini sekitar pukul tiga sore berlokasi di Garden world, Jakarta timur. Selepas itu, kedua sejoli itu langsung pulang bareng ke rumah masing-masing.
Dengan pakaian seadanya, setelan kemeja dan pink pastel serta tas selempang yang bergantung di bahunya, gadis itu secepat kilat berlari keluar dari pekarangan rumahnya.
Ia terlambat 15 menit dari waktu yang sudah ditetapkan akibat ketiduran terlalu lama plus rasa lelah menghantam dirinya. Habisnya tadi pagi ia harus membereskan seluruh rumah bersama pembantunya, Bi Asri. Kedua orang tua Meisya sedang menetap di luar negeri menangani beberapa pekerjaan yang sangat penting.
Tadi Nico sempat mengirim pesan kepadanya, lelaki itu bilang ia akan menunggunya di jalur pembatas yang biasanya tempat mereka pisah. Dan benar saja, tampak seorang laki-laki tengah berdiri sambil sesekali melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Nico...sorry aku terlambat. Kau sudah lama nunggu ya, aduh aku merasa bersalah banget nih."
"Iya nih, kita sudah ketinggalan bis untuk pergi ke sana."
"Kita masih bisa pesan taksi, bentar aku kirim chat sekalian share lokasi kita dimana."
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya taksi tiba. Keduanya langsung bergegas ke sana.
Dari gerbang masuk, mata kedua remaja itu sudah bisa menangkap keramaian yang telah memenuhi wilayah taman hiburan itu. Bahkan hampir menjelang sore hari pun gemericik suara riang dari pengunjung masih terdengar bising. Akhir pekan memang waktu surga bagi pecinta travelling.
Entah sadar atau tidak, Nico lekas menggandeng tangan Meisya sembari menariknya untuk masuk yang pasti membuat gadis itu terkejut batin. Baru kali ini, lelaki itu sendiri yang berinisiatif menyentuh nya duluan. Biasanya malu-malu kucing.
Ekspresi Nico tampak berbinar-binar ketika melihat suasana Garden world yang super fantastik, biasalah wisata Indonesia itu bagaikan penggoda cantik yang mampu menarik para turis terpesona dengan keindahannya.
Mereka langsung menikmati dan mulai memasuki wahana permainan satu persatu. Di mulai dari biang lala, halilintar, alap-alap, Turangga-rangga, poci-poci dan masih banyak lagi permainan lainnya yang akan mereka lahap.
Setelah beberapa jam puas bersenang-senang, kedua pasangan itu beristirahat sejenak di sebuah taman bunga.
Mereka duduk di bangku dekat kolam yang bertaburan dengan ikan koi. Netra Meisya menyaksikan beberapa orang melempar butir-butir roti ke kolam itu, ia tertarik dan mencoba untuk ke sana.
Ribuan ikan koi beraneka warna berkumpul seakan ikut menyambutnya. Ia jongkok lalu menggelitik permukaan air yang langsung mendapat respon dari moncong ikan itu. Tiba-tiba, entah debu nakal dari mana yang masuk ke matanya, setetes air meluncur deras membasahi pipinya.
Nico yang baru datang langsung panik dan kaget ketika menyadari gadis di sampingnya menangis.
"Siapa yang membuat mu menangis Meisya?! Apa ada yang terluka, apa ikan koi itu menggigit mu?"
Tawa gadis itu pecah, lantas segera ia mengelap air mata dengan tangannya. "Ikan koi tidak akan menggigit tanganku, Nico. Mereka tidak mempunyai gigi taring seperti piranha."
"Jadi, kenapa kau menangis? kau membuatku khawatir."