![Different Fate [SEASON 1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/different-fate--season-1-.webp)
Whuss..
Badai salju menyambut Ibukota dengan Ganas nya di pagi hari. Catherine menatap badai salju dari balik jendela kamar nya.
"Hah.. " untuk kesekian kali nya, Catherine menghela nafas berat.
Ahnna yang berdiri tidak jauh dari Catherine menatap Catherine penuh kehawatiran.
"Nona, apakah anda baik baik saja ?" Suara Ahnna membuyarkan lamunan Catherine.
Catherine terperanjat kaget lalu menatap Ahnna dengan kikuk. Catherine mengangguk dengan cepat. Cukup membuat Ahnna kembali tenang.
Catherine menatap Ahnna yang sedang menyapu kamar nya dengan serius membuat pelayan bersurai cokelat kehitaman itu bergidik.
"Nona? Ada apa? " tanya Ahnna. Catherine menggeleng.
"Tidak ada hanya mengamati saja" ujar Catherine blak blakan. Ahnna yang selesai menyapu segera keluar dari kamar Catherine.
Tepat sebelum Ahnna keluar, Catherine segera berlari menuju ke pintu kamar.
"Ahnna! Rin pergi keluar dulu!!! "
"Eeeh! Nona! Pakai mantel anda dulu! "
"Tidak mau berat!"
"Nona!!! "
Drap.. Drap..
Catherine berlari sekencang kencang nya dan bersembunyi di balik tembok.
"Nona! "
"Gyak! K-ketahuan.. " Catherine mengerutu dalam diam.
Beberapa menit kemudian...
"Nah, selesai jangan terlalu lama diluar Nona! " Ahnna berteriak dari depan gerbang mansion.
"Huh, iya Iya.. Ahnna berisik deh " gumam Catherine sembari berlari menjauh dari kediaman Duke Orzsebet.
Tap.. Tap.. Tap..
Catherine berjalan menuju ke arah taman Ibu kota. Banyak nya salju yang menumpuk membuat Catherine sedikit kesulitan berjalan.
"Uh, salju ini! "Gerutu Catherine sembari berjalan dengan susah payah.
"hah.. Sampai juga. " Catherine menghela nafas lega.
"Brrr,, ini dia kenapa aku membenci musim dingin! Uhhh dingin sekaliiiii! " Catherine mengosokan kedua tangan nya ke lengan untuk mengurangi rasa dingin.
Catherine berjalan menuju ke sosok gadis bersurai pirang kecoklatan yang tidak lain adalah Charlotte.
Dingin nya hari ini membuat nafas yang dikeluarkan Catherine seperti asap.
"Lottie!!" Catherine mendekat ke arah Charlotte sembari tersenyum cerah.
"Ah! Catherine, aku sudah menunggu mu" Charlotte mengengam kedua tangan Catherine dengan raut senang.
"Hehehe.. Kalau begitu ayo kita jalan jalan! "
"Um! "
Sayangnya, ditengah perjalanan Catherine tidak sengaja menabrak seseorang.
Brukk!
Kerena ukuran tubuh nya yang jauh berbeda dengan orang dewasa yang ditabrak nya, ia pun terjatuh.
"Aa...aduh.." Catherine mengaduh kesakitan.
"Oh, Catherine kau baik baik saja? " Charlotte segera membantu Catherine berdiri.
"Catherine Orzsebet.."
Degh!
'S-suara ini... '
•••
Disisi lain, Istana Azure..
Tok... Tok.. Tok..
"Tuan putri, tolong buka pintu nya... Anda belum makan apapun sedari tadi..." pelayan istana yang bertugas menyediakan makanan untuk tuan putri terlihat bingung sekaligus khawatir dengan kondisi tuan putri mereka.
Sudah beberapa kali usaha mereka, para pelayan dilakukan tapi, tetap saja Tuan putri mereka tidak mau membuka pintu kamar nya.
Bahkan Ethaniel de Arabella, Putra manhkota kekaisaran sudah mencoba membujuk sang adik agar mau keluar dari kamar.
"Apa yang terjadi? " Suara Kaisar mengejutkan para pelayan yang kebingungan.
Segera para pelayan berbaris rapi dan menunduk hormat.
"Segala kemakmuran dan kesejahteraan berkat perlindungan matahari kekaisaran..."
"Apa yang terjadi? " Kaisar mengulangi pertanyaan nya.
Salah satu pelayan pun segera menjelaskan.
"anu, yang mulia... Sebenarnya, Tuan putri setelah kembali dari luar tiba tiba saja langsung mengurung diri di kamar.. "
"Mengurung... Diri? "
"Ya.. Saya sendiri tidak tau penyebab nya " ujar Shelia, selaku pelayan yang mengasuh Tuan putri kekaisaran, Elenia de Arabella.
"Kalau begitu, aku akan masuk. " Sosok wanita paruh baya yang mason terlihat awet muda dengan surai pirang indah mendekati mereka.
"S-segala kemakmuran dan kesejahteraan berkat perlindungan matahari kekaisaran.. " serempak para dayang Istana azure membungkuk hormat.
"Bangunlah. "
"Apa yang terjadi dengan putri ku? " wanita berparas cantik itu bertanya.
"itu, yang mulia permaisuri... Tuan putri enggan keluar dari kamar nya setelah kembali dari luar.. " ujar Shelia.
Permaisuri mengangguk mengerti lalu segera berjalan menuju ke depan pintu kamar putri nya lalu membuka nya dengan sihir.
Ceklek...
"Elenia..? "
"Huh? Mama... " sosok gadis kecil bersurai pirang keemasan dengan mata emas permata berlari mendekati sang permaisuri dan memeluk nya.
"Hiks.. Hiks.. Hueeee mamaaaa" tangis gadis itu pecah di pelukan sang ibu.
"Ada apa? Kenapa Elenia menangis? " permaisuri mencoba bertanya setelah menenangkan putri nya.
"Hiks.. Itu, Elenia liat anak kecil main sama sama .." ucap gadis cilik itu yang terdengar ambigu.
'Anak.. Kecil? ' permaisuri mencoba agar tidak tertawa.
"apa Elenia mau teman seusia Elenia juga? "Tebak permaisuri yang diangguki pelan oleh sang tuan putri.
"Baiklah, nanti akan papa carikan " Kaisar mendatangi permaisuri nya dan putri nya.
"Benarkah? "kedua Mata Elenia berbinar senang apalagi setelah melihat kedua orang tua nya mengangguk.
"Tentu saja"
•••
CATHERINE POV
"Catherine Orzsebet.."
Degh!
Rasanya jantung ku berhenti berdetak. Aku...
'S-suara ini... '
Terasa familiar dan tidak salah lagi..
Ku dongakkan kepala ku menatap ke pria yang kutabrak.
Dia...
"Papa.. " ujar ku lirih.
Tidak mungikin! Papa bukanya pulang besok pagi?!
"Ho, tidak kusangka kau keluar tanpa izin " suara papa semakin memberat dan membuat ku merinding.
Kulirik wajah papa yang mengerikan lalu papa membalas menatap ku.
Degh!
Uh papa mengerikan...
Kukaitkan kedua tangan ku dan memainkan jemari ku untuk menghilangkan kegugupan.
Mendadak hawa dingin yang menerpa ku menjadi memanas.
U-uah... Ahnna, tolong aku!!!
"Rey, bawa Catherine ke kereta kuda. Jangan biarkan bocah sialan itu mendekati putri ku lagi."
"Baik tuan duke "
Dapat kulihat wajah terkejut Charlotte. Entah ia terkejut karena apa.
Rey mendekati ku lalu membersihkan mantel ku dari salju. Tapi, sebelum Rey sempat mendendong ku, papa langsung dengan kecepatan kilat mengendong ku membuat Rey dan aku terkejut.
'Cepat sekali... '
"Kau. " papa menatap Charlotte dengan tatapan laser nya. Cukup membuat Charlotte tidak bisa berkutik.
"Jangan pernah mendekati putri ku lagi. " papa berujar sebelum memasuki kereta kuda.
Rey pun segera menaiki kuda yang berada di samping kereta kuda.
.
.
.
AUTHOR POV
Leonard menatap putri nya yang sibuk memandangi jalanan ibukota yang penuh dengan salju.
Karena kejadian beberapa menit lalu membuat Leonard ingin marah, kesal, penasaran, dan sedikit senang.
Marah dan kesal karena putri nya keluyuran tanpa seizin nya dan Leonard yakin jika Catherine sudah sering keluar dari area kediaman Duke.
Penasaran karena bagaimana bisa putri nya ini dapat keluar dengan tenang tanpa dihadang penjaga gerbang?
Sedikit senang karena yang pertama dilihat nya adalah putri kesayangan nya.
Hah...
Leonard menghela nafas gusar. Bagaimana bisa putri nya begitu ajaib, sulit diatur dan menyukai kebebasan.
Sayangnya, saat Catherine marah. Itu mengerikan dan membuat Leonard sendiri merasa Deja Vu ia seperti melihat putri nya itu adalah cerminan nya sendiri saat marah.
Dan... Sifat sulit diatur dan jiwa kebebasan nya itu.. Benar benar mirip dengan..
"Apollonia.. " Ya. Ibu kandung Catherine.
Wanita itu bagaikan sinar matahari yang menyinari nya dengan kehangatan dan menarik nya dari kegelapan.
Sampai akhirnya wanita itu pergi meninggalkan nya hanya demi melahirkan gadis bersurai perak kebiruan yang duduk di hadapan nya ini.
Bohong jika Leonard tidak merindukan wanita itu. Jujur saja, ia amat merindukan sekali wanita yang sudah mengisi kekosongan hati nya.
Apollonia telah menepati bagian yang tidak bisa tergantikan di hatinya.
Dan karena dulu Leonard tidak dapat menjaga nya, Ia memilih untuk membuang hati nya. Setidaknya itu yang terjadi.
Namun, gadis mungil itu telah mengacak acak hidup nya sejak hari ketika dia memanggilnya 'papa' berhasil menghancurkan dinding yang selama ini ia bangun, ia menerobos masuk kedalam hatinya tanpa permisi dan dengan senang hati tinggal di dalam nya.
Apollonia, wanita yang memiliki jiwa bebas seperti burung telah pergi meninggalkan nya.
Dan sekarang, burung kecil yang selalu bergantung pada nya menunjukan ancang ancang untuk belajar terbang.
Ini Hanyalah masalah waktu sehingga Catherine meminta menjalani hidup nya dengan bebas.
Kalau begitu...
... Ia harus menjadi rumah yang besar dan nyaman untuk putri nya dapat berpulang.
Tok... Tok...
Rey mengetuk jendela.
"Tuan, kita telah sampai. "
"Hm. Ayo "
Leonard mengendong Catherine memasuki kediaman Duke Orzsebet.
"Papa, bukanya papa pulang besok? "
"heh, jadi kau ingin aku pulang besok ya? "
"Huh? T-tentu saja tidak! Rin rindu papa! "
"Oh benarkah? Lalu mengapa kau bersama bocah sialan itu? "
"Eh... I-itu.... Dia teman rin.. "
"Ohh apa perlu ku enyahkan dia? "
"Gyak! Tidak! Jangan! Huh, papa jahat!"
"aku memang jahat. "
"ck. Papa menyebalkan! "
Rey mengulas senyuman bahagia karena akhirnya tuan nya itu dapat tersenyum seperti itu kembali setelah sepeniggalan lady Apollonia.
-TBC-