Different Fate [SEASON 1]

Different Fate [SEASON 1]
10. (not) I The first time



.


.


.


.


.


°•Happy reading•°


.


.


.


.


.


Suara gemersik dedaunan yang tertiup angin dan kicauan burung dari kejauhan kini terdengar jelas oleh sosok gadis bersurai perak kebiruan yang masih tidur meringkuk di kasur nya.


Hari ini adalah minggu terakhir musim semi. Sinar hangat matahari masih menyinari kekaisaran dengan hangat nya.


Ceklek...


"Nona, saat nya bangun.. " suara Ahnna membuat Catherine membuka kedua mata nya.


"Hoam..." Catherine mengucek kedua matanya lalu merengangkan tubuh nya. Ahnna membuka tirai jendela membuat sinar matahari yang hangat memasuki kamar.


Ahnna segera membantu Catherine menyiapkan diri. Ahnna membawakan sarapan untuk Catherine ke kamar, selagi Catherine memakan sarapan nya Ahnna dibantu pelayan lain menyiapkan gaun yang akan dipakai Catherine hari ini.


Sehabis makan, Catherine pun mandi dibantu para pelayan. Seusai mandi, Ahnna mengeringkan rambut Catherine dengan handuk dan menyisir nya.


"Ahnna, " cletuk Catherine sembari menatap Ahnna dari cermin yang berada di depan nya.


"Ya Nona?"


"Um.. Tuan putri Elenia itu seperti apa? "


"Anda bertanya tentang apanya Nona? "


"Semuanya! "


Ahnna tersenyum lembut. "Tuan putri memiliki surai keemasan dengan mata emas seperti permata khas anggota kerajaan. Beliau anak yang ramah dan baik hati juga ceria. Begitu yang saya dengar Nona "


Catherine mengangguk.


Tok... Tok...


Suara ketukan pintu mengagetkan Catherine yang sibuk dengan pikiran nya.


"Masuk. " ujar Catherine tanpa pikir panjang.


Ceklek...


"ada apa? "Tanya Catherine dingin. Sepertinya Catherine kesal karena pelayan itu menganggu nya saat sedang berpikir.


Pelayan itu gemetaran merasakan atmofser yang dingin dan berat seperti tekanan milik Duke Orzsebet.


"A-anu... Itu, t-tuan Duke memanggil anda di ruang kerja nya... "


"Papa? " atmosfer pun kembali ringan.


"Y-ya.. "


"oh. Baiklah. " Catherine segera memakai gaun yang sudah disiapkan dibantu oleh Ahnna.


Selesai mengenakan gaun nya Catherine segera berjalan menuju ke pintu kamar nya.


"Kau, pergilah" ujar Catherine kepada pelayan itu. Pelayan itu mengangguk patah patah lalu pergi setelah membungkuk hormat.


Ceklek...


"Ayo Ahnna "


"baik"


•••


Lorong mansion.


Tap.. Tap... Tap...


"Nona bukan kah tadi anda terlalu dingin dengan pelayan tadi? "


"Hm? "


Catherine melirik ke Ahnna yang berada di belakang nya.


"Kurasa tidak. Pelayan itu mengangguku jadi dia mendapatkan hal yang setimpal." ujar Catherine yang entah kenapa terasa mengerikan dan sempat membuat Ahnna merasa Deja vu.


'Ucapan nona mengingatkan ku dengan ucapan tuan Duke saat aku sudah seminggu bekerja disini'


Ceklek...


"Papa? " Catherine muncul dari ambang pintu menatap Leonard yang sedang berkencan dengan setumpuk kertas dokumen laporan peninjauan di perbatasan.


Leonard menyadari kedatangan putri nya segera mencampakan kertas dokumen itu.


Menghampiri Catherine lalu mengendong nya menuju ke sofa.


"Papa, Rin sudah besar!" protes Catherine saat digendong oleh Leonard.


Leonard tersenyum miring.


"benarkah? Kalau begitu kau tidak usah memakan kue coklat kesukaan mu dan menghilangkan kebisaan mu merajuk untuk memakan coklat "


Catherine mendadak terdiam membeku. Papa nya ini benar benar licik! Dengan mudah nya membalas ucapan nya.


Melihat putri nya yang masih terdiam Leonard melanjutkan ucapan nya.


"Lalu kau harus menghentikan kebiasaan mencuri permen dan coklat dari dapur. " Leonard terkekeh.


Degh!


'B-bagaimana papa bisa tau hal itu?! ' Catherine menatap papa nya horor.


Apakah papa nya ini seorang Cenayang?


"S-sudahlah papa...! Lagipula kenapa papa memanggil ku? "


Oh? Leonard berhenti terkekeh lalu segera menatap putri nya.


"kau masih ingat surat undangan kaisar?" mimik wajah Leonard menjadi serius.


"masih. " Catherine memasang wajah serius.


"Sehabis ini kita akan segera ke istana. "


Hah?


Mulut Catherine menganga lebar dan tangan nya yang memegang sendok untuk memotong kue coklat mendadak jatuh dengan dramatis nya.


"Papa ada rapat dengan para bangaawan dan kaisar? " tanya Catherine setelah pulih dari keterkejutan nya yang amat dramatis.


Leonard mengangguk dan berdehem.


"kau harus bersiap sebentar lagi kita akan berangkat "


"HEEEEEEE?! "


•••


"Selesai. Sekarang anda bisa bercermin " ujar Ahnna seusai membantu Catherine mengunakan gaun.


Catherine segera bercermin. "Woah.. " dirinya berdecak kagum dengan penampilan nya sendiri.


Gaun yang dipakai Catherine berwarna putih gading dengan gradasi biru sedikit transparan layaknya warna lautan. Rambut perak kebiruan nya yang indah dikepang indah dengan mutiara putih yang menghiasi nya. Catherine mengunakan gaun sederhana namun begitu indah layaknya peri air yang turun bersama hujan di langit cerah.


Catherine sampai kehilangan kata kata melihat penampilan nya itu.


"Baiklah Nona, mari saya antar keluar menemui tuan Duke " ujar Ahnna memecahkan lamunan Catherine.


Catherine mengangguk lalu segera menuju ke gerbang mansion diikuti Ahnna.


Sesampainya di gerbang mansion..


Terlihat sosok pria jangkung bersurai hitam dengan iris mata crimson yang mempesona mengunakan jas hitam dengan dasi merah. Di bagian kanan dada nya terpasang lambang Duke Orzsebet, bulan sabit yang dililit oleh sulur berduri dan terdapat mawar yang mekar di sulur itu.


Pria itu, adalah Leonard, papa Catherine.


"Papa! " Suara nyaring Catherine membuat Leonard menoleh ke arah putri nya.


"Oh, sudah siap? " tanya Leonard dengan datar nya. Catherine mengangguk dengan sangat cepat.


"kalau begitu ayo "


"Um! "


Catherine segera menaiki kereta kuda dan duduk lalu membuka jendela. Leonard pun masuk dan duduk. Pintu ditutup.


Klotak.. Klotak...


Kereta kuda pun segera berangkat. Catherine melambaikan tangan nya ke arah Ahnna yang dijawabi seulas senyuman.


Klap.


"..... Papa, " cletuk Catherine.


"Hm? "


"Rin dengar kristal komunikasi sudah dirilis.."


Leonard menghentikan memeriksa dokumen nya dan menatap putri nya.


"Kau menginginkan nya? "


Catherine mengangguk dengan sangat antusias. "Tentu saja! "


"Heh. Menurut mu kau lebih memilih kue coklat atau kristal komunikasi? " Leonard menyeringai menatap putri nya.


Deg!


Catherine mengutuk papa nya dalam hati. Catherine tertawa canggung sembari mengaruk tengkuk nya yang tidak gatal.


"Rin... Suka dua duanya ehehe..." ujar Catherine sembari mengalihkan pandangan nya ke jendela.


"Hm begitu ya? Baiklah. " dengan datar nya Leonard hanya bergumam dan lanjut memeriksa dokumen yang sempat tertunda.


Catherine mengumpat dalam hati dan mengutuk papa nya dalam diam.


'Datar sekali.. '


Catherine pun menghibur diri dengan bermain sihir angin. Namun,,,,,


Angin itu mengacaukan dokumen yang dibaca oleh Leonard. Salah satu kertas dokumen itu menutupi wajah tampan Leonard. Catherine mendadak segera menghentikan sihir angin nya.


Menatap papa nya dengan ekspresi yang tidak terkondisikan.


Catherine ingin tertawa tapi takut dosa, ingin dosa tapi takut tertawa (?). Sungguh awkward. Catherine pun tidak tahan dan...


"Pfttt... Hahahahahahahah!!!! " Catherine tertawa lepas membuat kusir kuda yang berada diluar terkejut bersama dengan kuda kuda nya juga.


"...." Leonard mengambil kertas dokumen itu dari wajah tamvan nya dan menatap putri nya dengan datar.


Citra nya sebagai Duke Orzsebet yang paling sadis dan dingin mendadak hilang.


Dan...


Untuk kedua kalinya kesan berwibawa nya hancur di hadapan orang yang disayangi nya.


'Ah, ini memalukan' -Leonard


'Ahahahahahaha... Oke tahan.. Wajah papa mulai mengeras... Pfttt.... Ayo tahan Catherine... Pftttttt.... Hahahahahahahah.. Maaf papa aku tidak kuatttt'-Catherine


Kereta kuda mendadak terasa dingin oleh tatapan laser Leonard. Catherine yang masih tertawa tersadar dan menghentikan tawanya.


Mengaruk tengkuk nya yang tidak gatal mengalihkan perhatian nya ke jendela. Catherine berjanji dalam hati untuk tidak lagi menggunakan sihir angin nya secara berlebihan atau tidak kejadian tadi akan terjadi lagi. Catherine membayangkan wajah papa nya saat terkena kertas dokumen.


Hatinya tergelitik kembali. Catherine berusaha menahan tawa nya namun lagi lagi gagal...


"Pfffttt Bwahahahhahahaha... " tawanya pun lepas membuat Leonard merasa terkena bullying yang aneh karena putrinya ini.


"Hah.. Mereka berdua benar benar mirip...." gumam Leonard lirih di matanya terilhat kerinduan yang kuat.


Kereta kuda menjadi hening dengan kedua manusia yang memikirkan hal yang berbeda.


Leonard yang sedang bernostalgia dan Catherine yang memikirkan wajah lucu papa nya saat terkena kertas dokumen.


Catherine menyadari sesuatu.


'Entah kenapa aku merasa menjadi anak durhaka karena telah menertawakan papa... ' ringis nya dalam hati.


•••


"Segala kemakmuran dan kesejahteraan berkat matahari kekaisaran" ujar Catherine sembari membungkuk hormat menarik ujung gaun nya bagian kiri dan tangan kanan nya diletakan di dada nya kedua matanya tertutup dan kepalanya menunduk hormat.


Sosok gadis berparas cantik dengan surai pirang keemasan dan mata emas layaknya permata menatap Catherine dengan mata berbinar.


"Terimakasih sudah datang nona Orzsebet " sapa Elenia dan meminta Catherine untuk berdiri kembali.


"Saya yang seharusnya berterimakasih karena sudah mengundang saya " Catherine tersenyum manis membuat Elenia maupun para pelayan tersepona.


Ralat, terpesona.


"Baiklah karena ini pertemuan pertama kita bagimana jika kita minun teh bersama dahulu? "


"Kita? "


"Ya, tuan putri mengundang beberapa gadis bangsawan mulai dari Duke sampai Earl."ujar kepala pelayan yang berada di sana.


'Hmm kurasa ini bukanlah pertemuan pertama ku dengan mu, Elenia.. '-Catherine.


"tentu saja dengan senang hati yang mulia " ujar Catherine lalu tersenyum tipisss sekali.


"Kalau begitu ayo. " Elenia mengajaknya dengan semangat.


'Entah kenapa aku merasa seperti sedang menjaga anak kecil ' gerutu Catherine dengan kesal dalam hati.


"Sampai! "


Catherine disuguhkan pemandangan yang luar biasa indah. Pesta minum teh diadakan di taman pribadi Elenia. Taman itu terdapat air pancur yang terbuat dari emas dan terdapat patung Dewi bulan, Selena yang juga terbuat dari emas dan matanya terbuat dari permata shappire.


Disana terdapat banyak sekali bunga Gardenia putih yang tersebar di seluruh taman. Sepertinya Tuan putri menyukai bunga Gardenia.


Tidak jauh dari taman terdapat rumah kaca dan juga danau buatan. Disinilah sekarang mereka mengelar tea time.


Catherine menatap meja bundar lengkap dengan kursi mewah dengan pastry yang berlimpah. Dirinya pun duduk di Salah satu kursi mewah itu yang kosong.


Para gadis bangsawan mulai berbincang bincang dengan Elenia sembari pelayan menuangkan teh.


Catherine menatap teh yang dituang oleh pelayan ke cangkir keramik nya.


'Darjeeling tea... Hah, aku padahal lebih menyukai Rose Congou. ' gerutu Catherine dalam hati.


"Silahkan kalian nikamati. " ujar Elenia mengembangkan senyumnya.


Para gadis bangsawan mulai menyesap teh mereka sembari berbincang memperkenalkan diri.


"Ah, silahkan kalian memeperkenalkan diri dahulu" ujar Elenia.


"Benar juga. "


"kita mulai dari sebelah kanan tuan putri saja! "


"Ya. "


Kebetulan Catherine yang berada di sebelah kanan Elenia. Catherine agak terkejut dibalik wajah tenang nya.


'k-kenapa aku duluan? '


"Perkenalkan, saya Catherine Orzsebet dari kediaman Duke Orzsebet " Ujar Catherine mulai memperkenalkan diri.


"saya Helen Agustine dari kediaman marquis Agustine. "


"saya.... "


Beberapa jam kemudian...


"terimakasih telah mengundang kami yang mulia putri. " ujar para gadis bangsawan sebelum memasuki kereta kuda milik kediaman masing masing.


"Sama sama! Lain kali aku akan mengundang kalian! "


Klotak.. Klotak..


Kereta kuda segera berjalan berbaris menuju keluar gerbang istana.


Kini hanya tinggal Eleina dan Catherine yang berdiri di sana.


Catherine menatap ke atas menatap langit cerah. 'papa lama sekali ada apa ya? '


Elenia melirik kearah Catherine. Entah kenapa dirinya ingin lebih dekat dengan Catherine.


Menurut Eleina iris mata Catherine sangatlah unik. Warna yang dilihat nya bukanlah abu abu kehitaman tetapi merah ruby layaknya permata.


Elenia tau jika pemilik mata emas permata sepertinya memanglah unik dan bisa melihat penampilan sesorang yang sebenarnya dan melihat aura atau perasaan orang lain.


"anu.."


Catherine menoleh ke arah Elenia. "ada apa? "


"apakah aku boleh memanggil mu Catherine? " tanya Elenia gugup.


Bukan karena apa. Tapi aura Catherine terasa berat. Catherine terlihat seperti gabungan dari singa dan serigala .


Catherine tersenyum. "Tentu saja tuan putri. "


Mata Elenia berbinar senang. "Kalau begitu mulai sekarang kita adalah sahabat!"


"Eh..."


"Datanglah setiap hari kemari!"


"T-tunggu tuan putri.. "


"mulai sekarang kau adalah sahabat ku! Jangan malu untuk datang kemari!! "


"T-tapi---"


"tidak ada tapi tapian! Kau sahabat ku! Jangan sugukan untuk datang! "


"E-EEHHHH?!"


-TBC-