![Different Fate [SEASON 1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/different-fate--season-1-.webp)
Whuss..
Semikir angin berhembus kencang menerbangkan daun maple yang berjatuhan melintasi seluruh kekaisaran Arabella.
Sudah 3 minggu Arabella memasuki musim gugur, dan sudah memasuki tahun terakhir Catherine berusia tujuh tahun.
Di pagi yang dingin ini Catherine masih bersarang di kasur nya dengan tirai gorden yang masih tertutup.
Sinar matahari memasuki kamar Catherine melalui celah gorden membuat Catherine terusik dan menutupi wajah nya dengan selimut nya.
Tok.. Tok.. Tok..!
"Nona!!!! "
Suara ketukan pintu membuat Catherine semakin terusik dari tidur nyenyak nya. Apalagi suara Ahnna yang terus terdengar berkali kali membuat Catherine membuka mata nya dengan setengah hati.
"Hoam.. "
Gadis bersurai perak kebiruan itu melirik ke arah pintu kamar nya. Disana terpasang sihir yang membuat Ahnna tidak dapat membuka pintu kamar nya dan menggunakan kunci cadangan nya.
"Hehee.. Maaf Ahnna.. Aku lupa menghilangkan sihir nya.. " Catherine segera beranjak dari kasur dan menghancurkan sihir nya lalu membuka pintu kamar nya.
"Pagi Ahnna.. " sapa Catherine tanpa rasa bersalah nya.
Ahnna menghela nafas panjang sembari memijit batang hidungnya. Nona nya ini memang ajaib.
Bagaimana tidak? Dirinya sudah mengetuk pintu berkali kali dari pukul enam pagi sampai setengah tujuh, nonanya justru dengan rasa tidak bersalah nya dan senyum tanpa beban menyapa nya.
Apakah Ahnna kesal? Tentu. Ingin sekali dia mengomeli nona nya ini, tapi untung saja Ahnna masih mengingat jika Catherine adalah nona nya sekaligus anak asuh nya.
"Nona.. Saya sudah membangunkan anda sejak tadi. Kenapa baru bangun sekarang? "
"Rin tidur terlalu malam Ahnna.. " Ucap Catherine tanpa dosa.
"hah.. Kalau begitu, sekarang yang lebih penting anda harus mandi! " Ahnna mendorong Catherine kembali masuk ke kamar.
"Eehh?! Tidak! Air nya dingin! Rin tidak mau mandi! "
"Airnya bisa di hangatkan nona"
"TIDAKKKK! " Catherine berteriak tanpa ampun. Ahnna pun menyeret nona nya tanpa ampun.
Dipagi yang tenang ini lagi lagi mansion kediaman Duke Orzsebet kembali membuat kericuhan.
.
.
.
"Apa ada yang kau inginkan? " Leonard bertanya sebelum menaiki kereta kuda yang sudah disiapkan di depan gerbang mansion.
"mmm... Buku tulis! " ujar Catherine. Leonard menghela nafas. Sebenarnya ia sudah menduga ini.
"Selain itu? "
"Tidak ada! "
"Baiklah. "
"Permisi, tuan kereta kuda sudah diperiksa dan siap berangkat " tiba tiba saja sosok pekerja yang bertugas memeriksa kereta kuda datang.
Leonard mengagguk singkat lalu segera masuk ke Kereta kuda setelah mengelus kepala Catherine.
"Bey bey papa! " Catherine melambaikan tangan nya hingga Kereta kuda itu menghilang.
"Nona, mari masuk... Diluar udaranya dingin" Ahnna mengingat kan Catherine yang masih menatap kepergian papa nya.
"um.. " Catherine mengangguk dan segera masuk ke mansion diikuti oleh Ahnna.
•••
CATHERINE POV
Whuss...
Angin berhembus pelan namun terasa dingin menerpa wajah ku dan mengerakan surai perak kebiruan ku.
Uhh.. Hari ini dingin sekali..
Klap.
Segera, kututup jendela kamar yang kubuka dan Tidak lupa mengunci nya.
"Nona, hari ini anda tidak ada pelajaran sama sekali? " Ahnna yang tiba tiba muncul menanyaiku. Aku menggeleng sebagai jawaban nya.
Ahnna mengangguk. Kulirik, Ahnna tampak sibuk.
"Ahnna, kenapa buru buru? " aku mendekat ke Ahnna.
Ahnna tersenyum, "Besok saya mengambil cuti sekitar 2 minggu"
Eh..?
"Cuti? Kenapa? Rin sendirian dong.. "
Ahnna tertawa canggung. "Nona, kakak saya besok akan menikah dan keluarga saya meminta saya untuk kembali untuk membantu persiapan" jelas Ahnna.
Oh... Aku mengangguk mengerti.
Lalu segera keluar menuju ke... Entah kemana.
Kalau dipikir pikir.... Papa mendapat tugas dari kaisar untuk meninjau di perbatasan selama 1 bulan, Ahnna mengambil cuti 2 minggu, Rey pastinya selalu bersama papa, Para kakak pelayan sibuk dengan pekerjaan nya, Aku tidak ada pelajaran sama sekali selama 2 hari.
Tunggu.. Bukankah ini saat nya pergi keluar?
Tidak akan ada yang mencegah ku, tidak ada yang mengetahui ku.
Yes! Rencana menyelinap keluar sangatlah mudah!!!
Smrik.
Aku terse– Ekhem, maksud ku menyeringai penuh kepuasan.
Ehehehe.... Akhirnya aku dapat keluar dari mansion ini!!!
"Okey, langkah pertama aku harus membawa uang! "
Ya itulah yang terpenting!
Segera, aku putar balik badan ku dan berlari kencang menuju ke kamar ku.
Brakkk!
Hosh.. Hosh..
"Akhirnya sampai.. "
Tanpa membuang waktu, aku segera mengambil 'tabungan' ku di laci nakas yang berupa kantong berwarna coklat pudar.
Hey, hanya kantong nya saja yang jelek. Isinya... Tentu saja koin emas, dan perak! Dengan jumlah yang lumayan banyak.
Aku memandangi kantong 'tabungan' ku dengan penuh haru. "hiks.. Tabungan yang selama ini ku kumpulkan sejak berusia lima tahun hanya demi menyelinap keluar untuk berjalan jalan.. "
Plak!
Aku menampar pipi ku. His! Sekarang bukan saat nya untuk terhura... (Ralat,) terharu!!
Aku segera mengganti gaun ku menjadi lebih sederhana. Gaun yang ku gunakan berwarna putih gading dengan gradasi biru sedikit transparan. Tapi... Tetap saja mewah!
Rambut perak kebiruan ku sengaja ku kepang kebelakang dengan pita berwarna biru.
Oke! Saat nya menyelinap!
•••
Inilah pasar!!
"Woah.. " aku berdecak kagum. Serius! Ini pertama kalinya aku keluar! Dulu saja di masa lalu aku tidak pernah keluar sama sekali!
Inilah surga!
Aku berjalan berkeliling dari satu kios ke kios lain nya. Tidak lupa juga mencoba makanan rakyat jelata yang ternyata sangatlah enak! Aku juga membeli gelang yang terbuat dari perak dan di tengah nya terpasang permata saphire kecil namun begitu indah.
"U-uah.. " air liur ku serasa keluar saat melihat permen apel yang begitu menawan, lalu permen kapas yang terlihat menggugah selera.
Bibi penjual permen apel tertawa geli saat melihat ku menatap dagangan nya dengan berbinar.
Dia memberi ku permen apel itu secara gratis!
"Ini khusus untuk nona manis seperti anda"
Begitu katanya. Jadi ya sudah! Dengan senang hati kuterima permen apel itu.
Tapi, saat sedang setengah jalan tiba tiba saja ada yang menabrak ku.
BRUKK!
"Ah! Maafkan saya.. "
"Tidak masalah" Kuulurkan tangan ku membantunya berdiri.
Gadis yang menabrak ku itu menerima bantuan ku. Setelah gadis itu berdiri, dia menatap ku malu malu.
Kalau dilihat lihat, gadis ini sepertinya seusia ku deh. Lihat saja, tinggi nya sama dengan ku tapi aku sedikit lebih tinggi tiga senti darinya, dia juga lumayan cantik. Rambut nya pun terbilang cukup langka di kalangan rakyat jelata, rambut nya pirang namun sedikit kecoklatan dan tampak bersinar saat tertimpa sinar matahari. Mata nya cokelat terang... Mmm, mungkin lebih mirip ke oranye deh.
"M-maaf sudah menabrak mu! " gadis itu membungkukkan badan nya meminta maaf membuyarkan ku dari lamunan.
"Tidak usah di pikirkan. Oh, siapa nama mu? "tanya ku tanpa menggunakan formalitas.
"N-nama saya, Charlotte.. senang bertemu dengan anda.... Anu?"
"Senang juga bertemu dengan mu, Lottie. Nama ku Catherine. Kau bisa memanggil ku Rin" aku tersenyum manis memegang kedua tangan nya yang gemetaran.
"um. Ah? Lottie? " Charlotte menatap ku bingung. Aduh, dia ini kenapa terlihat polos sekali.. Imut!!!!!!
"Ekhem, apakah tidak boleh memanggil mu seperti itu? " tanya ku sembari mengandeng nya.
Charlotte mengangguk patah patah sedikit gugup, dia mengikuti ku berjalan di samping ku.
"Eh? " tiba tiba saja aku menyadari sesuatu.
"ada apa? "
Ehhhh kemana perginya permen apel ku!?
Kutoleh ke kanan kiri mencari permen apel ku. Huaa! Padahal itu permen apel kesukaan ku! Terlebih itu permen cuma cuma (gratis) justru terbuang sia sia!
"Ada apa? " Charlotte kembali mengulang pertanyaan nya. Aku menoleh ke arah nya.
"Permen.. Apel ku... Hilang...." gumam ku yang masih dapat didengar nya.
"Permen...? Apa mungkin, terjatuh? "
Hiks.. Kalau jatuh.. Pasti sudah kotor kena debu dan tanah..
Dan lebih mengenaskan nya, permen apel ku sudah tidak dapat ku makan!
"B-bagaimana jika kita membelinya kembali? " seolah bisa membaca pikiran ku, Charlotte mengajak ku.
Aku mengangguk.
Kami pun berjalan menuju ke kios permen apel itu.
"Loh? nona cantik. Kenapa kemari lagi? " bibi penjual permen apel itu menatap ku.
".. Permen apel yang bibi beri... Hilang.. " ujar ku.
"Lalu, apakah nona cantik ingin permen apel itu lagi? "
Aku mengangguk. "Tapi, Rin yang bayar! "
Ups! Tanpa sadar aku justru kelepasan! Kebiasaan sih aku berkata seperti itu kepada para pekerja, pelayan mansion dan bahkan papa.
Bibi itu tersenyum. "baiklah, nona manis ingin permen apel berapa ?"
"Sa.. " ucapan ku terhenti saat melihat Charlotte terlihat sangat ingin mencoba permen apel.
"Dua! "
"Baik, ini dia" bibi itu memberikan dua permen apel itu kepada ku. Aku menerima nya dan memberikan satunya ke Charlotte.
"Berapa harga nya bibi? "
"Dua perunggu nona manis "
Eh, tunggu! Di sana terdapat harga permen apel itu. Yang benar, 2 perunggu untuk satu permen apel. Kalau begitu tentu saja kubayar 4 perunggu.
"Ini bibi" aku memberi nya 4 perunggu.
Bibi itu menerima uang dengan terkejut. "Nona, saya bilang 2 perunggu bukan 4 perunggu "
"bukanya harga nya 2 perunggu per satu permen apel ya bibi? "
"tapi.. Saya memberi diskon khusus untuk nona manis seperti anda.. "
"Hehehe.. Tidak masalah bibi! "
Aku dan Charlotte pun segera pergi dari kios itu dan berjalan jalan mengelilingi ibukota dan beristirahat di taman kota karena kelelahan.
"Lottie, sepertinya aku harus pulang, sudah semakin siang. " aku segera pamit setelah beristirahat sejenak.
"Eh? Baiklah... Apa.. Kita bisa bertemu kembali? "
"Tentu saja! Akan ku usahakan!"
Aku melambaikan tangan ku yang dibalas senyuman oleh Charlotte.
Hah.. Hari yang cukup melelahkan.
Yosh! Sekarang saat nya kembali! Semoga mereka tidak menyadari kepergian ku.
•••
AUTHOR POV
Senenjak kejadian tidak terduga di pasar, Charlotte dan Catherine semakin akrab. Charlotte pun sudah tau siapa sebenarnya Catherine. Pada awal nya Charlotte tampak terkejut hingga akhirnya Catherine mengatakan jika tidak usah ada formalitas sama sekali.
Catherine juga sering menyelinap untuk pergi bersama Charlotte mengelilingi ibukota, dan yang paling diantikan oleh mereka juga seluruh warga kekaisaran Arabella adalah...
...Festival musim gugur alias tahun terakhir.
Puncak festival itu adalah malam hari, dimana banyak sekali lampion yang diterbangkan oleh para rakyat untuk permohonan.
Lampion itu disebut 'lampion permohonan' para rakyat yakin jika permohonan mereka akan terkabul dengan menerbangkan lampion itu.
Ciri khas lampion permohonan adalah warna nya yang sangat khas, kuning dengan corak bulan, matahari dan bintang berwarna merah.
Catherine dan Charlotte ikut menerbangkan lampion itu setelah mengumamkan permohonan mereka.
Mereka menatap langit malam yang dipenuhi oleh lampion permohonan. Saling menatap sebelum tertawa bersama.
Persahabatan memanglah indah dan tanpa memandang status, mereka tetap dapat bersatu.
-TBC-
Satu tokoh muncul lagi!
Semoga kedepanya banyak yang baca cerita ku jangan lupa like! ❤