Different Fate [SEASON 1]

Different Fate [SEASON 1]
12. Rightness



AUTHOR POV


Satu hari berlalu, kini kekaisaran mulai memasuki bulan Juli, musim semi berlalu digantikan musim panas. Siang ini, Catherine sedang duduk di sebuah karpet berkualitas terbaik di taman mansion Duke Orzsebet. Catherine duduk sembari berteduh di bawah pohon yang rindang.


Awal musim panas kali ini, matahari benar benar bersinar terik membuat Catherine gerah dan mengganti gaun nya dengan yang lebih ringan.


Tatapan matanya kosong menatap ke langit yang bersih tanpa awan. Pikiran nya penuh dengan banyak sekali pertanyaan.


Ucapan Leonard yang di dengar nya beberapa jam lalu bersama Rey terngiang di kepala nya membuat kening nya berkerut.


Beberapa jam lalu...


Sosok gadis bersurai perak kebiruan tampak sedang berdiri di depan sebuah pintu besar di mansion Duke Orzsebet, Ruang kerja papa nya.


Hatinya bimbang antara akan mengetuk pintu atau tidak. Catherine sebenarnya ingin bertanya tentang Villa yang terletak di daerah selatan yang dijadikan sebagai hadiah ulang tahun nya.


'Ugh! Baiklah akan ku tanyakan! '


Catherine mulai mengumpulkan tekad. Menarik nafas panjang panjang lalu menghembuskan nya.


"yosh! " Catherine mengangguk mantap.


"putri Count Russel ?"


Tapi sayangnya, suara dari dalam membuat Catherine terdiam.


"ya tuan. Saya dengar dari desas desus nya, jika putri Count Russel telah lama menghilang setelah beberapa minggu lahir "


Suara Rey dari dalam membuat Catherine mengurungkan untuk mengetuk pintu.


"Lalu? Apa hubungan nya dengan ku? " suara dingin dari dalam terdengar tidak peduli.


"Count Russel meminta tolong anda untuk membantu menyelidiki nya. Karena anda memiliki tentara bayaran. "


"Jadi, intinya dia ingin aku menggunakan tentara bayaran untuk menyelidiki itu? "


"Ya. "


"Ck. Baiklah. Aku pernah berhutang budi pada nya. "


"Kalau begitu kau keluarlah. "


"baik tuan. "


Degh!


Catherine segera berlari menuju ke kamar nya dan berakhir dirinya di taman mansion Duke Orzsebet ini.


"Hah... Sungguh merepotkan" gerutu Catherine kesal sembari menyenderkan tubuh nya ke pohon.


•••


"Ahnna kau tau dimana pena ku?" tanya Catherine sembari membuka laci meja nya.


Ahnna yang sedang mengganti tirai jendela kamar melirik ke arah anak asuh nya yang kebingungan mencari pena nya.


"Pena anda bukanya di meja ya? " tanya Ahnna tanpa menghentikan kegiatan nya.


Catherine menoleh ke Ahnna. "Bukan pena bulu tapi pena hadiah dari yang mulia kaisar Ahnna..."


Ahnna menghentikan pekerjaan nya dan mendekati Catherine.


"Kemarin anda menaruhnya di mana setelah menulis? " tanya Ahnna sembari membantu Catherine mencari pena itu.


"Rin lupa menaruhnya.. " Catherine tertawa kecil tanpa dosa.


Ahnna hanya bisa menghela nafas. Nona nya ini... Benar benar deh, sungguh ajaib.


Bisa bisanya memasang tampang tanpa dosa setelah lupa menaruh hadiah dari kaisar.


Pena itu pun adalah pena yang berharga karena itu pena yang investasi dari negara lain. Dengan mudah nya Catherine menghilang kan nya.


"Ah! Ketemu! " Seru Catherine bahagia.


"hah... Kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya kembali. " Ahnna pun berbalik dan kembali melakukan pekerjaan nya yang sempat tertunda.


Catherine segera mengambil kertas berkualitas terbaik dengan setiap sisi berwarna biru langit. Lalu segera membuka tempat tinta dan mencelup kan pena itu ke sana dan mulai menulis.


Seusai menulis surat itu, Catherine memasukan kertas itu ke Amplop berwarna putih lalu menyegel nya dengan segel lilin tak lupa menekan stempel berlambang Duke Orzsebet lalu meminta salah satu pelayan untuk dikirimkan ke istana azure.


"Oke saat nya beristirahat~!" Catherine merebahkan tubuhnya ke sofa menatap Ahnna yang sibuk mengganti tirai yang sesuai dengan musim panas kali ini.


Tiba tiba dirinya teringat akan percakapan papa nya dengan Rey beberapa jam lalu.


Entah kenapa satu satunya yang langsung terlintas di pikiran nya saat itu adalah Charlotte.


Ya, mau bagaimana pun Charlotte memiliki mana yang mirip dengan Countess Russel . Catherine tau karena dirinya pernah bertemu dengan Countess Russel saat pesta ulang tahun nya.


Catherine sudah memberi tau Elenia di surat yang dikirimkan nya jika dia akan berkunjung besok.


"Ugh, bosan.... " gerutu Catherine sembari berputar putar di sofa.


Ahnna sudah keluar beberapa menit lalu. Catherine menatap ke arah setumpuk buku pelajaran. Mulai dari sejarah, sosiologi, trigonometri, Geometri, Ekonomi, biologi, sosial, polotik, filsafat dan sihir.


Catherine menghela nafas panjang. Hari ini sepertinya ia harus belajar untuk ujian masuk akademi yang sebentar lagi diadakan di usia nya ke 12.


Masih 6 tahun lagi Valentina datang dan masih kesempatan yang dimilikinya untuk mengubah nasib nya menjadi berbeda.


Setelah Catherine berhasil memperbaiki hubungan nya dengan Leonard, dia melihat ilusi jam pasir yang perlahan mulai turun seperti takdirnya yang perlahan berubah.


Namun, sekarang bukan saat nya untuk memikirkan itu. Tapi tentang percakapan papa nya dengan Rey.


Catherine dengar lewat burung sihir milik nya jika Papa nya akan melakukan penyelidikan selama seminggu.


"Hehe.. Aku juga akan menyelidiki nya! "


Besok nya, istana azure...


"APAAAA?! YANG BENAR SAJA? KAU TIDAK BERCANDA KAN?!?!"


"Shh, kecilkan suara mu Elenia! " Catherine menarik lengan Elenia.


"Tidak tidak, ini adalah berita mengejutkan! " Elenia segera memperbaiki duduk nya dan duduk dengan anggun kembali.


Catherine menyesap Darjeeling tea nya lalu meletakan kembali ke meja.


"tapi, aku mesti memastikan nya dahulu apakah tebakan ku benar atau tidak. Papa dan rey mencari bukti itu selama seminggu dan dua hari lagi penyelidikan berakhir" jelas Catherine sembari mengambil kue kering coklat yang terdapat di meja.


Elenia mendadak tersadar lalu mengangguk.


"Benar juga. Kita tidak boleh gebah "


"ya. " Catherine mengiyakan ucapan Elenia.


"Hei, ternyata kau menggunakan kalung dari ku ya? " tanya Elenia dengan senyuman mengesalkan.


Catherine menghela nafas. Tidak kah Elenia tau jika permata yang di kalung nya itu sebenarnya batu mana? Melihat ekspresi wajah nya saat memberikan kalung itu sepertinya memang tidak tau.


"Ck, itu karena berkali kali kau selalu mengatakan agar aku tidak melepas kalung ini bukan? " Catherine menatap Elenia dengan aneh.


Elenia terkekeh.


"maaf maaf aku sempat terlupa karena kejutan yang kau katakan itu " Elenia berujar tanpa dosa.


"Dasar." Catherine menyodok dahi Elenia dengan telunjuk nya.


"Oh, sudah jam segini aku ada latihan berkuda. Sampai besok "


"Huh baiklah " Elenia mengusap dahi nya dengan kesal.


"Elenia, kau jangan lupa untuk memperbaiki sihir mu yang kacau Okey? "


"ARGH! T-TIDAK USAH DIINGATKAN PUN AKU TAUUU! "


•••


CATHERINE POV


Hari ini adalah hari yang sudah ku tunggu tunggu. Hari berakhir nya penyelidikan. Berdasarkan bukti penyelidikan, ciri fisik putri Count Russel adalah,




Berambut pirang kecoklatan seperti Countess Russel




Bermata oranye seperti Count Russel




Sekarang berusia delapan tahun.




Dan seluruh bukti itu merujuk kepada, Charlotte dan aku pun yakin jika papa dan Rey sepemikiran dengan ku.


Aku tidak mengunjungi Elenia melainkan memberitau lewat kristal komunikasi.


Tadi pagi juga, papa memberitau ku tentang yang sebenarnya terjadi. Bukti penyelidikan itu pun papa yang memberitau ku.


Aku dan papa sepakat untuk memepertemukan mereka. Ah, tidak. Sebenarnya itu aku yang mengusulkan dan memaksa papa. Aku tidak jahat kok, aku sayang papa ku.


Esok nya, aku mengundang Charlotte ke kediaman ku lalu mengajak nya ke kediaman Count Russel .


Disana papa menjelaskan situasi nya dan aku menjelaskan ke Charlotte.


Count dan Countess Russel langsung memeluk Charlotte dengan haru. Charlotte kini kembali ke keluarga nya.


Ohya, mengenai kenapa Charlotte bisa menghilang karena ada rekan Count Russel yang membenci Count Russel dan berakhir dengan penculikan. Rekan itu adalah bangsawan baron yang baru baru ini diketahui melakukan korupsi. Dia telah ditangkap dan dimasukkan ke penjara bawah tanah kekaisaran.


Charlotte awal nya agak canggung tapi lama lama dia akhirnya bisa berbaur dengan keluarga nya lagi. Kabar tentang itu pun sudah tersebar di mana mana dan menjadi pembicaraan yang hangat para bangsawan maupun rakyat jelata.


Charlotte pun telah melakukan debut pesta minum teh yang di adakan di kediaman ku. Sebenarnya sih, debut pesta minum teh itu saat berusia 10 tahun tapi, kekaisaran Arabella berbeda. Kekaisaran membolehkan usia 8-10 tahun. Berbeda dari kekaisaran lain.


Hari hari ku pun berjalan seperti biasanya hanya saja, para guru ku menjadi lebih keras karena sebentar lagi akan di adakan ujian masuk akademi. Yah walau tinggal 2 tahun lagi sih... Tapi ya sudahlah.


-TBC-