Different Fate [SEASON 1]

Different Fate [SEASON 1]
4. The tragedy



CATHERINE POV


Suara gemersik dedaunan yang tertiup angin membuatku terbangun. Kicauan burung di kejauhan kini terdengar jelas bersamaan dengan kesadaran ku yang perlahan kembali.


Hal pertama yang ku lihat ketika membuka mata adalah langit biru dengan awan putih tipis yang menghiasi nya.


Hal kedua yang ku lihat adalah hamparan rumput hijau yang terkepung oleh taman bunga mawar merah dan tidak terlihat ujung nya.


Aku masih melamun ketika diriku duduk menyender kepada pohon, di samping ku terdapat sebuah keranjang piknik dan beberapa tatanan sorbet buah dan secangkir teh rose congou yang sudah menjadi kesukaan ku. Ku lirik ke samping, terdapat beberapa tumpuk buku bahasa kuno, bahasa asing, elemen dasar sihir dan novel dengan tokoh utama antagonis di pangkuan ku.


Hm?


Ah, Sepertinya tadi aku tertidur saat sedang piknik sendirian sembari membaca novel berjudul 'Akhir sang antagonis'. Entah apa yang merasuki ku aku justru membaca novel dengan tokoh utama antagonis.


Whuss..


Angin berhembus kencang menerbangkan kelopak bunga mawar merah yang ditanam di taman ini.


Srek..


Aku segera bengkit dari duduk ku. Mengambil setumpuk buku dan novel dan hendak pergi.


"Nona! " teriakan Ahnna terdengar dari kejauhan membuat ku berhenti melangkah.


"Ahnna? " tanya ku heran setelah Ahnna sampai di hadapan ku. Nafas nya terengah engah. Sepertinya Ahnna kelelahan.


"hah.. Hah.. Nona, Nyonya Serianne sudah menunggu anda" Ahnna segera menjelaskan apa yang hendak di sampaikan nya. Bola mata ku melebar.


Oh, bisa bisanya aku lupa jika hari ini pelajaran matematika!


"B-begitu ya? Kalau begitu aku pergi dulu.. Bey Ahnna! " seru ku sembari berlari kencang meninggalkan Ahnna.


"nona! Anda tidak mengganti pakaian anda? "


"tidak perlu!!!" jawab ku dari kejauhan.


Sesampainya di ruangan tempat belajar..


Hosh.. Hosh..


"Nona Catherine, anda terlambat.. " suara Nyonya Serianne terdengar memasuki Indra pendengaran ku setelah aku memasuki ruangan yang sudah disiapkan.


"Aha.. Maaf Nyonya.. " aku membungkuk kan badan ku meminta maaf.


"hah.. Sudah lah. Sekarang kita mulai pelajaran nya. " aku mengangguk menyetujui.


"Hari ini kita akan membahas tugas yang minggu lalu saya berikan "


"baik"


•••


AUTHOR POV


"fuhh.. Capek nya.. " Catherine merebahkan tubuh nya ke sofa yang cukup lebar dan muat untuk 3 orang yang terletak di ruang kamar nya.


Ahnna yang biasanya selalu berada di sisi Catnerine sedang sibuk semenjak Ahnna diangkat menjadi kepala pelayan mansion oleh Leonard, papa tercinta Catherine.


"hm? " Catherine melirik ke meja di hadapa nya. Disana terdapat teko berisi teh rose congou favorite nya dan kue kering berbahan dasar cokelat.


"Uah, Ahnna kau sangatlah perhatian! " Catherine menyeka ujung mata nya dengan dramatis lalu mengambil kue kering itu dan langsung melahap nya.


Catherine beruntung, karena tidak ada pelayan yang memergoki nya. Apalagi jika Guru etika nya melihat nya seperti ini. Mungkin dia akan menangis darah.


Currr..


Aroma semebrak mawar memenuhi kamar nya saat Catherine menuang teh itu dari teko. Gerakan nya menuang dan meletak kan teko begitu anggun layak nya bangsawan.


Rasa pahit disertai rasa harum bunga mawar langsung terasa setelah teh itu diminum. Rasa unik teh ini lah yang paling Catherine sukai.


Mungkin para gadis bangsawan menilai Catherine aneh. Tentu saja, bangsawan kebanyakan biasanya menyukai teh mewah seperti Earl Grey atau Darjeeling Tea.


Tok..! Tok..!


Ketukan di pintu membuat Catherine menghentikan kegiatan nya.


"ya? "


"Nona, Tuan Duke memanggil anda untuk makan siang " suara pelayan itu membuat Catherine mendadak teringat akan janji nya kepada papa nya.


'Rin janji nanti akan makan siang bersama papa! '


"Oh? Baiklah! T-tunggu sebentar"


Beberapa menit berlalu bertepatan dengan Catherine yang membuka pintu.


"Ayo. " Catherine segera berjalan memimpin di depan menuju ke ruang makan dengan pelayan itu di belakang nya.


Ckelek..


"Papa! " Catherine segera berlari menuju ke papa nya dan segera memeluk sang papa.


"Hehe.. Papa menunggu lama? " Catherine bertanya basa basi setelah duduk di kursi dengan benar.


"hm. " jawaban singkat sang papa membuat Catherine kesal.


'Dasar Es balok paling jujur sedunia' gerutu Catherine dalam hati.


Makanan mulai dihidangkan. Terdapat dua porsi Steik daging, Sorbet buah, kue dengan bermacam rasa dan peralatan makan lain nya.


Keduanya pun segera makan dalam diam. Hanya suara dentingan garpu dan pisau yang mengisi keheningan. Sebelum–


BRUKK!


"Nona?!"


"CATHERINE! "


–Sebuah kejadian tak terduga terjadi.


"Cepat, panggilkan tabib! "


"Pa.. Papa.."


"bertahan lah.."


•••


CATHERINE POV


Dadaku terasa begitu sesak.. Perih, dan begitu sakit.


Mengingatkan ku tentang kejadian di masa


lalu. Dimana aku dihukum gantung oleh ayah ku.


Aku.. Takut..


"Siapa pun.. Hiks.. Tolong.. "


Tubuh ku terasa melayang di sebuah tempat gelap tanpa gravitasi. Gelap sekali tanpa ada nya cahaya.


Aku sangat takut...


"hei... " terdengar suara lembut memasuki Indra pendengaran ku.


Siapa?


Aku menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada siapapun.


"Catherine.. " suara itu terus mengalun bagaikan lagu yang merdu. Yang mengisi kekosongan hati ku. Membuang segala ketakutan ku.


Aku memejamkan kedua mata ku dan Tanpa sadar aku bergumam, "Mellifluous*.. "


(*: Suara merdu)


Whuss..


Mendadak aku merasa angin kencang berhembus menerpa wajah ku. Saat kedua mata ku terbuka, kegelapan sudah tidak ada diganti dengan sebuah tempat yang mempesona.


Disana terdapat bunga mawar dan rerumputan yang tidak terlihat ujung nya. kelopak mawar itu ikut beterbangan saat angin berhembus.


Saat langit ku tatap, langit itu begitu indah dan cerah dengan sedikit awan putih.


Tap.. Tap..


"Hai" suara merdu itu kembali terdengar. Aku segera berbalik ke belakang tempat sumber suara tadi.


Swooshh..


Bersamaan dengan itu angin berhembus kencang mengerakan surai ku dan menerbangkan kelopak mawar itu.


U-uah..


Wanita yang memanggil ku itu terlihat cantik sekali dengan mata merah ruby layak nya sebuah permata. Surai nya perak dan bersinar begitu terkena cahaya matahari.


Entah kenapa...


Wanita itu, aku merasa dia mirip--tidak, dia benar benar sama dengan ku!


Yang membedakan hanyalah warna mata, dan usia. Ah, juga suaranya!


Aku menatap nya dengan berbinar. Sungguh dia sangatlah cantik seperti dewi kecantikan!


Wanita cantik itu tertawa pelan dengan tingkah ku. "Hai Catherine "


Woah.. Bahkan saat tertawa pun.. Dia tetap cantik! Oh, aku berani bertaruh jika para gadis bangsawan mana yang tidak iri dengan kecantikan ini yang sudah sangat Overdosis!


Setelah aku berhasil mengendalikan diri, aku segera bertanya, "Kakak siapa? "


"Aku? Hm, Apakah kau penasaran? " wanita cantik itu balik memancing ku.


"..t-tidak! Ri.. Rin hanya.. Ingin tahu! " jawab ku sekenanya. Aku tau itu tidak ada bedanya!


"Aku.. Adalah diri mu. " huh?


Apa? Dia.. Tadi mengatakan apa?..


"Aku, adalah diri mu sendiri. " seolah bisa membaca apa yang barusan ku pikirkan wanita itu berkata kembali.


"apa..? "


"Haha.. Sudahlah, sekarang bangun lah. Ayah mu menunggu mu. "wanita itu tersenyum hangat bersamaan dengan penglihatan ku yang perlahan menjadi kabur.


•••


AUTHOR POV


Tok!... Tok!...


"Masuk"


Ceklek..


"Permisi tuan, " sosok kesatria dengan surai pirang pucat terlihat memasuki ruangan.


"Rey. " gumam pria itu.


"tuan, saya ingin melaporkan jika pendeta yang anda minta dari kaisar sudah sampai "


Brakk!


"Cepat bawa dia kemari dan suruh pendeta itu mengobati putri ku! "


"B-baik tuan!"


Disisi lain, Kamar Catherine.


Sosok gadis bersurai perak tampak berbaring di kasur dengan wajah pucat dan tubuh yang dingin layak nya orang mati. Di samping ranjang, Ahnna, ibu asuh Catherine.


Terlihat menangis segukan sembari memegang tangan Catherine dengan erat.


BRAKK!


Pintu kamar dibuka dengan keras menimbulkan suara yang mengagetkan.


Seketika seluruh orang yang berada di kamar itu terlonjak kaget dan menoleh ke arah pintu itu.


"T-tuan Duke.. " para pelayan segera membungkuk hormat sembari bergetar ketakutan karena aura mengerikan yang terpancar keluar dari tubuh tuan mereka dan tatapan laser yang seolah dapat membuat apapun hancur.


"Cepat obati Putri ku! " tanpa mempedulikan para pelayan yang memberi hormat , Leonard segera memerintahkan pendeta yang baru saja tiba untuk mengobati Catherine.


"Hah?! B-bagaiman mungkin?! " pendeta itu terkejut setelah memeriksa tubuh Catherine.


"Ada apa? " Rey, selaku asisten Leonard mewakili tuan nya bertanya.


"Kekuatan suci dapat menyembuhkan nona Catherine*!"


(*: Anggota keluarga Orzsebet memiliki kekuatan Kegelapan dan itu bertentangan dengan kekuatan cahaya milik pendeta. Sedangkan Catherine dapat sembuh dengan kekuatan cahaya adalah sebuah fenomena langka)


Hening..


Mendadak ruangan itu menjadi hening setelah pendeta itu menyelesaikan perkataan nya.


"Ck. Bagus jika bisa cepat sembuh kan putri ku! " perintah multak Leonard.


"ah, baik! "


Pendeta itu segera mengarahkan kedua tangan nya ke Catherine dan muncul sebuah cahaya yang mulai bekerja mengobati Catherine.


Beberapa menit berlalu. Wajah Catherine sudah mulai membaik dan tidak sepucat beberapa jam lalu.


"ekhem. "pendeta itu berdehem meminta perhatian.


"apa? "tanpa basa basi Leonard segera bertanya.


"Bisa tolong anda jelaskan secara rinci tentang kejadian yang terjadi? "


Leonard memberikan tanda kepada rey untuk berbicara.


"biar saya jelaskan " ujar Rey setelah menerima kode dari tuan nya.


Rey segera menjelaskan.


"hmmm.. Seperti nya nona Catherine terkena racun Hemlock*." jelas pendeta setelah mendengar penjelasan Rey.


(*: Racun yang berasal dari yunani kuno)


"Racun.. Hemlock?! "


"ya.. Tapi, tenang saja. Nona Catherine baik baik saja. " jelas pendeta menenagkan. Seisi kamar pun mulai lega.


•••


"Kalian semua pergi kecuali kau! "


Glek.


Atmosfer ruang kamar Catherine menjadi berat kembali setelah sepeninggalan pendeta itu.


"K-kami akan segera keluar" para pelayan pun keluar kecuali satu pelayan yang tadi ditunjuk oleh Leonard.


Blam!


"Kau, kemari" tubuh pelayan itu bergetar ketakutan. Sembari mengangguk patah patah pelayan itu mengikuti Leonard di belakang.


Tap.. Tap.. Tap.. Tap..


BRAKK!


"Rey, siksa dia sampai mengatakan siapa yang menyuruh nya! "


"baik tuan. "


"t-tidak! Saya mohon tuan! Maafkan saya! "pelayan itu bersujud memohon.


"berisik. Rey jangan beri dia ampun" tanpa belas kasih Leonard menendang pelayan itu.


"Baik"


"Agghh! Tidak! Saya mohon tuan! " suara pelayan itu terdengar hingga luar ruangan.


"Bergerak ku bunuh, berteriak ku bunuh" aura Leonard mulai terasa mengerikan.


Pisau mana yang dikeluarkan Leonard mulai mengoyak baju pelayan itu membuat pakaian pelayan itu robek.


Brakk!


"Tuan.. Nona.. Nona sudah sadar! " kesatria lain segera memberitau Leonard dari arah pintu masuk.


"Rey, urus jalang ini! " Leonard segera pergi setelah Rey mengangguk.


Di sisi lain, kamar Catherine..


"Nona! Akhirnya anda bangun! Hiks.. " Ahnna memeluk Catherine dengan haru.


"Ahnna.. Berapa lama aku pingsan? " Catherine bertanya setelah Ahnna memeluk nya.


"em.. Sekitar tiga hari" Ahnna tersenyum penuh kerinduan. Sedangkan Catherine hanya melongo.


Menurut nya, ia hanya tidur satu hari saja. Tapi ternyata..


BRAKK!


"CATHERINE! "


"papa! " Catherine segera beranjak dari kasur nya dan segera memeluk papa nya.


Leonard memeluk Catherine erat. Dia pikir putrinya akan meninggalkan nya seperti Asteria° meninggalkan nya.


"hehehe.. " Catherine tertawa bahagia. Dia sadar, jika dirinya tidak lagi sendirian. Ia memiliki Papa nya yang menyayangi nya dengan segenap hati.


Catherine menutup mata nya merasakan kehangatan dari pelukan papa nya. Kini saat ia menutup mata sudah tidak lagi melihat kegelapan.


Saat membuka mata nya kembali, Catherine melihat ilusi jam pasir yang mulai turun.


•••


CATHERINE POV


Hari hari ku pun terus berlanjut seperti biasanya. Tidak ada yang berubah sama sekali. Kecuali papa menjadi lebih Overprotective kepada ku. Hah.. Jujur saja itu sangat membebani ku..


Hari ini cuaca cukup terik. Seperti nya sudah mau memasuki musim panas. Berhubung cuaca yang panas, aku memutuskan untuk bersantai saja di kamar.


Papa pun sedang sibuk sekali. Ahnna pun juga..


Oh! Saat nya untuk membalas surat dari para bangsawan!


"Hanna, tolong bawakan kotak surat. Aku akan membalas surat surat"


"Baik nona.. "


Slupp..


Aku menyesap teh Rose Congou di hadapan ku sembari mata ku terus menatap ke jendela.


Tok.. Tok..


"Nona, saya membawakan kotak surat yang anda minta"


Ah, Hanna.


"masuk lah"


Ckelek..


"em, nona.. "Kulirik Hanna terlihat kikuk.


"hm? Ada apa? "


"Maaf, tadi saya tidak sengaja membuka surat dari Nyonya Lazzer, bibi anda.. " Hanna terlihat bingung antara melanjutkan atau tidak ucapan nya.


"lalu? " aku memancing nya agar kembali melanjutkan.


"Di sana tertulis jika nyonya akan datang kemari.. Besok"


DUARR!


Aku merasa terdapat petir menyambar di siang bolong begini.


Bibiku?..


Antonina Orzsebet... Apa lagi yang akan dia lakukan? Apakah dia tidak puas sudah menghancurkan hidup ku di masa lalu?!


-TBC-