![Different Fate [SEASON 1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/different-fate--season-1-.webp)
.
.
.
Berpikir demikian, aku melirik ke arah jendela kamar.
Dengan hati hati aku membaca ulang hukum pemanggilan roh yang tertulis dalam sejarah roh.
Siapkan kontrak roh.
Jika kekuatan mana pengguna tidak mencukupi, gunakan batu mana.
Jika yang anda miliki tidak cukup, anda harus bekerja dengan semangat ke tingkat yang lebih tinggi.
Jika aku menarik kontrak, maka aku diberitahu di buku untuk meletakan di atas nya dan menghafal kata kata berikut.
"Roh yang menyusun langit, bumi, angin, air dan api. Datanglah kepada ku dan jadilah kekuatan ku"
Aku memejamkan mata. Mengahafal mantra dengan niat yang sungguh sungguh.
ketika membuka mata lagi, aku merasakan sesuatu dengan jelas keluar dari tubuh ku yang ku yakin itu adalah mana ku dan energi yang tak berwujud yang telah lolos seperti nya tetap di udara, dan akhirnya berkumpul menuju suatu titik.
Rasanya agak asing, tetapi tidak terlalu sulit. Segera saat itu, roh dipanggil.
Aku berkedip.
Itu adalah wujud sosok anak laki laki yang sedang melihat sekeliling sebentar lantas menatap ku dan tertawa.
-Itu dia orang yang memanggil ku!
Anak itu memiliki tubuh hampir transparan, rambut nya pirang dan bermata emas anak laki laki itu terlihat cantik.
Entah kenapa aku merasa sedikit insecure dengan penampilan roh itu.
-Apakah anda ingin menandatangani kontrak dengan saya?
Roh itu terbang mengelilingi ku. Aku menjawab 'ya'
Kemudian anak itu menutup mata nya dan mencium kening ku.
Perasaan bahwa dia menyentuh kulit ku terasa sangat aneh.
Rasanya seperti bulu burung yang jatuh dan pada saat yang sama kehangatannya memudar.
Ketika anak itu membuka mata nya, penampilan nya yang sedikit transparan itu berubah.
"Apakah setelah aku menandatangani kontrak penampilan mu berubah? "tanya ku heran.
"ya, tuan. Jika anda menandatangani kontrak, roh memiliki entitas tinggal di dunia ini" Luo, nama roh itu menjelaskan.
Apakah ini hanya perasaan ku saja?
Roh yang dipanggil oleh ku tampak jauh lebih tenang dan cerdas dari penampilan nya yang terlihat nakal.
"Apakah sangat mudah untuk memanggil kontrak dengan roh? "
Aku kehilangan kata kata.
Seolah bisa membaca hati ku seperti itu, Lou tertawa dan menjelaskan kepada ku.
"Kontrak asli dengan roh tidak semudah itu! Tapi kedekatan pemiliknya jauh lebih luar biasa daripada yang lain, jadi tuan bisa memanggil saya sekaligus! "
"Apakah begitu?"
"Ya! Sekarang saat nya anda tidur tuan. Ini sudah malam" Luo mengingatkan ku. Membuat ku sesaat tersadar.
Oh! Sekarang sudah tengah malam!
"Baiklah aku akan segera tidur.. Selamat malam"
AUTHOR POV
Tok... Tok...
"Nona... Bangun!" Teriakan Ahnna yang sepersekian kali nya tidak membuat Catherine bangun dari kasur nya.
Karena akibat tidur terlalu larut membuat Catherine kesiangan. Luo, roh cahaya yang semalam dipanggil Catherine pun sudah membangunkan Catherine berulang kali.
Cklek..
Ahnna yang sudah menunggu lama pun akhirnya masuk ke kamar.
Sret..
Tirai yang menutupi jendela Ahnna buka membuat cahaya matahari memasuki kamar. Lalu selimut Catherine disibak.
"NONA! BANGUNNN! "
"Gyak! Ahnna?! "
"nona! Matahari sudah semakin naik! Kenapa anda belum bangun juga?!" ahnna mengomeli Cateherine yang masih shock karena teriakan melengking ibu asuhnya.
"nona?! Anda dengar tidak?! "
"Ah? D-dengar! "
•••
"Selamat pagi papa... " Catherine menyapa sang ayah setelah masuk ke ruang makan dengan lesu.
"hm. Ada apa dengan mu? " Leonard yang merasa keheranan pun segera bertanya.
Catherine sedikit kaget sebelum akhirnya menjawab. "Hehehe.. Rin tidur terlalu malam papa.. " jawab nya disertai senyuman tanpa dosa.
"Oh. Pantas saja di bawah matamu terdapat lingkaran hitam. " komentar Leonard tanpa perasaan.
Catherine mengerucut kan bibir nya kesal.
"sampai ku pikir ada panda yang masuk ke ruang makan" kekesalan Catherine semakin menjadi jadi setelah kalimat terakhir yang dilontarkan ayah nya.
"Papa! "Catherine akhirnya meneriaki papa nya dengan penuh kekesalan.
Para pelayan merasa bahagia dan lega karena hubungan kedua anak ayah itu semakin membaik saja. Mereka sudah bertekad untuk tetap menjaga hubungan harmonis tuan dan nona mereka.
"oh, papa, hari ini tidak sibuk? " tanya Catherine aneh. Tentu saja ayah nya selalu sibuk. Catherine pun sadar akan pertanyaan aneh nya.
"Tentu saja sibuk. Ada apa? " Leonard bertanya langsung ke inti nya.
"Em... Itu.. Rin, mau naik kuda! "
"Kuda? " Leonard mengerutkan kening nya yang diangguki antusias oleh Catherine.
Bukan hanya Leonard yang heran dengan permintaan tiba tiba Catherine, para pelayan dan Rey pun keheranan.
Memberanikan diri, Rey pun bertanya. "Sebelum itu, kenapa anda begitu tertarik dengan pelajaran berkuda?"
Oh?
Catherine tersenyum simpul.
"Kemarin Rin lihat para kesatria menunggang kuda sembari bermain pedang! "
"... Bermain..? " Rey mencoba memastikan bahwa apa yang baru saja di dengar nya tidak salah.
Catherine mengangguk membenarkan. "ya! "
"Boleh ya papa! " Catherine kini beralih ke ayahnya yang dengan tenang memakan makanan nya.
"Apa? " Seolah tuli, Leonard bertanya. Catherine berusaha tetap bersabar menghadapi ayah es balok nya ini.
"Rin mau belajar naik kuda papa.. Boleh ya? Ya? " Catherine mengeluarkan jurus andalan nya yang mampu membuat siapapun terkena heart attack.
"..."
Mendadak ruang makan menjadi hening.
Tidak ada sama sekali yang membuka suara. Entah kenapa mendadak atmosfer memberat.
"papa? " Catherine membuka suara memecah keheningan.
"... Jadi, kau ingin belajar berkuda..? " akhirnya Leonard membuka suara emas nya.
Catherine mengangguk patah patah. Entah kemana perginya semangat nya tadi.
".. Um.. Jadi bagaimana? "
".... KUTOLAK. "
DUARRR!
'Terimakasih hujan, atas Soundeffect dramatis nya.. ' gerutu Catherine dalam hati.
"Kenapa? Padahal pelajaran lain boleh.. " Catherine mulai merajuk.
"Tidak. Kau terlalu banyak belajar, bahaya jika kau menjadi maniak belajar" Ucapan Leonard terdengar absurd dan sangat tidak masuk logika. Tapi, namanya juga keras kepala.. Mau bagaimana lagi?
Leonard segera meletakan alat makan nya dan bangkit dari kursi.
"Papa? " Catherine menatap papa nya heran.
"Aku ada rapat di istana setengah jam lagi. Mungkin akan pulang malam" jawab Leonard setelah merapikan jas nya.
"Hari ini kau tidak perlu belajar menyulam. Kau memang tidak memiliki bakat menyulam. Lakukanlah sesuka mu oke? " Leonard mengelus puncak kepala Catherine dengan lembut dan segera pergi setelah mendapat jawaban dari putri nya.
Setelah kepergian Leonard, Catherine menyentuh kepala nya yang dielus oleh papa nya.
'Apa hanya perasaan ku saja ya, kata kata papa tadi kenapa rasanya sedikit menyindir ku? '
CATHERINE POV
Tak.
Aku menaruh cangkir berisi teh yang tinggal setengah ke meja. Menatap ke luar jendela yang berada di kamar ku.
Hujan sudah berhenti beberapa jam lalu. Cahaya Matahari mulai menampakan dirinya lagi. Membasuh bunga mawar yang kutanam di balkon kamar ku dengan lembut.
Hari ini, setelah papa pergi karena rapat di istana, aku benar benar menganggur sejak sehabis sarapan hingga sekarang.
Ahnna sedang sibuk begitupun dengan para kakak pelayan lain. Menyebalkan!
Fuhh..
Kurebahkan tubuh ku ke sofa dengan tidak elegan nya.
"Aku ingin cepat dewasa!!! " teriak ku kesal sembari meninju angin.
Ha.. Pasti nanti siang jam pelajaran etika..
Menyebalkan!! Aku paling benci pelajaran itu!!
Apalagi saat etika makan. Serius, siapa sih yang membuat setumpuk aturan polteklor hanya untuk mengisi perut?!
"Aghh!"
Tok..! Tok...!
"Nona, Nyonya Rosallia sudah menunggu anda di ruangan" suara pelayan itu layaknya petir yang menyambar di siang bolong.
"Baik. Aku akan segera kesana. " Ujar ku dengan berat hati.
Aku segera bersiap dibantu oleh pelayan. Gaun yang sekarang ku pakai berwarna putih gading dan semakin kebawah berwarna biru langit. Surai perak kebiruan ku di ikat rendah dengan pita berbentuk kupu kupu.
"Selamat belajar nona.. "
Yosh! Sekarang pertempuran yang sebenarnya pun dimulai!
•••
AUTHOR POV
Crip.. Crip..
Suara kicauan burung menyambut kedatangan pagi hari dengan kicauan nya. Angin berhembus mengerakan dahan pepohonan.
Di pagi yang sangat tenang ini, tiba tiba saja semua orang di kediaman Duke Orzsebet dihebohkan oleh ucapan Leonard yang membolehkan Catherine belajar berkuda tapi dengan syarat,
"Salah satu pelajaran yang kau ambil harus dihentikan. "
Tentu saja Catherine dapat menyangupi nya. Gadis itu dengan sepenuh hati mengenyahkan pelajaran menyulam yang paling di benci nya.
Pagi ini setelah Leonard pulang, ia membawa kuda pony yang terlihat cantik dengan surai nya yang berwarna perak. Catherine yang keluar untuk menyambut datangnya sang ayah dibuat kagum oleh kecantikan kuda pony itu.
"Jaga dan rawat kuda itu baik" pesan Leonard setelah menaruh kuda itu ke kandang.
"Um!" Catherine mengangguk dengan mantap.
Tiba tiba saja manik mata hitam Catherine menangkap sesuatu.
"Papa, kuda apa itu? " Catherine menunjuk ke arah kuda berwarna hitam legam yang berada di salah satu kandang kuda.
Kuda itu terlihat mencolok di mata Catherine karena warna bulu nya begitu hitam bahkan mata nya juga.
Leonard mengikuti arah yang ditunjuk putri nya. "Apa kau tertarik dengan kuda itu? "
Tanpa sadar Catherine mengangguk.
"Kuda itu sangat agresif jika dinaiki. Warna nya juga tidak seperti kuda kebanyakan. " Ujar Leonard blak-blakan dan terkesan seperti merendahkan sang kuda.
Catherine menatap papa nya dengan tatapan yang aneh.
'Jika kau tidak menyukai nya kenapa membeli nya? '
"Biarpun begitu kuda itu sangat cepat dalam berlari dan juga lebih pandai" Leonard melanjutkan ucapan nya membuat wajah Catherine menjadi lebih aneh.
'Nah, sekarang justru memuji nya. Papa ku ini aneh....'
"Jadi.. "
"apakah nona ingin menaiki nya? " kesatria yang berada di sana menawari nona nya.
"Rin mau naik itu! Boleh ya papa! " Catherine menarik narik lengan papa nya dengan tatapan memelas.
"Tidak...." Leonard melihat ekspresi putri nya yang terlihat cemberut dan itu lucu menurut nya.
"Hah.. Tunggu hingga kau dewasa baru boleh menaiki nya. " akhirnya leonard pun mengalah.
"Terimakasih papa! " Catherine bersorak dalam hati, setelah itu memeluk papa nya dengan bahagia.
"hm.. " Leonard berujar singkat sembari tanganya mengelus kepala Catherine.
"Bagaimana jika tuan dan nona menaiki kuda sembari berkeliling? " usul salah satu kesatria yang bertugas di sana.
Ide bagus.
"Baiklah. " Leonard mengendong Catherine mendekati kuda berwarna putih yang terlihat gagah. Surai kuda itu berwarna hitam dengan mata biru jernih.
"Woah.. " Catherine takjub melihat kuda itu apalagi setelah ia menaiki kuda itu bersama papa nya dan mengelus bulu kuda itu.
Lembut. Bulu kuda itu amat halus membuat Catherine semakin terpesona.
Drap.. Drap..
Kuda itu berlari setelah dipacu oleh Leonard.
"Uah.. " Catherine dibuat takjub berulang kali.
Tubuh nya serasa naik turun seiring kuda berlari memutari kediaman duke Orzsebet. Surai perak kebiruan nya berkibar saat terkena angin.
"Suka? "
"um! Rin sangat suka! "
"Jadi kau memang benar benar ingin belajar berkuda? " Catherine mengagguk kembali.
"Rin mau seperti papa! "
"Seperti ku? "
"ya! Rin mau belajar berkuda biar seperti papa yang jago! " tutur Catherine sembari menikmati hembusan angin.
Leonard hanya mengela nafas kecil sembari tersenyum tipisss sekali.
"Jadi, jika kau sudah jago apakah kuda hitam itu akan kau ambil? "
Jackpot!
Catherine sudah tidak dapat lagi mengelak. Ia kalah telak.
"... Uh, memangnya tidak boleh ya papa? " Catherine menatap papa nya memelas.
Leonard dengan dingin nya mengatakan,
"Tidak."
Catherine memanyunkan bibir nya hingga maju beberapa senti.
"Kenapa tidak boleh? "
"Tunggu saja sampai kau dewasa"
"Uhh.. Papa! Rin masih kecil! "
"yasudah. Kalau begitu sampai kau masuk ke akademi Semester 2" Leonard langsung memutuskan perdebatan itu dengan lugas.
"Hm... Baiklah.. "
Kuda berhenti. Leonard pun turun di ikuti Catherine yang turun dengan digendong oleh Leonard.
"Papa, Rin mau jalan jalan dulu ya! " Catherine segera berlari menuju ke sosok pelayan bersurai hitam kecoklatan yang tidak lain adalah Ahnna.
"Hm. "
-TBC-