![Different Fate [SEASON 1]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/different-fate--season-1-.webp)
.
.
.
AUTHOR POV
BRUKK...
Sosok gadis bersurai perak alias Catherine menjatuhkan tubuh nya ke kasur kesayangan nya dalam posisi tengkurap memeluk bantal. Setelah selesai mandi dan mengganti gaun, Catherine mengusir Ahnna secara halus dengan alasan sudah mengantuk dan kelelahan seusai Ahnna menyisir rambut nya.
Sekarang, Catherine berusaha memejamkan kedua mata nya namun tetap saja dirinya tetap terjaga. Padahal lilin di kamar nya sudah dimatikan dan hanya terdengar suara angin berhembus mengerakan dahan pohon terdengar mengisi keheningan kamar nya.
Bayangan tentang kejadian beberapa jam lalu saat makan malam masih terekam jelas di memori otak nya bagaikan film yang diputar berulang ulang.
Saat makan malam Catherine di harus kan makan bersama ayah nya itu. Catherine pun menyetujui nya saja, toh dia tidak akan rugi. Tetapi sebuah kejadian yang tidak pernah ia bayangkan sama sekali justru terjadi.
Tangan Catherine yang memegang pisau daging tidak sengaja tergelincir dari tangan nya dan justru terlontar hampir mengenai wajah ayah nya namun mengenai pelipis nya saja.
Catherine antara kaget, takut dan senang. Kaget karena kejadian tidak terduga itu, Takut karena aura mengerikan yang terpancar keluar dari tubuh ayah nya dan senang karena berhasil melukai ayah nya setidak nya walau hanya tergores.
Namun setelah itu, ayah Catherine menyuruh Rey, tangan kanan nya dan Kesatria pribadi nya untuk membawa, Catherine kepada nya.
Catherine sudah panas dingin mendengar ucapan ayah nya itu dan bertambah berkeringat dingin saat di taruh di pangkuan limited edition milik ayah nya. Akhirnya Leonard membantu Catherine makan.
"Uh.. Sungguh ayah.. Dia berbeda " gumam Catherine sembari berguling kesana kemari di kasur kesayangan nya. Namun tiba tiba saja terbangun dari tiduran nya. Menoleh ke sekitar mencari sesuatu.
"Itu dia! " Catherine turun dari kasur menuju ke meja yang tidak jauh dari tempat nya berdiri. Mendekati meja itu.
Disana terdapat nampan yang berisi teko berisi susu dan cangkir keramik berornamen bunga poeny merah juga sepiring kue kering gandum.
Catherine berdecak kesal setelah melihat isi nampan itu.
"tidak ada teh.. Hah... Bahkan coklat pun tidak ada.. "gerutu nya penuh kekesalan.
Tangan Catherine mengapai lilin yang tidak jauh dari tempat nya duduk.
Whuss..
Api langsung muncul setelah jari telunjuk Catherine mengarah ke sumbu lilin itu.
Tiga lilin telah menyala sekaligus. Sekarang Catherine mulai memakan kue itu dengan setengah hati. Berhubung dirinya lapar karena terlalu banyak berlikir jadi, ia sudah tidak peduli dengan kue itu.
Pikirannya mulai melayang kembali ke beberapa jam yang lalu. Catherine entah mengapa merasa..
... Jika ayah nya itu sedikit berbeda. Tidak, memang sangat berbeda dari ayah nya di masa lalu.
Mulai dari sifat, cara bicara dan perlakuan ayah nya kepada nya pun berbeda. Ayah nya sekarang entah kenapa terasa lebih hangat dari pada di masa lalu yang terasa dingin dan menusuk.
Bohong jika Catherine tidak menginginkan kasih sayang. Di lubuk hatinya terdalam dia masih ingin ayah nya menoleh kepada nya dan menghampiri nya lalu memeluk nya dengan hangat layaknya anak dan ayah. Tapi...
...Melihat perlakuan ayah nya yang lembut dan hangat kepada nya entah kenapa...
Catherine berjalan meninggalkan meja menuju ke kasur nya dan merebahkan tubuh nya dalam posisi tengkurap menengelamkan wajah nya ke bantal.
"... Aku merasa sedikit bahagia "
•••
Srak.. Srak..
Suara kertas buku yang dibuka terdengar mengisi keheningan di perpustakaan mansion. Catherine terlihat begitu serius membaca buku bahasa kuno. Di samping nya terdapat secangkir susu hangat dan kue kering sebagai pendamping nya.
Di sisi lain nya terdapat sekotak tinta dan pena juga beberapa lembar kertas yang digunakan untuk mencatat.
Siang ini, setelah ayah nya mengajak nya tea time, Catherine langsung menuju ke perpustakaan. Rambut perak nya di ikat ke belakang dengan pita berwarna peach. Gaun yang dia gunakan terlihat simpel berwarna pink lembut dan bagian bawah bercorak mawar berwarna peach.
Gaun nya terlihat cocok dengan musim ini, semi. Kini usia Catherine sudah menginjak tujuh tahun. Hubungan anak ayah pun menjadi harmonis.
Panggilan 'ayah' kini berganti menjadi 'papa'. Para pelayan dan pekerja mansion pun sudah menerima kehadiran Catherine dengan suka cita.
Tanpa sadar Catherine mulai bisa sedikit melupakan masa lalu nya. Karena Sekarang, Catherine tidak lagi sendiri. Ia memiliki Ahnna, Papa nya, para kesatria, pekerja mansion dan para pelayan yang selalu ada untuk nya.
Ya, sekarang ia sudah tidak lagi melihat kegelapan namun, penuh dengan cahaya. Ia sudah tidak sendirian. Catherine pun tau itu. Ia ingin menjaga keluarga nya dari apapun itu. Mereka sudah seperti cahaya untuk nya.
Tap.. Tap..
Catherine berjalan keluar dari perpustakaan dan menatap langit yang cerah dengan senyuman bahagia.
Whusss..
Angin berhembus kencang mengerakan rambut nya yang diikat kebelakang dan gaun nya. Juga menerbangkan kelopak bunga sakura.
"Terimakasih.. Papa.. Ahnna.. Aku, menyayangi kalian" gumam Catherine lirih disertai senyuman manis.
"nona! Saat nya makan siang!" terdengar suara pelayan yang memanggil nya dari kejauhan.
"oh!, tunggu kakak pelayan! Aku akan segera kesana! "
Catherine segera berlari menuju ke pelayan yang memanggil nya.
"Nona, jangan berlari! " Ahnna mendadak muncul sembari membawa keranjang pakaian bersih.
"Rin tidak berlari Ahnna! " timpal Catherine.
"aduh.. Hah.. Terserah anda deh.. "
"bey bey Ahnna, rin mau makan!"
"hah..baik nona, hati hati! "
Sekarang, rencana balas dendam pun segera dimulai!
-TBC-