Dierra

Dierra
Dierra #9 ‘Velle geonardo de Jjonathan’



...Semuanya akan terasa lebih baik jika kita bertemu dengan sebuah matahari....


...-Grache....


***


Grache menatap dirinya dari pantulan cermin, ia tersenyum untuk memberi apresiasi terhadap dirinya sendiri.


Ia lalu berbalik dan menatap dierra yang sama tersenyumnya dengan dirinya.


“Grache, kau sangat cantik.”


Satu kalimat itu keluar dari mulut dierra secara refleks, itu sama sekali tak ada di dalam rencana dierra.


“Sepertinya kakak masih belum pernah berkaca, kakak jauh lebih cantik daripada diriku,” balas grache lalu tertawa bersama dierra.


Image putri yang anggun beserta semua tata Krama yang diajarkan kepada grache seolah-olah menguap tanpa membekas.


Entah kenapa, grache malah merasa lebih nyaman saat berada di sekitar dierra daripada di sekitar area istana.


“Kalian sudah selesai?”


Suara itu membuat ruangan yang tadinya penuh dengan gelak tawa menjadi hening. Dierra menatap pintu, itu adalah suara Gabriel.


Suara dengan nada galak itu mampu membuat ruangan yang tadinya ramai menjadi sepi.


“Apa grache sudah siap menemui riel?” tanya dierra menatap manik oranye grache.


Grache menghembuskan nafas perlahan lalu mengangguk pelan.


“Aku siap kak,” jawab grache memantapkan hatinya.


Dierra tersenyum lalu memegang tangan grache.


TAP TAP TAP


Suara langkah kaki menggema di ruangan tersebut, lalu...


SRET


Pintu terbuka, tepat di depan pintu tersebut Gabriel sedang memandang grache tajam.


“Apa yang baru saja kau lakukan, grache? Meskipun tindakanmu benar agar Elle tidak terluka, tapi bagaimana jika kamu yang terluka? Mengapa tidak menyuruh salah satu pengawal saja?”


Satu demi kata dengan penuh penekanan itu dikeluarkan oleh Gabriel.


‘Elle? Ah jangan-jangan itu panggilan tuan putri, jika grache adalah putri maka Elle itu pasti tuan putri velle geonardo de Jjonathan!’ batin dierra yang tetap menggenggam tangan grache tapi tak menyahut perkataan gabriel.


“Maafkan aku kak, aku hanya ingin mengalihkan perhatian mereka, saat itu tak ada pengawal di dekatku. Aku juga tak ingin kak elle terluka, jadi aku langsung bertindak sendiri tanpa tahu resikonya,” balas grache menunduk.


“Grache ... Kumohon lain kali jangan lakukan hal seperti itu, elle memang berharga namun kau juga berharga! Berapa kali aku harus mengatakan ini? Dan lagi, kenapa tidak ada pengawal di sekitarmu?”


Dierra mengernyit ketika mendengar kalimat awal Gabriel, jadi ... Grache merasa bahwa dirinya sama sekali tak seberharga velle hingga ia menyelamatkan velle tanpa memperdulikan keselamatan dirinya?


“Maaf kak, tapi bagaimanapun kak elle tetap yang paling penting, dan kenyataannya memang aku tidak berharga lalu ak—” perkataan grache terpotong, sejenak mata oranye gadis itu melihat ke arah dierra.


Mengerti dengan kode sang atasan, Daniel langsung menghampiri dierra.


“Nyonya, biarkan tuan dan nona berbicara berdua. Apa nyonya tak ingin melihat gaun-gaun yang disiapkan untuk anda?” tanya Daniel dengan senyuman.


Dierra yang tau bahwa ia tak boleh mendengar lebih jauh lagi pun mengangguk untuk memilih jalur aman, ia melepaskan genggaman tangan grache lalu pergi dengan Daniel dengan paksaan.


“— sekali lagi aku tak seberharga kak elle, aku juga tak begitu disayang kak. Yang penting sekarang adalah kondisi kak elle,” ujar grache meneruskan ucapannya.


Gabriel menatap grache dengan pandangan tak percaya.


“Bahkan kak chelsie dulu mengalami hal itu karena diriku, bukankah aku sangat tidak berguna?”


Ucapan lirih grache selanjutnya mampu membuat Gabriel merengkuh tubuh grache.


“Grache, sudah berapa kali kami bilang padamu? Itu bukan kesalahanmu. Chelsie mengalaminya bukan karena dirimu! Itu karena tindakan chelsie sendiri, jangan menyalahkan dirimu sendiri.”


“Tapi kak hiks.”


Mendengar isakan tangis grache, Gabriel mempererat pelukannya. Bukan hanya Gabriel yang tak berdaya dengan takdir tuhan yang merebut chelsie dengan cara yang tak biasa.


HUAAA


Tangisan grache pecah dengan keras, ia balas memeluk Gabriel seraya mengoceh tentang kejadian saat itu di tengah tangisannya.


Mendengar ocehan adik sepupunya, Gabriel seolah mengalami flashback, segitu rincinya ocehan grache tentang hari itu.


“Tenanglah, grache. Tenanglah, itu semua bukan kesalahanmu. Kalau kau salah berarti kami semua juga salah!”


***


“Nona, apa anda memiliki warna favorit?” tanya Daniel saat mereka sudah melihat sebagian gaun yang dibeli Gabriel.


Dierra tersenyum lalu menggeleng, sejenak saat mata Daniel mengalih pada sederet gaun di hadapan mereka, mata dierra mengarah ke tiga almari dipojok ruangan.


“Aku ingin melihat semua gaunnya, niel.”


Daniel mengangguk lalu menyuruh para pelayan menyiapkan semua gaun dierra.


“Ini semua gaun nyonya, jika ada yang tidak disukai nyonya, kami akan membuangnya,” ujar Daniel.


Dierra mendelik saat mendengar ucapan Daniel.


“Niel, gaun itu mahal! Jangan asal membuang uang seperti itu,” balas dierra yang pernah merasakan hidup susah.


“Baik nyonya.”


Dierra melirik ke tiga almari yang sama sekali tak terjamah oleh para pelayan. Pertanyaannya adalah, jika itu bukan almari yang berisi gaunnya, maka apa isi tiga almari itu?


“Niel, apa isi almari-almari itu?” dierra akhirnya bertanya pada Daniel seraya menunjuk tiga almari yang menjadi pusat perhatiannya.


TBC