
...Ada kalanya dimana dirimu harus berpura-pura tak mengerti apapun....
...-Dierra....
...***...
Dierra tersenyum ketika netra matanya melihat kemunculan dari seorang Daniel.
“Niel, kamu kemana saja?” tanya dierra berpura-pura tidak tahu, padahal dia juga sudah menduga bahwa Daniel pasti menghubungi Gabriel.
“Ah, saya hanya memiliki beberapa urusan nyonya. Maaf karena saya nyonya jadi menahan lapar, tapi lain kali nyonya bisa makan dahulu tanpa menunggu saya,” jawab Daniel dengan kecepatan normal.
Dierra hanya mendengus di dalam hatinya, Daniel begitu pandai berakting. Yah, maklum saja Daniel kan orang kepercayaan Gabriel, jelas saja bahwa dia pintar dalam segala bidang.
“Tidak apa-apa, chef tadi juga memberitahuku kalau aku bisa makan dahulu namun aku tetap ingin menunggumu. Apa Riel akan makan diluar?” tanya dierra yang benar-benar penasaran.
“Biasanya tuan akan makan di luar nyonya, sepertinya sekarang juga begitu,” jawab Daniel.
“Ah baiklah, kalau begitu kita makan saja.”
***
Gabriel menutup dokumennya dan menatap Ardan si asisten yang berada persis di depannya.
“Ardan, siapkan mobil aku ingin pergi keluar,” ujar Gabriel dengan nada memerintah.
“Baik Presdir, kalau begitu saya pamit undur diri,” balas Ardan lalu menunduk hormat dan pergi meninggalkan Gabriel sendiri.
Di dalam keheningan Gabriel menatap sebuah foto yang terpajang di meja kerjanya.
Di foto itu terlihat seorang gadis berambut hitam legam dengan bibir merah muda sedang tertawa dengan riangnya.
“Kenapa kau begitu sulit untuk dilupakan, chelsie?” gumam Gabriel.
Sungguh, Gabriel masih sangat-sangat menginginkan chelsie, hanya saja takdir yang tak bersahabat.
Sejenak Gabriel menghela nafasnya, lalu ia berdiri menapakkan kakinya dan pergi menuju area parkir.
“Siang presdir.”
Sebagian besar karyawan yang melihatnya mengatakan hal itu, Gabriel bahkan tak mampu jika harus membalasnya satu persatu.
Dimaklumi saja, yang dipimpin Gabriel ini merupakan warisan keluarga. Singkatnya, sudah banyak karyawan yang bekerja disini.
Netra mata Gabriel menatap sebuah mobil yang sudah siap untuk ditumpangi.
Gabriel berhenti di hadapan Ardan dan menyahut kunci mobil tersebut.
“Aku akan pergi sendirian, ardan.”
Ardan termangu lalu akhirnya ia mengangguk, harusnya ia tak boleh lupa tentang hari ini. Hari dimana Gabriel dan dierra menikah itu juga hari dimana chelsie menghilang sepenuhnya dari dunia ini.
BRUMM
Gabriel lantas membawa mobil dengan kecepatan yang cukup mengkhawatirkan.
‘Entah saya harus kasihan pada anda atau pada nyonya dierra, takdir memainkan kalian berdua dengan begitu dahsyatnya,’ batin Ardan seraya melihat mobil yang pergi meninggalkan area parkir perusahaan warisan keluarga jjonathan.
“Semoga nyonya dierra baik-baik saja untuk kedepannya,” gumam Ardan, bagaimanapun ia masih memiliki hati nurani.
Hanya saja, dirinya tak memiliki kuasa untuk melarang seorang gabriel deralle jjonathan.
***
CKIIT
Ia lalu turun dari mobil itu dan ...
BRAK
Ia kembali menutup pintu mobilnya, langkah panjangnya ia kerahkan hingga tempat sunyi itu menjadi sedikit ramai.
“Selamat datang, Gabriel. Kupikir kau akan melupakan tempat ini setelah mendapatkan pengganti,” ujar seseorang.
Gabriel mengernyit dan menatap orang yang sedang menyambutnya.
“Darimana kau mengetahui itu? Bukankah aku sudah melarang dirimu memata-matai kediamanku, darriel?” balas Gabriel pada orang itu, darriel de Jjonathan.
“Oh ayolah saudara, aku adalah sepupu jauhmu! Kau tak akan bisa mengelak bahwa dirimu juga merupakan keturunan darah biru, walaupun kau melarang kerajaan sudah jelas akan selalu memata-matai kediamanmu.”
“Tentunya, dengan sesuatu yang tak akan pernah disadari.”
Gabriel memutar bola matanya mendengar penjelasan darriel.
Ya, darriel. Darriel de Jjonathan, pangeran mahkota kerajaan atlanta. Sepupu jauh gabriel.
“Kerajaan sudah tak berhak atas diriku ketika ayahanda sudah tiada, pangeran mahkota!” seru gabriel.
Ia hanya tak mau jika dirinya akan terseret dengan masalah kerajaan. Ia tak mau menderita secara mental seperti sang ayah.
“Jujur saja, itu diluar kemampuanku Riel. Jadi jangan membuang-buang suaramu, aku hanya berharap kalau kau tidak akan menyia-nyiakan gadis secantik itu. Kau tau? Dia bisa masuk ke kandidat putri mahkota.”
Gabriel hanya menatap datar darriel, ia lalu masuk begitu saja ke tempat tujuannya.
Darriel pun hanya menghela nafasnya dan mengikuti Gabriel, ia menatap Gabriel yang mendadak berhenti.
“Apa yang kau cari, Riel?” tanya darriel.
“Aku hanya mencari kenanganku dan dia,” jawab Gabriel datar.
Mendengar jawaban gabriel, darriel langsung diam. Tak berani lagi bertanya pada sang sepupu.
“Kalau begitu, aku akan menyuruh beberapa orang disini untuk membeli makanan, kita bisa makan bersama setelahnya,” ujar darriel yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban gabriel.
Mungkin, darriel sendiri tahu bahwa Gabriel ingin menikmati waktu sendiri terlebih dahulu.
Karena darriel juga bisa menduga bahwa saat melihat dierra, Gabriel serasa kembali bersama chelsie.
“Chelsie ... Aku menemukan seseorang yang mirip denganmu, aku menikahinya. Kuharap dirimu tidak marah padaku, sedari dulu aku memang g*la jika berurusan tentang dirimu.”
Mata Gabriel terlihat begitu kosong padahal pemandangan di depannya sangatlah indah. Gabriel hanya merasa bahwa takdir sangat kejam sehingga dia memanggil gadis itu dalam waktu yang singkat.
“Kak Alle!”
Gabriel terjingkat ketika mendengar panggilan ini.
“Tuan putri velle?” Gabriel memanggil namun tak memberi salam.
Anggota kerabat jauh kerajaan seperti Gabriel tak perlu terlalu sopan dengan saudaranya yang lain.
“Kak Alle sudah lama tak datang kesini, aku dengar-dengar kakak punya pengganti ya? Aku hanya berharap bahwa kakak tidak akan membuat seorang gadis terluka hanya karena kepentingan pribadi kakak,” ujar gadis bermahkota ‘princess’ yang sedang mendekat ke arah Gabriel.
N: Alle, didapat dari nama Gabriel. Gabriel derALLE jjonathan.
“Putri tak perlu khawatir tentang itu,” balas Gabriel singkat.
Mendengar suara Gabriel, velle terdiam.
“Aku merindukan kak Alle yang dulu,” gumam velle dengan suara yang kecil.
Sejenak mata tajam Gabriel melirik kepada velle namun di detik kemudian matanya sudah beralih fokus.