Dierra

Dierra
Dierra #11 ‘Kepulangan grache’



Grache tersenyum pada dierra, ia harus segera pulang ke istana. Di istana, ia pasti dihadapkan dengan sejuta pertanyaan dari sepupunya, ibundanya, kaisar, permaisuri, dan selir. Padahal di istana negara lain, selir dan anak-anak raja saling bermusuhan namun berbeda dengan disini.


Ini semua tentu berkat kehangatan dan keadilan yang selalu ditebar oleh kaisar, sehingga tak ada benih-benih pemberontakan di istananya, untuk saat ini tentunya. Namun, semuanya berharap bahwa benih pemberontakan seperti itu tak akan pernah muncul.


Grache menghela nafas susah, ia harus memikirkan jawaban yang tepat agar mereka tidak bertanya dua kali. Apalagi kak gabrielnya ini, kak rielnya juga pasti tak akan membuat grache tenang seharian ini.


“Kenapa grache?” tanya dierra, grache pun menatap mata kakak iparnya dan kembali tersenyum.


“Tidak apa-apa kak. Ah iya, kalau kakak mengizinkan, aku ingin mengundang kakak ke ist— eh maksudku tempat tinggalku nanti,” jawab grache dengan binar mata berharap.


Gabriel yang melihat keantusiasan grache pun mengangguk pada dierra, ia memberi isyarat agar dierra mengizinkan grache.


“Baiklah grache, lakukan sesukamu. Aku tak masalah,” balas dierra dengan senyuman terbaiknya.


Grache tulus, karena itulah dierra tak tega untuk membohonginya. Ugh, sepertinya ia harus memperkuat hatinya untuk melakukan semua rencananya.


“Dierra, aku akan pergi mengantar grache. Tetap di kastil dan berhati-hatilah,” pesan Gabriel dengan mengelus kepala dierra.


Dierra pun mengangguk singkat, kemudian Gabriel dan grache memasuki mobil dan pergi.


Daniel pun menunduk dan bangkit kembali saat mobil mereka melaju dan sudah tak terlihat di halaman kastil.


“Nyonya, mari masuk. Nyonya bisa masuk angin jika disini terus-menerus.”


Lagi-lagi dierra mengangguk dan tersenyum, ia melangkah terlebih dahulu dan Daniel mengikutinya.


Lalu saat sudah sampai di dalam kastil, Daniel memisahkan diri dari dierra.


Sebenarnya, dierra sedang memikirkan banyak pertanyaan. Bagaimanapun caranya, ia harus bisa berhasil menguak segala kebenaran yang ada.


“Ah iya Niel!”


Dierra memanggil Daniel, Daniel yang tak jauh dari dierra pun segera menoleh dan kembali menghampiri dierra.


“Ada apa nyonya?” tanya Daniel pada dierra.


“Kemana orang tua Gabriel? Aku tak pernah melihatnya saat aku berada di kastil ini,” tanya balik dierra.


“Niel? Ada apa?”


Daniel menghela nafas sebentar lalu melirik ke dierra.


“Orang tua tuan sudah lama meninggal nyonya. Jadi, saya harap nyonya tidak akan mengungkit hal seperti ini saat berada di hadapan tuan,” jawab Daniel membuat dierra melongo.


“A—ah, baik Niel. Terima kasih untuk jawabannya.”


“Kalau begitu, saya permisi dahulu ya nyonya,” pamit Daniel.


Dierra pun mengangguk dan menatap punggung Daniel hingga ia pergi menghilang dari pandangan dierra.


Setelahnya, dierra pergi ke kamarnya dan Gabriel.


‘Gabriel terlihat sangat kaya, sudah begitu melihat hubungannya dengan putri grache, artinya dia juga anggota besar kerajaan. Lalu, mengapa berita meninggalnya orang tua Gabriel juga tak ada di koran maupun media lain?’ batin dierra.


Semua ini sukses membuatnya bertanya-tanya, kehidupan Gabriel memang sangat misterius namun dierra juga sama misteriusnya.


“Kalau begitu, hanya ada satu kemungkinan. Gabriel menutup mulut semua orang entah itu dengan kematian atau kekuasaan.”


“Hanya saja, kalau melihat karakter warga indonesia.. aku yakin Gabriel menghabisi mereka semua. Riel itu berbahaya rupanya.” dierra menggumam dengan begitu panjangnya.


Ingin rasanya dierra mengumpulkan seluruh petunjuknya di kertas dan menghubungkan semuanya agar lebih mudah namun sayangnya kamar ini sudah difasilitasi cctv oleh Gabriel.


Jadi, yah itu tidak aman.


Maka dari itu, dierra lebih memilih untuk memikirkan rencana secara ‘awang’ dan menghubungkan semua petunjuk.


Singkatnya, dierra telah mendapat informasi baru bahwa Gabriel bukan orang baik seperti dugaan dierra dulu.


Dulu, dierra berpikir bahwa Gabriel adalah orang yang cukup baik. Mengapa cukup? Karena setiap manusia jelas memiliki sisi baik dan sisi buruk. Namun, sekarang sepertinya Gabriel murni bukan orang baik.


“Cukup sampai disini saja, jarak ini harus diperpanjang.”


-*-