
Grache hanya bisa termenung di depan Gabriel, velle dan ayahnya.
“Grache, ayah rasa kamu lelah. Beristirahatlah di kamarmu yang berada di istana ini, ayah akan mengurus penjagaan istanamu dan Elle. Gabriel, Elle bisakah kalian mengantar grache?”
Derry alfonsho de Jjonathan akhirnya berbicara, ia tahu sang putri begitu tertekan dengan semua pertanyaan yang ia, Gabriel dan velle ajukan.
“Tentu bisa paman.”
“Siap, ayahanda.”
“Bagus. Ah, jangan khawatir grache, ayah tidak akan memberitahu ibumu dulu. Ayah tau, kamu perlu beristirahat tanpa pertanyaan,” ujar kaisar saat melihat manik mata unik sang anak menubruk manik mata gelapnya.
“Baik ayahanda, terimakasih karena sudah mengerti,” balas grache.
***
“Grache, aku juga tau kau lelah. Tapi aku tak akan melupakan segala pertanyaan ku! Beristirahatlah dengan tenang, tuan putri,” ujar velle dengan wajah cemberut karena gagal mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
“Aku tau putri mahkota,” balas grache lalu velle dan grache pun tertawa kecil.
Gabriel yang melihatnya pun hanya memasang wajah datar, namun di dalam hati, ia senang. Senang sekali, sebab grache dan velle berbeda ibu namun mereka tak memiliki persaingan.
“Emm, kak Riel, Elle. Bisakah kalian merahasiakan keberadaanku juga pada kak darriel dan Rey?” tawar grache.
“Ya, kami tau kamu lelah. Oleh karena itu kami akan tetap diam,” sahut Gabriel disertai anggukan velle.
“Ah, grache. Ini kamarmu, masuklah lalu aku dan kak riel akan pergi,” ucap velle.
“Iya, terima kasih sudah mengantarku.”
Grache berbalik hendak masuk ke kamarnya namun tiba-tiba..
GREP
Velle memeluk grache dengan erat, lalu ia berbisik di telinga grache.
“Sepupu, jangan menganggap diriku lebih berharga darimu. Sebab, kita sama-sama berharga.”
Grache pun mengangguk pelan, lalu velle melepaskan rangkulannya pada grache.
KRIET
Pintu tertutup, grache sudah tak terlihat lagi oleh Gabriel dan velle.
Velle dan Gabriel pun saling berpandangan.
“Tentu saja, putri mahkota.”
“Tsk, kakak tidak usah se formal itu padaku!” sargah velle tak suka dengan panggilan formal Gabriel.
“Tapi aku memang harus memanggilmu begitu,” balas Gabriel dingin.
“Uh, sudahlah. Aku tak akan menang kalau kakak sudah membawa-bawa jabatan. Ayo kita pergi,” ajak velle.
Di sisi lain...
Dierra hanya diam di kamarnya, ia sedang menyusun berbagai rencana untuk mengetahui seluk beluk Gabriel. Pasti ada alasan mengapa dia segitu obsesinya dengan dierra.
Dierra pun mulai menyusun rencana melalui secarik kertas yang berusaha ia sembunyikan sedari dulu. Secarik kertas yang menyimpulkan kejadian-kejadian janggal di kastil ini.
“Sepertinya aku harus mulai mencari tau lewat almari itu, yah dimulai dari hal mudah dulu. Hmm, kita harus mematikan cctv-nya dahulu,” celoteh dierra.
“Sepertinya, bakat informatika ku akan berguna,” gumam Dierra dengan smirk singkat.
Di sisi lain...
“Tuan Gabriel, Putri Elle! Katakan, bagaimana kabar putri Grache? Saya tau kalian membawanya kemari. Katakan, dimana dia?”
Velle mengurut pelipisnya lelah mendengar pertanyaan beruntun itu.
“Setidaknya biarkan putri Grache beristirahat terlebih dahulu, jangan mengganggunya.” Gabriel memilih untuk mengambil kendali.
“Itu benar, putri Grache sudah lelah. Ia menghadapi sesuatu yang berat sendirian, dia jelas butuh ketenangan,” ujar velle mendukung pernyataan Gabriel.
“Ah, baiklah. Yang penting putri Grache baik-baik saja,” balas lawan bicara mereka.
N. Mereka memanggil dengan gelar, karena mereka sedang minum teh bersama dan ditemani para pelayan juga.
“Benar, pangeran.” Gabriel membenarkan ucapan sang pangeran, kakak dari Velle dan Grache, Ray Van Alfonsho anak dari selir pertama Renata Van Merdian, yang merupakan anak seorang Duke.
“Tapi, bagaimana kalau pangeran mahkota mengetahui ini?” tanya Ray dengan hawa takut di sekitarnya.
“Pangeran mahkota tak akan tinggal diam pastinya, pangeran. Namun, kita juga tak bisa melarang pangeran mahkota,” jawab Gabriel.
Velle pun mengangguk, siapapun tau bagaimana tabiat buruk sang pangeran mahkota jika orang kesayangannya diusik. Hampir sama seperti yang dilakukan Gabriel, namun dengan metode yang berbeda.
“Saya rasa, lebih baik ayahanda langsung memberi hukuman pada pelaku.” velle berucap, ia tak ingin sang kakak dicap buruk karena sikapnya nanti.
TBC