Dierra

Dierra
Dierra#7 : Manik mata oranye




...Kebohongan itu tidak akan bertahan lama....


...-Dierra....


***


Keesokan harinya ...


Dierra turun setelah melaksanakan ritual pagi, meskipun ia terlihat santai namun pikirannya sangatlah terganggu.


Sedikit informasi, ia sudah makan di kamarnya sebelum turun.


Gabriel tak pulang malam tadi, dan itu sangat mengganggu dierra mengingat bahwa ia juga baru saja menemukan identitas lain dari gabriel.


“Selamat pagi, nyonya.”


Pemikiran dierra yang tadinya berkeliaran seketika kembali, mata dierra menatap seorang maid yang menyapanya.


“Pagi juga, semangat ya!” balas dierra dengan senyuman manisnya.


“Baik nyonya, terimakasih.”


Dierra pun tetap tersenyum dan mengangguk, ia lalu melangkah ke arah pintu, ia membuka pintu itu dan ... JDAR.


Dierra terkejut ketika Gabriel ada tepat di sisi pintu yang lainnya, jadi saat dierra membuka pintu dia langsung bertatapan dengan Gabriel.


“Mau kemana, dierra?” tanya gabriel, meskipun nadanya hangat namun ia terdengar menekan pertanyaannya.


“Aku hanya ingin pergi ke taman depan,” jawab dierra langsung tanpa gugup.


“Dierra, maaf tapi jangan pergi keluar dahulu untuk saat ini. Jika ingin ke taman, lebih baik kamu pergi ke taman belakang saja, Niel sudah memberitahu ruangan-ruangan dan tempat-tempat disini kan?”


“Ya, niel sudah memberitahuku,” jawab dierra seraya mundur dua langkah.


Setelahnya Gabriel langsung masuk dan menutup pintu kembali.


“Kemana saja, Riel?” pertanyaan dierra membuat Gabriel langsung menatap mata dierra.


Gabriel berdecak di dalam hatinya saat menatap mata itu, manik dan sorot mata yang sama seperti mata chelsie.


“Apa kamu menungguku? Aku kemarin malam pergi untuk menemui saudaraku, lain kali jangan menungguku sebab pulangku tidak menentu,” ujar Gabriel menepuk lembut kepala dierra.


Dierra mengernyit untuk sesaat, bukankah anggota kerajaan tidak diperbolehkan untuk keluar pada larut malam? Dan, jika bertemu di istana pasti akan menjadi kunjungan resmi, kalau sudah begitu Gabriel harusnya tak pulang selama 3 hari atau lebih.


‘Berbohong, dia berbohong. Ah, sudahlah kebohongan pun tak akan bertahan lama, begitu pula dengan kebohonganku,’ batin dierra.


“Baiklah,” sahut dierra.


“Sudah makan?” tanya Gabriel seraya menarik tangannya dari kepala dierra.


“Sudah, jika kamu belum makan. Pergilah ke ruang makan, aku akan pergi ke taman saja.”


“Oke.”


***


Dierra melihat bunga-bunga ditaman dengan seksama, banyak bunga langka yang tertanam di tempat ini.


Taman di bagian belakang ini sangat terbuka. Bukankah ini sama saja dengan taman di depan sana? Apa bedanya? Mengapa Gabriel melarang dirinya?


Yah tapi saat ini dierra sedang tak ingin memikirkan itu.


Yah tentu karena bunga-bunga langka itu membuat dierra, gadis yang sangat menyukai biologi menjadi tertarik.


“Indahnya,” gumam dierra seraya tersenyum manis.


GUBRAK


Dierra terjingkat ketika suara itu menghampiri telinganya secara tiba-tiba. Ia langsung berbalik badan dan mengawasi area sekitarnya.


“Ada apa ini?”


Dierra bertanya-tanya, darimana suara itu?


‘Ah, tapi kalau dilihat dari kekuatan bunyinya, harusnya itu dari sekitar sini,’ batin dierra percaya lalu mengitari taman itu.


Suara sedakan itu meraih perhatian dierra, ia pun langsung mencari ke arah datangnya suara.


Betapa terkejutnya ia saat melihat seorang gadis dengan gaun yang terlihat mewah namun dihiasi ‘tanah’ terduduk di tanah dengan kondisi yang mengenaskan.


Sebenarnya, bagaimana bisa gadis itu kemari? Apa Gabriel melakukan suatu tindak kriminal?


Pertanyaan itu jelas berseliweran di kepala dierra.


“Eh, apa kamu baik-baik saja?” tanya dierra lembut, ia membantu gadis itu berdiri lalu membungkukkan badannya dan membersihkan bercak tanah di gaun gadis tersebut.


PLAK


Belum sempat dierra membersihkan semua bercak tanah di gaun itu, si gadis menyingkirkan tangan dierra dengan kasar.


“Apa maksud tindakan anda? Kenapa anda membantu saya?” tanya gadis tersebut, manik mata berwarna oranye itu mampu menarik perhatian dierra.


‘Ucapannya formal sekali, lalu dia masih terlihat anggun bahkan dalam keadaan seperti ini, sudah begitu fisiknya mencolok. Jangan-jangan ...’ batin dierra menduga-duga.


“Maaf jika kamu terkejut, aku hanya ingin membantumu. Aku tidak tega saat melihat orang kesulitan,” ujar dierra berusaha agar mulutnya tak tercetus Nada formal.


Sebab, tadi di awal dierra sudah menggunakan nada non-formal, bagaimanapun caranya bangsawan di hadapannya itu tak boleh tau bahwa dirinya sudah mengetahui identitasnya.


Dierra harus mendapatkan gadis itu sebagai sekutu.


“Melihat kondisimu saat ini, sepertinya kamu baru saja dikejar penjahat, dimana penjahat itu sekarang?” tanya dierra membuat manik mata gadis itu terbelalak.


Ia seolah mengingat sesuatu.


“Lari! Segera lari, saya tidak akan bisa berlari ke dalam dengan kondisi seperti ini. Anda harus meninggalkan saya disini dan panggil kak riel,” ujarnya cemas.


Dierra menepuk pelan pundak gadis itu, “Tidak. Aku tidak akan pergi dan meninggalkanmu sendiri.”


“Jangan keras kepala! Atau kita akan mati bersama disini,” cemas gadis itu.


“Tidak ap—”


“Ha! Disini kau rupanya sanderaku!”


Suara keras itu memotong ucapan dierra, akhirnya manik mata dierra melihat manik oranye gadis itu.


‘Ah, sepertinya ini penjahatnya,’ batin dierra.


“Siapa kau gadis berambut hitam? Hahaha sepertinya aku mendapat dua sandera cantik sekaligus, pelelangan pasti akan senang sekali jika melihat—”


BUAK


Ucapan itu dibalas bogem mentah oleh dierra, gadis bermata oranye itu membelalakkan matanya terkejut.


Si penjahat mundur beberapa langkah tak sampai jatuh namun pipinya sudah jelas memar.


“Banyak bicara kau! Pergi, kau pikir aku tak bisa beladiri? Aku ini pesilat sabuk hitam tau!” sentak dierra lalu mengarahkan pukulannya lagi.


Tapi ...


“Hah! Kau fikir aku bisa terkena serangan yang sama dua kali?” tanya si penjahat sombong.


“Tentu tidak, kau fikir aku sebodoh itu?!” sahut dierra mengarahkan kakinya untuk menendang bagian vital penjahat tersebut.


“ARGHH.”


“PERGI SEKARANG!” sentak dierra pada penjahat itu, si penjahat berdiri dengan tertatih-tatih lalu pergi dari pandangan dierra.


Dierra lantas berbalik ke arah si gadis oranye.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya dierra yang membuat mata oranye indah itu menatapnya kembali.


“Iya, aku tidak apa-apa. Maaf karena sudah mengira bahwa kamu adalah orang jahat dan terimakasih sudah menolongku,” ujarnya tulus.


Dierra tersenyum lalu menggenggam tangan gadis itu.


“Ayo kita masuk ke dalam, aku akan membawamu untuk bertemu dengan Riel, ah sepertinya kamu sudah mengenal Riel kan?”


TBC