
...Akan lebih baik jika dirimu tidak membangunkan singa yang sedang tidur....
...-Daniel....
...***...
Dierra hanya menghela nafas kesal seraya menatap tajam pada Daniel. Daniel itu keterlaluan, saat dierra bertanya Daniel malah bertingkah seolah-olah Gabriel dan grache sudah selesai dengan urusan mereka sehingga dirinya harus kembali.
“Mari nyonya,” ujar Daniel memberikan senyum ramah terbaiknya pada dierra, namun dierra hanya tersenyum kecut sebagai balasannya.
‘Maaf, nyonya.’ batin Daniel yang melihat ekspresi kesal dierra.
“Ah, kak dierra! Baru saja aku ingin menghampiri kakak ternyata kakak sudah berada disini,” ujar grache riang lalu memeluk dierra.
Dierra pun akhirnya tersenyum dan balas memeluk grache bagai Teletubbi*s.
‘Tunggu, mengapa lengan grache basah? Grache habis menangis? Kenapa?’ batin dierra bertanya-tanya.
Kira-kira kejadian apakah yang terjadi di antara grache dan Gabriel?
“Kamu tidak apa-apa grache?” tanya dierra, sok peduli tentunya.
“A—aku tidak papa, memangnya aku terlihat sedih ya kak?” balas dierra dengan tersenyum tulus.
“Kapan aku berkata bahwa kamu terlihat sedih? Aku tadi bertanya apa dirimu baik-baik saja, bukan apa dirimu sedang sedih. Apa itu artinya firasatku benar?”
Daniel menepuk jidatnya saat lupa mengabari grache bahwa kakak iparnya ini berpendidikan.
Memang benar, kisah dierra layaknya Cinderel*a hanya saja, bedanya dierra lebih licik dari si Cinderel*a asli.
“Ehm, tapi aku sangat baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir,” sahut grache mencoba untuk sedikit merevisi kata-kata yang tadi ia lontarkan.
“Tapi grache..”
“Dierra, istirahatlah dengan grache di kamar kita. Aku masih memiliki urusan, jangan bebani grache untuk sementara waktu kesehatannya perlu diperhatikan.”
Mendengar perintah Gabriel, dierra yang sadar posisi pun mengangguk mengiyakan.
“Mari, grache.”
***
KRIET KRIET KRIET
Suara pintu berderik terdengar begitu keras, seolah-olah orang yang membuka pintu itu ingin menenangkan jiwanya yang bergejolak.
“Katakan motifmu selagi aku masih memperlakukanmu dengan baik.”
Suara dengan nada tajam itu membuat ruangan yang tadinya sudah gelap terasa lebih gelap lagi.
“Tuan tidak perlu mengotori tangan tuan sendiri,” ujar orang yang lain.
Yang dipanggil ‘tuan’ menolehkan wajahnya dan memandang tajam bawahannya.
“Aku Gabrielle deralle jjonathan. Kau berani menggantikan ku?”
“Ah, maaf tuan. Saya hanya tidak ingin tangan tuan kotor.”
“Tidak perlu, b*d*b*h.”
Daniel hanya bisa menghela nafas berat, ia menepuk bahu bawahannya lalu menyuruhnya pergi dan meninggalkan dirinya dan Gabriel berdua saja, ah bertiga dengan tawanan mereka.
Hanya dua kata untuk bisa mendeskripsikan tempat ini, ‘screaming room’ yakni ruang teriakan.
Tempat dimana teriakan yang menggelegar, Juga tempat dimana para mangsa akan Gabriel ‘eksekusi’ dengan caranya sendiri.
Ilustrasi: by pinterest.
“Katakan, apa yang membuatmu menyusup ke istana para putri dengan berani dan gagah seperti itu?” tanya gabriel dengan nada menekan.
Orang yang kabur setelah menyerang grache tentunya dicari dengan keras oleh Gabriel, dan sekarang orang itu sudah berada di cengkraman Gabriel.
“Sa—saya hanya i—iseng karena kaisar tidak adil kepada ka—kami.”
“APA MAKSUDMU MEMBERI ALASAN SEPERTI ITU?!”
Daniel hanya diam melihat sang tuan yang duduk berhadapan dengan mangsanya. Mata tajam Gabriel terlihat memunculkan kilat sekilas.
“Menurutmu anak-anak kaisarlah yang harus menanggung kesalahan kaisar? Kay pikir kata" gagap seperti itu mampu membuatku percaya?” tanya Gabriel dengan sinis.
“Berikan padaku, niel,” ujar Gabriel, Daniel pun segera mendekat dan menyerahkan sebuah kotak pada Gabriel.
Gabriel mengambil kotak tersebut lalu membukanya.
“A—argh jangan tuan, saya mohon jangan lakukan itu!” teriak orang itu histeris.
Mendengar teriakan orang tersebut, senyum Gabriel semakin jelas. Memang beginilah harusnya, baru namanya sesuai ‘screaming room.’
“Maka menurutlah padaku, katakan siapa namamu?” tanya Gabriel lalu berdiri dan mendekat ke arah mangsanya.
“Na—nama saya rylo,” jawab rylo ketakutan dengan sesuatu yang dibawa Gabriel.
Mata rylo selalu mengawasi benda tersebut, di dalam pikirannya ia bertanya-tanya ‘bagaimana bisa dia membuat makhluk itu takluk?’
‘Dia benar-benar gila!’ batin rylo.
“Katakan motifmu dengan benar agar hewan kesayanganku ini tidak akan bern*fsu untuk menyakitimu,” tekan Gabriel dengan pandangan tajam.
“Sa—saya saya..”
BRAK
Gabriel memukul meja yang ada di dekat rylo dan memaksa mata rylo menatap matanya.
“Dengar, kesayanganku ini tidak suka basa-basi.”
***
HAHAHAHA
Suara tawa dierra dan grache menggema di kamar tidur itu, kedua orang yang baru saja berkenalan tersebut terlihat akrab satu sama lain.
“Kak, aku akan memberitahumu satu hal lagi!” ujar grache bersemangat.
Pasalnya, di dalam istana ia harus menjaga image dan melakukan tata Krama sebagai anggota kekaisaran. Alhasil, ia tak bisa tertawa lepas seperti ini, jadi tentunya grache sangat antusias dengan pengalaman ini.
“Apa itu?” tanya dierra dengan penasaran, sepertinya ia melupakan niat untuk memanfaatkan keberadaan grache.
“Kak Riel dulu sangat-sangat bod*h. Kakak tau? Kak riel bahkan pernah memakan daging dengan sendok, lalu dia bertanya dengan wajah bingung ‘kenapa makanan ini tidak bisa terpotong?’ akhirnya aku dan semua saudaraku tertawa melihatnya, kak riel benar-benar bod*h!”
Yap, benar sekali dua gadis itu tengah membicarakan Gabriel, yang dimana dierra tak menyangka bahwa Gabriel yang sekarang sangat berwibawa seperti itu pernah membuat kejadian yang memalukan.
“Akan sangat menyenangkan jika momen itu bisa terekam, pfft hahahaha.”
Akhirnya tawa grache dan dierra kembali menyatu dan menggema. Jika seseorang mendengarnya ia pasti akan sangat terkejut, sebab sudah lama tawa keras seperti itu tak menghiasi kastil ini.