
...Yang namanya permulaan...
...jelas ada akhirnya, aku berharap bahwa akhir kita adalah happy ending....
...-???...
...***...
“D¡E aja Lo sana kayak nama Lo, hahahaha.”
Suara teriakan itu menggema di telinga seorang gadis, meskipun begitu langkah kakinya tetap berlanjut seolah-olah ia tak mendengar suara sama sekali.
Dia adalah dierra, seorang gadis yang bahkan tidak diharapkan. Ia hidup hanya karena ibunya (tiri) melihat dirinya sebagai peluang untuk menjadi ‘orang kaya.’
Sebab Dierra adalah anak pintar, hanya saja senyum hampir tak pernah ada di wajahnya. Orang-orang memang tak tau dari kabar kalau ibunya belum menikah dan ia sama sekali tidak di harapkan.
Namun, siapa pun tau melihat dari namanya sendiri ‘dierra’ malangnya ia dipanggil ‘d¡E’ yang dalam bahasa Inggris berarti m4ti. Ini lebih memalukan daripada jika mereka mengetahui bahwa ia adalah anak di luar nikah.
Dierra gadhis darken. Itulah nama panjangnya, dilihat dari sisi manapun baik nama maupun hidupnya sama-sama gelap.
Langkah kaki dierra terhenti, mata hitam mengkilapnya menatap tempat duduk di pinggir jalan, dierra pun memutuskan untuk beristirahat disana.
Lagipula tidak ada yang mengharapkan kehadirannya di rumah itu, ibunya bahkan selalu menyuruhnya melakukan ini-itu disaat dierra sedang lelah-lelahnya.
Akan lebih baik jika dierra beristirahat sejenak.
Beberapa saat kemudian..
Tubuh dierra mulai menegang ketika ia sadar bahwa sepasang mata mengawasinya dengan sangat lekat. Dierra pun segera berdiri, ia hendak pergi secepatnya dari tempat itu.
Dierra pergi tanpa tau bahwa orang itu sudah memfoto dirinya, bahkan dierra juga tak tau seberapa besar pengaruh orang itu di dunia ini.
“Cari informasi tentang dia.”
Orang itu berbicara dengan nada datar pada orang lain di sampingnya.
“Baik, presdir.”
Alhasil, dierra pun pulang dengan langkah yang terburu-buru. Pintu rumah ia buka.
Dierra melangkah masuk dengan tenang namun..
CTYAR
“DARIMANA SAJA KAU? DASAR ANAK HARAM!” teriakan ibunya menggema pada dierra yang disusul oleh suara camb*kan yang selalu dierra dapatkan.
CTYAR CTYAR CTYAR
Camb*kan berkali-kali itu bahkan tidak membuat dierra menangis lagi. Hatinya sudah terlalu membeku, selain itu rasa sakit ini sudah sering dierra dapatkan sehingga gadis itu tak akan lagi menangis maupun memohon ampun, bahkan gadis itu kini sudah tak meringis kesakitan.
Sebab kini sudah 18 tahun lamanya siksaan ini didapatkan dierra. Tubuh dierra yang terlihat kurus dan sering kekurangan darah itu sudah mampu membuktikannya.
“CK, CEPAT BERDIRI DAN BERSIHKAN RUMAH INI, huft dasar anak b0doh,” celoteh ibu dierra, setelahnya ibunya itu pergi keluar dengan umpatan dan caci makinya pada dierra.
Dierra bahkan tidak pernah tau kemana ibunya pergi, dierra selalu ditinggal di rumah sendirian. Ia selalu ditinggalkan dengan tugas setumpuk yang ibunya sendiri enggan mengerjakannya.
Parahnya, disaat dierra sakit pun ibunya juga tak peduli. Dierra harus tetap mengerjakan tugas-tugas itu.
Jika dierra tak mengerjakannya sebelum ibunya kembali maka ia akan mendapat hukuman yang lebih berat.
Ia segera bangkit dan berjalan dengan pincang, ia mengelus kakinya sebentar lalu melangkah lagi. Kian hari camb*kan itu selalu menguat, meskipun dierra tak bersuara saat disiksa namun siapapun tau bahwa luka itu sangatlah menyakitkan.
KREK
Bunyi itu berasal dari pintu kamar dierra, terdengar dari bunyinya.. kamar itu jelas sudah tak layak pakai.
Ia mengganti bajunya dan keluar untuk mengerjakan beberapa tugas rumah, mulai dari memasak, mencuci baju, lalu membersihkan rumah.
Setelahnya dierra selalu menyempatkan diri untuk mengambil dua centung nasi dan satu lauk untuk dirinya, selalu begitu. Dierra hanya makan sekali sehari.
Bukan karena ibu dierra miskin namun jatah makan dierra memang selalu begini, jika dierra mengambil lebih maka ibunya pasti selalu tau.
Dierra tak mengerti, bahkan ia terkadang bertanya-tanya, bagaimana bisa ibunya mengetahui hal kecil seperti itu?
Setelah membereskan semuanya dierra segera mengerjakan pekerjaan rumah yang telah diberikan oleh para gurunya. Di tahun terakhir sekolah menengah atasnya ini dierra lagi-lagi mendapat beasiswa.
Setidaknya dierra bisa sukses, memberikan semua yang ibunya mau dari dirinya dan pergi meninggalkan lingkungan yang sungguh toxic ini.
TOK TOK TOK
“Siapa itu? Ibu? Tapi tidak biasanya ibu mengetuk pintu seperti itu,” lirih dierra bangkit dari meja belajarnya, ia menatap jam yang menggantung di sudut dinding.
Terlalu awal untuk ibunya pulang saat ini.
“Siapa?” tanya dierra memegang gagang pintu.
“Ini ibu nak,” jawab sebuah suara dari luar sana.
Sontak saja dierra mundur beberapa langkah, itu memang benar suara ibunya. Namun, kenapa suaranya terdengar begitu lembut? Apa di depan ada teman ibunya? Tapi selama ini ibunya tidak pernah membawa satu temannya sekalipun kemari.
“Nak, apa kamu bisa membuka pintunya? Ibu datang dengan seorang tamu,” ujar ibunya.
Seketika, dierra bertambah bingung. Tetapi ia tetap maju dan membuka pintu tersebut.
“S—selamat datang ibu,” ujar dierra dengan terpaksa. Mata tajam ibunya itu berisyarat jika dirinya harus mengatakan hal itu.
“Iya nak, terima kasih sudah membuka pintunya. Mari masuk tuan, ini anak saya,” ibunya masuk dengan membawa seorang pria.
Pria itu bahkan menelisik ke dalam rumah.
Dierra memandang pria itu lama, ia sepertinya pernah melihat pria itu. Namun dimana?
DEG
Jantung dierra berdetak kencang ketika ia ingat bahwa pria itulah yang memandanginya dengan lekat tadi.
“To the point saja, saya tak suka jika berada di satu rumah dengan lama bersama seorang j*lang seperti mu. Saya ingin gadis itu untuk menjadi istri saya!” dierra melebarkan matanya mendengar ucapan pria itu.
Jika dilihat dari wajahnya ia harusnya masih berusia 20 tahun.
“Tapi tuan, dia telah saya besarkan dengan uang. Dia jelas tidak gratis,” balas ibunya dengan teknik marketing.
“I—ibu?”
Dierra bersuara lirih namun tak digubris sama sekali oleh ibunya, namun kemudian wajah dierra cerah kembali.
‘Jika aku ikut dengannya berarti aku akan pindah rumah kan?’ batin dierra yang memutuskan diam.
“$100.000.000, saya akan memberimu $100.000.000 untuk dierra!” sahut pria itu singkat.
“Tolong naikkan harganya, tuan. Saya menjaganya dengan baik, jadi uang yang dikeluarkan juga banyak,” ibunya bahkan meminta naik harga tanpa memperdulikan harga diri dierra.
Meskipun dierra ingin pergi namun ia masih memiliki harga diri. Ingin sekali dierra menangis, hidupnya bahkan terasa seperti mainan. Ia bahkan dijual seperti ini.
‘Lagipula, dia menghabiskan uang banyak darimananya? Dia kan mengadopsiku bukan melahirkan ku! Parahnya kan aku diadopsi karena pintar saja, lantas menghabiskan uang dari mana?’ batin dierra bersuara.
“$250.000.000, saya tau bahwa anda bahkan tidak menjaganya dengan baik, jadi jangan mencoba menipu saya.”
(Menurut g*ogle, jumlahnya jika di rupiahkan adalah 3.704.612.500.000. Mahal guys.)
“Deal!”