
...Hidup hanyalah permainan yang diatur untukmu....
...-Dierra....
...***...
Dierra hanya diam ketika melihat bangunan super mewah yang berada di hadapannya, ia dan pria itu masih berada di luar belum masuk sama sekali.
Ah ya, sedikit informasi ia kini sudah resmi menjadi istri pria misterius yang bahkan tak ia ketahui namanya.
Dierra kini memakai gaun pernikahan yang mewah juga, padahal pernikahannya diadakan di rumah ibu tiri dierra, dan hanya dihadiri ibu, kakak tiri dierra, dan sekretaris pria ini saja.
Dierra sekarang jadi penasaran, kemana orang tua pria ini?
“Turun lah dierra,” ujarnya dengan lembut. Dierra hanya tersenyum canggung dan turun dengan bantuan pria tadi.
Ketika sudah keluar dari cengkraman ibunya dierra memang merasa lega namun ia harus menyelidiki mengapa pria ini mau membayarnya dengan semahal itu? Mohon di garis bawahi. Dia tadi membayar $250.000.000 hanya untuk dierra.
Apakah uangnya tidak habis?
“Emm, maaf. Tapi bukankah harga yang anda bayar tadi sangat banyak tuan? Selepas dari itu, mengapa anda segitu niatnya untuk membeli saya?” tanya dierra dengan hati-hati.
Pria itu menoleh sejenak ketika mendengar nada formal dierra, ia tersenyum dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
“Harga segitu sangat murah bagiku dierra, apalagi jika aku mendapat seorang gadis sepertimu. Menurutmu mengapa aku sangat ingin memilikimu? Ah ya, namaku Gabriel, panggil aku Riel. Satu kali lagi, jangan berbicara dengan nada formal padaku, aku tidak suka.”
Dierra mengernyit saat gabriel-gabriel ini seperti sangat kenal padanya.
“Anda eh maksud ku Riel, kenapa kamu terlihat sangat mengenalku? Sedangkan kita sendiri baru saja bertemu. Emm maaf bukannya aku terlalu penasaran, namun ini berkaitan dengan diriku jadi..”
Dierra terlihat ragu-ragu, namun Gabriel hanya menanggapi dengan senyuman.
“Kamu akan tau nanti dierra, ini bukan waktunya.”
Jawab Gabriel dengan senyuman menawannya, namun entah mengapa dierra merasa bahwa senyuman Gabriel makin hambar saat ia bertanya tentang alasan Gabriel membelinya.
‘Kini aku hanya seperti mainan, dijual seperti tender, memalukan,’ batin dierra bersuara. Walaupun ia sudah dibeli dengan harga yang menjulang tinggi tapi yah tetap saja..
Perlahan dierra menghela nafasnya kasar.
“Tuan, nyonya, kenapa anda sekalian berdiri disini? Para maid sudah menunggu untuk melakukan sambutan pada nyonya,” ujar asisten Gabriel pada keduanya.
Gabriel mengangguk dan menggait tangan dierra, “sebelum masuk aku ingin berbicara padamu dierra. Aku memiliki beberapa pesan, jangan pernah sungkan untuk mengatakan sesuatu padaku, pada dia ataupun para maid disini.”
“Katakan juga jika ada maid yang berbicara tak sopan padamu, aku akan menindak lanjutinya.”
Dierra hanya mengangguk mengiyakan, ia rasanya masih agak canggung dengan Gabriel, walaupun mereka sudah terikat hubungan resmi namun ia dan Gabriel baru saja berkenalan.
Perhatian ini juga menjadi salah satu penyebab kecanggungan dierra, ibu tiri dan kakak tirinya saja tak menyayangi dierra namun pria ini terlihat begitu perhatian padanya.
Dierra pun tak tau apakah perhatian ini hanyalah rasa belas kasihan atau sebagainya, kepala dierra saja masih pusing jika memikirkan ini semua.
SRET
Pintu gerbang yang berkilauan itu dibuka, dierra berani menebak bahwa Kilauan itu berasal dari perak, mudahnya pagar rumah Gabriel ini terbuat dari perak.
Dierra melongo ketika melihat semua maid berbaris.
Setengah maid dan pengawal berbaris menunduk. Dan setengahnya lagi agak menunduk sambil melemparkan bunga Bougenville, mawar, tulip dan lavender yang dicampur pada Gabriel dan dierra.
Sontak saja dierra mundur sedikit, matanya terlihat berkaca-kaca. Walaupun tau bahwa para maid dan pengawal itu hanya melakukan tugasnya namun dierra dapat mengetahui bahwa mereka tidak menaruh dendam maupun iri pada dierra.
Bagaikan budak yang menjadi ratu, itulah perumpamaan yang tepat untuk dierra saat ini.
“Ada apa dierra?” tanya Gabriel, sebab tadinya hanya Gabriel yang menggait tangan dierra namun tiba-tiba dierra mencengkram erat tangan Gabriel.
Melihat mata dierra yang berkaca-kaca, Gabriel langsung mengedarkan pandangan tajamnya.
“Apa ada sesuatu yang tidak kau sukai?”
“Tidak Riel, hiks hanya saja aku merasa terharu dengan sambutan mereka, terima kasih ya!” jawab dierra, tak lupa ia berterima kasih pada para maid dan pengawal itu.
“Tidak masalah nyonya!”
Para maid itu terlihat tersenyum dengan lebar. Sepertinya mereka mulai menyukai dierra. Ini adalah permulaan yang bagus.
“Silahkan masuk, tuan, nyonya.”
Dierra mengangguk dan melepaskan cengkeramannya pada Gabriel, ia melangkah masuk. Lagi-lagi ia terkesima dengan kekayaan yang dimiliki Gabriel.
“Dierra, aku memiliki urusan sebentar. Apa kamu bisa berada disini? Aku tidak akan lama,” tanya Gabriel mengusap pucuk rambut dierra.
“Baik Riel, aku akan berada disini.”
Gabriel mengangguk puas, ia menepuk tangannya pelan. Seseorang pria tua datang lalu menunduk pada Gabriel.
“Niel, antarkan dierra ke kamarku. Buat dia senyaman mungkin, aku tak ingin dia merasa tidak nyaman disini, jaga dia juga. Aku bisa menyerahkan tugas ini padamu kan?” tanya Gabriel pada pria itu.
“Tentu tuan, saya akan menjaga nyonya,” jawab pria itu.
“Bagus! Dierra aku pergi dulu ya,” ujar Gabriel mengusap sisa air mata dierra.
“Emm, hati-hati Riel.”
“Iya,” balas Gabriel melangkah keluar diikuti asistennya di belakangnya.
“Dierra, apa kamu ingin sesuatu dari luar sana?” tanya Gabriel lagi, padahal tadi ia sudah melangkah keluar namun ia masuk kembali.
“Tidak.”
Gabriel pun mengangguk dan tersenyum, ia lalu melangkah keluar kembali.
Setelahnya Gabriel benar-benar pergi, dierra melihat pria tadi.
“Maaf, tapi nyonya ingin kemana terlebih dahulu? Nona ingin berganti dahulu atau berkeliling?” tanya pria itu, Niel? Yah mungkin itu namanya.
“Berganti gaun saja dulu, tuan.”
“Nyonya bisa memanggil saya Daniel atau niel,” balasnya tersenyum lebar.
“Ah baik Niel, tolong tunjukkan kamarnya ya.”