
...Dunia lebih kejam daripada yang dirimu duga selama ini....
...-Dierra....
...***...
Dierra memandang setiap sudut kamar yang terlihat suram, mengapa tidak? Dinding kamar ini di cat dengan warna hitam!
“Apa sebegitu kesepiannya Riel hingga menggunakan warna hitam sebagai warna kamarnya?” gumam dierra ketika sadar dari cerita Daniel bahwa Gabriel sudah tidak memiliki keluarga.
Gabriel juga hampir tak memiliki teman, kebanyakan hanya memanfaatkannya saja.
Tapi, mengingat kata hampir.. dierra rasa hidup Gabriel tidak sesedih itu bukan?
‘Hidupku saja lebih menyedihkan darinya!’ batin dierra bermonolog.
Dierra akhirnya melangkahkan kakinya menuju jendela kamar tersebut, memandang kebawah dimana semua bangunan di sekitarnya terlihat.
Dierra tersenyum ketika ia melihat rumah tempatnya di siksa oleh ibunya dulu.
“Aku berhasil keluar dari cengkraman ibu.”
Yah, itu adalah prestasi yang dibanggakan oleh dierra namun parahnya dierra malah masuk ke genggaman Gabriel yang bahkan tak dierra ketahui karakternya bagaimana.
Lebih pentingnya, mengapa Gabriel bersedia membeli dierra dengan harga menjulang seperti itu? Bukankah dengan uang itu Gabriel bisa menyewa banyak p€lacur?
Tapi, kenapa Gabriel malah memilih dierra yang bahkan tidak menarik ini?
“Pasti ada semut di balik batu kan?” tanya dierra pada dirinya sendiri.
Hanya saja ... apa?
Pertanyaan itu setiap waktu bersemayam di kepala dierra ketika dierra bersama dengan Gabriel. Pertanyaan itu pula yang terngiang-ngiang setelah ia keluar dari rumah sang ibu.
Ia menghapus setitik air mata yang hadir di pelupuk matanya, kemudian kakinya ia arahkan ke arah almari.
Ia membuka almari itu sontak saja matanya melebar, mulutnya menganga ketika melihat beberapa gaun dari label terkenal.
“I—ini dari ... Brand cherve! Ini kan usaha nyonya purnama,” gumam dierra menggelengkan kepalanya ketika mengingat nama brand itu.
Dierra lalu memakai gaun itu, ia bahkan memakai dengan hati-hati pasalnya ia takut bahwa gaun itu akan rusak ketika ia salah gerak.
TOK TOK TOK
“Nyonya, ini saya Daniel. Apa saya boleh masuk ke dalam sana?” tanya Daniel dari luar pintu kamar dierra dan Gabriel.
“Ah kamu rupanya, masuk saja niel.”
SRET
Pintu kamar dierra dibuka, tampak Daniel dengan senyum menawannya masuk dan memberi hormat sejenak pada dierra.
“Eh, ada apa dengan sikapmu Niel?” sontak saja dierra yang tak terbiasa jelas bingung dan merasa tak enak.
“Tidak apa-apa nyonya, saya hanya memberi anda hormat. Hal ini adalah hal yang wajar mengingat jika saat ini anda adalah nyonya saya,” ujar Daniel menerangkan tentang itu pada dierra. Daniel tau, dierra tak terbiasa. Mengapa? Sebab dia sudah mendengar semuanya dari sang tuan.
Tuannya tak ragu mengucapkan hal ini sebelum melamar dierra karena Daniel itu dapat dipercaya, jika dia musuh maka Gabriel sudah akan meninggal belasan tahun lalu. Singkatnya, Daniel kini seperti orang tua bagi Gabriel namun Daniel sendiri yang bersikeras agar Gabriel tetap menganggapnya sebagai bawahan.
Selain alasan itu, Daniel memerlukan informasi tentang dierra agar bisa menjaga gadis itu dengan baik.
“Seperti permata Niel! Aku tak ingin jika nanti chelsie terluka.”
Pesan itu persis dikatakan Gabriel beberapa tahun lalu, sekarang Gabriel mengatakan itu namun objeknya berubah.
“Ingatlah Niel, seperti permata! Aku tak ingin jika dierra terluka.”
Dari chelsie menjadi dierra.
“Tapi, itu tidak perlu.”
“Itu sudah menjadi kewajiban saya dan para maid disini nyonya, jangan merasa tidak enak begitu, kami memang harus memberi hormat pada majikan kami. Maaf nyonya, tapi bolehkah saya bertanya?” tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.
”Emm, yaa. Boleh saja, apa pertanyaanmu?” tanya balik dierra.
“Apa sekarang nyonya ingin mengelilingi kastil ini sekarang?”
DEG
‘Astaga, sebenarnya berapa kekayaan Gabriel?’ batin dierra lagi.
“Nyonya?” panggilan Daniel menyadarkan dierra dari lamunannya.
“Eh iya, aku ingin berkeliling sekarang. Tolong pandu aku ya,” ujar dierra ramah.
”Tentu saja nyonya, itu juga salah satu tugas saya.”
Dierra pun hanya membalas dengan senyuman terbaik yang mampu ia beri.
***
“Presdir, perusahaan cetr* mengajukan janji temu dengan kita nanti siang untuk membicarakan proyek kemarin,” ujar si asisten.
“Bertubrukan dengan jadwal dengan siapa? Lagipula bagaimana bisa dia tidak membuat janji temu dari hari-hari dulu?” tanya Gabriel datar.
Yah, sifat dan sikap yang tak ia tunjukkan pada dierra. Gabriel memperlakukan dierra seperti dia memperlakukan chelsie dulu.
Ia hanya menganggap dierra sebagai pengganti chelsie. Itu kebenarannya.
Gabriel rasa dierra tak perlu tau tentang ini, dia tak perlu tau siapa chelsie maupun tentang bagaimana masa lalu Gabriel. Sebab, seluruh media dan catatan tentang hal itu sudah dihapus sejak dahulu kala.
Hanya saja, Gabriel seringkali lupa bahwa dierra berhak tentang hidupnya sendiri.
“Ini bertubrukan dengan meeting anda bersama perusahaan purnama,” jelas asistennya. Nyatanya walau si asisten tau bahwa dierra hanya dianggap sebagai pengganti chelsie namun dia tak pernah melarang Gabriel.
“Hah, Ardan atur lagi jadwal dengan cetr*. Kau jelas tau bahwa kita sudah susah payah untuk mengajukan proposal pada perusahaan purnama, kita harus menggaet perusahaan itu agar segera bekerja sama dengan kita.”
“Baik presdir, saya akan berusaha mengundur pertemuan itu. Saya akan menempatkannya di jadwal kosong anda.”
“Aku ingin jawaban yang pasti Ardan!” balas Gabriel memandang tajam Ardan, sang asisten. Ardan menyebut kata ‘berusaha’ padahal Gabriel sangat membenci kata itu.
Gabriel hanya ingin jawaban yang pasti dan tentunya memuaskan baginya.
“Baik presdir.”
“Bagus. Oh ya ardan, apa kau bisa mengosongkan jadwal ku malam ini?” tanya Gabriel dengan nada yang cukup memaksa.
Kesannya, Gabriel bukan serang bertanya melainkan menurunkan perintah, mengerti dengan perkataan sang tuan Ardan pun mengangguk singkat.
“Tentu saja Presdir,” jawab Ardan tanpa bertanya lebih dalam lagi.
...****************...
“Apa nyonya lelah?” tanya Daniel saat melihat nafas panjang dierra.
“Aku? Oh tidak! Aku tidak lelah, hanya saja aku merasa sedikit kesusahan saat mengingat ruangan-ruangan yang berada disini,” jawab dierra.
Bahkan, dierra sendiri masih tidak nyaman dengan panggilan yang dilayangkan Daniel padanya, oleh karenanya terkadang dierra masih sedikit lupa bahwa si ‘nyonya’ itu dirinya.
“Oh begitu, tapi sebaiknya nyonya jangan memaksakan diri. Nanti nyonya pasti bisa membiasakan diri,” balas Daniel yang dibalas anggukan oleh dierra.
“Baiklah, apa nyonya masih ingin melanjutkan penjelajahan ini?” tanya Daniel.
“Iya, kita lanjutkan saja.”
Daniel pun kembali memimpin tour, hingga dierra mengernyitkan keningnya tatkala ada satu ruangan yang tidak dijelaskan padanya.
“Tunggu Niel, ruangan apa itu? Mengapa kamu tidak mengenalkan ruangan itu padaku juga?” tanya dierra sambil menunjuk ruangan yang terletak di sudut lantai.
Ruangan yang suram tetapi bersih, seolah-olah ada seseorang yang setiap hari memasukinya. Pertanyaannya, mengapa kesan ruangan itu terlihat suram? Sudah begitu siapa yang akan memasuki ruangannya?
“Itu hanya ruangan yang tak pantas untuk dikunjungi oleh nyonya,” jawab Daniel yang seolah-olah sudah mempersiapkan jawabannya sedari tadi.
“Ruangan apa itu?” tanya dierra dengan rasa penasaran yang membuncah.
“Itu hanya gudang yang menyeramkan, tempatnya juga sudah tidak terawat.”
Mendengar jawaban Daniel, dierra hanya mengangguk dan kembali mengikuti langkah Daniel.
‘Ada yang aneh, dari luar saja sudah terlihat bahwa ruangan itu sangat terjaga dan terawat, kenapa Daniel memberiku alasan begitu? Ruang apa itu sebenarnya?’ batin dierra.
‘Apa Daniel sengaja berbohong?’ batinnya lagi.
Dierra hanya tersenyum sekilas saat menyadari bahwa Daniel mungkin masih tak menyadari bahwa otak dierra bukan otak orang sembarangan yang bisa ditipu dengan mudahnya.
...----------------...