DELIA

DELIA
32. Jangan Tinggalkan Aku Lagi



"Kalian mau kemana?"


Pasangan itu berhenti saat mendengar pertanyaan anak bungsunya. Wajah mereka sama-sama bersemu merah, meskipun Delia tentu saja tidak mengetahui apa yang sebenarnya mereka niatkan.


"Kami ingin mencari kamar untuk beristirahat. Tubuh kami rasanya begitu lelah," sahut Budi Darma.


Delia menghela nafas lega.


"Baiklah. Silahkan kalian beristirahat. Oya, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Nanti aku akan meminta bantuan seorang teman untuk menjaga kalian di sini."


"Kamu mau pergi lagi, Sayang?" Eriana berbalik. Memastikan apa yang dia dengar barusan.


"Iya, Bu. Ada banyak hal yang harus aku urus. Sementara ini Ibu sama Bapak, juga Kakak tinggallah di sini. Jika kalian nyaman, aku akan meminta Kim untuk menjualnya kepadaku," ucap Delia.


"Bagaimana dengan bibimu? Apa kamu mendapatkan petunjuk?"


"Ya. Aku akan bertemu dengannya nanti malam. Aku juga akan mengajaknya ke sini. Aku harap Ibu sama Bapak bersiap juga nanti malam. Masalah pakaian nanti aku kirim ke sini."


"Terima kasih, Sayang."


Eriana mendekati Delia, dan memeluknya penuh rasa sayang. Begitu pula dengan Budi Darma.


"Ibu dan Bapak tahu apa yang kamu lakukan. Tetaplah berhati-hati, karena musuh ada dimanapun kita berada. Mereka punya mata dimana-mana. Jangan khawatirkan kami! Kami bisa menjaga diri kami dengan baik," ucap Eriana.


Delia mengangguk percaya. Setelah basa basi sejenak, Delia pun bergegas keluar mencari Kim. Sepertinya dia harus bertindak cepat sebelum anak buah Dainy menemukan persembunyian kedua orang tuanya.


"Kim," panggil Delia.


"Iya, Putri," sahut pria itu.


"Kenapa kamu sendiri? Dimana kakakku?"


"Beliau meminta diantarkan ke kamarnya. Beliau mau beristirahat," jawab Kim.


"Bagus kalau begitu. Dimana yang lain?"


Kim bersiul. Tak lama sekitar lima orang keluar dari tempat persembunyian mereka.


Delia menghela nafas lega. Setidaknya dia tidak perlu begitu khawatir meninggalkan keluarganya.


"Tolong kalian jaga kedua orang tuaku dan kakakku dengan tubuh dan jiwa kalian!"


"Baik, Putri."


"Hubungi Kim jika terjadi apa-apa," pesan Delia.


"Siap, Putri."


"Baiklah, kami harus pergi sekarang. Kembalilah ke tempat kalian masing-masing, dan jangan sampai lengah!"


Mereka berlima mengangguk, dan secepat kilat telah menghilang dari hadapan Delia.


"Para ninja memang tidak pernah mengecewakan," desis Delia.


Delia dan Kim segera menuju ke mobil yang terparkir di halaman. Mereka kini melaju meninggalkan rumah Kim. Tujuannya adalah markas besar mereka.


"Ternyata Amro adalah saudaraku yang ditawan oleh Dainy, Kim."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Putri?"


"Cari orang yang terbaik yang bisa menyusup ke dalam keluarga Salazar! Pastikan dia melindungi Amro dari tangan wanita gila itu!"


"Bagaimana kalau saya sendiri, Putri?"


"Kamu saya butuhkan untuk memimpin pergerakan seluruh anggota kita, Kim. Aku tidak akan selamanya berada di sini. Apalagi paman dan Reyn sekarang ada di sini. Benar-benar merepotkan," keluh Delia. Gadis itu memijit pelipisnya. Merasa kesal dengan dua pria yang selalu saja begitu ceroboh dalam bertindak. Tentu saja Delia mengkhawatirkan keselamatan keduanya. Takut Dainy akan mengincar mereka untuk mengancam dirinya.


Kim melihat dari kaca spion, dan tersenyum tipis. Dia tahu betul apa yang dipikirkan oleh pemimpinnya itu. Bahkan kedekatan putri dengan Reyn, dia tahu segalanya. Selama ini anak buahnya menjaga Putri dari kejauhan.


Meskipun repot, tetapi itu kekasih hatimu, Putri. Batin Kim. Mana berani dia bicara terus terang di depan sang pemimpin. Jangan sampai sang Putri mengangkat senjatanya, dan menembak membabi buta. Seperti saat dia sedang kesal.


Mobil yang mereka tumpangi membelah jalanan yang lumayan sepi. Baik Kim maupun Delia tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga tidak terasa mereka sudah sampai di markas. Delia segera turun, tentu saja dengan topeng yang menutupi sebagian wajahnya. Memang gadis itu tidak pernah membuka jati dirinya pada orang lain selain orang-orang terdekatnya.


"Selamat datang kembali, Putri!" Sapa beberapa anak buahnya yang berjaga di depan pintu.


"Apakah semua aman?"


"Ada seorang penyusup yang memaksa bertemu dengan Putri."


"Lalu?"


"Bagus."


Delia kembali berjalan masuk ke dalam markas dengan langkahnya yang tenang. Kim tetap berada di belakangnya.


"Apa kamu tidak mendapatkan laporan kalau ada penyusup?"


"Belum, Putri. Mungkin baru saja terjadi, dan mereka sudah memperkirakan kedatangan kita," sahut Kim. Pria itu mengangkat sudut bibirnya tanpa disadari oleh Delia.


"Baik, aku akan langsung ke ruang interogasi. Kamu boleh menghubungi orang-orang kita untuk memperketat keamanan!"


"Baik, Putri."


Mereka berpisah jalan. Kim menuju ke ruangannya, sementara Delia menuju ke ruang bawah tanah.


"Dasar penjahat sialan! Kalian belum tahu siapa aku. Bisa-bisanya kalian mengikatku seperti ini. Aku pasti akan membuat perhitungan dengan kalian!"


Delia tertegun saat mendengar suara itu. Berharap itu bukanlah orang yang dia pikirkan saat ini. Perlahan Delia masuk, dan melihat siapa yang sebenarnya berada di dalam ruangan tersebut.


Ceklek.


Lampu menyala dengan terang.


"Siapa kamu?" tanya pria itu begitu melihat Delia yang memakai topeng masuk ke dalam ruangan.


Delia sendiri begitu terkejut melihat siapa yang berada di hadapannya. Lagi-lagi kecerobohan telah mengantarkan pria itu ke dalam ruangan ini.


"Berani sekali kau menyusup kemari!" kata Delia dengan keras.


"Apa yang kamu bicarakan? Aku sama sekali tidak menyusup. Mereka saja yang salah tangkap," sahut pria itu tidak terima.


"Lalu apa tujuanmu datang ke tengah hutan seperti ini?"


"Untuk apa aku bicara tujuanku kepadamu? Lepaskan ikatan ini!" teriaknya.


"Kamu terlalu memaksakan diri, Tuan!"


Delia mendekati pria yang saat itu terikat dengan kursi yang didudukinya.


"Anda terlalu berani mengambil resiko. Bagaimana jika anda tidak selamat? Bukankah kedatangan anda kemari akan berakhir sia-sia?"


Pria itu melirik tajam pada Delia yang saat ini sedang membungkuk berbisik ke telinganya.


Hidungnya mencium bau parfum yang tidak asing baginya. Sudut bibirnya pun terangkat.


"Apapun akan aku lakukan demi keselamatan separuh jiwaku. Kamu tidak berhak menilai dengan kacamatamu sendiri!'


Delia mengulum senyum. Ternyata Reyn bisa mengenalinya. Gadis itu perlahan melepaskan tali yang mengikat tubuh kekasihnya.


"Kenapa kamu melepaskan aku?" tanya Reyn yang masih pura-pura tidak mengenal Delia.


"Bukankah kamu ingin berjuang untuk separuh jiwamu? Aku memberimu kesempatan untuk mengejarnya. Cepat pergi, dan dapatkan kekasihmu itu!"


Grep.


Pelukan itu begitu menyesakkan.


"Aku tidak akan memaafkan kamu, jika ada bagian tubuhmu yang tergores sedikit saja!" bisik Reyn. Delia merinding kala sapuan lembut itu terasa di telinganya.


"Bagaimana kamu bisa tahu itu aku?"


"Parfum yang aku berikan kepadamu adalah parfum dengan formula khusus yang dibuat hanya untuk kita berdua. Tidak ada yang punya di dunia ini. Aku tidak akan pernah salah mengenali orang," bisik Reyn. Pria itu sudah membalikkan tubuh sang kekasih hingga menghadap ke arahnya.


"Kamu benar-benar sangat nakal!" kata Reyn sembari membuka pelan topeng yang menutupi separuh wajah Delia.


"Aah," jeritan kecil itu tertahan saat Reyn dengan buas udah ******* bibir Delia. Bahkan lidahnya memaksa masuk ke dalam. Mereka bertukar saliva. Delia tidak bisa menghentikan Reyn yang terlihat sangat bersemangat. Meskipun berkali-kali wanita itu berusaha melepaskan diri.


Reyn tidak memberi kesempatan gadisnya untuk lolos kembali. CUkup sudah dia merasakan cemburu, dan ketakutan sejak kemarin. Hari ini tidak akan ada yang mampu memisahkannya dari Delia.


"Jangan lupa bernafas, Sayang!" ucap Reyn saat dirinya melepaskan tautan bibirnya dari bibir legit milik Delia. Namun, belum juga Delia menjawabnya, bibir itu kembali maju , dan ******* kembali. Delia terengah-engah.


"Jangan pernah tinggalkan aku lagi!" bisik Reyn mengakhiri hukumannya. Tangannya mengusap bibir Delia yang sedikit membengkak karena ulahnya.


"Dimana kamarmu?" bisik Reyn serak.


Sepertinya pria itu benar-benar sudah tidak bisa menahan dirinya.