
Beberapa bulan kemudian di Kota Artha.
Hubungan Reyn dan Delia sudah mulai banyak kemajuan. Reyn sering menjemput Delia dari tempat kerja barunya. Delia memang tidak mau menerima tawaran Reyn untuk bekerja di perusahaan milik pria itu. Dia lebih senang bekerja di sebuah toko kecil. Alasannya sangat sepele, agar dia bisa bertemu banyak orang dan tidak terlalu menyita waktunya juga.
Awalnya Reyn marah, tetapi setelah di jelaskan perlahan-lahan dia pun menghargai keputusan Delia. Bahkan mendukung sepenuhnya keinginan gadis itu.
Hari ini Reyn berjanji akan menjemput Delia setelah beberapa minggu sibuk mengurus bisnis milik keluarga Davidson. Ya, pada akhirnya Delia juga tahu Reyn adalah seorang anak konglomerat. Meskipun awalnya Delia menolak berhubungan dekat dengan Reyn. Namun apalah daya, Reyn tetap berhubungan dengan Mario, pamannya sendiri.
"Maaf, aku terlambat menjemputmu," ucap Reyn begitu melihat gadis manis itu keluar dari toko tempatnya bekerja.
"Tidak apa-apa, Reyn. Ini juga baru selesai beres-beres."
Tangan mungil itu begitu cekatan mengunci pintu toko. Delia merasa tidak enak hati kalau Reyn menunggunya terlalu lama.
Saat akan melangkah menuju ke mobil, Delia yang terburu-buru kehilangan keseimbangan. Reyn menariknya ketika dia hampir mendarat di tanah. Tarikan Reyn yang lumayan kencang membuat hidung gadis itu menabrak dada bidang sahabatnya itu. Muka Delia bersemu, jantungnya pun memompa dengan cepat.
"Aduh, sakit," keluh Delia sambil mengusap hidungnya. Tingkah Delia membuat Reyn menjadi gemas. Gadis kecilnya sekarang sudah pintar menggoda rupanya. Pria itu pun mencondongkan tubuhnya untuk melihat hidung Delia.
"Coba lihat sini," kata Reyn sembari mengusap hidung mungil itu. Perlakuan Reyn membuat pipi Delia memanas.
"Hmm, manjanya," ledek Reyn. Delia segera saja menjauhkan wajahnya yang memerah. Keduanya menjadi canggung untuk beberapa saat.
Reyn menggenggam tangan Delia dan menuntun gadis itu. Sungguh sebuah kenyamanan yang sangat dirindukan oleh Delia. Reyn membukakan pintu mobil dan menyuruh Delia masuk. Setelah menutup pintu mobil, Reyn sendiri bergegas masuk dan duduk di belakang kemudi. Tepat di samping wanita pujaannya.
Delia menundukkan wajahnya. Sungguh dia malu dengan Reyn saat ini. Entah kenapa berdekatan dengan Reyn selalu membuatnya salah tingkah, tetapi setiap kali berjauhan maka rasanya ingin bertemu.
Diam-diam Reyn mencuri pandang ke wajah gadis yang dicintainya itu. Tubuhnya sudah terlihat lebih berisi daripada saat pertama kali ke sini. Wajar saja, saat itu Delia baru saja keluar dari penjara dan masih dikejar-kejar oleh rubah tua licik.
Tanpa meminta persetujuan Delia, Reyn mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Ditatapnya wajah gadis yang mau menginjak dua puluh tahun itu.
"Apa kamu bahagia sekarang?" tanya Reyn lembut.
"Iya, Reyn. Terimakasih ya, kamu sudah membantuku sampai berada di titik ini. Entah bagaimana aku menghilangkan traumaku jika tidak ada kamu," jawab Delia.
"Hem, aku tidak bisa menerima ucapan terima kasih. Itu terlalu biasa," kata Reyn.
Delia menatap Reyn dan mengerutkan keningnya bingung.
"Terus aku harus bagaimana?" tanya Delia dengan polosnya.
"Ini."
Reyn menyodorkan pipinya. Membuat Delia malu setengah mati. Melihat Delia yang malu-malu. Reyn segera membawa gadis itu ke pelukannya. Delia memberontak, dia tidak terbiasa diperlakukan seperti itu. Jangankan dengan lawan jenis, dengan ibunya saja dia bisa dihitung dengan jari berapa kali berpelukan.
"Lepaskan, Reyn! Dasar pria tua mesum!"
"Diam atau aku akan melakukan yang lebih dari ini. Aku benar-benar lelah merindukanmu. Apa kamu juga merindukanku?" tanya Reyn gemas.
Delia mengangguk pelan. Baginya dekapan Reyn adalah tempat ternyaman setelah pelukan ibunya. Meskipun dia baru merasakannya dua kali berada dalam pelukan pria tampan itu.
"Del, aku tahu ini kesannya terburu-buru dan tidak romantis sama sekali. Tidak seperti di novel-novel dengan perencanaan yang matang, dinner yang romantis juga indah. Aku tahu ini mungkin tidak akan membuatmu terkesan, tetapi aku terlalu lelah menahannya sendiri. Aku sakit Del."
Delia kaget.
"Hah ... Sakit? mana? di mana yang sakit?" Delia memeriksa tangan dan wajah Reyn. Reyn tersenyum menarik tangan Delia dan meletakkan di dadanya.
"Di dalam sini aku sangat sakit. Sakit merindukanmu, sakit mengingatmu, sakit karena takut kau akan meninggalkanku."
"Reyn. "
"Stttt ... Dengarlah, aku mencintaimu Delia."
Delia terdiam. Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Selama ini Delia berfikir Reyn baik kepadanya hanya karena kasihan.
"Hei ... kenapa kau malah diam? Aku tidak akan memaksamu. Tapi aku tidak bisa menahan rasa ini lebih lama lagi. Kalau kamu ingin makan malam yang romantis kaya di novel-novel. Nanti kita atur jadwal lagi ya." Reyn menatap Delia dengan lembut.
"Aku tak bisa ...."
Reyn menyandarkan punggungnya. Dia memang tak terlalu pintar merayu wanita. Tetapi bolehkah kali ini saja, dia berharap wanita pilihannya untuk mengerti. Dia menghela nafas berat.
"Baiklah, ayo kita pulang, anggap saja aku tidak pernah mengatakan apapun kepadamu." putusnya lirih.
Reyn segera menghidupkan mobilnya. Tetapi sebelum dia melajukan kendaraannya, jawaban Delia meskipun lirih membuatnya berteriak dengan keras.
"Aku tidak bisa menolak perasaanmu Reyn."
"Oh ya Tuhan!" Reyn langsung memeluk tubuh kecil wanitanya. Menghadiahkan sebuah ciuman di kening. Sebelum akhirnya mendaratkan bibirnya di bibir tipis milik Delia.
Awalnya hanya sebuah ciuman tapi Reyn menahan tengkuk Delia. ******* bibir kekasih barunya itu dengan lembut. Mereka saling menyalurkan kasih sayang lewat tautan bibir itu. Delia pun terhanyut dalam sentuhan Reyn.
Hingga akhirnya Reyn melepaskan tautan bibir mereka, karena cubitan Delia yang sangat sakit di pinggangnya.
"Aduh sayang ... kau mengganggu kesenanganku."
"Sayang sayang kepalamu petang, tidak ada lain kali yang seperti ini tadi sebelum kita resmi menikah!"
"Kan tadi kita baru saja jadian sayang."
"Kau ini memang menyebalkan. Apa tidak ada panggilan yang lebih baik selain itu?" tanya Reyn cemberut.
"Baiklah. My hero ayo kita pulang!"
Reyn menatap Delia yang sedang tersenyum ke arahnya. Delia mencoba bersikap biasa, meskipun sebenarnya hatinya sedang mau meledak saking bahagianya.
"My hero ... ya ya ya. Kedengarannya bagus."
Akhirnya Reyn pun mulai melajukan mobilnya menuju ke rumah yang di tempati Delia.
"Ayo masuk dulu,"ajak Delia begitu mereka turun setelah sampai di halaman rumah Mario. Reyn dengan patuh mengikuti Delia
Ketika sampai di ruang tamu dia melihat Mario sedang duduk membaca sebuah buku.
"Selamat malam paman,"sapa Delia.
"Malam Del, tumben sudah pulang biasanya belum sampai rumah." Sindir pamannya.
"Itu karena aku paman," jawab Reyn yang sekarang ikut memanggil Mario dengan sebutan paman. Delia sendiri langsung masuk ke dalam untuk membersihkan diri.
"Dasar aneh, sejak kapan aku menjadi pamanmu?" Mario memang sudah terbiasa dengan tingkah konyol Reyn saat bersamanya. Reyn menjulurkan tangannya. Mengajak Mario bersalaman.
"Apa kabar paman? apa perusahaan baik baik saja selama ku tinggalkan?" tanyanya.
Mario benar-benar jengah dengan ucapan bosnya. Sejak kapan pula dia menjadi paman dari Reynan Ayden Davidson. CEO nya mulai tidak waras. Batin Mario.
"Bos, jangan meledekku. Jauh jauh sana. Sikapmu itu benar benar menggelikan." Usir Mario.
"Tapi aku benar benar keponakanmu paman." Reyn masih tetap keras kepala, menjulurkan tangannya. Mario tentu tidak dengan mudah memberi angin segar pada bosnya itu.
"Duduklah bos." Reyn mendengus kesal.
"Tampaknya kau mulai bosan denganku paman? Apa aku harus mengembalikan mu ke Tuan Amro?"
"Aku mau saja kembali ke sana. Nanti Delia juga akan ikut denganku."
"Apa?"
"Bisa tidak jangan berteriak di dekatku?Aku belum tuli."
"Paman yang mulai duluan."
"Sejak kapan aku menikahi bibi mu? Kesal aku lama-lama dipanggil paman olehmu Reyn!" Mario memilih pergi daripada menghadapi bosnya yang aneh.
"Apa My sweety sudah pulang paman?"
"Hah? siapa?"
"Bukan siapa-siapa paman? Apa paman sudah makan? Kalau belum mari kita makan malam."
"Loh kamu belum pulang, Reyn?" tanya Delia melihat Reyn nyelonong masuk ke dalam.
"Aku belum makan," jawab Reyn ketus.
Sikap Reyn yang aneh membuat Delia mengangkat alisnya. Namun, Mario mengangkat bahunya. Dia juga tidak tahu apa yang membuat pria itu menjadi sangat aneh.
"Pamanmu tidak menawari aku makan padahal aku sudah jauh-jauh mengantarmu kemari," ucap pria itu kesal.
Delia ternganga. Sungguh Reyn dan pamannya benar-benar menjengkelkan kalau sudah di rumah. Mereka tidak akan jaga image menjadi pria dingin seperti harapannya. Justru mereka akan bersikap konyol yang kadang membuat Delia sangat kesal dan ingin mengusir keduanya.
"Ayo, kita makan. Kebetulan tadi Bi Inah masak lumayan banyak," ajak Delia.
Delia menggiring dua pria hebatnya itu ke ruang makan. Dua pria itu patuh dan segera menempati kursinya. Delia begitu cekatan menata makanan di meja makan. Melayani Reyn makan. Sesekali melirik Mario yang memilih diam saja menikmati makanannya.
Selesai makan Delia dengan berani menyuruh dua orang itu menunggunya di sofa ruang tamu.
"Aku akan membereskan ini sebentar. Paman dan Reyn tunggulah di ruang tamu. Ada hal yang ingin Delia bicarakan dan ini penting sekali!"
Dua pria itu tampak seperti bermusuhan padahal beberapa waktu yang lalu mereka sangat rukun.
"Paman, Reyn!"
Delia memanggil dua orang duduk berjauhan itu. Lagi-lagi gadis itu berdecak kesal saat melihat dua orang yang terlihat saling memusuhi itu.
"Hm," jawab Mario singkat. Sementara Reyn tentu saja langsung menempel di mana Delia duduk.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Paman."
"Ada apa?" tanya Mario.
Delia orangnya memang sangat tenang, meskipun menghadapi masalah besar sekalipun.
"Aku ingin kembali ke Dhaka," kata Delia. Ucapan Delia seperti sengatan listrik yang kuat mengenai dua pria yang saat ini menatapnya tak percaya.
"Kamu tidak lagi bercanda 'kan, Sayang?"