
Rasanya Delia tidak mungkin mengelak lagi, tetapi dia belum mau membuka identitas dirinya yang sebenarnya di depan kedua orang tuanya. Dia tidak mau orang tuanya, terlebih-lebih Eriana akan begitu mengkhawatirkannya.
Raut terkejut itu masih kentara di wajah kedua orang tuanya. Delia semakin yakin bahwa kedua orang tuanya berkaitan dengan masa lalu Nyonya Dainy.
"Bagaimana kamu bisa bekerja di rumah orang kaya itu?" tanya Eriana.
"Panjang ceritanya. Intinya Paman Mario yang membawaku bekerja di sana."
Eriana mengangguk. Menyadari ada banyak hal janggal dengan putrinya. Namun, wanita itu tidak ingin buru-buru menyimpulkan.
"Lalu apa tujuanmu menanyakan hal itu pada Ibu?"
"Ada beberapa hal aneh terjadi di mansion milik Nyonya Dainy. Membuat nama baikku tercemar. Bahkan membuatku merasakan dinginnya lantai penjara."
"Kamu di penjara?" tanya Budi Darma.
Delia mengangguk. Budi Darma menggertakkan giginya. Wajahnya memerah menahan marah saat mendengar apa yang menimpa putrinya tersebut.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Nak?"
"Aku menjadi kambing hitam atas kasus pembunuhan yang terjadi di mansion," jawab Delia.
"Wanita itu benar-benar tidak berubah," desis Eriana. Meskipun lirih, tetapi Delia mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya. Tentu saja dia tidak begitu terkejut, karena Dainy memang mempunyai banyak sekali trik licik untuk menghilangkan barang bukti.
"Lalu sekarang apa kamu masih bekerja di sana?"
"Tidak. Aku mengikuti paman Mario ke kota Artha."
Eriana bernafas lega. Tidak bisa dia bayangkan apa yang akan terjadi pada Delia jika masih menjadi pelayan di rumah wanita psikopat itu.
"Kenapa Ibu dan Bapak begitu terkejut?" tanya Delia penasaran.
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu, Sayang. Kemari, duduk dekat Ibu!" kata Eriana. Delia pun segera menghampiri mereka. Gadis itu duduk di tengah-tengah kedua orang tuanya.
"Jadi apa yang tidak aku tahu selama ini, Pak, Bu?" tanyanya tidak sabar.
"Dainy adalah musuh keluarga Jane. Dia yang telah membuat bibimu, Mariana Jane meninggal," ucap Eriana sendu.
"Bertahun-tahun Bapak dan Ibumu menyamar menjadi oang biasa demi menghindari wanita psikopat itu. Namun, kali ini sepertinya kita sudah tidak bisa lagi terus bersembunyi."
Kali ini gantian Budi Darma yang menjelaskan pada Delia. Gadis itu sedikit terkejut, tetapi raut wajahnya kembali tenang.
"Apakah ada dendam masa lalu diantara kalian, Pak? Kenapa kalian tidak membalaskan kematian bibi?" tanya Delia sendu.
"Ada banyak hal yang membuat kami terpaksa menghindar. Itu adalah karena kamu dan kakak kamu. Kami tidak mau dia membahayakan nyawa anak-anak kami," jawab Budi Darma. Tentu saja hal itu membuat Delia meneteskan airmata.
Ternyata sebesar itu rasa sayang mereka, dan aku tidak bisa melihatnya. Batin Delia penuh sesal. Aku hanya melihat bahwa hidup kami kekurangan harta, sehingga aku nekad bekerja di tempat yang jauh demi mengangkat derajat perekonomian keluarga. Padahal sebenarnya kami adalah orang kaya.
"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini, Bu?"
"KIta sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Sepertinya Dainy sudah tahu persembunyian kita. Aku melihat sendiri saat dia turun dari mobil di halaman rumah kita tadi," sahut Eriana.
"Satu lagi yang harus kamu tahu, Nak. Bibi kamu, Meriana Jane masih hidup. Beberapa waktu yang lalu, Ibu mendapatkan surat dari beliau."
"Jika Bibi masih hidup, aku harus bisa menemukannya, Bu. Hanya dia yang bisa membuat Amro Salazar mau melawan ibu palsunya. Meskipun Amro merasa sakit hati, tetapi pria itu diam-diam melindungi ibu palsunya tersebut," jelas Delia.
"Amro Salazar?" kedua alis Eriana bertaut.
"Iya. Dia adalah anak kandung Robert Salazar dengan Bibi Meri."
"Itu artinya dia adalah sepupumu, karena Meriana Jane adalah kakak kandung ibu," ucap Eriana yang mana langsung membuat mata Delia melotot.
Delia tentu saja sangat terkejut mendengar penuturan dari ibunya. Berarti hubungan dia dengan Amro masih sangat dekat. Pantas saja dia tidak bisa membenci pria itu.
"Di mana Bibi Meri sekarang, Bu?"
"Ibu tidak tau, Nak. Tapi dia masih hidup dengan baik. Dainy itu licik. Bibimu tidak mungkin mengambil resiko keselamatan kakak sepupumu."
Delia tentu saja sangat senang mendengar kabar itu. Dia bertekad untuk menjemput bibinya itu.
"Baiklah, Bu. Aku akan meminta bantuan teman-temanku untuk mencari Bib Meri," putus Delia cepat.
Gadis itu berjalan menjauh dari orang tuanya untuk menelpon anak buahnya.
Eriana tersenyum bangga melihat anak bungsunya bisa mengambil keputusan dengan cepat. Mengingatkannya waktu dia muda dahulu.
"Lihatlah anakmu itu, dia sudah bertumbuh besar dan memilih jalan yang sama dengan kita."
"Dia terlalu berani."
"Aku akan berusaha melindunginya. APapun yang terjadi."
"Sudah seharusnya sebagai orang tua kita melindungi anak kita."
"Aku tidak yakin Kim adalah sahabatnya."
"Aku juga tidak. Apakah anakmu benar-benar sudah mewarisi takhta kebesaranmu?"
"Sepertinya begitu."
Eriana dan Budi Darma asyik membicarakan anak bungsu mereka. Sementara Delia yang merasa diperhatikan oleh keduanya, memilih tidak peduli. Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa ibunya selalu memperhatikannya dari jauh.
Delia menelpon anak buahnya untuk mencari informasi tentang Meriana Jane.
"Dia mewarisi darah Jane di tubuhnya," ucap Budi Darma tanpa mengalihkan pandangannya dari Delia.
"Dia juga mewarisi darah Darma, wajar dia sangat berani," balas Eriana tanpa ragu.
"Iya, dia adalah hasil kolaborasi kita berdua." Eriana tersenyum malu kemudian memukul pelan lengan sang suami. Keduanya terkekeh pelan.
Pasangan yang sudah beranjak tua itu tersenyum. Mereka tidak pernah menyangka, puncak kepemimpinan akan berpindah secepat ini. Bahkan di usia Delia yang belum genap dua puluh lima tahun.
"Baiklah, aku merasa perlu melakukan penyelidikan tentang organisasi yang dia bangun."
"Mungkin sudah waktunya kita kembali. Meskipun kekuatan kita sudah tidak sebesar dulu."
"Aku setuju ini demi keselamatan anak-anak kita."
"Padahal aku hanya ingin menghabiskan masa tuaku dengan tenang bersamamu. Kita berdua masih bisa berusaha keras untuk membuatkan Delia seorang adik," kata Budi Darma sembari mengedipkan matanya ke arah Eriana.
"Dasar mesum!"
"Tapi kamu menyukainya, bukan?"
Eriana membuang muka.
"Ayo kita cari kamar di rumah ini, siapa tahu keberuntungan berpihak pada kita. Delia akan segera memiliki seorang adik."
Wajah Eriana tersipu malu. Bisa-bisanya sang suami menggodanya di depan anak mereka. Walaupun Delia tidak mungkin mendengarnya, karena masih sibuk menelpon temannya.
"Ayo!" balas Eriana.
Ajakan yang membuat Budi Darma segera menggamit lengan istrinya untuk mencari salah satu kamar di rumah itu.