
Hari ini Mario akan mulai bekerja. Mario bekerja sebagai asisten Reyn. Mario sudah tidak bekerja lagi di Salazar semenjak kejadian beberapa waktu lalu. Reyn juga memilih mengurus sendiri perusahaannya, RA grup.
"Jangan terlalu lama Delia! Bisa-bisa aku terlambat dan dimarahi calon keponakanku itu!"
Delia tersenyum mendengar ucapan Mario. Pamannya sudah berulang kali menggodanya. Menyuruhnya untuk menerima Reyn sebagai pasangan, bukan sebagai sahabat. Namun, Delia cukup sadar diri siapa dirinya.
"Mimpi jangan ketinggian paman," ejek Delia. Mario bersyukur sejak kepindahan mereka ke sini Delia terlihat lebih bahagia.al
"Harusnya kamu berterimakasih pada paman," balas Mario.
"Tidak akan. Aku akan berterimakasih pada Reyn saja," sahut Delia cepat. Dua orang itu terus berdebat hingga akhirnya Mario memilih keluar terlebih dahulu.
Kini Mario sedang menunggu taxi yang dipesannya sementara Delia kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Paman Mario benar-benar menyebalkan," keluh Delia. Gadis itu sedang mematut dirinya di depan cermin.
Bagaimana Delia tidak kesal? sang paman menyuruhnya berganti pakaian sampai tiga kali. Padahal Delia hanya punya beberapa celana dan baju untuk pergi keluar. Itupun sudah bagus menurut Delia. Namun, Mario menganggap itu kurang pas di tubuh keponakan itu.
"Kenapa tidak ganti baju?" tanya Mario begitu Delia muncul di sampingnya.
"Aku tidak punya baju lagi, Paman. Kalau paman malu jalan sama aku lebih baik aku di rumah saja," kata gadis itu kesal. Mario menepuk jidatnya. Dia melupakan satu hal. Dia belum mempersiapkan kebutuhan Delia sesampainya di sini. Dia juga lupa tidak memberi uang cash pada Delia. Mario mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Belanjakan sesukamu, tetapi ingat. Cari yang pas dengan tubuhmu. Mulailah berlatih menyesuaikan diri di sini," kata Mario.
"Terima kasih, Paman."
Delia meraih lembaran uang itu dengan mata yang berbinar. Kapan lagi dia akan dapat traktiran bukan?
Saat itu taxi yang dipesan oleh Mario sudah datang. Namun, di belakang taxi tersebut terlihat sebuah mobil sport mewah berhenti. Reyn turun dari mobil. Delia mengamatinya dengan debar tak menentu. Apalagi saat pria itu berjalan gagah ke arah mereka.
"Hari ini kau berangkat bersamaku saja.
Aku lupa mengurus mobilmu," kata Reyn pada Mario.
"Aku sudah memesan taxi."
"Berikan saja uang ganti rugi," jawab Reyn datar.
"Baiklah, Bos."
Mario mengiyakan perintah Reyn karena hari memang sudah mulai siang. Tentu Mario tahu bahwa mereka harus segera pergi ke perusahaan. Banyak pekerjaan yang menunggu mereka. Dengan cepat Mario memberikan ganti rugi pada sang supir taxi.
"Kamu mau ikut?" tanya Reyn, pria itu menatap Delia yang sudah memakai tas selempang kecilnya. Terlihat gadis kecil itu juga mau pergi.
"Tidak Reyn. Maaf aku menolak tawaranmu untuk bekerja di sana. Aku ingin sedikit mengenali bakat yang ku miliki dulu. Aku belum kepikiran untuk kerja kantoran."
"Tidak masalah. Semoga harimu menyenangkan Del. Baiklah, kami pergi dulu," lanjut Reyn.
"Hati-hati Reyn, kerja yang rajin, Paman!"
Mario mengangguk penuh semangat.
Delia menghela nafas lega setelah dua pria itu pergi dari hadapannya. Rencananya hari ini dia akan pergi ke pusat kota untuk mencari pekerjaan. Namun, Mario dijemput oleh Reyn.
Akhirnya Delia memutuskan di rumah saja.
Kedatangan Delia ke kota Artha ini membawa dendam yang belum usai. Hari ini dia berencana untuk sedikit bermain dengan si rubah tua.
Menggunakan nomor ponselnya yang baru, dia menelpon rubah licik itu. Namun, sebelum menelponnya tentu saja dia sengaja memancing rubah tua itu supaya menelponnya terlebih dahulu. Delia sengaja mengirim pesan sedikit mengancam. Tentu saja Dainy langsung membacanya. Tidak lama ponsel Delia pun berbunyi.
"Apa maumu?"
Suara itu terdengar bernada cemas. Tentu saja membuat Delia terkekeh karena pancingannya tepat sasaran. Delia sedikit mengubah suaranya supaya Dainy tidak mengenalinya.
"Aku ingin kamu mengakui semua dosa dosa-dosa mu di masa lalu."
"Jangan mengada ada kamu."
"Aku tidak pernah mengada-ada. Lepaskan topeng kebaikanmu atau aku yang akan memaksamu untuk melepasnya!"
"Siapa kamu sebenarnya?"
"Malaikat mautmu."
Klik. Delia memutuskan panggilannya.
*****
Sementara itu di kota Dhaka, Nyonya Dainy terlihat sedang menghadiri pesta rekan bisnisnya. Sebagai istri dari mendiang Robert Salazar tentu dia selalu diundang apabila ada rekan bisnis Robert mengadakan pesta perjamuan. Meski usianya sudah lebih dari setengah abad, tetapi pesona wanita itu memang patut diacungi jempol.
Dia sangat pintar sekali memanfaatkan uang untuk mempertahankan kecantikannya. Topeng keanggunan selalu dibawanya kemanapun dia pergi. Membuat beberapa kolega bisnisnya sangat menghormati janda itu.
Bunyi notifikasi pesan di ponsel mahal miliknya membuat wanita itu mengalihkan perhatian. Wajahnya memucat setelah melihat pesan yang masuk dari nomor yang tidak dikenal. Lehernya terasa tercekik. Dia segera meminta izin untuk pulang dengan beralasan tidak enak badan.
Sesampainya di mansion, Nyonya Dainy menelpon peneror misterius itu. Tapi jawaban yang dia terima tentu saja sangat membuatnya syok. Ponselnya pun terjatuh dengan keras ke lantai mansion yang dingin.
Tok. Tok. Tok.
"Maaf Nyonya, Tuan Muda Amro sudah kembali."
Terdengar seruan pelayan dari luar. Dainy buru-buru membuka pintu kamarnya. Dia tidak ingin Amro menaruh curiga terhadapnya. Bergegas dirinya turun untuk menemui sang putra.
"Kapan kamu datang, Sayang? Apakah kamu tidak merindukan mamamu yang sudah tua ini?" Dainy memeluk putranya itu dengan erat. Dainy merasa tubuh Amro menegang, seolah-olah tidak senang dipeluk olehnya.
"Ma, kau membuatku tak bisa bernafas!" tegur Amro dingin. Dainy pun melepaskan pelukannya. Kal ini dia memindai wajah putra tercintanya tersebut.
"Mama pikir kamu akan betah berada di luar negeri, sampai lupa dengan perusahaan di sini," sindir Dainy. Wanita itu memilih duduk di sofa tunggal ruang tengah.
"Kemarin aku memang tidak bisa mengurus perusahaan, Ma. Aku harus ke luar negeri. Ada proyek besar yang harus ku tangani di sana."
Tentu saja itu adalah jawaban bohong. Nyatanya Amro memilih mengurung diri di apartemen yang baru dibelinya.
"Baiklah kalau itu yang terbaik. Apa kau tahu Delia sudah dibebaskan, Nak?"
Amro mengangkat bahu.
"Maafkan aku, Ma. Aku tidak terlalu mengikuti berita. Bagiku urusan kerja sama perusahaan lebih penting daripada berita itu."
Jawaban Amro yang terkesan malas menanggapi kasus Delia membuat mamanya sedikit curiga.
"Dia ada yang menjamin. Bahkan mama sama sekali tidak diberitahu saat dia dibebaskan. Mama takut kalau dia akan datang dan membunuh mama."
Ingin rasanya Amro menertawakan ucapan rubah tua itu. Soalnya rubah tua itu adalah ibu angkatnya. Namun, Amro memilih menahan tawanya. Dia harus bersabar untuk mendapatkan semua bukti hingga bisa menjebloskan rubah tua itu ke penjara.
Hati Amro sudah beku, tidak ada lagi sisa kasih sayang di hatinya untuk orang yang dipanggilnya mama selama ini.
"Jangan khawatir, Ma. Mansion kita aman. Kabari aku kalau ada apa apa. Aku juga tidak yakin gadis itu nekat datang kemari," sahut Amro tanpa menoleh ke arah Dainy.
"Siapa yang menjamin Delia, Ma?" Amro kembali pura-pura bertanya. Padahal Amro bagaimana skenarionya.
"Menurut informasi yang mama dapatkan, Delia dijamin oleh orang yang bernama Davidson," jawab Dainy. Wanita itu memasang muka sendu. Jika selama ini, Amro akan memeluk dan menghiburnya, maka kali ini pria itu bahkan tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Mama sudah mencari tahu semuanya?" tanya Amro.
"Sudah. Mama juga menyuruh orang-orang mama untuk menangkap pengkhianat di keluarga kita. Mama yakin Davidson itu adalah nama samaran. Sebenarnya pengkhianat itu yang menjamin Delia."
"Pengkhianat siapa, Ma?"
"Siapa lagi kalau bukan Mario," jawab Dainy sengit.
Amro terdiam. Dainy memang sangat cerdik. Dia harus berhati-hati supaya tidak menjadi target kecurigaan wanita itu. Melihat Amro yang terdiam Dainy pun bertanya dengan lembut pada putranya itu.
"Kamu tidak sedang bekerja sama dengan Mario kan, Nak?"
"Mama mencurigai aku? Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada Mama. Aku tidak punya alasan apapun untuk menjadi pengkhianat di keluarga ini. Selama ini mama lah yang paling dekat dengan Mario. Jadi, apa Mama mengetahui atau bersekongkol dengan Mario?" tanya Amro tegas.
Pertanyaan yang mampu membuat kedua bola mata Dainy serasa mau melompat keluar.