DELIA

DELIA
29. Sedikit Bersenang-senang di Jalan



Kejar-kejaran sudah tidak dapat dihindari lagi. Kim begitu bersemangat memacu mobilnya, mengejar dua mobil di belakang mobil Dainy.


Delia juga sudah menyiapkan pistol miliknya. Gadis itu kembali memasang topengnya.


"Sepertinya tidak perlu menunggu hari esok, Kim. Let's go! Waktunya bersenang-senang," seru Delia. Gadis itu geram karena dia yakin seratus persen Dainy sedang menuju ke kampung halamannya. Kemungkinan besar Dainy sudah mengetahui asal usulnya.


Mendengar seruan Delia, tentu saja Kim mengangguk antusias. Jangan tanya lagi bagaimana senangnya hati Kim saat ini.


Begitu mobil Kim sudah mendekat ke arah dua mobil di depannya, dengan tenang Delia mengeluarkan kepalanya dari mobil. Dua kali bidikannya meleset.


"Sedikit lagi, Kim!"


Dor. Dor.


Ckiiittt. Brak.


Tembakan Delia tepat mengenai ban belakang mobil di depannya. Seketika mobil itu mengerem, tetapi naas sekali mobil itu tetap oleng, dan berakhir menabrak pembatas jalan.


Delia segera memasukkan kembali kepalanya ke dalam mobil. Masih ada satu mobil lagi. Tetapi tampaknya mobil di depan lebih berhati-hati. Begitu Kim akan menyusul, sebuah tembakan terdengar diarahkan ke mobil mereka.


"Damn it !!" Umpat Kim keras.


"Mereka membawa senjata, Putri."


Delia melihat jalan di sekitarnya, akan sangat fatal jika nanti mereka tertembak. Selain bisa membuat kemacetan semakin parah, bisa jadi mereka akan bermalam di pinggir hutan kalau montir atau tukang derek tidak kunjung datang.


"Apa mereka sudah menyusul kemari?"


"Sudah, Putri."


"Suruh mereka menghalangi jalan."


"Baik, Putri."


Kim sibuk berbicara dengan anak buahnya.


Perkiraannya sekitar sepuluh menit lagi akan terjadi kemacetan.


"Jalan di depan sudah ditutup, Putri." lapornya.


Beruntung jalan ini bukan jalan utama. Ini adalah jalan alternatif yang jauh dari pemukiman. Sepanjang jalan hanya melewati pinggir hutan. Selain itu jalan ini tidak terlalu ramai oleh pengemudi yang lewat. Banyak kejahatan yang sering terjadi di jalan ini. Begitu pula yang terjadi siang ini. Kim yakin tidak akan ada polisi yang akan datang.


"Pantau terus kondisi rumah, Kim. Sebaiknya bawa keluargaku ke tempat aman!"


Kim terdiam sejenak. Namun dirinya segera menelpon kembali. Prioritas utama sang pemimpin adalah keluarganya. Sementara prioritas utamanya adalah pimpinan yang saat ini berada dalam satu mobil dengannya.


"Selamatkan keluarga Jane. Ini perintah!"


Kim melihat dua orang yang berada di mobil depannya mulai turun. Mereka berjalan ke arah mobilnya. Delia pun melihatnya, gegas dia memakai topeng yang selalu berada di dalam tasnya. Tidak ada yang boleh tahu bahwa dia adalah Delia.


Kaca mobil diketuk dengan keras. Kim dengan tenang pun membuka kaca mobilnya.


"Hei, keluar kamu!" hardik pria bertubuh gempal itu. Kim pura-pura tidak mau. Pria bertubuh gempal itu pun mulai tidak sabar.


Namun Kim bukanlah orang yang lemah. Dia bergegas turun ketika pria gempal itu terus berusaha menyeretnya keluar


Sebuah tendangan cukup keras dari Kim, membuat pria gempal itu terhuyung ke belakang.


Cuiih! Kim meludah.


"Ayo, kalau berani maju sini!" Tantang Kim.


Dua orang pria itu merasa terhina dengan tantangan Kim. Mereka mulai menghajar Kim membabi buta. Namun, sangat disayangkan, setiap pukulan dan tendangan mereka selalu meleset. Di saat mereka sudah mulai kelelahan, Kim memukul tengkuk salah satu pria itu dengan keras. Pria yang bertubuh sedikit kurus itupun terjatuh dengan keras di atas aspal.


"Bedebah kau!"


Kini tinggallah pria gempal yang sedari tadi marah-marah. Sebenarnya Kim bisa saja langsung menendangnya, tetapi Kim ingin sedikit bermain-main dengan pria sok pemberani itu.


"Kau benar-benar cari mati, Bodoh!" Umpat pria gempal itu. Terlihat mukanya memerah menahan marah. Kesal, karena temannya telah kalah terlebih dahulu.


"Itu tidak akan terjadi!"


Mereka masih bertarung dengan tangan kosong. Delia melihatnya dari dalam mobil. Sesekali gadis itu meraba senjatanya saat Kim sedikit keteteran. Namun, sampai detik ini ternyata Kim masih bisa berdiri dengan tegak. Justru pria gempal itu semakin terdesak mundur.


Lima menit lagi kamu tumbang. Batin Delia.


Apa yang dipikirkan oleh Delia pun menjadi kenyataan. Pria gempal itu tumbang. Mungkin ada beberapa bagian tubuhnya yang patah. Delia tentu sangat senang jika itu terjadi.


Kim segera masuk kembali ke dalam mobil. Tersenyum ke arah Delia yang memperhatikannya. Berharap ada sedikit pujian dari pemimpinnya yang dingin itu.


"Lebih dari sepuluh menit," ucap Delia datar.


"Aku ingin sedikit bermain-main," elak Kim.


"Oke, sekarang bagaimana?"


Kim tak menjawab pertanyaan itu. Dengan tenang dirinya memilih memundurkan mobil tersebut.


"Mari kita tangkap ikan besar kita!" ucap Kim.


Delia tersenyum. Kali ini dia sendiri yang akan menangkap rubah tua licik itu. Delia bertekad dalam hatinya, akan menyeret wanita itu ke penjara.


****


Sementara itu kehebohan terjadi di keluarga Delia. Beberapa orang berjas rapi menjemput mereka. Mereka buru-buru disuruh mengosongkan rumah. Tentu saja Eriana menolak, karena tidak tahu menahu tentang rombongan pria berjas tersebut.


"Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Eriana dengan nada ketus. Dirinya merasa sangat kesal saat para pria tak dikenal itu tanpa permisi masuk ke rumahnya, dan menyuruh mereka sekeluarga untuk ikut dengan mereka.


"Kami tidak akan pergi, jika kalian tidak menjelaskan apapun!" lanjutnya lagi.


"Ini permintaan Tuan Putri kami. Pemimpin tertinggi kami," ucap salah satu dari mereka.


"Kami tidak mengenal tuan putri kalian. Jadi, jangan menyuruh kami untuk pergi dari sini!" kata Eriana geram.


Eriana terlihat kekeh bertahan. Dia tidak mungkin pergi begitu saja tanpa alasan, bukan? Dirinya mulai jengah, karena beberapa hari ini mereka sekeluarga mulai terusik oleh dunia luar.


"Katakan pada Tuan Putri kalian! Eriana tidak mau pergi," teriak Eriana dengan keras.


Para pria itu saling berpandangan. Beruntung sekali saat itu bos mereka sedang menelpon salah satu dari mereka.


"Halo,Bos. Mereka menolak pergi, dan akan menunggu anak bungsunya sampai pulang."


"Di mana mereka biar saya yang bicara!".


"Pemimpin kami ingin berbicara dengan anda, Nyonya," kata pria tersebut


"Baiklah, mana ponselmu?"


"Halo, Bu."


Eriana tertegun. Itu suara Delia yang sudah lama tak terdengar kabarnya.


"Delia mohon ikutlah dengan mereka, Bu. Demi keselamatan keluarga kita."


"Baiklah, baiklah ...."


Delia pun menutup telponnya. Biar saja ibunya penasaran supaya mau pergi, dan bertemu dengannya nanti.


"Ayo kita berkemas! Delia sudah pulang. Tempat ini sudah tidak akan aman lagi untuk kita."


Suami dan anaknya menurut. Mereka hanya membawa barang yang penting saja.


Bersamaan dengan kepergian mereka. Sebuah mobil tampak masuk ke halaman rumah. Eriana yang memang sudah paham apa yang akan terjadi cuma tersenyum simpul. Meremehkan wanita tua yang turun dari mobil tersebut. Meski lama tidak bertemu, namun Eriana sangat hafal dengan sosok itu.


"Tunggu pembalasanku, Dai!" gumam Eriana saat mobil yang ditumpanginya melaju pelan meninggalkan halaman rumah yang selama ini mereka tempati.