
Reyn tak ingin membuang waktu. Apalagi Delia sudah tidak ada di sini. Itu artinya gadis itu lebih dulu tahu daripada dirinya. Ternyata selama ini dia terlalu meremehkan gadis manja itu.
Mereka berdua segera menuju landasan pesawat pribadi milik keluarga Davidson. Tak menunggu lama pesawat mereka lepas landas menuju kota Dhaka.
Selama dalam perjalanan Mario terlihat diam saja. Kecemasan tentu saja sangat dia rasakan kali ini. Ini adalah kepergian pertama Delia. Jika terjadi apa-apa dengan Delia, dirinya adalah orang pertama yang pasti sangat menyesal.
Ah, apa yang harus dikatakan pada sang kakak jika terjadi apa-apa pada Delia. Kamu memang ceroboh, Rio! umpatnya pada diri sendiri.
Sementara itu kekacauan di kediaman Davidson sudah bisa diatasi oleh para pria tak dikenal. Setelah dua orang penjaga tertembak, tiba-tiba datanglah beberapa orang yang merangsek ke dalam kediaman Davidson. Mereka membalas serangan dari luar dan melindungi para pelayan yang ketakutan.
Beberapa pria tak dikenal itu sudah berhasil membekuk orang-orang yang menyerang kediaman keluarga nomor dua di Dhaka tersebut.
Beberapa pelayan yang selamat dan ketakutan di kumpulkan di ruang tengah. Sementara dua orang yang tertembak dan meninggal dunia dimasukan ke kantong jenazah. Entah siapa yang menyuruh para pria yang bertato ular melingkar di lengan itu. Yang terpenting mereka telah membantu kediaman Davidson.
Para pelayan merasa sangat ketakutan. Salah seorang dari merekalah yang tadi memberanikan diri menghubungi Tuan Reyn.
Tiba-tiba salah satu pria tak dikenal yang membantu mereka bertanya dengan suara yang lantang.
"Siapa di sini yang bernama Citra?" tanyanya seraya memandangi satu demi satu para pelayan itu. Tubuh para pelayan gemetar ketakutan. Apalagi pria itu membawa senjata. Tentu saja mereka takut jika sewaktu-waktu senjata itu diarahkan ke mereka.
Beberapa pasang mata tampak melirik ke arah seorang wanita cantik yang tubuhnya gemetar. Terlihat sekali bahwa wanita itu sedang ketakutan.
Pria tadi mendekati wanita itu. Dia mengikuti arah lirikan para pelayan, dan menyimpulkan sendiri bahwa wanita yang bernama Citra adalah wanita cantik yang sekarang terlihat gemetar itu.
"Apakah kamu yang bernama Citra?"
Citra mengangguk takut-takut. Sangat takut jika tiba-tiba pria itu menodongkan senjata ke arahnya. Citra belum mau mati saat ini. Wanita itu memejamkan matanya. Pasrah pada keadaan.
"Bos kami ingin berbicara dengan anda," kata pria itu. Nada suaranya terdengar datar.
"Baik," jawab Citra gelagapan. Wanita itu membuka matanya dan melihat bahwa pria itu sudah menyodorkan ponsel ke arahnya. Dengan takut-takut Citra pun menerima ponsel tersebut.
Pria itu menyerahkan ponselnya yang sudah terhubung.
Halo.
Bawa para pelayan ke ruang bawah tanah! Dan jangan pernah keluar sebelum tuan kamu datang!"
Ini siapa ? Halo ..
Tut
Sambungan telepon sudah di matikan. Citra menatap takut-takut pada pria itu.
"Apa kata bos kami?"
"Saya disuruh membawa para penjaga ke ruang bawah tanah."
"Lakukan, berarti masih ada komplotan penjahat di sekitar tempat ini. Kalian masih belum aman.
Citra semakin ketakutan. Dia bergegas membawa para pelayan ke ruang bawah tanah, ditemani oleh salah satu dari para pria itu.
"Maaf, sebenarnya apa yang terjadi Tuan?" cicit Citra.
"Kamu tidak perlu tahu! Cepat jalan!"
Citra langsung terdiam. Dia kembali fokus berjalan mengarahkan para pelayan ke ruang bawah tanah. Setelah para pelayan masuk, diapun segera bergegas masuk. Namun baru saja dirinya mau melangkah masuk ke ruang bawah tanah, suara tembakan kembali terdengar.
"Sial sekali, rubah tua itu mempunyai pertahanan yang berlapis." Kita harus tetap di sini. Si bos sudah dalam perjalanan."
Suara tembakan kembali terdengar. Kali ini lebih sering dari yang tadi.
"Ada berapa orang kita di depan?
"Ada sepuluh ketua."
Dor dor dor dor dor.
Mereka saling berpandangan. Tentunya sangat hafal dengan suara tembakan itu.
"Itu si Bos sudah datang." Beberapa orang di sana terlihat lebih lega. Jangan ditanya lagi. Bos mereka sangat pintar menggunakan pistol. Setiap tembakannya tidak pernah meleset. Para pria itu segera berjalan ke depan, begitu mendengar kode dari si Bos.
Tampaklah di depan mereka seseorang berpakaian serba hitam.
"Sisir semua tempat , jangan ada satupun yang terlewat. Bagaimana bisa kalian kecolongan hah?"
"Ada pengkhianat," bisik pria yang tadi barusan keluar. "
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan?"
Para pria itu mengangguk. Mereka dengan terburu-buru segera masuk membereskan semua kekacauan di kediaman Davidson.
"Bawa dia ke markas. Siapapun yang berani mengusik keluarga Davidson harus kita beri pelajaran yang setimpal." Suara dingin itu penuh kemarahan.
Meskipun bertanya-tanya, kenapa bosnya sangat peduli pada Davidson namun para pria itu memilih diam saja.
Setelah semua beres, tiga buah mobil hitam melesat cepat meninggalkan kediaman Davidson. Sebelum orang lain menyadari kehadiran mereka di tempat itu.
****
Di sebuah tempat yang berbeda, seorang wanita tua tampak menggeram kesal. Matanya melotot seakan mau keluar.
Plak.
"Jadi apa pekerjaan kalian? kenapa menyeret gadis kecil itu susah sekali, ha?" bentak wanita tua itu terlihat sangat murka sekali.
"Ampun bos, di rumah itu memang tidak ada gadis yang anda maksud. Selama pengintaian kami beberapa hari hanya ada gadis yang kami kirimkan fotonya pada anda itu."
"Kurang ajar! Terus di mana teman-temanmu?"
"Mereka tertangkap, Bos."
Lagi-lagi orang yang dipanggil bos itu terlihat sangat marah. Wajahnya terlihat merah padam menahan kekesalan hatinya. Ini adalah kegagalan yang kesekian kalinya. Padahal dia hampir berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Hanya karena kesalahannya yang ceroboh, membuat musuhnya semakin menemukan celah untuk menghancurkannya.
"Kalian sangat ceroboh sekali !"
"Kemasi barang-barang kalian! Jangan sampai ada yang tertinggal di sini. Aku tidak mau tahu, cari informasi di mana anak buah mu dibawa. Bisa-bisa rencana yang ku susun hancur berantakan lagi karena ulah kalian!"
"Baik bos," jawab laki-laki itu jelas tidak mau membantah. Dia dan kawan-kawannya yang tersisa segera berkemas dan meninggalkan tempat itu.
"Ternyata kamu ingin bermain-main denganku gadis kecil. Kita lihat saja, sampai di mana kamu bisa bersembunyi. Aku akan tetap mengejar kamu," gumam wanita itu.