DELIA

DELIA
30. Bertemu Keluarga



Delia memeluk ibunya dengan erat. Rasa rindu yang harus tertahan sekian purnama akhirnya bisa dia tuntaskan. Melihat seluruh keluarganya baik-baik saja, Delia begitu bahagia. Begitu juga dengan Eriana yang merasa begitu terharu melihat putrinya sudah tumbuh besar.


"Apa kamu begitu merindukan ibu, Sayang?" tanya Eriana.


"Tentu saja, Bu. Aku merindukan kalian semua," jawab Delia. Gadis itu terlihat sangat bahagia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya.


Tak lupa Delia juga memeluk Budi Darma, sang ayah. Sementara Fakhri selalu saja memberikan sentilan lembut di kening adiknya itu. Perasaan lega terasa di rongga dada pria tampan itu.


"Dasar manja," bisik Fakhri di telinga Delia.


"Ish, Kakak 'kan tidak pernah tinggal berjauhan dari orang tua. Kakak itu yang manja," balas Delia tidak mau kalah.


Fakhri mengacak rambut adiknya dengan gemas. Namun, adiknya kini tidak berteriak marah. Adik kecilnya sudah berbeda dengan yang dulu. Banyak sekali perubahan yang terjadi pada Delia. Fakhri sangat tahu tentang itu. Walau merasa penasaran, tetapi Fakhri menahan semua rasa ingin tahunya.


Saat ini mereka berada di rumah Kim. Satu-satunya rumah yang menurut Delia aman dari jangkauan Dainy. Menurut Kim orang-orang Dainy tidak tahu bahwa Kim masih hidup. Jadi rumah itu sepintas memang terlihat tidak ada yang menempati.


"Ini rumah kamu, Sayang?" tanya Eriana.


"Bukan, Bu. Ini rumah sahabatku. Kebetulan keluarganya sudah meninggal. Jadi, rumah ini sudah kosong sejak lama," jawab Delia.


"Dia siapa, Sayang?" Eriana menunjuk ke arah Kim yang berdiri di dekat pintu.


"Saya sahabatnya Putri anak kesayangan ibu," jawab Kim. Pemuda itu langsung saja memperkenalkan diri.


"Putri?" tanya Eriana bingung. Tentu saja Eriana tidak tahu bahwa Delia adalah Putri. Pemimpin tertinggi dunia bawah yang sangat ditakuti.


"Eh, itu ... maksud saya Delia, Bu."


Eriana menangkap sesuatu yang aneh di antara anaknya dan Kim. Kim terlihat tidak seperti seorang sahabat bagi anaknya. Pria itu seperti takut dan segan dengan Delia.


"Kim yang punya rumah ini, Bu," ucap Delia. Gadis itu berusaha mengalihkan kecurigaan ibunya.


"Untuk sementara waktu, Ibu, Bapak, dan Kakak Fakhri tinggal di sini saja," lanjut Delia.


"Apa tidak masalah, Kim?" tanya Eriana pada Kim.


"Tentu saja tidak. Rumah ini jarang sekali saya tempati. Saya hanya pulang sesekali waktu. Lebih baik jika ada yang tinggal di sini," jawab Kim diiringi senyum lebar di wajahnya.


"Baiklah, aku akan mencari pekerjaan dan membayar harga sewa," sahut Eriana cepat.


Tentu saja dia tidak mau dianggap seenaknya saja menumpang, dan tidak tahu diri.


"Tidak perlu, Bu! Biar aku saja yang memikirkan sewanya," kata Delia cepat.


"Maafkan saya, tetapi saya tidak berniat menyewakan rumah ini. Silahkan kalian tinggal di sini. Saya cuma minta tolong, jaga dan rawat rumah peninggalan orang tua saya."


Eriana juga suaminya saling berpandangan. Mereka menangkap ada kesedihan yang begitu dalam di setiap kata yang diucapkan oleh Kim. Namun tak elok rasanya jika mereka bertanya saat itu.


"Terima kasih, Nak Kim. Terima kasih juga telah menjaga Delia kami," ucap Budi Darma.


Bagaimana pun juga mereka berhutang budi pada Kim. Apalagi melihat kedekatan pria itu dengan Delia. Tentu saja sudah banyak hal yang mungkin bisa dilakukan oleh seorang laki-laki untuk wanitanya bukan? Setidaknya begitulah pikiran Budi Darma pada Kim, laki-laki yang dia anggap sebagai seseorang yang spesial di hidup anaknya.


"Saya yang justru sangat berterimakasih, Anda semua sudi untuk tinggal di sini. Suatu kehormatan bagi saya," sahut Kim sembari membungkukkan badannya.


Pria itu juga merasa bersyukur akan ada yang mengurus rumah peninggalan orang tuanya. Jadi, dia bisa fokus untuk membalaskan dendamnya saja. Dendam keluarganya.


Eriana dan Budi Darma merasa ucapan Kim berlebihan. Apalagi mereka baru saling kenal. Namun, pasangan itu memilih untuk diam. Tidak terlalu banyak bertanya, takut akan membuat gadis kecilnya tidak nyaman.


"Aku ingin berkeliling rumah ini, apa kamu mau menemaniku?" tanya Fahri pada Kim.


"Dengan senang hati, Tuan."


"Jangan memanggilku seperti itu, panggil nama ku saja. Namaku Fakhri."


"Ayo, dengan senang hati aku akan menemani kamu berkeliling!" seru Fakhri.


Delia menatap dua pemuda yang terlihat mulai akrab itu. Hatinya sedikit lega melihat Kim mau berteman dengan Fakhri. Semoga mereka benar-benar berteman. batin Delia. Sejujurnya Delia merasa kasihan pada Kim yang menarik diri dari lingkungan, karena masalah yang terjadi di keluarganya.


"Dia bukan sahabatmu 'kan? Kalian kenal dimana?" tanya Eriana saat tubuh kim dan Fakhri lenyap di balik pintu.


"Maksud Ibu apa?" tanya Delia.


"Kalian begitu dekat. Ibu lihat juga kim mau berkorban untuk kamu. Kamu memang masih muda, tetapi kalau jodoh juga tidak akan kemana bukan?"


Delia terkejut mendengar perkataan ibunya. Gadis itu tersenyum, mengetahui bahwa sang Ibu ternyata salah sangka dengan hubungannya dengan Kim.


"Kim itu sahabatku, Bu. Kami bekerja dalam satu kantor. Wajar dia baik kepadaku," kata Delia dengan ekspresi meyakinkan.


Tentu saja Delia tidak mengatakan bahwa Kim adalah asistennya. Itu terlalu beresiko meskipun engan keluarganya sendiri.


Eriana dan Budi Darma menatap anak perempuannya dengan lekat. Begitu banyak perubahan yang terjadi. Delia terlihat sudah lebih dewasa. Wajahnya juga begitu cantik, dan yang paling parah adalah wajahnya mirip dengan Meriana Jane, bibinya. Eriana ketakutan. Takut kalau sewaktu-waktu, Dainy akan mengetahui kebenarannya.


"Bapak sama Ibu kenapa sih? Delia aneh ya?" tanya gadis itu saat menyadari kalau dirinya sedang ditatap sebegitu dalamnya oleh kedua orang tuanya.


"Gak kok, Nak. Ternyata anak gadis ibu sudah besar sekarang. Iya 'kan, Pak?"


"Tentu saja. Anak gadis kita sudah menjelma menjadi wanita yang begitu cantik," sahut Budi Darma.


Delia menautkan kedua alisnya. Ada sesuatu yang harus dia tanyakan, dan itu berhubungan dengan ibunya. Delia sedikit takut, tetapi dia memang harus menanyakannya.


"Ada yang mau Delia tanyakan pada kalian. Terutama Ibu," ucap Delia lirih.


Eriana kaget mendengar ucapan anak gadisnya. Dia dan suaminya berpandangan, dan mulai merasa hawa di ruangan itu sedikit berbeda. Entah apa yang membuat suasana menjadi sedikit menegangkan.


Tanyakan saja!" kata Eriana sangat tenang. Dia tidak ingin mati penasaran dengan pertanyaan yang akan disampaikan.


"Baik, saya harap Ibu mau mengatakan yang sejujur-jujurnya. Siapa Meri Jane, Ibu?"


Eriana dan Budi Darma tampak terkejut dengan pertanyaan itu. Wajah keduanya tidak bisa berbohong. Sementara Delia terlihat tenang. Wajahnya begitu datar.


"Untuk apa kamu menanyakan tentang hal itu, Nak?"


"Ini penting demi keselamatan keluarga kita," jawab Delia.


"Dari mana kamu tahu nama itu, Sayang?"


"Aku menyelidiki tentang Nyonya Dainy.


Hal yang membuat ku bertanya-tanya adalah apa hubungan antara Meri Jane dengan Ibu," jawab Delia.


"Katakan kepadaku dengan jujur, Nak. Apakah kamu bekerja sama dengan dunia bawah?" tanya Eriana tegas.


"Maksud Ibu apa?" tanya Delia tidak mengerti.


"Dunia bawah bagaimana, Bu?"


"Jangan mengelak, Sayang."


"Bicaralah dengan jujur, Del! Bapak percaya kamu tidak akan berbohong pada Ibumu!" kata Budi Darma tegas


Kenapa jadi malah aku yang diinterogasi? Batin Delia.


"Aku tidak mengerti dengan pertanyaan yang Ibu maksudkan. Aku hanya menemukan foto Ibu di kamar Nyonya Dainy, karena aku bekerja sebagai pelayan di rumah itu," kata Delia.


"Apa??"