DELIA

DELIA
24. Kepergian Delia



Delia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku, Reyn! Sudah begitu lama dan aku merindukan keluargaku."


Delia menghela nafas panjang. Membuang sesak yang tentu saja dia rasakan saat ini.


"Kenapa kamu ingin ke Dhaka? Kamu tahu sendiri tempat itu sudah tidak aman bagi dirimu?" tanya Reyn dingin.


Pria itu langsung menunjukkan rasa tidak sukanya. Sementara Mario terlihat lebih tenang dan tidak terpancing dengan ucapan Delia. Mario sangat tahu apa yang dirasakan keponakannya itu.


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu pada kalian berdua," ucap Delia terdengar sinis.


"Kenapa kalian tidak ingin ke Dhaka dan menyelesaikan semuanya? Dhaka memang bukan tempat yang aman, tetapi di sanalah sarang musuh. Kita lebih bisa mengintai apa yang mereka lakukan bukan?"


"Tapi bukan berarti kamu harus mengorbankan dirimu sendiri," sahut Reyn.


Perkataan Delia memang ada benarnya. Namun, membayangkan keselamatan gadis itu terancam membuat Reyn sama sekali tidak setuju dengan keinginan Delia.


"Pantang bagiku untuk lari dari masalah, Reyn! Aku selalu merasa dikejar rasa bersalah terhadap Tuan Muda Amro. Seharusnya dulu aku tetap di sana dan membantunya menguak misteri kejanggalan di keluarga Salazar."


Reyn merasa dejavu melihat keseriusan Delia saat ini. Gadis itu mempunyai aura sebagai seorang pemimpin. Namun sampai detik ini Reyn tidak bisa menemukan silsilah keluarga gadis itu. Sekuat apapun dia mencari informasi Delia. Informasi tentang gadis itu tertutup rapat. Mario pun hanya bilang bahwa Delia adalah anak dari kakak kandungnya. Kesimpulannya adalah Delia hanya anak kampung biasa yang kebetulan mendapatkan pelatihan dari Mario.


"Aku tetap tidak setuju. Rubah tua itu bukanlah tandingan kamu. Sebaiknya kita serahkan saja semuanya pada Amro. Itu urusan Salazar bukan kita!" Reyn tetap kekeh dengan pendapatnya.


"Baik. Itu pendapat kamu, Reyn. Bagaimana denganmu, Paman?" tanya Delia pada Mario.


Mario terdiam sejenak. Menimbang kembali semua resiko yang mungkin akan dihadapi jika Delia kembali ke Dhaka. Memang sangat berbahaya, tetapi bukan berarti tidak ada celah satupun untuk bergerak.


"Kamu tahu sendiri pamanmu ini sekarang bekerja. Tentunya tidak mudah bagiku untuk meninggalkan perusahaan tanpa alasan yang jelas."


Apa yang dikatakan oleh Mario memang benar adanya. Mario tidak semudah itu pergi dan melalaikan tugasnya di perusahaan Davidson.


Mario mengatakan itu untuk mencari aman daripada merasa serba salah diantara dua orang itu.


Delia merasa jawaban Mario bisa diterima akal sehatnya. Lagi pula kepulangan Mario ke Dhaka akan membuat Dainy cepat menemukan mereka. Secara Mario tidak terlalu pintar untuk menyamar sebagai orang biasa. Itu menurut Delia.


"Baiklah. Diijinkan atau tidak, aku akan tetap kembali ke Dhaka."


Delia memutuskan tetap dalam pendiriannya. Apalagi hasil penyelidikannya selama ini secara diam-diam hasilnya mengerucut terhadap keluarganya sendiri. Tentu saja Delia merasa cemas akan keselamatan kedua orang tuanya.


Mendengar keputusan Delia, Reyn mengeraskan rahangnya. Dia merasa dipermainkan. Gadis itu baru saja resmi menjadi kekasihnya, tetapi sekarang lebih memilih mengurusi keluarga Salazar yang sudah tidak ada hubungan apapun dengan mereka. Bukankah itu sangat menyebalkan? Mereka bertiga sudah hidup dengan damai dan menyenangkan di Artha. Kenapa harus kembali ke masa lalu?


"Jadi apa maksudmu berbicara itu semua dengan kami? Jika ujung-ujungnya kamu tetap kekeh dengan keputusan kamu sendiri!" tanya Reyn dengan ketus.


"Sebenarnya niatku cuma mau memberi tahu kepulanganku ke Dhaka malam ini. Dengan ijin atau tanpa ijin kalian, aku akan tetap pulang," jawab Delia.


Reyn membisu. Mario juga tidak bisa berkata apa-apa lagi melihat sifat keras kepala yang ditunjukan keponakannya. Mario sebenarnya tahu kalau Delia masih mencari tahu tentang misteri di keluarga Salazar. Itu adalah cara Delia mengucapkan terima kasih kepada Amro yang berperan besar dalam kebebasannya kemarin.


"Reyn, sepertinya kamu perlu melihat ini sebelum aku pulang," ucap Delia secara tiba-tiba.


Delia mengulurkan ponselnya kepada Reyn.


Reyn terlihat mengerutkan keningnya saat melihat rekaman kejadian yang terjadi di perusahaannya. Tangannya mengepal dengan kuat. Bagaimana bisa ada penyusup di perusahaannya.


"Siapa mereka?" tanya Reyn. Reyn tidak menyadari kenapa Delia bisa mendapatkan rekaman itu. Pria itu justru fokus pada kejadian di perusahaannya.


"Orang-orang suruhan si rubah tua," jawab Delia singkat.


Gadis itu terlihat santai saat menjawab pertanyaan kekasihnya. Padahal Reyn sendiri terlihat sangat marah. Bagaimana mungkin bagian keamanan bisa kecolongan seperti itu.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu akan hal ini? Apa yang sebenarnya kamu lakukan, Rio?"


Mario mengangkat bahunya tak peduli. Toh kejadian itu sudah berlangsung lama, sebelum Reyn pergi ke luar negeri.


"Rio!" Bentak Reyn keras.


"Itulah yang kalian lakukan selama ini. Terlalu menggampangkan sesuatu. Hanya karena sekarang merasa sedikit jauh dari si rubah tua jadi kalian merasa aman!"


"Aku bertanya pada Mario. Bukan kepadamu," bentak Reyn kesal.


"Ya sudah. Sebaiknya kalian urus saja perusahaan kalian. Kau bosnya, silahkan diurus dengan benar!" Delia merajuk dan segera berdiri.


Dirinya memilih masuk ke kamarnya untuk bersiap-siap daripada terus berbicara dengan dua orang yang tidak mau mendengarnya. Sebenarnya Delia pergi juga karena mereka berdua. Delia tidak bisa mengorbankan kedua pria itu demi dirinya. Ya, demi melindunginya akhirnya si rubah tua mengincar Davidson. Sepertinya Dainy sudah mengetahui tentang Davidson.


"Kamu mau kemana?" tanya Reyn.


"Aku mau siap-siap dulu. Penerbangan ku dua jam lagi," jawab Delia ketus.


"Katakan, Rio! Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi ke luar negeri. Tidak seharusnya kamu menyembunyikan hal sebesar ini dariku, bukan?"


"Dainy menyuruh orang untuk mengacaukan sistem perusahaan."


"Lalu?"


"Kamu bisa melihat sendiri kan? Orang-orang itu dihadang oleh anak buah wanita-mu."


"Anak buah siapa Rio?" tanya Reyn mengerutkan keningnya bingung. Setahunya dia selalu mempekerjakan tenaga pria untuk bagian keamanan.


"Anak buah delia," jawab Mario. Mario kesal karena bosnya ternyata terlalu lamban mengetahui hal-hal seperti itu.


"Jangan mengada-ada kamu, Rio!"


"Terserah kalau kamu memilih tidak percaya. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Tapi kamu bisa tenang, karena anak buah Delia selalu setia menjadi pengawal bayangan untukmu. Mulai sekarang ku sarankan kamu jangan terlalu sering pergi sendirian. Mereka sudah mulai bergerak mengincar kita berdua," kata Mario panjang


"Bagaimana dengan Delia, Rio?" tanya Reyn. Pria itu tentu saja sangat mengkhawatirkan gadis itu. Gadis yang baru saja resmi menjadi kekasihnya setelah sekian lama dia menunggu.


"Dia akan baik-baik saja," jawab Mario tenang.


"Bagaimana kamu bisa setenang ini? Dia itu sudah seperti anak kamu sendiri!"


"Kamu akan tahu sebentar lagi, Reyn! Sebaiknya kita juga mulai memikirkan langkah apa yang kita ambil untuk melindungi gadis kecilku. Aku tidak bisa menahannya, jika dia keputusannya sudah bulat."


Suara dering ponsel menghentikan pembicaraan mereka. Gegas Reyn mengangkat panggilan di ponselnya.


"Halo."


"Halo pak Reyn, selamat malam."


"Selamat malam, katakan ada apa?"


"Kediaman Davidson diserang. Beberapa orang meninggal dan yang lainnya masih bisa bertahan."


"Siapa pelakunya?" desis Reyn dingin.


Matanya berkilat menandakan dirinya sangat marah. Belum juga hilang rasa lelahnya dari perjalanan bisnis ke luar negeri, sekarang sudah ada lagi masalah. Berkali-kali umpatan keluar dari bibirnya mendengar penjelasan orang kepercayaannya di kediaman Davidson yang ada di kota Dhaka.


Terlihat wajah Reyn menggelap. Rahangnya mengeras dan buku-buku tangannya memutih.


"Rio, hubungi Amro!"


Mario segera menghubungi orang yang dimaksud Reyn tanpa bertanya apapun. Dia tahu bahwa situasinya sedang tidak baik-baik saja. Namun, sampai berkali-kali panggilannya hanya dijawab operator.


"Salazar sudah melewati batasannya!" Desis Reyn .


"Apa maksudmu, Reyn?" tanya Mario pelan. Takut jika akan menyinggung pria itu.


"Kita berangkat ke Dhaka malam ini. Hubungi Niel dan pastikan dia mengurus perusahaan selama kita pergi!"


Lagi-lagi Mario menuruti permintaan bosnya tanpa banyak bertanya.


"Bersiaplah karena kita akan segera terbang. Panggil Delia!"


Mario bergegas mencari Delia ke kamarnya. Namun, di luar dugaan gadis itu sudah tidak ada di sana. Hanya secarik kertas yang ditinggalkan gadis itu.


Paman,


Maaf, Delia pergi tanpa pamit. Ada kejadian besar yang terjadi. Delia harus segera berangkat. Tetaplah berhati-hati.


Salam.


Delia


Mario pun segera keluar, dan memberitahu Reyn. Mendengar berita kepergian Delia, Reyn meninju tembok. Alhasil tangannya berdarah. Namun, pria itu tidak peduli. Keselamatan orang-orang terdekatnya sekarang dikhawatirkannya.


Gadis itu sudah tahu. Batin Reyn. Dia pun mengisyaratkan Mario untuk segera mengikuti perintahnya. Mario pun bergegas. Mereka berpacu dengan waktu.


Reyn berusaha menghubungi Delia, tetapi hanya dijawab oleh suara operator.


"Rio,cepat!"


Kali ini Reyn harus mengakui kemampuan Delia lebih unggul dari dirinya.