DELIA

DELIA
26. Bangkitnya Masa Lalu



Di sebuah kampung yang tenang dan udaranya yang sejuk. Seorang wanita terlihat menatap ke arah pepohonan di belakang rumahnya. Wajahnya masih cantik meskipun usianya tak lagi muda. Tetangganya selalu memanggilnya dengan sebutan mama Eri.


Ya, dia adalah Eriana, ibu dari Delia. Wanita setengah baya itu tampak menyunggingkan senyum tipis. Hatinya saat ini sedang bahagia melihat anak-anaknya bisa tumbuh dengan sehat. Dia mungkin tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya.


Hanya bisa menadahkan tangan ke langit, melantunkan doa dan harap yang dia lakukan setiap hari. Berharap anak-anaknya diberikan kemudahan dalam setiap langkah. Diam-diam wanita paruh baya itu merindukan anaknya yang kedua. Delia sudah lama sekali tidak mengirim kabar. Namun, Eriana yakin gadisnya pasti baik-baik saja.


Delia, anak keduanya itu sudah bekerja di kota. Rasa rindu kadang menyiksa batinnya.


Tak jarang ada keinginan untuk menyusulnya ke kota, tetapi dia tidak mungkin muncul begitu saja. Ada banyak hal yang harus dia pertimbangkan sebelum keluar dari kampung ini.


"Bu, ada tamu," kata Fahri. Eriana tersentak mendengar suara anak sulungnya. Kedua alisnya bertaut mengisyaratkan bahwa wanita itu merasa heran dengan ucapan Fakhri bahwa ada tamu untuknya. Sudah lama sekali keluarga ini tidak pernah menerima tamu, mereka hidup begitu sederhana, dan hanya dekat dengan tetangga dekat saja.


"Siapa?" tanya Eriana setelah dirinya berhasil mengatasi rasa terkejutnya.


"Tidak tahu, Bu. Sepertinya mereka orang kaya dan berasal dari kota, karena mereka membawa mobil kemari," jawab Fakhri.


Eriana terkejut, batinnya menduga-duga siapa yang bertamu mencarinya. Tak ingin rasa penasarannya semakin menjadi, Eriana segera mengambil kain panjang untuk menutupi kepalanya. Lebih baik berjaga-jaga bukan?


"Maaf, Anda cari siapa?" tanya Eriana sesampainya di ruang tamu.


Di ruang tamu ada seorang pria yang berdiri membelakanginya. Makanya Eriana langsung bertanya kepadanya. Hatinya sedikit curiga menunggu pria kekar itu berbalik.


Saat mendengar suara wanita yang menegurnya, pria tersebut langsung berbalik. Melepas kaca matanya dan matanya terlihat memicing. Pria itu memperhatikan Eriana dari atas sampai bawah. Penampilan Eriana memang terlihat kumal. Dia dan keluarganya selalu berpenampilan seperti itu.


"Apakah benar Anda adalah Ibu Eriana? Kami kesini untuk mengantarkan barang-barang ini," jawab pria itu dengan cepat.


"Saya Eriana, lalu barang-barang apa yang kalian bawa?"


"Ini ada surat dari bos saya." Pria itu mengulurkan sebuah amplop pada Eriana yang langsung diterima wanita itu dengan raut keheranan.


"Siapa nama bos kalian?" tanya Eriana.


Dia tentu tidak mau gegabah menerima pemberian dari orang tidak dikenal.


Pria itu tersenyum. Ketenangan dan kehati-hatian Eriana benar-benar seperti bosnya. Tidak diragukan lagi bahwa Eriana J adalah bagian dari keluarga besar Jane. Apalagi wajah itu begitu mirip dengan bosnya, meskipun terlihat lusuh.


"Maafkan kami. Kami tidak bisa memberikan informasi itu. Anda bisa melihat di surat yang dikirimkan oleh beliau," jawab pria tersebut dengan sopan.


Buru buru Eriana menyobek amplop surat itu. Matanya tertegun melihat tulisan yang di kenalnya.


Dear Ery


Jika kau membaca surat ini artinya surat ini jatuh ke tangan orang yang tepat. Maafkan aku tak bisa langsung mengunjungimu. Karena musuh bebuyutan kita masih berdiri dengan tegak di luar sana.


Apa kabarmu? Semoga kamu dan keluarga baik-baik saja. Aku mengundang keluarga kalian untuk datang makan malam. Ada yang harus kita lakukan dan ini berhubungan dengan anakmu, Delia.


MJ.


Eriana tertegun. MJ. Mungkinkah itu dari Mery yang meninggal tiga puluh tahun yang lalu. Tapi bagaimana bisa itu terjadi?


Meri adalah kakaknya yang sudah lama meninggal. Mungkinkah kakaknya benar masih hidup, atau pihak lawan yang memanfaatkan namanya. Lalu Delia, apa yang sebenarnya menimpa gadis kecilnya?


Eriana semakin tidak mengerti. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan, tetapi semua tertahan di mulutnya.


"Apa Anda punya foto Bos Anda? Aku harus memastikan sesuatu," kata Eriana.


Pria itu menyodorkan ponselnya. Karena bosnya sudah berpesan bahwa Eriana pasti akan meminta foto dirinya.


Astaga. Eriana membekap mulutnya tak percaya. Saudaranya terlihat segar bugar


tersenyum ke arah kamera dan menunjukkan sebuah tanda lahir di punggung kanannya.


"Baiklah sampaikan ucapan terimakasih kami kepada bos Anda. Kami akan datang menemuinya. Kapan bos Anda ada waktu?" tanya Eriana dengan formal. Dia tidak ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dia mempunyai hubungan yang dekat dengan orang yang disebut pria itu dengan panggilan Bos.


"Nanti akan saya sampaikan," jawab pria itu.


"Kami permisi. Tugas kami sudah selesai sampai di sini," lanjutnya lagi.


Pria itu mengangguk, dan membungkukkan badannya. Mereka kemudian menuju ke mobil dan segera pergi dari kediaman Eriana.


****


Budi Darma baru saja sampai di rumah. Pria itu terheran-heran melihat semua barang yang ada di rumahnya. Apalagi barang-barang itu adalah barang mahal. Benaknya diliputi banyak pertanyaan.


"Ini dari siapa, Bu?" tanyanya pada Eriana. Terlihat sang istri sedang membuka satu persatu barang-barang yang ada di ruang tamu tersebut.


"Dari orang kaya, Ayah. Tadi ada seorang laki-laki datang kemari, dan memberikan semua ini," jawab Fakhri.


Budi Darma menatap tajam ke arah istrinya. Jelas sekali ekspresi mukanya yang terlihat kesal. Eriana terkekeh melihat reaksi suaminya.


"Jangan berpikir macam-macam!" ucap Eriana.


"Bagaimana aku bisa diam saja, saat melihat banyak sekali barang mewah di sini? Ini tidak ada di kampung kita, atau Delia yang mengirimkan semua ini?" tanyanya.


Eriana menggeleng.


"Dia kembali," lanjut Eriana.


"Siapa?"


"Saudara kita yang telah mati," bisik Eriana. Dia tidak mau Fahri salah faham jika mendengar ucapannya.


"MJ?" tanya Budi Darma memastikan.


Erian mengangguk. Budi Darma tidak lagi bertanya meskipun otaknya dipenuhi banyak pikiran. Bagaimana mungkin orang mati bisa kembali? batinnya.


"Apa kamu sudah memastikannya?"


"Sudah, dan sebaiknya kita bersiap dengan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi, karena ini bersangkutan dengan Delia."


Mendengar hal itu Budi Darma mengepalkan tangannya. Dia tahu jika nama Delia sudah disebut, itu artinya anaknya dalam bahaya. Tentu tidak ada orang tua yang akan diam saja.


"Aku selalu mengajari Delia diam-diam. Jadi aku bisa memastikan tanganku masih kuat untuk meninju lawan," ujar suami Eriana itu dengan mata menyorot tajam. Tidak terlihat lagi petani kebun yang menyedihkan.


"Kita sudah terlalu lama memutuskan hubungan dengan dunia luar. Aku mengkhawatirkan kedua anak kita," keluh Eriana.


"Itu karena kamu yang tidak mau mengajari mereka, Bu."


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Kenapa aku sama sekali tidak mengerti dengan pembicaraan kalian?" tanya Fakhri.


Eriana tersenyum menatap anak sulungnya.


"Mungkin sudah waktunya kamu tahu, Nak."


"Ada apa, Bu? Apa yang selama ini Ibu dan Ayah sembunyikan dariku?" tanya Fakhri dengan rasa keheranan yang begitu besar.


"Kau adalah anak tertua ibu. Sudah saatnya kamu tahu siapa ibu sebenarnya," ucap Eriana.


Fakhri pun menggeser duduknya ke dekat Eriana. Raut mukanya terlihat penasaran dengan apa yang disampaikan oleh ibunya. Pemuda itu pun memasang telinganya lebar-lebar untuk mendengar apa yang akan disampaikan oleh ibunya.


"Sebenarnya ibu itu mempunyai saudara di kota," kata Eriana memulai ceritanya.


"Kami terpisahkan untuk saling melindungi. Namun, sekarang beliau meminta kita untuk menemuinya," lanjut Eriana. Ada beberapa hal yang sengaja tidak dia ceritakan pada Fakhri mengingat anak sulungnya itu sedikit emosional.


"Memangnya Ibu dan Bibi tidak pernah bertemu?"


"Ya, bibirmu bahkan sudah dikabarkan meninggal karena dicelakai oleh musuh."


"Apa sebaiknya kita tidak usah ke sana, Bu? Itu terlalu mengerikan," kata Fakhri.


"Ini menyangkut keselamatan Delia, Fakhri. Ibu harap kamu mengerti. Bagaimanapun juga kita tidak bisa terus lari dari musuh. Sudah seharusnya kita melawannya dengan berani."


Eriana mencoba menjelaskannya dengan pelan. Meskipun saat nama Delia diucapkan oleh Eriana, Fakhri sudah mengepalkan tangannya erat-erat.