
Fakhri mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasa khawatir seketika memenuhi hatinya.
Bagaimana mungkin keselamatan adiknya terancam? Andai dia bisa menggantikan Delia, saat ini juga dia akan menggantikannya. Sayangnya dia tidak tahu dimana Delia berada. Eriana benar-benar membatasi hubungan keluarga ini dengan dunia luar.
"Apa Ibu tidak merasa cemas?" tanya Fakhri.
"Ibu merasakan apa yang kamu rasakan, Nak. Tapi kita tidak bisa berbuat semau kita. Ada banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Kita harus menghubungi pamanmu, Mario. Dia adalah orang terakhir yang bersama dengan Delia," ucap Eriana.
"Bagaimana kalau keadaannya tidak baik-baik saja, Bu?" tanya Fakhri. Raut cemas jelas terlihat di wajahnya yang tampan.
"Delia anak yang kuat, kamu harus menahan dirimu. Musuh sedang mengincar Delia. Kalau kita gegabah, musuh bisa lebih dulu menemukan adikmu daripada kita." Budi Darma mencoba menenangkan anak sulungnya.
Fakhri menghela nafas. Dadanya terasa sesak saat mengingat Delia. Banyak waktu kebersamaan yang dia lewatkan Delia. Semata-mata karena orang tua mereka yang memang tidak punya banyak harta. Hingga keduanya harus terpisah untuk mengejar cita-cita. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Rasa khawatir begitu menderanya.
"Sebaiknya kita bersiap-siap saja, Bu. Mungkin memang sudah waktunya kita kembali."
Keputusan Budi Darma tentu mendapat persetujuan dari istri dan anaknya. Mereka bertiga pun mulai berbicara serius tentang rencana mereka untuk kembali ke kota Dhaka.
*****
Sebuah mobil hitam melesat kencang meninggalkan kediaman Davidson.
"Apa yang terjadi?" tanya gadis mungil yang saat ini berada di mobil hitam yang melesat meninggalkan keluarga Davidson itu.
"Mereka mengincar Anda, Putri," jawab pria yang berada di kursi depan.
"Sambungkan aku dengan orangmu di sana!"
Pria itu pun mencoba menghubungi orang-orang yang ditugaskan untuk melindungi kediaman Davidson. Meskipun mereka meninggalkan Davidson, tetapi Putri juga menyuruh beberapa orang untuk menyamar sebagai pelayan di sana.
"Ini, Putri."
Pria itu menyerahkan ponsel yang sudah tersambung ke salah satu anak buahnya.
"Bilang saja padanya untuk memperketat keamanan. Awasi wanita yang bernama Citra itu!"
"Baik, Putri."
Pria itu pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Setelah itu suasana di mobil menjadi hening.
"Bagaimana anda tahu kalau di sana ada ruang bawah tanah, Putri?"
"Dinding juga bisa menjadi mata, jika kita bisa membuatnya patuh pada kita," jawab sang gadis ambigu.
Pria itu tak lagi bertanya. Sementara sang gadis sibuk dengan ponselnya.
"Putar balik kita kembali ke kediaman Davidson!"
Sang pria begitu lihai, meskipun kecepatan mobilnya di atas rata-rata, dia bisa dengan cepat putar balik, dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Sesampainya di kediaman Davidson, gadis berpakaian serba hitam itu pun segera turun. Tak lupa dua buah pistol sudah berada dalam genggaman. Lima kali dia menembakan pistolnya ke beberapa titik. Tak lama suara erangan terdengar pelan.
Beberapa pria mendekat ke arah gadis itu. Setelah menginstruksikan apa yang musti dikerjakan, gadis mungil itu kembali ke dalam mobil. Kali ini tiga mobil melaju beriringan. Meninggalkan kediaman Davidson. Sementara para pria yang ada di kediaman Davidson sibuk menggeret beberapa orang yang sudah mengerang kesakitan, karena terkena tembakan di kakinya.
****
Gadis kecil berwajah manis itu melangkahkan kakinya dengan sangat tenang. Dia tidak memperdulikan sekelilingnya. Dimana banyak pria tampak membungkukkan badan selama berpapasan dengan gadis bertubuh mungil itu.
Tak ada balasan atau senyum yang tersemat di bibirnya. Hanya aura dinginnya yang sangat kentara. Sungguh sangat kontras sekali dengan kesehariannya. Gadis itu baru saja sampai di tempat ini. Sebuah rumah dengan aksen Eropa kuno, di mana banyak sekali ruangan kecil di dalamnya. Begitu juga dengan ruang bawah tanah di dalamnya.
Dalam hatinya sang gadis mengakui bahwa tempat itu memang sangat bagus untuk dijadikan markas.
Di depan pintu hitam yang tertutup rapat, gadis itu melepas jaket tebal yang dipakainya. Dengan lihai jari-jari lentik itu memasukkan sandi yang sudah sangat dihapalnya.
"Dimana para pecundang itu?" tanyanya.
"Di ruang penyiksaan, Putri,"
"Baik, antarkan aku ke sana."
Dua orang pria dewasa memandu jalan wanita itu. Meskipun dia adalah pemimpin mereka, tetapi ini adalah kali pertama dia mengunjungi markas yang dibuat oleh anak buahnya di kota Dhaka.
Di dunia bawah, perempuan mungil ini terkenal dengan nama Putri. Kecantikan dan keanggunan sikapnya memang seperti seorang putri. Namun, jangan ditanya bagaimana perlakuan kejam dan teganya terhadap orang-orang yang berani berkhianat.
Putri mengambil kursi, dan duduk di depan seorang tawanan. Wajah tawanan itu sudah babak belur. Namun, menurut laporan yang diterimanya pria berwajah sangar itu sama sekali tidak mau mengakui siapa yang telah menyuruhnya.
Sebuah puntung rokok yang masih menyala menjadi pilihan putri untuk menyundut tangan sang pria yang masih tertidur itu. Merasakan panas yang membakar, pria itu mulai menggeliatkan badannya.
"Bangun, Bapak tua!" Suara dingin itu benar-benar membuat sang pria berusaha membuka matanya lebih lebar.
Perlahan dalam cahaya remang dia melihat seorang gadis mungil tersenyum tipis ke arahnya. Hanya sekejap, karena setelahnya bibir tipis itu tertutup rapat.
Mata itu juga berkilat penuh amarah. Sebagian wajah cantik itu tertutup topeng. Hingga tidak bisa membayangkan wajah cantik di balik topeng itu seperti apa.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya gadis itu. Sikapnya begitu dingin dan menakutkan.
"Apa untungnya buatku?" tanya pria tua itu tanpa rasa takut sedikitpun.
"Hahahaha ... Kau telah berani melewati batasan. Siapa yang berani melewati batasan, dia akan berurusan denganku. Sekarang kau bicara keuntungan?? Keuntungannya cuma satu. Kamu bisa keluar dari sini hidup-hidup!"
jawab Putri tanpa mau memberikan penawaran.
"Aku tidak akan pernah buka mulut kepadamu! Lebih baik aku mati daripada bicara omong kosong denganmu."
Putri mengambil pistol, dan menembak ke sembarang arah.Tentu saja hal itu membuat pria tua itu susah payah menelan saliva-nya. Matanya bergerak ke kanan dan ke kiri, mencari celah untuk berlari. Namun, lagi-lagi dirinya harus kecewa. Ternyata kakinya pun di rantai. Seperti hewan peliharaan. Tidak ada celah untuknya melarikan diri dari tempat terkutuk itu.
"KATAKAN!!" Suara gadis itu keras dan menggelegar. Tidak sebanding dengan tubuhnya yang mungil.
"Aku tidak pernah bermain-main dengan ancaman ku! Kau hanyalah pecundang, dan pecundang harus segera dilenyapkan. Siksa dia sampai mau buka mulut!"
"Baik, Putri!"
Dua orang maju dan bersiap untuk melakukan penyiksaan yang lebih pedih. Pria itu menatap penuh permohonan kepada mereka.
Gadis kecil itu kembali menyimpan senjatanya. Tanpa berkata apapun tubuhnya berbalik dan segera hilang di balik pintu.
Dengan pelan gadis itu menyusuri ruangan demi ruangan. Hingga akhirnya dia sampai di kamar tidur miliknya. Kamar yang bertuliskan inisial namanya di pintu.
Hari yang sangat melelahkan bagi Putri. Rasanya dia ingin berhenti dari dunia bawah yang membesarkan namanya. Namun, bagaimana dengan orang-orang baik di luar sana yang membutuhkan bantuan. Seketika sang gadis kecil pun mengurungkan niatnya untuk berhenti dari dunia bawah yang jarang diketahui oleh orang-orang.
Andai dia bisa memilih, mungkin dia akan memilih menjadi gadis biasa saja.