DELIA

DELIA
28. Panik



Seperti rutinitas hariannya di kota Artha, pagi itu Delia terbangun mendengar suara alarm. Dengan malas tangan gadis itu meraba-raba mencari benda pipih miliknya. Delia terlonjak kaget begitu melihat jam di ponselnya.


Ya ampun, aku kesiangan! Batinnya kesal. Dia ingat harus masuk kerja pukul tujuh pagi, sementara saat ini sudah pukul delapan. Gadis itu segera melompat turun dari ranjang.


Namun, saat tubuhnya sudah berdiri tegak di atas lantai, kesadarannya pulih kembali.


Dirinya sadar kalau saat ini sedang berada di Dhaka. Dengan langkah pelan Delia mendekat ke arah jendela dan menyibak tirai yang menutup jendela kamarnya.


Gadis itu kembali terkejut ketika melihat pemandangan di luar. Ternyata markas yang didatanginya semalam berada di tengah hutan.


Kenapa aku berubah menjadi gadis bodoh? Bukankah aku sendiri yang merekomendasikan tempat ini? Sebaiknya aku mandi, agar otak ini kembali berfungsi. Batin Delia mulai kesal, karena dia tidak jua sadar dari posisinya.


Bergegas Delia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia harus segera melakukan apa yang seharusnya dia lakukan.


Sementara di ruang makan beberapa pria sedang berusaha menata hidangan untuk sarapan. Meskipun agak kikuk karena tak terbiasa, tetapi demi memberikan penghormatan pada pemimpin tertinggi, mereka tidak malu untuk belajar.


"Apa Putri belum bangun?" tanya seorang pria yang semalam menjemput Delia.


"Belum," jawab mereka serempak.


"Baiklah, mungkin Putri kelelahan. Bagaimana dengan pria tua itu? Apa dia mau mengaku?"


"Iya, Tuan Kim. Kami berhasil mendapatkan petunjuk," jawab salah satu dari mereka.


"Bagus. Siapa yang menyuruhnya?"


"Seorang wanita bertopeng, dan hanya akan menemui mereka pada saat malam hari."


"Baiklah, kita akan menyelidikinya nanti. Kita tidak boleh mengecewakan Putri. Saya harap kalian bisa mengerjakan tugas kalian dengan baik," kata pria bernama Kim tersebut.


Saat mereka sedang berbincang-bincang, Delia baru turun dari lantai atas. Melihat gadis itu, semua membungkuk hormat. Delia memilih tidak peduli. Kakinya melangkah menuju meja makan.


"Mari kita sarapan bersama!"


Hanya itu kalimat yang dia ucapkan. Bukan ajakan, tetapi lebih ke ucapan perintah yang tak bisa dibantah. Selanjutnya mereka mengambil tempat duduknya masing-masing dan menikmati sarapan dalam diam.


Selesai makan beberapa orang membereskan bekas makan, dan membawanya ke dapur.


Delia merasa senang dengan kerja sama yang dilakukan oleh anak buahnya. Walaupun mereka laki-laki, mereka tahu bagaimana seharusnya bersikap di markas ini.


"Bagaimana kondisi tawanan hari ini, Kim?"


"Tawanan sudah mau membuka mulut, Putri."


"Bagus, buat dia mengaku. Kalau perlu beri dia ancaman menggunakan keluarganya."


"Baik, Putri!"


"Kenapa sampai ada penyerangan di kediaman Davidson?"


"Menurut informasi yang kami dapatkan, para penyerang menyangka bahwa Putri dan Mario masih berada di sana."


"Hmmm, apa kamu yakin dalang dari semua penyerangan beberapa hari ini adalah Dainy?"


"Sangat yakin, Putri. Orang-orang kita sudah menyelidiki para penyerang yang semalam beraksi. Terakhir mereka memang berinteraksi dengan si rubah tua itu."


"Sepertinya sebentar lagi kita akan berpesta, Kim," kata Delia seraya tersenyum misterius.


"Dengan senang hati, Putri."


"Baiklah. Hari ini antarkan aku kembali ke kampung halamanku!"


"Siap, Putri."


Pria itu pamit undur diri sebentar. Sementara Delia masih asyik melihat ruang makan yang menurutnya sangat unik. Desain rumah ini begitu aneh. Banyak ruangan, dan banyak pula jebakan yang dipasang. Bahkan bagian-bagian tertentu di rumah ini adalah sebuah pintu rahasia. Benar-benar cocok untuk sebuah markas.


Nada dering dari ponsel Delia terdengar menjerit-jerit. Delia melirik dengan malas nama si penelpon. Sudah dari semalam telponnya terus berbunyi, tetapi Delia enggan menjawabnya.


Bukan ingin menjaga jarak, tetapi gadis itu paling tidak suka jika ada orang yang tidak percaya dengan omongannya. Sementara Delia sangat tahu kondisi yang sebenarnya.


Hingga berkali-kali ponselnya berdering, tetap saja Delia tidak bergeming.


Kau di mana?


Kali ini sebuah pesan dari Mario. Karena tak kunjung dibalas, Mario pun memilih menelponnya.


"Halo, ada apa paman?"


"Di tempatku."


"Iya tahu, kamu sekarang di mana? Biar paman jemput."


"Lho, apa paman di Dhaka?"


"Pria sialan itu memaksaku ikut."


Delia terkekeh. Dia sama sekali tidak tertarik untuk membahas Reyn saat ini. Bagi Delia Reyn terlalu lembek sebagai seorang pemimpin perusahaan besar. Pria itu selalu saja teledor. Hal itu membuat Delia harus memberikan penjagaan ekstra pada pria yang sekarang bergelar sebagai kekasihnya itu. Tentunya penjagaan dari jauh, karena Reyn sendiri sudah punya banyak anak buah. Walaupun kualitasnya jauh di bawah anak buah Delia.


"Hei, kenapa diam?"


Delia mencebik. Bagaimana mungkin, pria yang baru dipikirkan olehnya sekarang sedang bersuara. Ingin marah, tetapi nanti dia jadi besar kepala.


"Cepat pulang!"


"Tunggu saja, aku pasti cepat pulang. Bereskan saja kekacauan yang kamu buat sendiri itu!"


Delia sangat senang sekali bisa kembali meledek Reyn. Pasti saat ini mukanya memerah.


"Cepat pulang, atau orang-orang ku akan menemukanmu."


"Coba saja kalau bisa."


Delia menantang Reyn untuk menemukannya.


"Maaf Putri, mobilnya sudah siap."


Suara Kim terdengar di rungu Reyn yang saat itu sedang memegang ponsel milik Mario. Seketika darahnya mendidih. Dia tidak menyangka gadis itu pergi dengan seorang pria. Delia sendiri tidak tahu kalau saat ini Reyn telah mengepalkan tangannya marah.


"Baik, tunggu aku bersiap!"


Reyn semakin marah mendengar Delia menerima ajakan pria itu. Dia segera memutuskan panggilan. Delia ingin mengabari Reyn, tetapi panggilan sudah dimatikan. Tak mau ambil pusing dia segera kembali ke kamarnya di lantai dua. Hari ini dia akan pulang ke kampung halaman. Ada yang ingin dia tanyakan pada keluarganya, terutama kepada ibunya.


Setelah memberikan begitu banyak pesan dan arahan, Delia pulang dari markas bersama dengan Kim. Mobil yang dinaiki Delia pun melaju menembus sepinya jalanan pinggir hutan. Jika apa yang ditemukannya benar, maka dia akan punya banyak sekutu untuk melawan Dainy. Tentu saja itu akan sangat menguntungkan baginya. Dia bisa mengalahkan wanita sok berkuasa itu.


"Tampaknya tak lama lagi kita bisa memulai serangan, Kim?"


Kim tersenyum senang.


"Kami sudah tidak sabar untuk membalaskan dendam kami, Putri."


"Apa yang pertama kali menjadi sasaran kita?"


"Kebusukan Dainy, menyuap para polisi dan pejabat."


"Baiklah, kita akan bersama-sama mengaturnya. Aku juga sudah tidak sabar menciptakan neraka untuk rubah tua itu."


Kim terkekeh pelan rasanya tidak percaya melihat sisi lain dari gadis di belakangnya. Gadis berjuluk Putri itu diam-diam mempunyai sifat yang kejam. Kim tentu paham dari mana keberanian dan kekejaman itu berasal. Keturunan Jane pasti punya watak pemberani meskipun dia adalah seorang perempuan.


"Lambat kan mobilmu, Kim!"


"Baik, Putri."


"Ikuti mobil yang itu, Kim!"


Delia sangat yakin dengan penglihatannya. Dainy berada di dalam mobil yang baru saja menyalipnya. Kebetulan kaca mobil yang dinaiki Dainy sedikit transparan. Tentu saja Delia tidak ingin kehilangan jejak si rubah tua itu.


Kim segera memacu mobilnya lebih cepat mengikuti mobil warna merah yang melaju lumayan kencang.


"Tampaknya ada kejadian yang besar. Rubah tua itu terlihat sangat ceroboh."


Hal yang membuat Delia heran, mobil itu melaju ke arah kampungnya. Hatinya menjadi cemas memikirkan keluarganya. Sementara dia sendiri tidak tahu bagaimana mengabari keluarganya.


"Apakah orang kita ada yang masih di kampung, Kim?"


"Banyak, Putri."


"Sepertinya keluargaku dalam bahaya. Kita harus lebih cepat, Kim."


Nada suara Delia berubah dari biasanya. Gadis itu terlihat khawatir. Kim tahu bahwa sang atasan begitu mengkhawatirkan keluarganya. Kim segera menginjak gasnya, tetapi belum sempat Kim melaju, dari arah belakang ada dua mobil yang membuntuti mobil Dainy.


"Sial, mereka benar-benar mengincar keluargaku! Hubungi orang-orag kita, Kim. Jika ada yang sampai melukai salah satu keluargaku, aku tidak akan segan-segan untuk membunuh mereka dengan cara paling sadis!"