DELIA

DELIA
22. Sama-sama Memakai Topeng



"Setiap orang pernah melakukan kesalahan. Tapi tidak setiap orang pantas diberi kesempatan"


"Kamu tega mencurigai Mama, Amro?" tanya Nyonya Dainy. Kepalanya menggeleng menandakan dia tidak percaya putranya akan mengatakan hal itu kepadanya.


"Aku hanya membalas apa yang mama tanyakan kepadaku. Bagaimana rasanya, Ma? Sakit bukan? Sama seperti apa yang aku rasakan setelah mendengar pertanyaan Mama barusan."


Dainy pura-pura menangis terisak. Hatinya memang sakit dengan perubahan sikap Amro. Namun, dia tidak boleh memperlihatkannya di depan Amro supaya anaknya tidak semakin curiga.


"Tapi aku adalah ibumu. Tidak seharusnya kamu mencurigai Mama seperti itu," lirih wanita tua itu.


"Lalu apa bedanya? Aku adalah anakmu dan Mama dengan tega menuduhku bekerja sama dengan Mario. Tidak seharusnya Mama melakukan itu terhadapku!" kata Amro dingin.


"Sejak kepergian papa aku merasa ada yang berbeda di mansion ini. Aku tidak pernah merasakan kasih sayang dan kedamaian layaknya sebuah rumah untuk berteduh dan berbagi beban bersama. Aku semakin tidak mengenalimu, Ma. Mama pergi sampai larut malam tanpa aku tahu apa pekerjaan Mama. Itu memang bukan urusanku, tetapi cobalah untuk tidak terus menyakitiku dengan pikiran-pikiran Mama yang tidak masuk akal itu!"


"Maafkan Mama, Sayang," lirih Dainy.


Amro mengangkat tangannya.


"Tinggalkan aku sendiri, Ma. Aku mau istirahat!"


Amro meninggalkan Dainy yang terpaku menatap punggung lebar pria yang telah dibesarkannya sejak bayi tersebut. Hatinya terasa kosong setelah Amro memutuskan pergi ke kamarnya.


Amro Salazar termenung sendiri di kamarnya. Dia merasa asing dengan mansion keluarganya. Tempat yang seharusnya penuh kasih sayang dan cinta kasih dari orang tuanya. Kini, mansion Salazar sudah seperti mansion mati. Itulah yang dia rasakan saat ini.


Dia tidak mengenali lagi tempat yang selama ini menjadi saksi pertumbuhannya. Menjadi tempatnya untuk pulang. Jiwanya sudah tidak bisa merasakan lagi hangatnya sebuah keluarga di sini. Apalagi pengkhianatan besar yang dilakukan oleh seseorang yang berpengaruh itu.


Apa yang harus aku lakukan, Pa? Papa, tolong bantu aku mengungkapkan kebenaran. Batinnya lirih memanggil sang ayah yang telah tiada. Kebingungan sudah tentu melanda jiwanya yang begitu rapuh. Fakta tentang mama palsunya membuat dunia Amro hancur seketika. Awalnya dia tidak mempercayai orang-orang bodoh yang mencoba memfitnah Dainy. Namun, lagi-lagi semesta membenarkan orang-orang itu.


Entah bagaimana cara orang-orangnya bekerja. Hingga akhirnya dengan mudah mendapatkan sample dari tubuh Dainy dan selanjutnya melakukan tes DNA. Hasilnya tentu saja dia dan Dainy tidak ada kecocokan. Amro marah dan kecewa. Merasa dicurangi seumur hidupnya. Harus kemana lagi dia mencari ibu kandungnya sendiri. Sementara seumur hidupnya dia hanya mengenal Dainy sebagai ibu kandungnya.


Hari ini dia sengaja pulang ke mansion untuk mencari tahu yang sebenarnya. Bukankah tempat lawan adalah tempat yang paling aman selama kita bisa berpura-pura. Ya, bagi Amro, Dainy adalah lawan. Tidak peduli seperti apa kebaikannya selama ini. Nyatanya semua yang dilakukannya hanyalah kebohongan semata. Wanita itu adalah penipu ulung yang mengobrak-abrik keluarga Salazar juga kerajaan bisnis milik keluarga Salazar.


Suara dering ponsel membuat Amro terbangun dari lamunan. Gegas dia menggeser ikon berwarna hijau itu.


"Apa yang kalian temukan?" tanya Amro tidak sabar.


"Identitas istri pertama Robert Salazar, Tuan." Amro tersenyum tipis, mendengarkan penjelasan dari anak buahnya yang sudah dia sebar seantero kota Dhaka untuk memulai pencarian ibunya.


"Tunggu perintahku selanjutnya!"


"Baik, Tuan Muda."


Panggilan pun terputus. Amro menyeringai. Jangan tanya lagi bagaimana Amro yang sekarang. Dia telah berubah menjadi monster. Membunuh adalah kesenangannya saat ini.


Apalagi membunuh orang-orang yang bermain-main dengan keluarga Salazar. Para pengkhianat Salazar harus tahu, siapa sebenarnya Amro Salazar. Sudah cukup selama ini dia diam karena mama palsunya yang selalu menyuruhnya untuk diam.


Malam semakin larut namun pria itu masih terjaga. Kali ini dia telah mendapatkan lawan yang sepadan.


Sementara itu di kamar lantai dua mansion Salazar. Dainy tersenyum misterius. Dia memang tidak mengetahui kemana anaknya pergi selama beberapa bulan ini. Namun melihat sikap sang anak yang berubah membuatnya merasa harus berhati-hati.


Bukan anaknya yang perlu dia waspadai, tetapi orang-orang di sekitarnya yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.


"Dasar siput, menangkap gadis kecil saja kalian tidak becus!" umpatnya.


Dua pria di depannya menundukkan kepala.


"Maaf Nyonya, rumah Mario memang sudah kosong, tetapi kami menemukan dua piring kotor yang baru saja dipakai."


"Bodoh ! Seharusnya kalian mengejar mereka. Aku tidak mau tahu, cari mereka berdua sampai dapat ! Ingat, kalian sudah ku bayar mahal!"


Dainy mengerang marah. Belum juga reda rasa kecewanya pada Amro, sekarang sudah ada lagi berita yang membuatnya sangat ingin membunuh orang saat itu juga.


"Baik Nyonya. Kami akan segera memberikan kabar baik untuk anda."


"Keluar kalian!"


Dua pria itu berlari keluar dengan cepat dari kamar Dainy. Di luar kamar sudah ada pelayan wanita yang selama ini selalu mengantarkan para tamu Dainy ke kamarnya. Pun selalu mengantarkan kembali saat mereka keluar mansion. Sepeninggal dua pria sangar itu, Dainy terlihat lelah dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sepertinya dugaannya kali ini benar. Mario ada di balik bebasnya Delia.


Baiklah kalian sedang ingin bermain-main dengan ku. Akan aku layani. Batin Dainy.


****


Waktu telah berganti pagi. Dainy maupun Amro sudah bangun dari tidurnya yang tidak begitu lama. Hari ini Amro ingin memberi sedikit kejutan pada mama palsunya tersebut. Pagi-pagi sekali dia sudah rapi dengan setelan jas juga kopernya. Hari ini dia akan mencari tahu sendiri tentang kebenaran yang didapatkan oleh anggotanya. Jika memang semuanya benar, maka dia tidak akan segan-segan menendang mama palsunya keluar dari mansion Salazar.


"Kamu mau kemana, Sayang? Kok sudah rapi sekali. Ini masih pagi lho," sapa Dainy pada Amro.


"Kok bawa-bawa koper segala. Kamu mau kemana?" tanyanya lagi.


"Maafin aku, Ma. Aku harus pergi lagi. Ada jadwal meeting dengan klien yang diajukan jamnya," jawab Amro tenang. Tak lupa siapa mencium kedua pipi mamanya seperti dulu.


"Ok. Padahal kamu baru sampai kemarin. Apa tidak lelah?" Meskipun sedikit janggal Dainy mencoba menepis pikirannya sendiri.


Mendengar perhatian lembut itu, rasanya Amro ingin muntah saja.


"Amro harus berangkat sekarang Ma. Sekali lagi maaf ya tidak bisa menemani Mama sarapan terlebih dahulu."


Amro buru-buru berpamitan sebelum dia muntah beneran di tempat itu.


Nyonya Dainy terpaksa mengizinkan putranya untuk berangkat. Meskipun benaknya diliputi banyak pertanyaan.


"O ya Ma, aku lupa sesuatu. Kemungkinan, nanti sore temanku akan datang ke mansion ini. Tolong Mama suruh dia untuk menungguku kalau aku belum pulang," kata Amro sebelum dirinya benar-benar pergi.


Dainy tentu saja mengulas senyum manis mendengar permintaan anaknya itu.


"Pria atau wanita, Sayang?" tanya Dainy antusias.


"Wanita Ma. Namanya Meriana Jane," jawab


Amro. Pria tampan itu pun segera berbalik dan melanjutkan langkahnya. Sebuah senyum misterius pun terlukis di wajahnya yang tampan. Sementara Dainy mengatupkan mulutnya rapat-rapat saat nama itu disebut oleh Amro. Jantung berdebar dengan cepat dan tubuhnya bergetar. Beruntung wanita tua itu duduk di kursi makan. Kalau tidak, bisa-bisa dia jatuh pingsan seketika.


"Mungkinkah itu kamu? Kamu kembali untuk membalaskan dendam kepadaku?" gumam Dainy hampir tidak terdengar.