DADDY Or BABY ? (Psycho)

DADDY Or BABY ? (Psycho)
Daby 09



Dyllan menunggu sebuah bus di halte yang berada di sekitar kantor sang papa.


Dia baru saja mengantarkan Zura menemui Joe. Hari ini aktivitas di kantor tidak begitu sibuk jadi Joe punya sedikit waktu untuk menyenangkan hati Zura sebelum Harumi meminta Zura kembali untuk dipulangkan.


Dyllan menolak saat sang papa menyuruh supir mereka mengantarkan Dyllan ke rumah. Gadis itu beralasan bahwa Kousuke sudah menjemputnya dan sebentar lagi akan tiba, padahal dia hanya ingin sendiri dan memilih pulang menggunakan angkutan umun saja.


Dyllan duduk di sebuah kursi kosong di dalam bus tersebut. Dia memasang earphone di telinganya dan menyetel lagu dengan volume tinggi.


Tidak lama bus berjalan, bus tersebut kembali berhenti untuk mengambil penumpang lagi di tempat yang lain.


Ada beberpa orang yang masuk ke dalam bus dan tiba-tiba salah satu orang berdiri di hadapan Dyllan.


Dyllan mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


“Maaf, apa aku boleh duduk di sini?” ucap seorang pria pada Dyllan.


Dyllan melihat ke sekeliling bus, memang sudah tidak tersedia tempat kosong lagi selain kursi di sebelahnya.


Dyllan mengangguk lalu menggeser duduknya, membiarkan pria itu duduk di sampingnya.


Dyllan sedikit merasa aneh, sepertinya dia pernah melihat pria ini, tapi di mana? Dia tidak ingat.


“Cuaca hari ini cukup gerah ya.” ucap pria itu pada Dyllan di tengah perjalanan.


Dyllan tidak menggubris, dia terus menolehkan pandangannya keluar jendela.


“Dicuaca yang cukup gerah seperti ini kenapa kau malah mengenakan jaket?” tanya pria itu pada Dyllan sepertinya dia mencoba memulai pembicaraan dengan gadis ini, namun Dyllan sama sekali tidak menghiraukannya.


“Apa kau dengar berita akhir-akhir ini? Ada seorang wanita yang ditemukan tidak beryawa di jalanan sempit. Berita itu menjadi heboh sekarang karena mayatnya yang mati mengenaskan.”


Dyllan hanya terus diam. Kenapa ada seorang pria yang begitu banyak bicara seperti ini?


Pria itu tampak aneh dengan sikap diam Dyllan.


“Kau Dyllan kan?”


Dyllan sontak menolehkan kepalanya pada pria tersebut.


“Apa kau tidak ingat denganku, Dyllan?”


Wajah pria ini memang tidak asing baginya, tapi dia masih belum dapat menebak siapa pria ini.


Dyllan kembali menolehkan kepalanya ke jendela bus.


“Sepertinya kita butuh kenalan lagi. Namaku Adam, polisi yang pernah datang ke rumahmu.”


Dyllan melepas earphone-nya saat mendengar nama pria yang duduk di sebelahnya sekarang.


“Sepertinya kau sudah mulai ingat denganku.” ucap Adam kembali.


“Ahh, iya. Aku ingat sekarang….”


“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu.”


“Aku juga.” ucap Dyllan ramah.


“Sangat kebetulan bertemu denganmu di sini. aku hampir saja akan menghampiri rumahmu besok untuk menayakan sesuatu tapi untungnya kita bertemu di sini.”


“Apa ada yang bisa ku bantu?”


“ini tentang para perampok yang merampok tasmu kemarin.”


 “Apa pelaku pembunuhannya belum tertangkap?” tanya Dyllan bersandiwara.


“Bukan hanya belum tertangkap tapi kami juga menemukan kasus baru dengan pembunuhan serupa seperti kasus-kasus sebelumnya.”


“Pembunuhan serupa?” tanya Dyllan bingung.


“Ya... sudah bertahun-tahun aku terus nenangani kasus yang serupa. Pembunuh itu berhasil membuat kepalaku hampir pecah! Aku selalu menemukan mayat yang berada di dalam karung dengan kepala yang terpotong ataupun luka hebat di bagian kepala dan lehernya. Rata-rata mayat yang ku tangani mengalami pembunuhan dengan cara yang sama, bahkan pagi tadi aku sudah menagani kasus baru lagi, kepala pria itu terpotong dan kau tau siapa mayat itu? Dia seorang atlet renang yang begitu dibangga-banggakan, bahkan beritanya sudah sangat viral sejak penemuan mayatnya di dalam karung dan aku yakin pembunuhnya dalah orang yang sama. Aah! Ini membuatku frustasi.”


Jep!


Polisi ini menemukan mayat pria itu! Tapi mengapa mayat itu bisa ada di dalam karung? Padahal Dyllan meninggalkannya begitu saja. Dan hal mengejutkan lain bahwa selama ini yang menangani kasus pembunuhan yang diperbuat dirinya adalah polisi yang sedang duduk di sampingnya kini yang sudah bertahun-tahun mencarinya tanpa henti!


“Aku belum pernah sampai di titik sejauh ini walaupun ini hanya dugaan semata. Aku ingin menangkap perampok yang kau katakan itu, aku ingin mengintrogasinya. Apa kau bisa membantuku?”


“Tapi sudah ku katakan padamu bahwa aku tidak melihat apapun dari perampok itu selain salah satu dari mereka memiliki tubuh gemuk.”


“Mungkin kau ingat sesuatu tentang mereka misal, warna kulit mereka dan motor seperti apa yang mereka gunakan?”


“Aku tidak begitu yakin dengan motornya. Itu terlihat seperti motor jaman dahulu yang begitu populer dan untuk warna kulitnya aku tidak begitu yakin karena dia menegenakan pakaian serba tertutup.”


Walaupun tidak mendapat banyak informasi tapi setidaknya dia dapat petunjuk lebih tentang kendaraan sang perampok yang padahal itu hanya sebuah alasan yang dibuat Dyllan.


Huh! Andai saja polisi itu tau bahwa orang yang dicari-carinya selama ini adalah Dyllan, wanita yang sedang mengobrol dengannya.


“Baiklah, terima kasih karena mau menjawab pertanyaanku," ucap polisi itu, "wajahmu hari ini terlihat murung dan datar tidak seperti saat kita pertama bertemu, pasti kau sedang lelah. Maafkan aku karena telah mengganggumu.”


“Ya, tidak masalah. Aku hanya sedang banyak tugas kampus jadi mungkin hal itu berpengaruh pada mood-ku sekarang.”


Polisi itu mengangguk mengerti sembari tersenyum pada Dyllan.


“Aku harap tidak ada lagi kasus-kasus lainnya dan aku sangat berharap bisa menagkap pelakunya secepat mungkin. Aku sudah muak terus menangani kasus kejinya.”


“Ya, semoga saja. Aku menunggumu untuk menangkap pelakunya itu. Bukannya dia harus ditangkap secepat mungkin dan menerima balasan atas perbuatannya itu? Aku harap kau bisa menyelesaikan kasus ini dan terus bekerja dengan baik."


Gila ya?! Apa dia sengaja mengatakan hal itu untuk tamparan dirinya sendiri? Gadis satu ini terlalu berani dalam situasi apapun.


***


“Kousuke! Kousuke….” teriak Dyllan di dalam rumah miliknya.


Kousuke datang dari arah belakang, menghampiri Dyllan yang meneriaki namanya dengan begitu lantang.


“Dyllan? Ada apa?” tanya Kousuke.


“Apa kau yang membuang jasadnya?” tanya Dyllan tanpa basa-basi.


Seorang atlet terkenal dan berprestasi namun perilakunya sangat buruk melebihi iblis.


“Baguslah.” Dyllan meletakan tas selempangnya lalu duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya.


“Pergilah beristirahat, kau terlihat lelah,” Kousuke mengambil jaketnya yang tergeletak di kepala sofa, “aku masih punya sesuatu untuk di kerjakan.” ucap Kousuke lalu melangkah pergi.


Dyllan membiarkan Kousuke pergi begitu saja walaupun dia sendiri tidak tau kemana sahabantnya akan pergi. Dia memang merasa cukup penat hari ini.


***


“Sayang, bagaimana penampilanku? Cantik?” Harumi berputar-putar di hadapan Dave dengan mengenakan gaun pernikahannya yang sudah dia tempah jauh hari.


“Ya.” ucap Dave singkat sembari menganggukan kepalanya. Sungguh entah apa yang terjadi pada dirinya. Mulai sekarang dia sudah bersikap sedikit acuh pada Harumi dan bahkan tidak mengharapkan hubungan mereka lagi.


Harumi berlenggak-lenggok di depan cermin, memperhatikan dirinya yang terlihat begitu menawan. Dengan usianya yang terbilang masih muda yakni 37 tahun. Tubuh Harumi masih terlihat begitu menawan ditambah lagi dengan perawatannya yang ini-itu.


“Aku tidak sabar untuk hari pernikahan nanti.” ucap Harumi begitu bahagia jauh berbalik dengan Dave yang terlihat murung.


***


Dyllan mengerjapakan matanya perlahan, tubuhnya masih terasa lesu, namun dia merasa sudah tertidur terlalu lama.


Gadis itu beranjak duduk di kasurnya, dia masih mengumpulkan sisa-sisa nyawanya yang masih berterbangan entah kemana.


Sampai hingga dia sadar seutuhnya, Dyllan tiba-tiba menemukan Kousuke sedang duduk bersandar pada kepala kasur tepat di samping Dyllan.


Pria itu memejamkan matanya, namun dia tidak tertidur.


“Kousuke?” panggil Dyllan.


Dengan sigap Kousuke membuka kembali kedua kelopak matanya lalu dia menoleh ke arah Dyllan.


“Kau baik-baik saja?” Dyllan menempelkan tangannya pada pipi Kousuke guna mengecek suhu badan pria itu. Karena tidak biasanya Kousuke terlihat lemas seperti ini.


“Ya, aku baik-baik saja tidak apa-apa.” ucap Kousuke, “aku sudah mencari tau semua tentang Dave sesuai perintahmu.”


“Apa kau lelah?”


“Tidak aku baik-baik saja. Aku sudah mengumpulkan beberapa gambar tentang Dave di sini.”


Kousuke menyodorkan amplop coklat pada Dyllan yang dia letakan di atas meja sebelah kasur sebelumnya.


Dyllan mengambil amplop itu lalu meletakannya di atas kasur, “kau bisa kapan saja memberikan ini padaku tapi sekarang kau sedang terlihat tidak baik.”


“Aku baik-baik saja Dyllan, sungguh.” Kousuke meraih kembali amplop itu, membukanya lalu memberikan berapa kertas pada Dyllan.


“Dave, yang ku tau sekarang dia berumur 26 tahun. Dia memiliki seorang kakak laki-laki yang tinggal di Canada bersama orang tua mereka. Ayahnya seorang pengusaha sukses di bidang kendaraan, sangat sukses bahkan. Dia berada di Indonesia karena hendak melanjutkan perusahaan cabang sang ayah yang sedang dipimpin pamannya, sekarang dia dijodohkan dengan mommymu oleh pamannya sendiri yang juga pria kaya memiliki banyak saham. Dan berita terbaru, Dave akan menikah dengan mommymu dalam waktu dekat.” jelas Kousuke.


Dyllan hanya diam dan terus memperhatikan kertas yang dipegangnya satu persatu.


“Jangan khawatir, berita ini benar, karena aku sendiri yang juga turun tangan untuk mengecek kebenarannya. Salah satu anak buahku memiliki hubungan baik dengan pamannya Dave, dia juga yang ikut mencarikan informasi ini.”


Dyllan mengangguk paham. “terima kasih untuk kerja kerasnya. Kau lebih baik istirahat sekarang, kau juga terlihat begitu lelah.” ucap Dyllan.


“Tidak apa. aku harus pergi, ada sesuatu yang ingin ku urus.” Kousuke beranjak dari kasur Dyllan setelah selesai melapor tentang Dave.


“Kau mau kemana?” tanya Dyllan.


“Pulang ke rumah ibuku.” jawab Kousuke sebelum dia meninggalkan ruangan kamar Dyllan.


***


Bunga yang berwarna seba putih begitu banyak menghiasi sebuah ruangan terbuka yang cukup luas. Dihari yang cerah ini berlangsunglah pernikahan antara Dave dan Harumi.


Tidak ada pilihan lain bagi Dave, pernikahan ini sudah direncanakan Harumi dan pamannya pada jauh hari tanpa sepengetahuan dirinya. Semua juga sudah dipersiapkan, dan yang paling mengejutkan keluarga Dave datang ke Indonesia dua hari sebelum acara ini berlangsung.


Dyllan yang mengenakan gaun yang didominasi warna hitam selutut dengan bagian atas yang sedikit terbuka di daerah bahu ditambah dengan polesan make-up sederhananya membuat gadis itu kini terlihat elegan. Dirinya begitu cantik sehingga sesekali menjadi pusat perhatian orang-orang di sana.


Entah perasaan apa yang dia rasakan saat Dave dan Harumi mengucapkan janji setia mereka. Dyllan bahagia karena Dave akan tetap ikut serta dalam permainan yang sudah dia rencanakan untuk membalas dendamnya pada sang mommy, namun di lain sisi Dyllan merasa gelisah saat melihat Dave dan Harumi begitu dekat dihari pernikahan mereka.


Dyllan menggenggam lengan Rian sedangkan Zura terus berada di gendongan Kousuke karena bocah itu yang merasa sedikit asing dan tidak nyaman berada dalam keramaian. Mereka mencoba untuk menikmati pesta walaupun hal itu sulit untuk mereka lakukan.


Ini kali pertama bagi tiga saudara itu berkumpul untuk menghadiri acara pernikahan mommy mereka, biasanya mereka enggan untuk datang dan memilih untuk tetap berada di rumah saja karena mereka yang tidak begitu dekat dengan mommynya sendiri.


***


Sore menjelang malam, masih saja banyak tamu yang berdatangan diwaktu seperti ini.


Dyllan dan Kousuke memutuskan untuk kembali pulang dan tidak berniat untuk mengikuti pesta sampai acara selesai.


Dyllan membukakan pintu mobil untuk kedua adik-adiknya. Mereka terlihat begitu lesu dan tidak bersemangat, bahkan Zura sudah tertidur di pelukan Rian.


Saat Dyllan hendak masuk ke dalam mobil Kousuke dan pergi dari tempat ini, tiba-tiba saja pria dewasa memanggilnya.


“Dyllan?”


Dyllan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.


“Paman?” ucap Dyllan.


Pria itu berjalan menghampiri Dyllan. “kenapa tidak memberitau paman bahwa kau juga ada di sini?”


“Papa yang meminta kami untuk datang ke sini.” jawab Dyllan.


“Kami? Kau dengan siapa?” tanya pria itu.


“Rian dan Zura.” Dyllan menunjuk ke arah mobil.


Pria itu lalu mengintip ke dalam melewati kaca jendela mobil dan benar saja Rian dan Zura ada di dalam mobil. Pria itu juga melihat ada Kousuke di dalam.


Kousuke membuka kaca mobilnya untuk menyapa pria yang dari awal dia sudah tau bahwa itu adalah paman Dyllan.


“Kau Kousuke kan?” belum sempat Kousuke mengucapkan sapaan, paman sudah lebih dulu mengenalinya.


Kousuke mengangguk pelan.