DADDY Or BABY ? (Psycho)

DADDY Or BABY ? (Psycho)
Daby 12



Dave mengemudi dengan kecepatan tinggi, dia tidak sabar ingin bertemu Dyllan. Zura tadi cerita bahwa hari ini adalah hari ulang tahun sang kakak.


Dave yakin Dyllan sedang berada di rumah, dia juga membawa beberapa bingkisan hadiah.


Namun, belum sampai di kediaman Dyllan, Dave melihat mobil Kousuke keluar dari gerbang, di dalam mobil juga ada Dyllan ternyata.


“Kemana mereka pergi?”


Dave tanpa berpikir langsung membuntuti mobil Kousuke.


***


Dyllan menarik paksa Joylin dari dalam mobil, Kousuke ikut menyeret Joylin, membawa wanita itu sedikit menjauh


dari mobil mereka.


Dyllan menyilangkan tangan Joylin ke belakang lalu menariknya dengan kuat.


Suara jeritan Joylin terdengar begitu melengking, dia dapat merasakan tangan kirinya patah.


Darahnya saja belum berhenti mengalir dan sekarang tangannya juga patah?!


Joylin mengerjapkan matanya berkali-kali saat kousuke membuka kain hitam itu dari kepalanya.


Betapa terkejutnya dia saat melihat keadaannya sekarang. Dyllan benar-banar menempatkannya pada pinggir jurang yang di bawah sudah menunggu air laut yang siap menenggelamkannya.


Jika dia terjatuh, dia akan menghantam jurang terlebih dahulu lalu terjebur ke laut. Sudah dipastikan, jurang yang dipenuhi bebatuan itu tidak akan dapat menyelamatkan nyawanya.


“Apa yang ingin kau lakukan?” wajah panik serta takut Joylin membuat Dyllan semakin menikmati keadaan.


“Mendorongmu ke bawah.” jawab Dyllan santai.


“Apa kau gila? Kau akan membunuhku!”


“Ya, memang itu tujuannya,” Dyllan meletakan satu kakinya padapunggung Joylin dan siap mendorong wanita itu. “kita sudah banyak berbincang di rumahku tadi, aku tidak ingin ada perbincangan panjang lagi di sini. mari kita  akhiri saja.”


Kousuke masuk kembali ke dalam mobil, dia malas melihat kematian Joylin, biar Dyllan saja yang bersenang-senang.


“Satu,” Dyllan menghitung di telinga Joylin, memastikan Joylin selalu melihat ke bawah agar rasa takutnya kian menambah.


“Dua,” Dyllan melepaskan satu tangannya pada tubuh Joylin.


“Tiga!”


Saat Dyllan hendak melepaskan Joylin, tiba-tiba sebuah mobil yang sangat dia kenali berhenti tepat di sebelah mereka.


“Dave?” ucap Dyllan saat Dave segara berlari ke arahnya.


Dyllan melepaskan Joylin dan hendak menendangnya, namun Dave dengan segera menarik tubuh Joylin yang sudah lemas dengan wajah pucatnya sehingga tendangan Dyllan tidak kena sasaran.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!” teriak Dyllan pada Dave. Pria itu mengacaukan aksinya.


Menyadari sesuatu, Joylin dengan menahan sakit pada tangannya segera bertindak. Dia mendorong Dyllan lalu berlari sekencang yang dia bisa.


Kousuke melihat seperti ada yang aneh di sana. perasaan itu benar saat dia melihat mobil Dave, dan Joylin yang sedang berusaha melarikan diri.


“Anj*ng! pria berengsek itu! Seharusnya aku tetap berada di sana tadi!” Kousuke dengan segera menyalakan mobilnya lalu mengejar Joylin.


“Sial!” Dia kembali memutar balik arah laju mobilnya saat melihat Joylin memberhentikan sebuah mobil polisi.


Kousuke melihat Dyllan yang juga sedang mengejar Joylin.


“Masuklah! Dia bersama polisi!” teriak Kousuke dari dalam mobil.


“Sial!” umpat Dyllan lalu naik ke dalam mobil bersama Kousuke yang juga diikuti oleh mobil Dave.


“AAAAAAAAAAAAAAA!!….” teriak Dyllan di dalam mobil. Dia merasa begitu sangat emosi sekarang.


“Maafkan aku, ini salahku. Seharusnya aku tetap berada di sana tadi.” ucap Kousuke.


“Aku sudah berbulan-bulan menunggu momen ini dan sekarang aku kembali kehilangannya!”


“Bukan hanya kehilangan dia, kita juga akan berada dalam masalah, polisi pasti mencari kita. Ini semua karena  pria sialan yang selalu kau lindungi itu.”


Dyllan menjambak rambutnya, mengusap kasar wajahnya. “kita harus bagaimana sekarang?”


“Kita memiliki banyak orang dalam dikepolisian, aku akan mengurusnya.”


***


“Kau baik-baik saja?” tanya Adam polisi yang diberhentikan Joylin ternyata mobil Adam yang sedang melaju di jalan tersebut.


“Ada seseorang yang igin membunuhku, ku mohon tolong aku, hikkss….”


Adam melihat ke sekeliling mereka, namun tidak ada siapapun di sini, jalan ini juga jarang dilintasi banyak orang.


“Masuklah ke dalam.” Adam membantu Joylin yang sedang menahan sakit untuk masuk ke dalam mobil hendak mengejar pelaku tersebut karena mungkin pelakunya sudah kabur.


Joylin terus mengumpat dalam hatinya, Dyllan sialan itu sudah sangat lancang ingin mengakhiri hudupnya untung saja ada Dave bodoh yang membantunya tadi.


Joylin membungkus tangannya yang penuh darah dengan kain seadanya.


Adam mengendarai mobilnya dengan cukup kencang.


Hampir naas! Ada dua ekor tupai liar yang melintasi jalan menuju jurang sehingga membuat mobil polisi Adam berhenti mendadak.


“Aaahhh… kenapa harus ada tupai di sini?” ucap Adam sembari mengambil beberapa lembar foto yang jatuh dari dashboard mobil tadi.


Joylin membulatkan matanya saat melihat ada foto Dyllan.


“Ka-kau kenal dia?” tanya Joylin terbata. Dia tau Kousuke mempekerjakan banyak orang untuk melindungi Dyllan dan tidak menutup kemungkinan Kousuke juga memiliki orang dalam di kepolisian, dia hanya takut orang yang bersamanya sekarang adalah orang suruhan Kousuke.


“Ya, dia salah satu saksi dalam kasusku." jawab Adam sembari melajukan kembali mobilnya.


“Saksi?” tanya Joylin bingung.


Joylin mengambil gambar-gambar tersebut tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Adam.


"Wow! Dyllan bukan saksi melainkan pelakunya!" ucap Joylin dalam hati. Dia melihat begitu banyak foto-foto orang yang mati mengenaskan.


“Apa yang kau lakukan! Kembalikan!” Adam merampas foto-foto tersebut dari Joylin. Pekerjaannya tidak pantas menjadi konsumsi orang lain yang tidak bersangkutan.


Joylin dengan seketika langsung acting memasang raut wajah takut serta terkejut.


“Di-dia orangnya- dia orang yang ingin membunuhku tadi.” ucap Joylin terbata.


“Apa maksudmu?” tanya Adam bingung.


“Dia yang ingin membunuhku tadi, hikksss….” Acting Joylin yang begitu natural. “dia membawaku ke rumahnya dan


dia menyiksaku di sana, disebuah tempat seperti gudang yang dipenuhi banyak senjata juga darah lalu dia membawaku kemari untuk membunuhku, untuk menjatuhkanku ke jurang hiksss… aku takut sekali!”


Adam hanya diam mencerna perkataan Joylin barusan. Apa yang dia katakan benar? Atau hanya karena dia terlalu takut sehingga berhalusinasii?


“Ka-kau yakin?”


“Aku sangat yakin dia orangnya, hikkss… aku melihat jelas wajah menakutkannya itu.”


***


“Dyllan, kita dalam masalah! Polisi menuju rumah papamu sekarang.” ucap Kousuke setelah menutup teleponnya.


“Ha… ha… Hahaha…” tawa Dyllan yang semakin lama semakin kencang terdengar. “Bangs*t! Dave aku akan benar-benar membunuhmu kali ini!”


***


Dyllan dapat melihat Joylin sedang berada di dalam mobil polisi, dia mengintip melalui jendela kaca mobil, menyaksikan polisi-polisi yang sedang memeriksa rumah Dyllan karena sekarang dia menjadi tersangkan atas kasus pembunuhan.


Kepala Detektif menarik lengan Adam dengan kasar saat mendapat tatapan tidak suka dari papa Dyllan.


“Jika tidak menemukan apapun di rumah ini, kau akan benar-benar mendapat hukuman dariku!”


“Jangan khawatir, Pak. Kita pasti akan menemukan ruangan itu di rumah ini.” ucap Adam dengan percaya


dirinya.


Sudah sekita hampir setengah jam para polisi memeriksa seluruh isi rumah, namun tidak ditemukan apapun di rumah itu. Tidak ada ruangan yang penuh dengan senjata tajam serta banyak darah seperti yang Joylin katakan.


“Apa yang kalian cari di rumahku? Kalian menuduhku sebagai pembunuh?” ucap Dyllan ketika para polisi satu per satu keluar dari rumahnya karena tidak mememukan bukti apapun.


“Maafkan kami, mungkin anggota kami salah mendapat informasi. Hal ini tidak akan terulang kembali, saya janji.” Tunduk kepala detektif.


Kousuke dan orang suruhan Joe menghampiri kepala detektif itu,


sepertinya mereka akan bernegosiasi kembali dengan pihak kepolisian. Joe sungguh malas jika terhubung dengan


masalah, apalagi menurutnya masalah ini tidak pasti.


Adam menatap Dyllan dengan tatapan tajam, kali ini dia melihat emosi serta tatapan berbeda dari diri Dyllan, tidak seperti sebelumnya.


“Aku rasa kita akan sering bertemu, nona Dyllan.”


Dyllan menatap Adam dengan tajam dia yakin polisi satu ini yang menjadi dalang untuk kembali melibatkannya dalam masalah.


***


Kousuke menendang serta meninju tubuh Dave dengan brutal, dia terlihat sangat emosi dan kesal pada pria ini.


Tangan Dave tergantung dengan tali di halaman belakang rumah Dyllan. Dave tidak bisa berbuat apapun selain menerima rasa sakit karena Kousuke terus menjadikan dirinya samsak untuk pukulan serta tendangan maut.


“Sudah hentikan.” Dyllan mendorong tubuh Kousuke yang bertelanjang dada, menampakan tubuh gagah dan atletisnya


“Dia belum mati, aku belum puas!” jawab Kousuke.


“Ku bilang hentikan.” Dyllan kembali mendorong tubuh Kousuke menjauh dari Dave karena Kousuke yang


benar-benar tidak ingin melepaskan Dave dari emosinya.


Dyllan mengambil pisau dari dalam bajunya dia lalu menyabet tali yang menggantung tubuh Dave sehingga Dave langsung ambruk ke tanah dengan beberapa luka dan memar di tubuhnya.


Dyllan memopong Dave masuk ke dalam rumahnya lalu membaringkan Dave di atas sofa.


“Aku yang akan mengurus sisanya, biarkan dia bersamaku.” ucap Dyllan pada Kousuke.


“Apa yang akan kau lakukan padanya? Membebaskannya?” tanya Kousuke.


“Hmmm….” gumam Dyllan.


“Apa kau gila! Dia sudah membuat kita dalam masalah besar sekarang!”


“Aku tau. Kousuke kendalikan dirimu. Aku masih membutuhkannya.”


“Membutuhkannya? Kau berkali-kali terus membelanya, semenjak kau mengenalnya kau banyak berubah! Kau masih membutuhkannya untuk balas dendam atau kau mulai jatuh cinta padanya?!” Kousuke melemparkan bajunya ke lantai lalu pergi begitu saja dengan perasaan dan pikiran kacau.


Dyllan mengambil sebaskom air dan kain, dia memberishkan tubuh Dave yang terluka dari pasir-pasir yang menempel di tubuhnya. Dia juga memperban luka Dave yang terlihat parah.


“Kenapa kau suka sekali ikut campur urusan orang lain? Tidak bisakah kau diam dan mengurus hidupmu saja? Kali ini kau benar-benar membuatku kesal padamu.”


Dave mencoba duduk Dari posisi berbaringanya. Dia sesekali meringis merasakan sakit di tubuhnya. “Aku pikir kau akan membiarkan pria itu memukuliku sampai mati.” ucap Dave.


“Seharusnya memang begitu, tapi aku tidak tau apa yang tiba-tiba mendorongku untuk menyelamatkanmu dari Kousuke.”


“Dyllan, aku hanya mencoba menjauhkanmu dari masalah. Jika kau menjatuhkan wanita itu dan dia mati kau bisa dalam bahaya.”


“Itu lebih baik dari pada dia masih terus tetap hidup. Aku melakukan itu karena memiliki alasan, Dave. Aku dan Kousuke memburunya selama bertahun-tahun dan saat kami mendapatkannya kau malah menghancurkan rencana kami. Aku malah akan dapat masalah lebih besar jika wanita itu tetap hidup, lebih baik dia mati.”


“Tapi---“


“Aku tau kau punya niat baik, tapi ku mohon kangan ikut campur urusanku lagi... Atau kau yang akan mati.”


Dyllan berajak dari duduknya, dia hendak memanggil orang suruhan untuk membawa Dave pulang, tapi Dave mencegahnya.


“Aku menykaimu, Dyllan.”


Dyllan tersenyum kecil pada Dave. “kau ku beri kesempatan kedua. Jauhi aku, atau sesuatu yang tidak kau inginkan akan terjadi.”


“Aku tidak bisa---”


“Dave, pikiranku sedang kacau sekarang, aku sedang tidak ingin membahas hal seperti ini. Berusaha bangkitlah, biar aku yang mengantarkanmu pulang.”


“ASTAGA!!! Ada apa dengannya? Kenapa- kanapa daddymu bisa seperti ini?!” tanya Harumi histeris ketika mendapatkan Dyllan sedang membantu Dave berjalan memasuki rumah.


“Dia dikeroyok oleh beberapa orang di jalanan tadi.” Dyllan mendudukan Dave di atas sofa lalu dia berjalan ke arah Zura, menggendong sang adik dan membawa menuju kamarnya.”


“Ada apa dengan daddy? Apa dia baik-baik saja?” tanya Zura.


“Ya, dia baik-baik saja. Dia hanya butuh sedikit pengobatan.” Dyllan mencoba menidurkan Zura karena hari yang sudah larut malam dan Zura masih belum tertidur juga padahal besok bocah ini harus sekolah. Harumi benar—benar tidak melakukan tugasnya dengan baik.