
Pada saat sang nenek pergi ke pasar dan pamannya juga sedang tidak berada di rumah, Dyllan diam-diam pergi ke gudang untuk mengambil kapak yang biasa digunakan sang paman, dia juga pergi ke dapur untuk mengambil pisau tajam tersebut yang biasa digunakan neneknya untuk memotong daging.
Dyllan tidak sengaja melihat seekor kucing liar sedang mengorek tong sampah di halaman belakang rumahnya, sepertinya kucing itu kelaparan. Dyllan dengan segera mengambil kucing tersebut, Dia memposisikan tubuh kucing itu agar terbaring miring di atas tanah. Lalu dia meraih pisau dapur milik sang nenek.
“Tenang saja, setelah ini kau tidak akan merasa kelaparan lagi.” ucap Dyllan sembari mengelus tubuh kucing itu.
CUSSSS
CUSSSS
Dyllan menusuk leher kucing itu dengan pisau sebanyak dua kali, dia menikmati bagaimana darah keluar dari
tubuh kucing itu tanpa memperdulikan tangannya yang juga sedang mengeluarkan darah karena sang kucing yang sempat menyakarnya tadi.
Setelah kucing itu mati, Dyllan meraih kapak pamannya lalu mengibaskannya pada kepala kucing tersebut sampai kepala kucing itu putus. Perbuatannya persis seperti apa yang dilakukan pamannya pada seorang wanita yang pernah pamannya bunuh.
Dyllan mengubur tubuh kucing itu di halaman belakang. Lalu dia mengambil kantong plastik transparan. Tanpa Dyllan duga kantong plastik yang dia ambil ternyata double.
Tidak mau kantong plastiknya terbuang sia-sia, Dyllan kambali meraih pisau dapur sang nenek lalu memotong dua daun telinga kucing itu.
Gadis kecil itu lalu memasukan kepala kucing pada satu kantong plastik dan kedua telinga kucing pada plastik satunya lagi, lalu dia menyimpannya di lemari pakaiannya.
Berapa hari kemudian sang paman yang tidak sengaja melewati kamar Dyllan mencium bau bangkai pada kamar keponakannya.
Pamannya tanpa basa-basi langsung masuk ke dalam dan mencari penyebab aroma tidak sedap tersebut, dan ternyata bau bangkai itu berasal dari lemari pakaian Dyllan.
Paman membuka lemari tersebut dan membongkarnya, betapa terkejutnya dia saat mendapati dua kantong plastik berisikan kepala kucing dan telinga kucing, bahkan kepala kucing itu sudah terlihat membusuk.
Pamannya segera memanggil Dyllan dan menanyakan tentang kepala kucing ini. Untungnya sang nenek sedang pergi ke luar saat itu.
“Aku yang memutuskan kepalanya.” jawab Dyllan polos.
Pamannya tentu tidak percaya begitu saja, tidak mungkin anak sekecil Dyllan melakukan hal ini. Setelah dikulik lebih dalam, jawaban Dyllan tetap sama dia mengaku bahwa dia yang membunuh kucing ini.
“Aku menusuk dua kali lehernya dengan pisau dapur nenek lalu memutuskan kepalanya seperti yang paman lakukan pada wanita itu.” jawab Dyllan polos tanpa rasa bersalah.
Pamannya tentu terkejut setengah mati saat mendengar hal itu.
“Apa maksudmu?” ucap sang paman syok.
“Aku melihatnya di ruangan anjing itu.” Dyllan menunjuk ke arah belakang rumahnya.
Pamannya segera mangambil kedua tangan mungil Dyllan lalu meludahi tangan mungil itu dan menggosok gosoknya satu sama lain.
“Kau tidak boleh melakukan hal ini lagi. Ini bukan hal yang benar,” Pamannya terus menggosok kedua tangan Dyllan, “paman akan menghukummu jika kau melakukan hal seperti ini lagi, kau mengerti?” kedua mata paman tampak memerah dan dia terlihat sangat ketakutan sekarang.
Dyllan hanya tersenyum lebar mendengar ucapan pamannya.
Pada akhirnya Dyllan masih melakukan pembunuhan terhadap beberapa hewan yang dia temui tanpa sepengetahuan orang lain termasuk pamannya.
Dyllan tinggal bersama sang nenek sampai usianya 10 tahun. Saat itu Harumi sudah melahirkan anak ke-3 Rian dan umur Rian saat itu sudah tidak sulit lagi untuk diurus.
Disinilah keperibadaian Dyllan terbentuk, dia menjadi sangat misterius dan pendiam, dia juga sangat sulit untuk berinteraksi dengan orang lain.
“Sudah selesai?” tanya Kousuke pada Dyllan saat mereka berpapasan di dapur.
“Bereskan mayatnya, aku mandi dulu.” Dyllan terus melangkah menuju kamarnya.
Pria yang 4 tahun lebih tua dari Dyllan ini hanya bisa tersenyum memperhatikan rekannya yang kelihatnnya begitu haus dengan darah.
***
Kousuke melanjutkan langkahnya ke ruangan bawah tanah. Terlihat dua orang penjaga masih setia menunggu di depan pintu.
Dia masuk ke dalam dan melihat keadaan mayat yang baru saja diajak Dyllan bersenang-senang tadi, tapi dia merasa aneh, kenapa kali ini Dyllan tidak memenggal kepala korbannya seperti biasanya?
Kousuke mengambil sebuah kapak yang masih tergeletak di atas lantai, dia mengayunkan kapak itu ke udara dan hendak melandaskannya pada leher wanita itu, tapi hal itu tidak jadi dia lakukan, mungkin Dyllan memang sengaja
membiarkan kepala wanita ini tetap utuh, pikir Kousuke.
***
“Kenapa kalian lama sekali?!” ucap seorang wanita pada petugas kepolisian. Dengan wajah pucat serta tubuhnya yang gemetaran, wanita tersebut terus menjaga jaraknya dengan sebuah karung yang mengeluarkan banyak darah dari dalam.
Saat dia keluar dari rumah tadi dan tidak sengaja melihat karung yang berlumuran darah tergeletak di depan rumahnya, wanita itu sontak segera menghubungi polisi.
“Karung yang sama lagi?” gumam salah satu petugas kepolisian tersebut seperti dia sudah berkali-kali menangani kasus karung seperti ini.
Polisi tersebut membuka karung tersebut dengan hati-hati. Dan saat karung itu sudah terbuka terdengar hembusan napas kasar dari mulutnya.
“Mayat?” tanya petugas yang lainnya.
Polisi yang membuka karung itu hanya mengangguk kecil, “apa kepalanya terpenggal lagi?”
“Tidak, kepalanya masih utuh.”
"Apa pelakunya adalah orang yang sama? Kenapa kali ini kepalanya utuh dan tidak terputus seperti biasanya? Tapi, karung yang digunakan sama seperti sebelum-sebelumnya."
“Maaf, Bu. Apa anda mengenali orang ini?” tanya salah satu polisi tersebut.
Wanita itu berjalan mendekat dengan ragu-ragu. dia mengintip ke dalam karung tersebut.
“Hah! Dia … astaga! aku tidak percaya ini,” Wanita itu tampak sangat panik. “ya aku mengenalinya, dia putri dari tetanggaku.” Wanita tersebut menunjuk ke arah rumah di sebelahnya. “siapa orang yang tega melakukan ini?”
***
“Dave, maaf membuatmu menunggu.” Tanpa Dave sadari Dyllan sudah berada di sampingnya.
“Ahhh… Ya, bukan masalah. Aku juga baru sampai.” Dave menaruh sepotong roti di atas meja yang sengaja dia berikan untuk burung liar di taman ini, bahkan burung itu masih sibuk mematuk roti yang diberikan Dave.
Mereka berjalan menuju parkiran taman tempat di mana mobil Dave terparkir.
Namun, tiba-tiba seseorang mengagetkan mereka dengan suara lantang dari belakang.
“Hei! Psikopat!” teriak seorang wanita.
Dave dan Dyllan sontak menoleh ke arah belakang. Dyllan tersenyum kecil saat melihat orang yang sedang berdiri di belakang mereka.
“Akhirnya Tuhan mengabulkan doaku untuk bertemu denganmu!” lantang wanita itu.
Waktu itu dia dan kakak laki-lakinya ditangkap oleh Kousuke dan diadili oleh Dyllan karena mereka berhianat pada salah satu anggota khusus yang Dyllan dan Kousuke juga ikut bergabung pada kelompok tersebut.
Namun, ada sedikit kecerobohan Kousuke pada saat itu, dia menyuntikan obat bius dengan dosis rendah pada Sarah, dan Sarah-pun terbangun saat Dyllan sedang membunuh kakak laki-lakinya itu. Tidak lama dia menyaksikan
kekejian Dyllan, Sarah kembali tidak sadarkan diri karena Kousuke yang memukulnya dari belakang. Dan Sarah-pun dilepaskan Dyllan tanpa alasan.
“Kau gila? Kita bisa tertangkap. Dia melihat jelas wajahmu!” tegas Kousuke saat dia tidak setuju dengan keputusan Dyllan untuk melepaskan gadis ini.
“Aku akan memburunya suatu saat nanti. Biarkan dia hidup sedikit lebih lama.” ucap Dyllan dengan santai saat itu.
Dyllan memasang raut wajah normalnya, membuat sedikit drama agar lebih menarik.
“Maaf, kau siapa?” tanya Dyllan pura-pura tidak kenal.
“Cihh!….” Wanita itu meludah, “kau benar-benar lupa padaku atau hanya pura-pura lupa!” suara lantang wanita itu berhasil menarik perhatian orang-orang yang sedang berada di taman.
Lihat, amarah wanita ini berkobar-kobar dan Dyllan menyukainya.
“Kau kenal dengannya?” tanya Dave pada Dyllan.
Dyllan hanya menggelengkan kepalanya sembari terus melihat ke arah Sarah.
“Aku akan membunuhmu seperti kau membunuh kakakku. Kau harus ingat itu!” Tatapan mata Sarah sangat tajam tertuju pada Dyllan, namun Dyllan menganggapnya santai bahkan dia sedikit tersenyum kecil untuk Sarah.
“Ya, tersenyumlah selagi kau bisa tersenyum.” ucap Sarah lalu pergi begitu saja.
***
“Kau benar-benar tidak mengenali wanita tadi? Dia tampaknya sangat marah padamu.” tanya Dave sembari mengemudikan mobilnya.
Dyllan hanya diam dan terus menatap ke arah kaca mobil.
“Dyllan kau baik-baik saja?”
“Wanita itu mengikuti kita di belakang.”
“Apa?!” Dave sontak melihat ke belakang melalui kaca spionnya. “yang mana?” tanya Dave karena begitu banyak mobil di belakang mereka.
Dyllan mengambil ponsel di saku celananya, lalu dia mengetikan pesan untuk seseorang.
“Di persimpangan 4 itu kau bisa belok ke arah kiri.” ucap Dyllan sembari menunjuk ke arah jalanan.
Dave hanya mengangguk menuruti ucapan Dyllan.
“Berhenti di sini.” ucap Dyllan mendadak.
Dave masuk kesebuah pengisian bahan bakar kendaraan.
“Aku butuh bensinmu penuh, isilah di sini aku ke toilet sebentar.” Dyllan turun begitu saja lalu masuk ke dalam toilet.
Tidak lama, Dyllan keluar dari toilet itu, dia berjalan menuju mobil Dave yang sedang menunggunya. Dia dapat melihat mobil putih yang dari tadi mengikuti mereka juga sedang berhenti di tepi jalanan.
Dave mengemudi dengan Dyllan yang menjadi pemandu jalannya.
Dave bingung sendiri, jalanan yang dilaluinya ini terlihat sunyi dan banyak bangunan tua terbengkalai.
“Berhenti di sini Dave.” ucap Dyllan saat mereka berada di suatu gang dengan jalanan yang tidak terlalu lebar tapi masih bisa dilalui oleh mobil.
“Untuk apa kita ke sini?” tanya Dave bingung.
Dyllan hanya Diam, dia membuka tas selempang miliknya lalu megeluarkan hodie hitam dan langsung dipakai oleh Dyllan. Dyllan juga membawa plat nomor kendaraan. Dia turun dari dalam mobil,anpa basa-basi Dyllan melepas plat kendaraan milik Dave dan menggantinya dengan yang baru.
“Dyllan apa yang kau lakukan?”
“Ada CCTV di persimpangan jalan raya itu, aku tidak mau mobilmu terekam.”
“Apa maksudmu? Aku tidak paham.”
Dyllan berdiri tegak menghadap Dave saat dia selesai mengganti plat nomor kendaraannya.
Dyllan dapat melihat wajah Dave yang dipenuhi dengan kebingungan. Dia menyerahkan plat kendaraan yang asli pada Dave.
“Kau harus segera menggantinya kembali setelah kau sampai di rumah. Dan cobalah untuk melalui jalan pintas.”
“Apa maksudmu?”
“Pergilah Dave, aku akan mengurus masalahku dulu di sini.”
“Apa kau baik-baik saja?” Dave begitu tampak khawatir.
“Ya.” jawab Dyllan yakin, “Dave, mungkin setelah kejadian ini kau akan sadar kenapa aku menyuruhmu untuk menjauhiku.” Dyllan lalu menatap mata biru itu dengan lekat lalu mencium Dave sebelum pergi begitu saja.
Dave bingung serta bimbang sekarang, apa yang akan Dyllan lakukan? Dan tidak mungkin juga dia meninggalkan Dyllan sendirian di tempat ini, apalagi melihat hari yang mulai gelap.
***
Melihat bangunan-bangunan tua ini, Dave masih tidak habis pikir, tempat ini terbilang cukup dekat dengan jalan raya, namun kenapa bagitu sunyi dan mengerikan?
Hari sudah malam dan Dave belum menemukan tanda-tanda bahwa Dyllan akan kembali. Sampai akhirnya dia mendengar suara hantaman keras dari gang kecil yang tadi dia lewati bersama Dyllan.
Dave keluar dari mobilnya dan hendak melihat ada apa di sana.
Saat dia menyusuri gang itu dengan berjalan kaki, dirinya mendengar suara-suara jeritan serta suara aneh lainnya.
Dia segera berlari dan mencari keberadaan Dyllan sampai akhirnya dia menemukan Dyllan dan betapa terkejutnya dia saat mendapati gadis itu sedang dihajar oleh seorang wanita dengan sebilah pisau di tangannya.
“Hei!” teriak Dave. Wanita yang mencoba menyakiti Dyllan seketika lari saat dia mendengar suara Dave.
Dave segera menghampiri Dyllan dan ternyata lengan gadis itu terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“Dyllan kau tidak apa-apa?” Dave terlihat begitu panik.
Namun, Dyllan dengan santainya merobek baju dalamnya lalu mengikatkan kain robekan itu pada lengannya yang terluka. Dia terlihat tidak kesakitan sama sekali.
“Bawa mobilmu dan segera cari aku.” ucap Dyllan pada Dave lalu berlari begitu saja. Sepertinya dia kembali mengejar wanita yang tadi menyayatnya dengan pisau.
Dave juga segera berlari menuju mobilnya.