
Dyllan menikmati ice vanilla sembari duduk dengan kaki bersila di sebuah bangku taman dan terlihat begitu asik memainkan ponselnya.
Kegiatan kuliahnya hari ini terasa begitu penat, ia ingin beristirahat sejenak sebelum kembali pulang ke rumah.
Ditengah kegiatannya, tanpa sengaja Dyllan melihat Harumi sedang berada di taman itu juga bersama kekasihnya.
Pandangan Dyllan sepenuhnya langsung mengarah pada sang mommy, dia memperhatikan gerak-gerik mereka tanpa berniat untuk menghampiri.
Setelah selesai berbincang dengan sang kekasih, Harumi memberhentikan sebuah taksi dan tidak lupa dia mengecup pipi pria itu sebelum naik kedalam taksi yang diberhentikannya tadi.
Mommy-nya memang benar-benar berbeda dari ibu-ibu yang lain, kehidupan pribadinya lebih penting daripada anak-anaknya.
Dyllan menyandarkan tubuhnya ke batang pohon yang tepat berdiri kokoh di belakang bangku taman tersebut. Dia memejamkan matanya, mengambil napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Mencoba memaksakan diri untuk tidak peduli terhadap kehidupan dan keinginan sang mommy.
Saat Dyllan membuka matanya, tiba-tiba sudah berdiri seorang pria tepat di hadapannya, menghalangi pandangannya.
Dyllan memasang raut wajah datarnya dan membenarkan posisi duduknya.
Pria itu ikut duduk tepat di sebelah Dyllan, memperhatikan wajah Dyllan yang kini terlihat sangat dingin.
"Sudah lama?" tanya pria itu.
Dyllan yang tidak mengerti maksudnya hanya melirik pria itu saja.
"Maksudku kau sudah lama berada di sini?" perjelas pria itu seakan mengerti kode yang diberikan Dyllan.
"Hmmm." gumam Dyllan sembari menganggukan pelan kepalanya. Matanya kini menatap ke arah air pancur yang berada di taman indah tersebut.
"Cantik ya? Tapi lebih cantik saat malam hari, warna air-nya akan berubah menjadi warna-warni karena cahaya lampu." ucap pria itu saat melihat Dyllan terus memandangi air terjun tersebut.
Dyllan tidak menggubris, dia hanya terus diam dan diam.
"Nama-ku Dave. Kita belum sempat berkenalan sejauh ini." Pria itu mengulurkan tangannya pada Dyllan.
Dyllan menoleh ke arah Dave lalu hanya menganggukan kepalanya saja.
Dave menarik kembali tangannya yang tidak digubris oleh Dyllan, sungguh wanita ini benar-benar sangat misterius.
"Kau sedang apa di sini?" tanya Dave, mencoba untuk memulai percakapan dengan Dyllan.
"Ke mana mommyku pergi?" Dyllan mengabaikan pertanyaan Dave dan malah menanyakan kepergian sang mommy.
"Pergi menemui teman-temannya, ada acara mendadak katanya." jawab Dave.
"Kenapa kau tidak mengantarkannya?"
"Aku sedang tidak membawa mobil, kami ke sini menggunakan motor dan Harumi tidak mau aku mengantarkannya menemui teman-temannya menggunakan motor."
Dyllan tersenyum sinis mendengar perkataan pria itu.
"Beruntung sekali dirimu bisa mendapatkan wanita seperti mommyku itu." ucap Dyllan mencoba menyindir Dave dengan kalimat yang halus.
Dave hanya tersenyum lebar pada Dyllan.
Dyllan membereskan beberapa buku serta kertas yang tergeletak di sebelahnya dan hendak memasukannya kembali ke dalam tas. Pelajaran kuliahnya tadi belum sempat dia rapikan.
"Boleh aku melihat kertas-kertasnya?" ucap Dave sebelum Dyllan memasukan seluruh berkasnya ke dalam tas.
Dyllan hanya menaikan kedua alisnya tanda setuju.
Dave mengambil beberapa lembar kertas yang masih terletak di atas bangku.
Dia melihat dan memeperhatikan secara seksama kertas-kertas yang dipegangnya kini.
"Lukisan ini bagus sekali, ini kau sendiri yang menggambarnya?" tanya Dave.
"Hmmm," jawab Dyllan, "tugas kuliah."
"Tugas kuliah? Kau ada dijurusan apa?"
"Seni." Dyllan mengambil kembali kertas-kertas yang dipegang Dave dan memasukannya ke dalam tas ransel miliknya.
Dyllan memopong ransel itu lalu beranjak dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Kau mau kemana?" Dave ikut beranjak mengikuti Dyllan.
"Pulang."
"Mau ku antar? Maksudku, apa mau ku panggilakan taksi?" Dave melupakan bahwa dia sedang membawa motor dan bukannya mobil-mobil miliknya. Dyllan pasti sama seperti mommynya tidak mau diantar menggunakan motor.
"Kau bawa kendaraan, kenapa kau harus memanggil taksi untukku? Kenapa tidak kau saja yang mengantarku pulang?"
Kesimpulan yang dibuat Dave tadi tentang Dyllan ternyata salah total. Kini malah Dyllan yang menyarankan untuk dia saja yang mengantarkan pulang menggunakan motornya itu.
"Ka- kau serius?" tanya Dave
"Ya."
***
"Ahh, sial! Kita kehujanan," Dyllan membungkukan badannya untuk melindungi tas ransel miliknya "tepikan motormu, kita harus mencari tempat berlindung." ucap Dyllan sedikit berteriak karena harus menandingi suaranya dengan suara angin dan gemuruh langit.
Dave menoleh ke sana-kemari mencoba untuk mencari tempat berlindung, namun dia tidak menemukannya.
"Tapi tidak ada tempat berlindung di sekitar sini."
"Tepikan saja motormu sebelum semua isi dalam tas ku basah!"
Dave mulai bingung, ditambah air gerimis hujan yang mulai lebat.
Dia menepikan motornya disebuah hotel yang terlihat sangat megah di tengah kota.
Dyllan segera turun dari kendaraan dan berlari ke pinggir hotel untuk melindungi diri dari hujan yang sudah turun sangat lebat sekarang.
"Kenapa kau berhenti di sini? ini hotel!" ketus Dyllan saat Dave sudah menghampirinya.
"Aku tidak tau harus menepi di mana, jadi ku belokan saja motornya ke sini." ucap Dave sembari melangkah hendak masuk ke dalam dengan menarik Dyllan ikut bersamanya.
"Kau mau ke mana?" Dyllan menghempaskan tangannya, melepaskan diri dari genggaman Dave.
"Masuk ke dalam, memangnya kau mau terus berdiri di pinggir hotel seperti ini?"
Dyllan mengikuti langkah Dave yang terus menuju meja besar yang terdapat para pelayan hotel di sana.
"Satu kamar." ucap Dave pada pelayan hotel tersebut sembari mengeluarkan sebuah kartu yang mirip seperti kartu tanda pengenal lalu menyerahkan kartu itu pada pelayan hotel.
Hanya dengan melihat sekilas kartu itu saja tanpa memeriksanya terlebih dahulu, sang pelayan itu segera mengantarkan mereka menuju kamar yang dipinta Dave.
Dyllan sedikit bingung dengan keadaan, sejak kapan transaksi untuk menyewa kamar hotel semudah itu? Hanya menunjukan sebuah kartu dan semuanya beres.
"Ini kuncinya, Tuan." ucap pelayan itu lalu pergi meninggalkan Dave dan Dyllan.
"Untuk apa kau membawaku ke kamar seperti ini? Seharusnya kita menunggu di lobby saja tadi." Wajah Dyllan mulai tampak kesal.
"Kamarnya sudah ku pesan, sia-sia jika tidak ditempati."
Dyllan membuka jaket jeans miliknya yang sudah sebagian basah. Dia melemparkan jaketnya begitu saja ke atas kursi lalu dia memilih duduk di atas kasur dengan dirinya sekarang yang hanya mengenakan tanktop berwarna putih polos.
Dyllan melihat ke arah Dave yang sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit Dyllan tebak.
"Kau baik-baik saja?"
Dave sontak kaget saat mendengar suara Dyllan.
"Kenapa?" tanya Dyllan lagi.
"Tidak, tidak ada." Pria itu melangkah ke arah lemari berukuran sedang yang tersedia di dalam kamar. Dia membuka pintu lemari itu, berharap menemukan sesuatu yang dapat digunakannya untuk mengganti bajunya yang basah. Beruntung pelayan hotel menyediakan beberapa potong kemeja berwarna putih polos di dalam lemari.
Dyllan memperhatikan Dave yang sedang melangkah menuju kamar mandi. Kenapa dia harus terjebak dengan pria itu di dalam hotel ini?
Dyllan beranjak dari kasur, dia berjalan ke arah jendela kamar hotel, melihat keadaan di luar dan ternyata hujan masih turun dengan deras dan jalanan tampak sangat sunyi.
Tidak lama dia berdiri di depan jendela itu, Dave sudah keluar dari kamar mandi dengan mengenakan baju yang ditemukannya tadi.
"Boleh ku tanya sesuatu?" ucap Dyllan sembari berjalan kembali menuju kasur.
"Ya, tentu."
"Kau tidak menyukai mommyku bukan? Lalu kenapa kau mau bersamanya?"
Dave sontak mengangkat kedua alisnya saat mendengar pertanyaan itu dari Dyllan. Dia sangat tidak menyangka bahwa Dyllan akan bertanya hal seperti itu.
"Apa yang kau katakan? Aku menyukai Harumi." jawab Dave, dia melangkahkan kakinya menuju kasur dan ikut duduk di sebelah Dyllan.
"Kau tidak perlu berbohong padaku. Aku bisa melihatmu merasa tidak nyaman saat kau bersama Harumi. Kau hanya berpura-pura menyukainya saja kan?"
"Dyllan, aku tidak tau dari mana kau bisa mendapat kesimpulan seperti itu, tapi itu semua tidak benar. Aku menyukai mommymu."
"Huufffhhthh...." Dyllan menghela panjang napasnya. dia meraih ponselnya yang berada di atas meja.
"Aku tidak pulang malam ini, akan ku kirim sebuah alamat dan carikan seseorang untukku." ucap Dyllan lalu memutuskan sambungan telepon.
"Kau mau ke mana?" tanya Dave pada Dyllan saat dia mendengar ucapan Dyllan di telepon tadi.
"Tidak ke mana-mana, aku akan di sini bersamamu." jawab Dyllan sembari mengotak-atik ponselnya, sepertinya dia sedang mengirim pesan pada seseorang.
"Di sini bersamaku? Bukannya aku akan mengantarkanmu pulang nanti setelah hujan reda?"
"Aku tidak ingin pulang, aku akan tetap berada di sini dan kau harus menemaniku!"
Dyllan meletakan kembali ponselnya ketempat semula, dia murubah posisi duduknya menghadap Dave.
Wajah cantik itu kini sedang tersenyum tipis menatap lekat wajah pria yang sedang duduk di hadapannya.
Tentu Dave sedikit canggung dan aneh dengan sikap Dyllan yang seperti ini.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?"
"Mommy-ku sangat menyukaimu, dia tidak pernah bersikap semanis ini kepada pria lain yang pernah singgah dihidupnya. Jika aku membalaskan dendamku pada mommy lewat dirimu mungkin akan menyenangkan." Senyum tipis itu mengembang lebar sekarang.
"Apa yang kau kat---" belum sempat Dave menuntaskan ucapannya, tiba-tiba bel berbunyi dari pintu kamar mereka.
Dave hendak turun dari kasur untuk membuka pintu tapi dicegah oleh Dyllan.
"Biar aku saja, itu pesananku." ucap Dyllan lalu berjalan ke arah pintu.
Dave tidak dapat melihat jelas wajah orang yang sedang berbincang dengan Dyllan di depan pintu. Pria itu memakai topi dan menundukan kepalanya. Tapi dari pakaiannya, sepertinya dia adalah pelayan di hotel ini.
Dyllan menutup pintu lalu kembali berjalan ke kasur saat selesai berbincang kecil dengan pria tadi. Pria tadi juga memberikan sebuah paper bag pada Dyllan.
"Pantas saja kau bisa meminta kamar dengan mudah pada pelayan tadi, ternyata hotel ini milik pamanmu."
Dave sontak kaget dengan apa yang barusan diucapakan Dyllan. Bagaimana dia bisa tau?
"Kau- kau tau dari mana? tanya Dave bingung, "apa pelayan tadi yang memberitahukanmu? Siapa dia?"
Dyllan hanya tersenyum kecil melihat wajah Dave yang sedang kebingungan itu, dia lalu melangkah ke arah kamar mandi sembari membawa paper bag tadi. Tidak lama dia keluar dengan pakaiannya yang sudah terganti.
Kemeja putih polos yang sama seperti Dave, hanya saja Dyllan memakai hot pants berwarna hitam. Tiga kancing atas kemeja putihnya dengan sengaja dia biarkan terbuka dan menampakan samar bagian dadanya.
Gadis itu kembali naik ke atas kasur dengan posisi sama seperti sebelumnya, duduk menghadap Dave.
Dave sedikit canggung dan kebingungan dengan sikap Dyllan. Dia bahkan sengaja menghindari kontak mata dengan Dyllan yang terus menatapnya.
"Hahahahaha...."
Seketika gelak tawa terdengar dari mulut mungil Dyllan. Dave sedikit kaget dan kebingungan dengannya. Apa ada yang aneh? Pikir Dave.
"Kenapa wajahmu seperti itu? Kenapa kau mencoba menghindar untuk menatapku?"
Apa ini? Apa tingkahku terlalu jelas sehingga Dyllan mengetahuinya?
"Apa maksudmu?" tanya Dave pura-pura tidak
mengerti.
Dyllan tersenyum manis pada Dave, dielusnya pipi pemuda itu sembari mengarahkan wajah Dave agar menatapnya.
"Aku tau semua yang kau pikirkan dalam kepalamu. Jadi, jangan bertingkah bodoh di hadapanku."
Apa dia bisa membaca pikiran?
"Dave, aku tidak bisa membaca pikiran orang, aku tidak punya kemampuan untuk itu, tapi aku bisa tau semuanya hanya dengan menatap mata lawan bicaraku."
Dia benar-benar bisa membaca pikiran orang lain!
Dave benar-benar terus berperang dengan pikirannya sendiri mengenai sosok gadis yang sedang duduk di hadapannya.
Dyllan melepaskan tangannya dari wajah Dave. Dia mengubah posisinya, duduk bersandar pada kepala kasur.
"Apa kau tidak mengingat ucapanku kemarin, Dave?"
Dave mengerutkan dahinya, ucapan yang mana?
"Aku sudah memberimu kesempatan untuk menjauhiku, tapi kenapa kau masih tetap mencoba untuk mendekatiku? Kau tau, aku tidak peduli apa yang terjadi antara kau dengan Harumi, jadi jangan libatkan aku dalam hal apapun. Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan dengan mommyku." jelas Dyllan.
"Aku tidak mungkin bisa menjauhimu." jawab Dave.
"Kenapa? Apa karena aku anak Harumi?"
"Aku tidak pernah bertemu dengan wanita seperti dirimu, Dyllan. Itu membuatku terus tertarik untuk mengenalmu."
Dyllan lagi-lagi menampakan senyum sinisnya.
"Lihat, kau benar-benar tidak mencintai Harumi. Buktinya sekarang kau malah tertarik padaku bukannya pada mommy." Dyllan merebahkan tubuhnya di atas kasur, memejamkan matanya mencoba untuk tertidur.
Dave menundukan kepalanya, kenapa dia harus bertemu dengan wanita seperti ini?