DADDY Or BABY ? (Psycho)

DADDY Or BABY ? (Psycho)
Daby 06



 “Dyllan menghentikan langkahnya saat dia tidak sengaja melihat bayangan Sarah serta kakinya yang tidak berada dalam persembunyian yang sempurna.


Dyllan mengambil kayu berukuran sedang yang terbengkalai. Dengan perlahan dia mendekat ke persembunyian Sarah disalah satu bangunan yang terbengkalai tersebut. Sepertinya Sarah juga terluka, Dyllan dapat melihat darah yang mengalir di kaki Sarah serta suara rintihan menahan sakit.


Sarah memejamkan matanya, dia menangis tanpa suara, air matanya mengalir begitu deras menahan sakit serta takut. Wanita itu memegangi pahanya yang ditusuk oleh Dyllan saat pisau yang dibawanya berpindah tangan pada Dyllan. Wanita ini bahkan tidak sanggup untuk berjalan lagi sehingga dia memutuskan untuk bersembunyi dan sangat berharap Dyllan tidak menemukannya atau dia akan berakhir sama seperti kakaknya.


Niatnya untuk membalas dendam pada Dyllan tidak berjalan lancar. Dyllan sangat menyeramkan bahkan melihat wajahnya saja nyali Sarah sudah menciut.


Sepertinya permohonan Sarah terkabulkan, dia tidak mendengar tanda-tanda kemunculan seseorang di persembunyiannya. Sepertinya dia sudah bisa kabur dari monster yang menyeramkan seperti Dyllan ini.


Saat Sarah membuka kedua matanya dengan perlahan, seketika dia menjerit sangat keras karena Dyllan yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya sedang menatapnya dengan tajam.


Sarah mencoba untuk menusuk Dyllan dengan pisau yang dari tadi dia siapkan, namun dengan begitu mudahnya Dyllan menagkis tangan Sarah dan merebut pisau itu.


Sarah mencoba untuk kabur saat dia melihat keadaan yang sangat tidak memungkinkan lagi untuk melawan Dyllan. Tapi tentu Dyllan tidak membiarkannya begitu saja.


Dyllan menendang Sarah dengan kuat dari arah belakang sehingga Sarah terjatuh karena dia yang juga tidak tahan dengan darah yang terus mengalir di pahanya.


“Kenapa kau tidak melarikan diri dariku? Kenapa kau begitu antusias untuk mencariku dan membalaskan dendammu padaku?” Dyllan meletakan kakinya di atas kepala Sarah yang sudah terbaring lemah tidak berdaya.


“Ku mohon jangan bunuh aku. Ku mohon hikkss….” Lagi-lagi Dyllan tertawa girang saat ada yang mengatakan hal seperti ini padanya.


“Kau sudah ku beri kesempatan untuk hidup, namun kau malah datang dan mencari urusan denganku. Aku tidak akan melepaskanmu kali ini.”


SSSSSSRRRRTTTTT


Dyllan menyayat punggung Sarah!


Sarah menjerit kesakitan, dia terus memohon pada Dyllan.


“Tidak ada seorang pun yang dapat menghentikanku, kau tau itu kan?”


CUUUSSSSSSS


Lagi-lagi darah baru keluar dari tubuh Sarah.


Asik bersenang-senang dengan Sarah, tiba-tiba Dyllan terganggu dan langsung menyipitkan matanya karena silauan cahaya lampu dari mobil Dave.


Dave membunyikan kelaksonnya dan menyuruh Dyllan untuk segera masuk ke dalam mobil.


Dyllan hendak pergi menuju mobil Dave, namun tiba-tiba Sarah berteriak pada Dave untuk minta diselamatkan.


“Kau belum mati ternyata?” Dyllan segera berjalan menuju mobil Dave.


“Tabrak dia.” ucap Dyllan pada Dave saat gadis itu baru saja sampai di mobil.


“Apa?!” teriak Dave, dia tidak percaya dengan ucapan Dyllan barusan.


“Tabrak dia.” Dyllan mengulangi ucapannya kembali, yang tidak pernah dia lakukan pada Kousuke, karena Kousuke akan segera mengerti hanya dari tatapan Dyllan saja tanpa harus menunggu perintah, apalagi sampai diulang seperti ini.


“Apa kau gila?! Mana mungkin aku bisa melakukannya.” ucap Dave masih syok dengan apa yang barusan dia saksikan ditambah lagi dengan perintah Dyllan yang sangat tidak wajar menurutnya itu.


Dyllan berdengus kesal. “benar, kau bukan Kousuke.” Dyllan turun dari mobil itu dan berjalan menuju pintu mobil Dave.


“Apa?” lagi- lagi Dave gagal paham dengan ucapan Dyllan.


Dyllan membuka pintu mobil Dave lalu menyuruh pria itu untuk turun dan bertukar posisi.


“Turun.”


“Kau mau apa?”


“Dave, aku tidak biasa mengulangi ucapanku. Jadi turunlah sekarang dan duduk di sana.”


Dave akhirnya menuruti ucapan Dyllan, sejujurnya dia takut Dyllan akan melakukan hal yang buruk pada wanita itu, tapi Dave sulit membantah Dyllan karena wajah Dyllan yang serius membuat Dave tidak berani menolak ucapan gadis itu.


Dyllan duduk di bangku kemudi, dia memundurkan sedikit mobil Dave lalu menginjak penuh pedal gas mobil.


Dan… apa yang ditakutkan oleh Dave pun terjadi.


Dyllan menabrak Sarah bahkan gadis itu melindas kepala Sarah lalu pergi begitu saja.


Dave menoleh ke kaca spion mobil, dia melihat jasad Sarah sudah bersimpah banyak darah di jalanan tersebut, malang sekali nasib wanita itu.


Di sepanjang jalan Dave terus menatap ke arah jalanan begitupun dengan Dyllan yang serius mengemudi.


Dave benar-benar takut untuk hanya melirik ke arah Dyllan saja. Apa benar yang dikatakan wanita itu di taman bahwa Dyllan adalah seorang pembunuh? Dari pandangan Dave saat melihat kejadian tadi membuat Dave yang


awalnya menganggap remeh perkataan itu kini dia memikirkan itu berkali-kali karena dia sendiri melihat betapa brutalnya Dyllan menyakiti korbannya tanpa belas kasih sedikitpun.


Dyllan memarkirkan mobil Dave di halaman rumahnya, dia lalu mengajak Dave masuk ke dalam.


Sepertinya Kousuke tidak pulang ke rumah ini, pintu rumah masih terkunci dengan rapat.


“Apa ini rumah mu?” tanya Dave.


Dyllan mengangguk lalu dia mempersilahkan Dave untuk masuk ke dalam.


“Kenapa tampak sangat sepi, di mana semua keluargamu, Dyllan?”


“Mereka ada di rumah yang berbeda.” Dyllan berjalan menuju dapur rumahnya, dia harus mencuci tangannya yang sudah berlumuran darah.


Dave masih merasa bahwa ada sesuatu yang aneh pada Dyllan ketika mengingat kejadian tadi yang baru saja disaksikannya, tapi Dave belum paham mengapa Dyllan dapat melakukan hal ini.


“Apa kau punya perban?” tanya Dave.


“Untuk apa?”


“Lukamu harus diobati.”


“Tidak, tidak apa. Aku merasa baik-baik saja.” Dyllan mematikan keran air lalu mengambil sebuah tisu untuk mengelap tangannya.


“Katakan padaku di mana kotak obatnya?”


“Tidak perlu aku akan mengobatinya sendiri nanti. Lagi pula luka ini bukan sebuah masalah untukku.”


Dave melangkah mendekati Dyllan, dia membalikan badan gadis itu agar melihat ke arahnya.


Entah mengapa Dyllan melihat wajah Dave yang biasanya dipenuhi dengan beribu senyuman kini malah terlihat datar dan dingin.


Dave sedikit berjinjit dan meraih sebuah kotak transparan yang berada di lemari paling atas.


Dyllan melihat bingung ke arah kotak yang baru saja Dave ambil tadi.


Sejak kapan ada kotak obat di rumahku? Pasti Kousuke yang menaruhnya di sini.


Dave meraih tangan Dyllan yang terluka, dia membuka dengan perlahan ikatan kain yang masih mengikat kuat di lengan yang terluka itu.


Dan benar dugaan Dave, luka Dyllan cukup parah, pasalnya dia melihat dengan jelas Sarah yang menyabet lengan Dyllan begitu saja dengan pisau yang tajam itu.


“Lukanya akan lama pulih jika hanya di obati dengan ini saja.” Dave dengan hati-hati mulai membersihkan dan mengobati luka itu.


Dyllan hanya terus diam, membiarkan Dave sibuk sendiri dengan luka di tangannya. Wanita ini terus menatap wajah Dave yang kali ini terlihat berbeda, tidak ada keramahan yang terlihat di wajah tampan ini seperti biasanya, hanya tampak wajah tanpa ekspresi dan sikap dinginnya. Dyllan menyukai ini.


Namun, saat hendak membuang kapas-kapas itu, Dave tidak sengaja melihat sebuah tirai hitam di ruangan dapur ini, dia pikir itu adalah sebuah jendela yang tertutup tirai.


Saat Dave membuka tirai itu, bukannya sebuah jendela kaca yang dia temukan melainkan sebuah pintu yang terbuat dari besi dan dicat sangat mirip dengan warna dinding sehingga jika kalau hanya di lihat sekilas seperti tidak ada pintu apapun di dinding itu.


Dave hendak menarik handel pintu tersebut untuk melihat ruangan apa yang ada di dapur seperti ini.


Namun, belum sempat pintu itu terbuka, tangan Dave sudah duluan dicegah oleh Dyllan.


“Jangan sentuh apapun di rumahku!” ketus Dyllan.


Dave mengangguk pelan lalu dia mundur beberapa langkah dari pintu tersebut dan Dyllan kembali menutup tirai itu, tirai yang menutupi jalan masuknya ke ruangan bawah tanah.


Dyllan berjalan menuju lantai atas tanpa sepatah katapun yang dia ucapakan pada Dave.


Dave kambali ke ruangan depan dan duduk diam di sofa. dia akan menunggu Dyllan sebentar lalu berpamitan pulang pada gadis itu.


Rumah ini menurut Dave terlihat biasa saja seperti rumah pada umumnya, tidak ada yang aneh dari rumah ini selain dari pintu yang ada di dapur tadi dan tidak adanya satu fotopun yang terpajang di dinding hanya terdapat lukisan abstrak saja.


Sudah beberapa lama menunggu, Dyllan tidak kunjung turun juga, akhirnya Dave yang memutuskan untuk menghampiri Dyllan terlebih dahulu.


Dave berjalan menaiki anak tangga dan menuju ke ruangan yang dimasuki Dyllan tadi.


Saat Dave ingin mengetuk pintu kamar itu, dia melihat bahwa pintunya tidak tertutup dengan sempurna dan Dave mengintip ke dalam. Sedang apa Dyllan dalam waktu selama ini?


Dave mencari keberadaan Dyllan di dalam kamar tersebut, tapi dia tidak bisa melihat dengan leluasa akhirnya Dave membuka pintu kamar itu sedikit lebih lebar barulah dia menemukan Dyllan sedang berdiri di depan lemari dengan tubuhnya yang polos tanpa sehelai kainpun yang melekat pada tubuhnya itu. Kelihatannya wanita itu baru saja selesai membersihkan dirinya.


Tidak ada rasa ragu maupun terkejut Dyllan dengan kedatangan Dave yang tiba-tiba memasuki kamarnya, dia malah menoleh pada Dave dengan wajah datarnya.


Dave segera melangkah mundur ke belakang. Memang ini bukan kali pertamanya dia melihat Dyllan dalam keadaan seperti ini, namun dia tetap saja masih merasa sedikit canggung dan ini juga kesalahannya karena masuk begitu saja ke kamar orang tanpa kode sedikitpun.


“Maafkan aku, aku tidak berniat untuk mengganggumu. Aku hanya ingin berpamitan untuk kembali pulang.” ucap Dave.


Dyllan tersenyum kecil mendengar ucapan Dave, bagaimana bisa ada seseorang yang bisa pulang dengan selamat dari rumah ini?


Aku membawamu ke sini dengan sebuah tujuan dan kau ingin lepas dariku begitu saja?


Dyllan segera berjalan menghampiri Dave dengan tubuhnya yang masih polos.


Dave tentu sedikit kaget dengan kemunculan Dyllan apalagi Dyllan belum mengenakan pakaian apapun.


Dyllan mengulurkan satu tangannya pada Dave. Dave yang melihat itu merasa bingung dengan maksud Dyllan.


Wanita itu tertawa kecil melihat wajah Dave yang diselimuti dengan rasa takut dan canggung. Gadis itu lalu menarik pria itu masuk ke dalam kamarnya lalu menutup pintu kamar itu dengan rapat.


***


Dyllan memainkan jemarinya pada dada bidang Dave yang sedang terbaring di kasurnya, Dave masih tidak percaya dengan apa yang dia lakukan bersama Dyllan berusan, wanita ini benar-benar membuatnya gila!


Tiba-tiba saja suara dering dari ponsel Dave berbunyi saat pria itu masih sibuk mengatur napasnya yang masih terengah.


Dyllan meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah kasurnya.


Suara tawa kecil Dyllan seketika terdengar. Dengan senang hati gadis ini mengangkat telepon dari Harumi di ponsel Dave.


“Sayang, kau ada di mana? Kenapa tidak ke rumahku malam ini?” Suara Harumi langsung terdengar saat panggilan tersambung.


“Siapa?” tanya Dave pada Dyllan. Dyllan tidak menjawab pertanyaan Dave dia malah tersenyum semakin lebar.


“Apa mommy ingin tau di mana kekasih mommy berada sekarang? Dan apa yang baru saja dia lakukan? Apa mommy ingin mengetahuinya?”


Dave sontak kaget saat mendengar ucapan Dyllan barusan, dengan segera dia mengambil ponselnya dari tangan Dyllan.


“Dyllan? Apa ini Dyllan?” tanya Harumi, suaranya terdengar seperti tidak percaya. Karena dari pengalaman sebelum-sebelumnya, tidak ada satupun kekasihnya yang dekat dengan Dyllan dan kenapa Dave bisa berada


berasama Dyllan ditengah malam seperti ini?


“Nanti ku hubungi kau kembali, aku punya sedikit urusan sekarang.” ucap Dave pada Harumi lalu memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.


“Apa yang kau lakukan? Bagaimana jika Harumi curiga?” Dave tampak panik.


“Kau tidak akan kehilangannya, tenang saja.”


“Aku tidak peduli bahwa aku akan kehilangan Harumi atau tidak. aku hanya mencemaskanmu, Harumi pasti akan marah besar padamu jika tau tentang hal ini.”


Dyllan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur, dia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.


Ada apa denganku hari ini? Aku merasa seperti ada yang berbeda.


Dave ikut berbaring di kasur, dia membawa Dyllan dalam pelukannya. “tidurlah, kau pasti sangat lelah hari ini. Jangan pikirkan apapun yang membuatmu merasa cemas. Aku ada di sini, kau akan baik-baik saja.” ucap Dave sembari mengelus kepala Dyllan dengan lembut.


Dan untuk pertama kalinya Dyllan merasa bimbang untuk membunuh seseorang.


***


“Dyllan! Dyllan!”


Saat Dyllan masih nyenyaknya tidur, Kousuke berteriak-teriak memanggili namanya, sontak hal itu membuat Dyllan dan Dave terbangun.


“Siapa itu?” tanya Dave pada Dyllan.


Dyllan menghela kasar napasnya. dia meraih selimut yang menutupi tubuh mereka dan melilitkan selimut itu ke tubuhnya lalu gadis itu keluar dari kamar hendak menemui Kousuke.


“Apa kau baru bangun dijam segini? Tanya Kousuke tidak percaya, karena tidak biasanya Dyllan ketiduran sampai siang seperti ini.


“Ada apa? kenapa kau berteriak-teriak seperti ini?” Dyllan menuruni anak tangga dengan langkahnya yang masih lesu.


“Kau gila---“ Kousuke tidak melanjutkan ucapannya saat Dyllan sudah berdiri di hadapannya. “apa ini?” Kousuke menyentuh leher dan dada Dyllan yang terdapat bercak merah sedikit keunguan. Dia juga melihat lengan Dyllan yang sedang diperban.


“Tidak, ini bukan apa-apa.” jawab Dyllan sembari menghempaskan pelan tangan Kousuke dari tubuhnya.


“Dyllan?” Dave keluar dari dalam kamar Dyllan dengan pakaiannya yang sudah utuh.


Kousuke berdengus sinis saat melihat seorang pria lain di rumah ini bersama Dyllan dan dia langsung paham dengan apa yang terjadi dengan tanda merah yang bersarang cukup banyak pada leher serta dada rekannya itu.


“Permainan apa lagi yang sedang kau mainkan sekarang?” ucap Kousuke, wajah tampan pria ini masih terlihat begitu sinis dan tidak percaya.


“Dia orang yang ingin ku kenalkan padamu. Dave namanya, dan dia kekasih mommyku.”


Kousuke mengkerutkan dahinya saat mendengar ucapan Dyllan.


“Sudalah, akan ku jelaskan nanti, sekarang katakan padaku kenapa kau berteriak-teriak tadi?”


“Kau tidak tau? Polisi sedang mencarimu dan kau malah asik dengan pria itu!” suara Kousuke terdengar meninggi.


“Apa maksudmu? Untuk apa mereka mencariku?”


“Apa mereka mencarimu karena kejadian tadi malam?” ucap Dave spontan.


“Apa maksudmu?” tanya Kousuke dengan wajah bingung pada Dave.