
Dyllan gadis berparas manis dan memiliki kepribadian yang dingin. Umurnya memasuki 20 tahun, namun sikap dan tindakannya jauh lebih dewasa dari usianya sekarang.
Papa dan mommy-nya berpisah sejak 7 tahun yang lalu. Karena ketidak harmonisan keluarganya, dan circle yang buruk pada masa kecil Dyllan, membuat gadis itu tumbuh menjadi sosok yang pendiam dan penuh misteri.
***
Dyllan berpamitan pada Joe papanya, untuk pergi kerumah sang mommy. Sungguh dia sudah mulai muak dengan apa yang akan dilakukan mommynya lagi.
Hubungan Dyllan dengan mommy yang bernama Harumi tidaklah cukup baik, bahkan sejak kecil Dyllan sudah terbiasa tanpa adanya seorang wanita tangguh di sampingnya.
Kehidupan mommy Dyllan memang tidak seberuntung papanya yang memang sudah kaya-raya sejak lahir. Mommy-nya dulu adalah seorang gadis sederhana yang hidup di pinggir kota. Tidak kekurangan memang, namun cukup sederhana, sampai pada akhirnya Harumi bertemu dengan Joe, disitulah kehidupan mommynya kian membaik sampai akhirnya membuat dirinya egois.
Dyllan yang mendengar kabar bahwa mommynya sudah menikah lagi dengan laki-laki lain, membuat gadis itu merasa geram, rasanya ingin dia ambil saja adiknya itu dari pada dia harus repot-repot bolak-balik ke rumah papa dan mommynya hanya untuk memastikan keadaan adik-adiknya.
Dyllan adalah anak pertama dari 3 bersaudara. Adik keduanya yang bernama Rian ikut tinggal dengan papa dan juga dirinya, namun adiknya yang terakhir bernama Zura tinggal bersama sang mommy.
Hal itu memang disengaja Harumi agar masih mendapatkan harta Joe dengan mengatasnamakan kebutuhan Zura. Tapi kenyataannya Zura masih saja hidup seperti biasa tanpa mendapatkan keistimewaan dari sang mommy. Jadilah Dyllan yang harus turun tangan untuk menghibur serta merawat Zura yang kini masih berusia 6 tahun. mommynya sendiri terlalu sibuk dengan urusan sosialitanya yang baginya sangat penting dan berkelas itu!
***
Dyllan membuka pintu mewah yang terpasang tegap disebuah rumah yang super besar ini.
Saat melangkah masuk, Dyllan melihat seorang pria yang berdiri tegap memandangi aquarium besar milik sang mommy yang terletak di ruangan depan.
Pasti ini suami barunya.
Gadis itu masuk begitu saja tanpa menyapa ataupun mengatakan sesuatu, dia terus berjalan melewati pria itu dan melangkah menuju kamar Zura.
Laki-laki itu sontak kaget dengan kedatang seseorang secara tiba-tiba, dengan spontan pria itu memanggil Dyllan dan menanyakan dirinya.
“Maaf kau siapa?”
Dyllan sama sekali tidak bergeming dengan pertanyaan pria itu dan terus berjalan sampai akhirnya dia membalikan badan saat pria itu memegang pundaknya.
“Kau siapa? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”
Dyllan terdiam dalam lamunannya sendiri secara tiba-tiba. Bodoh sekali pria ini yang mau menikah dengan janda anak tiga seperti Harumi!
Laki-laki itu melambai-lambaikan tangan kekarnya di hadapan Dyllan karena Dyllan hanya diam dan terus memperhatikan wajahnya.
Dyllan tersenyum sinis pada pria itu, lalu dia kembali memasang raut wajah datarnya.
“Tanya saja Harumi jika kau ingin tau siapa aku.” ucap Dyllan lalu kembali meneruskan langkahnya.
***
“Kakak.…” Zura mengagetkan Dyllan yang sedang menuangkan secangkir susu ke dalam gelas, namun Dyllan sama sekali tidak terkejut dia malah melirik santai adiknya.
Dyllan tersenyum pada Zura lalu memberikan susu itu pada sang adik. “minumlah.”
Zura mengambil susu itu lalu meneguknya sampai habis.
Tawa canda mereka seketika terhenti saat pria yang tadi dijumpai Dyllan di ruangan depan berjalan menuju ke arah dapur tempat mereka berada sekarang.
“Kakak,” Zura melambaikan tangannya mengisyaratkan Dyllan agar mendekatinya.
Dyllan menundukan tubuhnya dan mendekatkan telinganya pada Zura.
“Itu paman Dave, tapi ommy nyuruh Zura manggil dia dengan sebutan daddy lagi, dia calon suami mommy, Kak.” bisik Zura.
Dyllan sedikit terkejut dengan ucapan adiknya itu. ‘calon suami?’ bukannya sudah menikah?
Pria itu mendekat ke arah Dyllan, dia berdehem pelan lalu tersenyum pada gadis itu. Dyllan yang memang dasarnya cuek hanya mengabaikannya saja.
“Maaf, aku tidak mengenalimu tadi. Ternyata kau adalah anak Harumi, mommymu sudah cerita tentang dirimu padaku tadi.” Suara, raut wajah serta pembawaan pria itu tampak menyenangkan dan berkeinginan untuk menjalin hubungan baik dengan Dyllan.
Dyllan tetap diam dan belum mengatakan sepatah katapun.
“Boleh aku duduk di sampingmu, Dyllan?” tanya pria itu.
Dyllan meliriknya sekilas lalu kembali membuang wajahnya ke arah berlawanan, dia beranjak dari duduknya. “aku sudah selesai duduk di sini.” ucap Dyllan lalu menarik tangan Zura pergi dari dapur meningglkan pria itu sendirian.
Mommy-nya memang sudah sangat banyak dekat dengan para pria yang bahkan sebagian dari mereka sempat menjalin hubungan rumah tangga, namun sayangnya tidak bertahan lama dan berakhir pada perpisahan. Dan dari pernikahan-pernikahan itu mommynya belum dikaruniakan anak lagi.
***
“Kamu kenapa Dyllan?! Tidak seharusnya kamu bersikap seperti itu pada calon daddymu!” tiba-tiba Harumi datang dengan membuka pintu kamar dengan kasar.
Dyllan yang sedang berbaring di kasur sembari bermain ponsel sontak menoleh ke arahnya.
Dyllan duduk di kasur, menatap tajam ke arah sang mommy. Tidak seperti biasanya, kali ini terlihat berbeda, biasanya jika Dyllan bersikap cuek pada suami-suami barunya, Harumi akan biasa saja, ini kenapa tiba-tiba
mommynya marah seperti ini? Dan apa tadi? ‘calon daddy?’ berarti benar belum menikah!
Dyllan mengangkat kedua pundaknya tanda ketidak peduliannya.
Harumi berdecak kesal lalu meninggalkan Dyllan begitu saja.
Dulu Harumi dan Joe menikah diusia yang sangat muda. Bahkan papanya saja waktu saat Dyllan lahir baru berusia 19 tahun sedangkan mommynya berusia 16 tahun. Entah apa yang terjadi saat itu Dyllan juga tidak mengerti.
***
Seperti biasa, Dyllan selalu menghabiskan waktu istirahatnya di kampus bersama Jane, teman seangkatannya. Mereka sudah mengenal cukup lama karena mereka satu sekolah juga dulu. Namun, hubungan pertemanan itu haya sebatas di sekolah ataupun kampus saja, mereka sangat jarang menghabiskan waktu
berdua saat sedang berlibur ataupun sekedar hang out.
“Dyllan bagaimana hubunganmu dengan Verell? Apa sudah kembal normal?” Tanya jane sembari menyeruput minuman yang berada di tangannya.
“Udah putus.” jawab Dyllan santai.
Jane menatap wajah Dyllan dengan lekat, rambut lurus panjangnya yang berwarna coklat, kulit putih bersih dan mata yang sedikit sipit karena Dyllan memilikii keturunan Jepang dari ayahnya. Kepribadian Dyllan yang kadang sulit untuk ditebak dan sikap dinginnya yang bisa membuat siapa saja salah mengartikan tindakannya.
“Harumi ternyata belum nikah, Jane.” Dyllan menghela napasnya “tapi benar dia udah punya pria lain.” lanjutnya.
“Aku bilang juga apa! Kalau mommymu nikah, berita itu pasti sudah sampai ke telingaku, ini aku gak ada denger berita apapun, ya… berarti belum nikah!” Rumah Jane dan rumah mommy Dyllan hanya berjarak beberapa meter saja, maka dari itu Jane sedikit banyaknya tau tentang pemberitaan yang menyangkut mommy Dyllan.
“Dyllan! Kenapa sih papamu gak ambil paksa hak asuh Zura? Mommy kalian juga gak pantes dapetin hak asuh anak, terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dia.”
“Mana mau Harumi ngelepasih Zura, kalo dia ngelepasin Zura mana dapet lagi uang dari papa." jawab Dyllan sembari menyenderkan tubuhnya di bangku taman.
***
“Kau Dyllan kan?”
Dyllan yang lagi asik membaca buku harus terganggu oleh kedatangan seorang pria. Dia menoleh pada orang itu, terlihat wajah cantiknya seketika memasang raut wajah jutek, dia bersikap cuek dan kembali membaca buku yang berada di tangannya.
Pria itu dengan lancang dan beraninya menarik kursi di hadapan Dyllan dan duduk di kursi itu.
Dyllan hanya melirik sekilas lalu menghiraukan orang tersebut.
“Aku hanya ingin mencari udara segar di cafe ini, dan tidak sengaja melihatmu.” ucap pria itu, memulai pembicaraan.
Dyllan menghela kasar napasnya. dia menutup bukunya dan memasukannya ke dalam sebuah tas selempang miliknya lalu bergegas pergi dari cafe itu, menghiraukan pria yang tadi telah mengganggunya.
“Dyllan, kau mau kemana?” bingung dengan sikap Dyllan, pria itu mengejar Dyllan sampai keluar dari cafe. “Dyllan!...” panggilnya lagi, namun Dyllan tetap diam seperti tidak terjadi apa-apa.
“Dyllan, tunggu!” kesal terus dicuekin pria itu dengan cepat menarik pergelangan tangan Dyllan.
Lantas tanpa diduga sama sekali, Dyllan berbalik arah lalu mengecup sekilas bibir pria itu. Dia berdiri di hadapan pria itu sembari tersenyum kecil dengan tangannya yang dilipat di depan dada.
Kaget?
Pasti!
“Ka-kau---“ belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya, Dyllan dengan segera melangkah lebih dekat lalu mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu.
“Cobalah untuk menjauh dariku sebisa mungkin, karena jika kau tetap berusaha untuk sedikit lebih dekat denganku,” Dyllan mendekatkan bibirnya pada telinga pria itu. “aku tidak akan pernah melepaskanmu.” Dia menarik
kembali wajahnya, menatap mata biru nan-indah milik pria itu dengan sangat lembut. “dan aku yakin kau tidak mau hal yang tidak teringinkan terjadi.” Lagi-lagi Dyllan tersenyum tipis lalu meninggalkan Dave yang masih terbengong begitu saja.