
Dave turun dari lantai atas menghampiri Dyllan dan Kousuke, “Dyllan bagaimana jika polisi menangkapmu?”
Dyllan menghela napas kasarnya. “kenapa mereka mencariku?” tatapan mata Dyllan mulai serius mengarah pada Kousuke.
Kousuke mengambil beberapa foto dari sakunya, dia menyerahkan foto itu ke tangan Dyllan. “mereka mendapat laporan bahwa ada mayat wanita di bangunan tua dan polisi menemukan tasmu berada di sana, tidak jauh dari mayat itu.” ucap Kousuke.
Dyllan melihat lembaran foto yang Kousuke berikan padanya, dia melihat foto Sarah yang terbaring di atas jalanan dengan kondisi tubuhnya yang penuh darah dan kepala wanita itu pecah hampir tidak berbentuk lagi.
Dyllan tersenyum tipis, dia menertawakan kecerobohannya dalam hati. Kenapa dia melupakan tas miliknya yang kemana-mana selalu dia bawa?
“Orang suruhanku mengatakan bahwa polisi melacak alamatmu dan akan datang ke sana untuk meminta keteranganmu.”
“Apa ada hal aneh yang mereka temukan di dalam tasku?”
“Sebuah pisau dan sebuah buku catatan kosong juga pena milikmu.”
Dyllan mengangguk pelan. Dia harus menyelesaikan masalah ini dengan hati-hati, atau mungkin bertindak sedikit lebih gila.
“Dave pulanglah, aku akan mengabarimu saat masalahnya selesai.”
“Apa kau gila?!” tanya Kousuke tidak percaya. “dia mendengar ucapan kita tentang masalah ini!”
“Bukan hanya sekedar mendengar, dia bahkan juga ada di lokasi saat itu.”
Kousuke berdengus tidak percaya dengan ucapan Dyllan. “dan kau menyuruhnya pulang?”
“Ada masalah lebih penting yang harus aku urus.”
“Kalau begitu biar aku saja yang mengurusnya.” Kousuke melihat ke arah Dave seperti seorang pemangsa.
Dyllan menggelengkan kepalanya pelan.
“Dave pulanglah, dan jangan katakan apapun tentangku jika ada yang menanyaimu.”
“Tidak! aku tidak akan pulang sebelum memastikan kau baik-baik saja.” tolak Dave.
“Aku akan baik-baik saja, tidak perlu mencemaskanku.”
“Dyllan, aku ada di sana saat kejadian itu, aku juga berhak dihukum jika kau dihukum.”
“Pulanglah Dave, aku tidak suka mengulangi perkataanku.” Kini tatapan serius dan wajah datar tanpa ekspresi Dyllan tunjukan pada Dave.
Dave dapat melihat mata gadis itu yang memerah dan tubuh Dyllan yang sedikit kaku seperti menahan sesuatu di dalam dirinya.
“Pulanglah. Dan kau tau apa yang harus kau lakukan pada mobilmu kan? Aku akan menghubungimu setelah semuanya selesai. Jangan khawatir, Kousuke dan papa akan membantuku.”
Yang benar saja dia harus membiarkan Dyllan menyelesaikan masalah ini sedangkan dia juga berada di lokasi kejadian walaupun dia tidak ikut terlibat dalam kasus pembunuhan itu sama sekali, tapi ucapan Dyllan yang mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja terdengar begitu yakin.
“Hubungi aku jika terjadi sesuatu.”
Dyllan mengangguk.
Dan dengan terpaksa dan berat hati Dave menuruti perkataan Dyllan.
Dyllan mencegah Kousuke yang hendak membuntuti Dave. “jangan ikuti dia, biarkan dia pergi.”
“Ada apa denganmu? Pria itu akan membocorkan semuanya dan kau akan berada dalam masalah!”
“Aku melarangmu untuk membuntuti dan melukainya. Tunggulah aku di sini, aku akan ganti pakaian dulu.” Dyllan kembali naik ke kamarnya. Sedangkan Kousuke hanya bisa menatap kesal kepergian Dave yang melangkah kian jauh meninggalkan rumah ini. Ingin sekali rasanya dia patahkan leher pria itu, tapi Dyllan melarangnya untuk menyentuh Dave.
***
Dyllan melihat mobil papanya yang terparkir di halaman. Apa papanya tidak pergi ke kantor hari ini? Kenapa mobil kantornya ada di sini?
Dyllan turun dari dalam mobil dan melangkah memasuki rumah.
“Papa?” panggil Dyllan saat melihat sang papa duduk di sofa dengan mengenakan baju kantornya lengkap dengan jas kebanggaannya itu.
Joe langsung berdiri dan menghampiri Dyllan saat dia melihat putrinya itu akhirnya sampai juga di rumah.
Joe langsung memeluk Dyllan dengan erat, wajah pria ini terlihat begitu khawatir bahkan Dyllan dapat merasakan detak jantung Joe yang berdegub dengan cepat.
“Apa kau baik-baik saja?” Joe memeriksa keadaan putrinya.
“Ya, aku baik-baik saja.” ucap Dyllan.
“Papa mendapat kabar bahwa polisi mencarimu, mereka bilang mereka menemukan tas milikmu didekat mayat seorang wanita.”
“Mayat? Apa maksud Papa?” Dyllan pura-pura taidak mengerti.
“Entahlah, papa sendiri juga sudah sangat kebingungan sekarang, kenapa ada tas milikmu didekat mayat itu.”
Dyllan pura-pura bodoh saat ini, wajahnya sengaja dia atur agar terlihat seperti terkejut dan tidak percaya dengan ucapan sang Papa, namun dalam kepalanya berputar beribu rencana untuk menyelesaikan masalah ini.
Benar saja tidak lama mereka berbincang datang 3 orang pria dan satu wanita ke rumah itu.
Tentu Joe buru-buru menghampiri orang-orang tersebut yang diikuti oleh Dyllan dan Kousuke.
“Maaf mengganggu, kami dari anggota kepolisisan yang mengirimkan surat perintah atas barang bukti.” Seorang polisi menunjukan identitas dan kartu kepolisiannya pada Joe.
“Anda Dyllan?” tanya seorang polisi lainnya, polisi ini tampak masih muda mungkin umurnya sekitar 26 tahun.
“Ya.” jawab Dyllan.
Kousuke yang sedang meperhatikan Dyllan dengan sengaja menyenggol bahu Dyllan seperti memberikan kode, pasalnya tatapan tajam mata Dyllan yang sibuk memperhatikan satu-persatu polisi-polisi tersebut ditambah dengan sikap santai yang Dyllan tunjukan dapat membuat dirinya dicurigai.
Dyllan mengangkat kedua alisnya tanpa sebab, dirinya harus terlihat normal seperti gadis pada umumnya sekarang.
“Iya, benar saya Dyllan.” ucap Dyllan lagi.
“Kami menemukan barang anda berada di dekat mayat seorang wanita,” Polisi itu maju mendekati Dyllan. Dia mengeluarkan beberapa foto dari dalam map coklat lalu menunjukannya pada Dyllan. Salah satunya adalah foto barang bukti tas selempang milik Dyllan juga mayat Sarah yang sudah terbujur kaku bersimpah darah di atas aspal.
Dyllan menolehkan pandangannya ke arah berlawanan, bersandiwara bahwa seolah-olah dia merasa takut dan tidak kuat melihat foto mayat yang diberikan polisi itu.
“Iya, benar itu adalah tas milikku, tapi tas itu dirampok saat aku pulang dari kampus,” ucap Dyllan “aku juga tidak tau kenapa tas itu ada di sana.”
“Tapi kami menemukan sebilah pisau lipat dari dalam tas milik-mu.”
“Pisau?” ucap Joe tidak percaya.
“Tidak, aku tidak menyimpan pisau atau apapun yang berbahaya di dalam tas milikku. Seingatku tas itu hanya berisi buku catatan, pena serta sejumlah uang cash.”
Kousuke mengambil foto-foto barang bukti dari tangan Dyllan. “mungkin itu adalah pisau si perampok yang sengaja dia bawa untuk menakuti korbannya dan dia tidak sengaja meninggalkan pisau itu di dalam tas Dyllan saat mereka mengambil uangnya. Bukankah tadi Dyllan bilang ada uang cash juga di dalam tasnya? tapi kenapa di foto barang bukti ini tidak ada uang?” ucapan yang masuk akal dilontarkan oleh Kousuke.
“lagipula tidak mungkin anak perempuan seperti Dyllan terlibat dalam kasus seperti ini. Sedangkan dia disibukkan dengan tugas kuliahnya dan selalu berada di rumah.” ucap Joe tidak terima jika Dyllan harus jadi tersangka atas kematian wanita itu, lagi pula Joe benar-benar tidak percaya bahwa Dyllan bisa melakukan hal seperti itu.
“Apa kau mengingat wajah ataupun sesuatu tentang perampok itu?” tanya polisi tadi.
“Aku tidak begitu memperhatikannya. Saat itu aku panik meminta bantuan tapi memang suasana di jalanan saat itu sedang sepi. Aku hanya mengingat bahwa perampok itu bertubuh besar dan berisi dia beraksi bersama temannya menggunakan sepeda motor.”
“Kau dirampok, tapi kenapa tidak cerita pada papa?” tanya Joe pada Dyllan.
“Karna menurut Dyllan itu bukan masalah yang besar, lagi pula tidak ada barang berharga selain uang cash itu.” jawab Dyllan.
Joe mengisyaratkan sesuatu pada salah satu pria yangbekerja untuknya. Pria itu mengangguk lalu dia menghampiri polisi yang jabatannya lebih tinggi dari yang lain.
Tidak lama, polisi dan orang suruhan Joe kembali.
Polisi itu memerintahakan pada polisi yang lain untuk berhenti mengusik Dyllan karena menurutnya tidak ada kejanggalan dari perilaku Dyllan, serta semua pengakuan Dyllan terdengar masuk akal. Polisi juga sebenarnya tidak percaya saat mereka melihat Dyllan yang tergambar seperti gadis normal serta penurut akan melakukan hal sekeji pembubuhan ini.
“Namaku Adam. Hubungi aku lewat nomor ini jika kau mengingat sesuatu tentang perampok itu.” Polisi yang berbincang pada Dyllan tadi menyodorkan sebuah kartu nama pada Dyllan.
Dyllan mengambil kartu itu sembari tertunduk sopan.
“Maaf telah menganggu waktu kalian.” Adam mengulurkan tangannya yang dijabat oleh Joe. “jika ada kejanggalan kemungkinan kami akan menanyakan sesuatu lagi padamu.” ucap Adam sembari menatap Dyllan.
“Ya, tentu.”
“Kami harap kalian bisa bekerja sama. selamat siang!”
Namun, anehnya setelah kepergian para polisi itu, Dyllan bukannya lega tapi dia merasa seperti tidak senang atas kunjungan para polisi-polisi itu kerumahnya.
***
“Hapus status tersangka pada gadis itu. Bukan dia pelakunya.” ucap seorang polisi yang terlihat sudah senior.
“Maaf sebelumnya, tapi Pak, tidakkah sebaiknya kita selidiki lagi? Pasalnya tas wanita itu kita temukan berdekatan dengan korban.” Polisi bernama Adam memberikan pendapatnya.
“Semua sudah jelas, dia dirampok. Lagipula bagaimana bisa kau berpikir gadis selugu seperti dia bisa terlibat dalam masalah ini? Bahkan kau melihatnya sendiri sikap polosnya tadi kan?”
Adam tertunduk menganggukan pelan kepalanya. Memang benar Dyllan terlihat begitu polos bahkan sangat mustahil bagi gadis selugu dia dapat melukai seseorang apalagi sampai membunuh.
***
Dyllan berjalan menghampiri Kousuke yang sedang duduk dihamparan rumput hijau. Pria itu memperhatikan langit yang hari ini tampak cerah, namun udara terasa sangat sejuk.
Dyllan duduk tepat di sebelah Kousuke, gadis itu hanya mengenakan baju dengan seutas tali dan celana tidur panjang.
Kousuke sontak menoleh ke arah Dyllan, dia tidak menyangka bahwa Dyllan bisa berada di tempat ini.
“Bagaimana kau bisa ada di sini? bukannya kau tidak diizinkan papamu keluar?”
“Kousuke kau bahkan tau, aku tidak peduli pada aturan.”
Kousuke melepaskan jaket kain miliknya lalu dia lingkarkan pada tubuh Dyllan.
Dyllan melepas jaket yang diberikan Kousuke dari tubuhnya, “aku tidak butuh ini.” ucap Dyllan sembari melemparkan jaket Kousuke ke rerumputan.
Kousuke hanya menghela napasnya, dia mengambil jaket itu lalu kembali memasangkannya pada tubuh Dyllan. “Setidaknya tutupi dadamu agar aku tidak melihat ke situ terus.” ucap Kousuke.
Dyllan tersenyum mendengar ucapan itu, dia meraih tangan Kousuke dan menempelkannya pada dadanya lalu gadis cantik itu meraup bibir rekannya yang tentu diterima dengan senag hati oleh Kousuke.
“Apa kau ingin aku melakukannya di sini?” ucap Kousuke.
Dyllan hanya tersenyum, dia mendorong tubuh Kousuke lalu memakai jaketnya.
“Kousuke,” panggil Dyllan.
“Hmmm?” Kousuke yang sedang memandangi langit menoleh ke arah Dyllan.
“Aku ingin kau mencarikanku semua informasi tentang Dave.”
Kousuke tersenyum sinis, “kenapa tidak kau tanyakan saja langsung padanya? Kenapa kau menyuruhku untuk mencari informasi tidak penting seperti itu?”
“Carikan saja.”
“Aku ingin membunuhnya.”
“Jangan sentuh dia.”
“Kenapa? Apa kau mulai terpikat dengannya?”
“Yang itu urusanku. Lakukan saja apa pekerjaanmu.”
“Dan urusanmu adalah bagian dari pekerjaanku.”
“Jangan sentuh dia intinya. Aku tidak mau dia terluka sedikit saja karena ulahmu.”
Kousuke berdengus kesal, “gila!” ketusnya lalu beranjak pergi dari tempat itu.
“Apa kau akan meninggalkanku sendirian di sini?” tanya Dyllan yang membuat Kousuke menoleh padanya.
“Aku tau kau bisa pulang sendirian.” jawan pria itu lalu kembali melanjutkan perjalanannya dengan rasa kesal pada Dyllan karena tidak mengizinkannya menyentuh Dave. Padahal saat pertama kali melihat wajah Dave saja, Kousuke ingin sekali mematahkan tulang-tulang pria itu.
Dyllan hanya tersenyum, dia tau kalau Kousuke sedang kesal dan dia membiarkan Kousuke pergi.
***
Dyllan berjalan santai di jalanan yang sangat sepi karena hari yang memang sudah tengah malam, namun tiba-tiba sorotan lampu mobil yang terang muncul dari arah belakang dan mobil itu berhenti tepat di samping Dyllan.
Dyllan memperhatikan ke dalam mobil saat kaca jendela mobil terbuka.
Ada seorang pria dengan umur sekitar 20-an akhir atau 30-an awal, yang sedang membawa kemudi mobil seorang diri.
Pria itu tersenyum ramah pada Dyllan.
“Apa kau hanya sendirian saja ditengah malam seperti ini? Masuklah biar ku antar kau pulang.” ucap pria itu sembari membukakan pintu mobil dari dalam untuk Dyllan.
Dyllan tanpa pikir panjang langsung naik ke dalam mobil dan duduk di sebelah pria itu.
Jika benar pria itu akan mengantarkan Dyllan pulang maka selamatlah nasib pria itu, tapi jika tidak maka harus ada hukuman yang ditanggungnya.
“Di mana rumahmu?” tanya pria itu pada Dyllan.
“Jl. Hero no.202.” jawab Dyllan.
“Baiklah aku akan mengantarkanmu ke sana.”
Di perempatan jalan, pria itu bukannya membelokan mobilnya ke arah alamat rumah Dyllan, dia malah terus melajukan mobilnya.
Dyllan tau ini bukanlah jalan ke arah rumahnya, tapi dia tetap diam dan menunggu permainan yang akan segera di mulai!
Sampai akhirnya mereka berhenti disebuah rumah berpagar dua lantai, rumah itu tampak sangat rai walaupun tidak terlalu megah.
“Maaf, aku tidak tau alamat rumahmu. Aku berjanji akan mengantarkanmu pulang nanti, sekarang kau ikut aku masuk ke dalam dulu, kau kelihatan begitu sangat lelah. Mungkin kau bisa istirahat sejenak di dalam sebelum aku mengantarkanmu pulang nantinya.”
Bukannya malah takut seperti gadis-gadis pada umumnya, Dyllan malah turun dari mobil dan mengikuti pria itu masuk ke dalam rumah tersebut.
Pria itu membawa Dyllan ke sebuah ruangan belakang yang hanya terdapat sebuah tempat tidur dan meja dengan koper di atasnya.
“Masuklah, aku akan mengambilkanmu air.” ucap pria itu lalu pergi meninggalkan Dyllan. Dyllan masuk ke dalam ruangan dan duduk di atas kasur. Tidak lama pria itu membawakan Dyllan segelas air putih. “minumlah,” pria itu menyodorkan gelas pada Dyllan.
Apa dia mencoba meracuniku dengan minuman ini? Tidak semudah itu.
Dyllan menerima gelas itu, tapi dia tidak meminumnya. Dia meletakan gelas itu ke atas meja. “aku tidak haus terima kasih.” Dyllan membuka jaket yang diberikan Kousuke tadi.
Dyllan memperhatikan wajah pria itu, wajahnya cukup tampan dengan postur tubuh yang bagus, Dyllan juga melihat banyak medali yang tergantung di dalam lemari kaca saat dia memasuki rumah tadi, mungkin pria ini adalah seorang atlet.
Pria itu duduk tepat di samping Dyllan dan tanpa ragu dia merangkul bahu Dyllan yang sudah terekspos sekarang, Dyllan menyingkirkan tangan pria itu dari tubuhnya.
“Kau mau apa?” tanya Dyllan.
Tanpa sepatah kata, pria itu tiba-tiba mendorong Dyllan dan langsung menidihnya. Dengan terburu-buru pria itu melepaskan seluruh pakaian Dyllan dan juga pakaiannya.
Bukannya memberontak, Dyllan malah diam dan menganggap ini bukanlah sebuah masalah.
Dan tanpa basa-basi pria itu melakukan apa yang dia rencanakan pada Dyllan dari awal. Dyllan hanya mengikuti alur permainan pria ini sampai pada waktu yang tepat.
***
Pria itu jatuh di atas tubuh Dyllan, napasnya masih terengah-engah.
Hanya segitu saja? Huh! Lemah sekali.
Ternyata beda jauh dengan Kousuke dan Dave yang begitu gagah sampai bahkan Dyllan kehilangan kata-kata.
“Kau spertinya menikmati aktivitas ini yaa.” ucap pria itu sembari bangkit dari tubuh Dyllan.
“Ya, sayangnya kau tidak segagah yang ku pikirkan, tenagamu tidak sesuai dengan perut kotak-kotakmu itu.”
Mendengar ucapan Dyllan, pria itu tersinggung dan terbawa emosi. “aku akan menghancurkanmu!” tegasnya.
“Kau memang pantas mendapatkan hukuman dariku.” ucap Dyllan.
Pria itu mengira bahwa Dyllan akan melaporkannya kepolisi.
Bahkan tanpa seorang polisi pun Dyllan mampu menuntaskan masalah ini.