
Takut bahwa Dyllan akan berbuat nekat untuk melaporkannya, bergegas pria itu beranjak membuka sebuah koper yang berada di atas meja.
Dyllan hanya memperhatikan, dia cukup penasaran dengan apa yang ada di dalam koper tersebut.
Sampai pada koper itu terbuka dan dengan semangatnya pria itu mengambil sebilah kapak yang paling besar dari antara benda-benda tajam yang ada di dalam koper tersebut lalu dia menodongkan kapak yang terlihat sangat tajam tersebut ke arah Dyllan.
Aahhh! Isi di dalam koper itu menarik perhatian Dyllan.
“Terima kasih untuk wajah cantik dan tubuh indahmu, tapi sayang kau akan berakhir di sini.” ucap pria itu.
Dyllan menganggukan pelan kepalanya sembari turun dari kasur, dia menggigit bibir bawahnya kala melihat begitu banyak pisau di dalam koper itu.
“Apa kau sering melakukan ini pada orang lain juga?” tanya Dyllan.
“Itu bukan urusanmu!”
“Kau tau, aku juga sama sepertimu. Namun, bedanya aku melakukannya pada orang-orang yang mencoba ikut campur dalam urusanku bukan seperti dirimu yang memilih acak untuk kepuasan nafsu semata.”
“Berhenti bicara omong kosong!” pria itu mengayunkan kapak yang digenggamnya ke arah Dyllan.
Tentu Dyllan tidak lugu dalam urusan seperti ini, dia menghindar dan melumpuhkan pria itu dengan begitu mudah. Lalu direbutnya kapak yang berada ditangan pria itu.
“Kau akan terlalu cepat mati jika aku melukaimu dengan pisau sebesar ini. Aku ingin penderitaan yang sempurna untukmu.” Dyllan menjatuhkan kapak itu di belakang tubuhnya.
Pria itu bangkit mencoba untuk melawan, namun lagi-lagi dengan sigap Dyllan menendang kepalanya dengan begitu keras sehingga pria itu kembali tergeletak di lantai.
Dyllan kembali menginjak-injak tubuh pria itu berulang kali sampai dia yakin bahwa pria itu sulit untuk bangkit
kembali.
Dia meraih salah satu pakaian mereka dan mengikat tangan pria itu kebelakang agar tidak dapat berbuat sesuatu.
Dyllan berdiri di hadapan koper yang sangat menarik perhatiannya tadi.
Dia menyentuh beberapa pisau yang berada di sana dengan jemarinya seakan menikmati bahwa energinya bertambah melalui pisau-pisau itu.
Dyllan mengambil sebilah pisau yang berukuran sedang, dia kembali pada pria yang sedang meringis kesakitan karena wajahnya yang sudah lebam dan beradarah serta tubuhnya yang sulit untuk digerakan.
Ternyata tubuh atletisnya tidak begitu tangguh berkelahi.
Bidadari pencabut nyawa ini berdiri di hadapan pria itu sambil memperhatikan dan mendengarkan dengan seksama rintihan kesakitan calon korbannya.
Dyllan menodongkan pisau itu ke arah pria tadi. Senyumnya mengembang hampir sempurna.
“Ka-kau?” ucap pria itu terbata. Dia tidak menyangka bahwa Dyllan, wanita yang menjadi korbannya bisa seganas dan menakutkan seperti ini, dia terlihat seperti bukan manusia, sekarang dia terlihat seperti iblis yang akan mencabik-cabik nyawa.
Dyllan menganggukkan kepalanya, dia tau apa yang ada di pikiran pria itu sekarang tentang dirinya. Dyllan tersenyum lebar lalu mengedipkan sebelah matanya, dan terjadilah apa yang sudah dia tunggu-tunggu dari tadi.
Dia menancapkan pisau ke leher pria itu dan darah pun muncrat dari luka tersebut. Dyllan menarik kembali pisaunya dan menancapkannya lagi pada pipi pria itu.
Pria itu hanya bisa menjerit tidak karuan, wanita ini benar-benar bukan manusia dia bahkan terlihat begitu tenang dan sama sekali tidak takut saat menikam seseorang dengan begitu keji.
Dyllan membalikan tubuh pria itu yang terkurap menjadi telentang dengan tangannya yang masih terikat di belakang.
Dengan jemarinya yang indah, Dyllan menyentuh tubuh atletis itu dengan perlahan, “aku akan memberikan hadiah pada tubuh ini.” Dyllan lalu menancapkan pisau ke perut bagian bawah pria itu dengan pelan. Lalu dia mengukir sesuatu di sana.
Hanya ada suara teriakan serta napas yang mulai tidak setabil dari pria tersebut.
“Selesai.” ucap Dyllan.
Siapa sangka, Dyllan menggambar alat kelamin pria pada tubuh itu.
“Gambarannya sangat indah, penuh dengan darah,” Dyllan tersenyum sinis, “namun, sayang kau tidak bisa melihatnya. Kepala-mu tidak sampai untuk melihat tubuhmu dalam kondisi seperti ini, tapi jangan khawatir, aku akan membantu, kau bisa melihat gambaranku dengan jelas melalui mata kepalamu itu.” Dyllan tertawa girang. Dia lalu meraih kapak besar yang dia jatuhkan ke lantai tadi.
Tanpa merasa iba, Dyllan mengambangkan kapak itu ke atas leher pria yang akan menjadi korbannya.
Pria itu menggelengkan kepalanya berulang kali dengan sisa-sisa tenaganya. Dia mencoba memohon pada Dyllan untuk tidak melakukan hal gila.
Namun, bukan Dyllan namanya jika tidak melakukan apa yang dia mau. Dan tiba-tiba …
PAAKKKKKKK!
Tebak!
Ya, sudah putus. Kepala pria itu sudah putus dan darah ada di mana-mana sekarang!
Dyllan mengambil kepala yang putus itu lalu meletakan kepala itu di atas tubuh sang pria.
“Sekarang kau bisa dengan jelas melihat hasil ukiranku pada tubuhmu.” ucap Dyllan sebelum dia mengutip pakaiannya dan pergi dari tempat itu.
***
“Bukankah itu Dyllan? Kenapa dia ada di jalanan ditengah malam seperti ini?” Dave dengan segera menepikan mobilnya di hadapan Dyllan.
Dia turun dari dalam mobil lalu menghampiri Dyllan. Betapa terkejutnya Dave saat melihat kondisi Dyllan yang sudah berlumuran banyak darah.
Dengan segera Dave menarik Dyllan masuk ke dalam mobil sebelum ada yang melihat keadaan Dyllan seperti ini.
“Kenapa kau bisa seperti ini?” tanya Dave saat mobilnya sudah melaju.
Dyllan tidak menjawab, dia hanya terus menatap Dave dengan tatapan yang menyelidiki.
Bukannya malah takut ataupun gelisah dengan tatapan itu, Dave malah menepikan mobilnya dan kembali menatap Dyllan.
Dyllan tersenyum kecil, sebelumnya tidak ada yang berani membalas tatapannya setajam ini, bahkan Kousuke sajapun tak pernah melakukannya.
“Pergilah Dave, selagi kau bisa lolos dariku.” ucap Dyllan.
Dave hanya diam dan terus menatap gadis itu.
Dyllan menghela napasnya, “aku berjanji tidak akan menyangkut pautkanmu dalam diriku lagi. Kembali jalani kehidupanmu dengan mommy dan menjauhlah dariku sebisa mungkin.” Dyllan membuka pintu mobil dan hendak turun, namun Dave mencegahnya dengan menutup kembali pintu itu dan menguncinya.
Lalu Dave tanpa sepatah katapun langsung meraup bibir Dyllan dengan cukup rakus.
***
“Kau ada waktu besok?” tanya Dave pada Dyllan.
Dyllan menggelengkan kepalanya, “untuk beberapa hari ini mungkin aku akan tetap berada dirumah, papa tidak mengizinkan aku untuk keluar rumah terlebih dahulu selain ke kampus.”
Dave mengangguk pelan. Ternyata orang seperti Dyllan masih bisa menuruti perintah orang tuanya.
“Kalau aku jemput kau di kampus besok, bisa?”
Dyllan mengangguk pelan, “baiklah, aku akan mengabarimu nanti.” ucap Dyllan lalu dia turun dari dalam mobil Dave yang dari tadi sudah terparkir di seberang rumahnya.
Dyllan berdengus kesal saat dia sudah berada di luar mobil. Dia harus memanjat pagar lagi agar tidak ketahuan para penjaga.
***
Jane membunyikan klekson dan membuka kaca mobilnya saat dia melihat Dyllan sedang berdiri di pinggir jalanan kampus mereka.
“Apa kau sedang menunggu taxi? Naiklah, aku akan mengantarkanmu.” tawar Jane.
“Tidak apa-apa, jemputanku sebentar lagi juga datang. Dia lagi di jalan.”
Jane menganggukan kepalanya, “oke, kalau begitu aku duluan.”
“Ya. Hati-hati.”
Tidak lama mobil Jane pergi, sebuah mobil kembali menghampiri Dyllan dan itu mobil Dave.
Dyllan segera masuk ke dalam mobil.
“Maaf membuatmu menunggu.” ucap
Dave.
“Ya, bukan masalah. Aku juga baru keluar dari kampus.” jawab Dyllan.
Dave tersenyum lalu melajukan mobilnya sampai pada mereka berhenti disalah satu bangunan yang hanya terdiri dari 1 lantai, namun bangunan tersebut terlihat begitu sangat luas.
Dyllan turun dari mobil, berjalan mengikuti Dave untuk masuk ke bangunan tersebut. Dave membuka pintu besi yang sangat lebar itu dan saat pintu tersebut terbuka, betapa kagumnya Dyllan saat melihat jejeran-jejeran mobil yang tertata rapi di dalam carpot yang sangat luas tersebut.
“Ini semua mobilmu?” tanya Dyllan.
Dave tidak menjawab dia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Dyllan melirik ke arah Dave saat pertanyaannya tidak dijawab.
“Begitulah, papaku adalah pengusaha dibidang otomotif. Jadi.…” Dave tidak dapat meneruskan ucapannya dia
hanya mengarahkan tanganya pada mobil-mobil itu.
“Di mana?” tanya Dyllan.
“Canada.”
Benar dugaan Dyllan dari awal, Dave pasti berasal dari luar.
“Lalu untuk apa kau membawaku ke sini?”
“Ahh… aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Dave mengajak Dyllan masuk ke dalam melewati para mobil-mobil berkualitas tinggi ini.
Ternyata di dalam bangunan ini terdapat beberapa ruangan seperti rumah pada umumnya.
Dave membuka pintu kamar miliknya dan mempersilahkan Dyllan masuk ke dalam.
Dyllan duduk di atas kasur Dave sembari memperhatikan keadaan kamar. Tidak ada hal yang mencuri perhatian
Dyllan di kamar ini hanya terdapat tempat tidur dengan ukuran besar, meja serta televisi dan sebuah lemari pakaian juga sebuah ruangan kamar mandi.
“Aku belum pernah mengajak siapapun ke tempat ini bahkan Harumi sekalipun.” Dave berjalan mendekati Dyllan, duduk di samping gadis itu. “Aku akan menikah dengan Harumi dalam waktu dekat.” ucapnya seraya memandangi wajah Dyllan. “tapi aku rasa aku tidak bisa.”
“Apa maksudmu tidak bisa?”
“Karena aku jauh lebih tertarik pada seseorang daripada Harumi.”
“Dyllan, maafkan aku. Tapi kau benar, aku memang tidak mencintai Harumi bahkan sejak hari ini aku mengenal Harumi, aku tidak pernah menyukainya.”
“Lalu kenapa kau mau dengan mommyku?”
“Perjodohan oleh pamanku.”
“Kau bisa menolaknya, kenapa kau malah menerima perjodohan begitu saja?”
“Aku tidak ahli dalam urusan percintaan seperti ini. Aku hanya berpikir untuk menikah dan mempunyai anak lalu semuanya akan berjalan dengan normal tanpa memikirkan siapa dan seperti apa pasanganku nanti.”
“Kau orang yang aneh,” Dyllan beranjak dari duduknya, "mommy begitu sangat menyukaimu, bagaimana kau bisa tega meninggalkannya begitu saja?” ucap Dyllan seraya hendak pergi dari tempat ini.
“Bagaimana aku bisa menikah dengan Harumi sedangkan aku jatuh cinta pada anaknya!”
Apa itu tadi?
Dyllan menghentikan langkahnya, membalikan badannya kembali menghadap Dave, “apa yang barusan kau katakan?”
“Aku jatuh cinta pada anak Harumi. Aku menyukaimu.”
Dyllan tertawa kecil mendengar pernyataan itu. Bagaimana cara dia memberitau pada Dave bahwa semua kejadian tentang dirinya dan Dave adalah sebuah permainan.
“Kau gila.”
Dyllan meraih ponsel dari saku celananya, “Kousuke jemput aku, aku akan mengirimkan alamatnya pad---“ belum sempat Dyllan menyelesaikan ucapannya, ponselnya sudah lebih dulu dirampas oleh Dave.
Dave mematikan ponsel Dyllan dan melemparkannya ke atas meja, pria itu lalu dengan segera menyudutkan Dyllan ke dinding dan mengunci pergerakan gadis itu dengan memegang kedua tangan Dyllan ke atas dan menghampit kedua kaki Dyllan sehingga tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua.
Dyllan hanya diam, tersenyum sinis. Pria ini benar-benar gila! Apa dia tidak takut dengannya?!
“Lepaskan aku, aku tidak mau berbuat kasar padamu sekarang.”
“Lakukanklah! lakukan apa yang ingin kau lakukan padaku. Kau bisa mengambil darahku ataupun menghancurkan kepalaku seperti yang pernah kau lakukan sebelumnya pada orang itu. Itu lebih baik daripada kau pergi dan menghilang dariku.”
“Gila,” Dyllan membuang wajahnya agar tidak menghadap Dave, dia berusaha untuk tidak berkontakan mata dengan Dave
Dan untuk pertama kalinya juga Dyllan merasa ragu untuk menatap mata seseorang.
“Aku menyukaimu Dyllan, apa itu salah?”
Andai saja Dave tau bahwa mencintai Dyllan adalah sebuah kesalahan yang besar.
Dave mendekatkan wajahnya pada Dyllan, berharap Dyllan dapat melihat sebuah ketulusan dari tatapannya.
“Aku tidak tau kau orang seperti apa, tapi aku tidak bisa berada jauh darimu. Bukannya kau mengatakan padaku
jika aku masuk dalam kehidupanmu maka aku tidak akan pernah bisa keluar kan? Dan sekarang aku sudah masuk dalam kehidupanmu, aku sudah terjebak dengan sikap misteriusmu aku sudah tidak bisa keluar lagi. Aku akan tetap berada bersamamu.”
Dyllan yang berusaha untuk tidak menatap Dave akhirnya usahanya sirna. Dave menarik perhatiannya dan perlahan mencoba membawa Dyllan untuk mengerti dengan pernyataannya itu.
“Kau terus berada dalam masalah jika tetap dalam keputusanmu. Setiap kali kau bersamaku kau selalu melihat dan
mengalami hal-hal buruk yang bahkan tidak pernah terpikir dalam benakmu. Apa kau tidak takut denganku?”
Dave menggelengkan kepalanya dengan yakin. “aku tidak pernah merasa takut denganmu, tidak pernah.”
***
Dyllan meraih ponselnya yang berada di meja samping tempat tidur. Seseorang sedang meneleponnya.
“Kousuke?” Dyllan dengan segera mengangkat panggilan telepon itu.
“Aku sudah menunggumu di depan, keluarlah.” ucap Kousuke.
“Aku sedang tidak berada di rumah sekarang.” jawab Dyllan.
“Aku tau kau sedang bersama pria itu. Keluarlah sekarang! Aku sudah menunggumu di depan.” ucap Kousuke lalu
mematikan sambungan teleponnya.
Dyllan bingung bagaimana Kousuke tau bahwa dia bersama Dave?
Dyllan dengan tubuh polosnya segera turun dari kasur, mengutip pakaiannya yang berserak di lantai lalu memakainya kembali. Napasnya saja bahkan masih belum teratur dengan normal karena aktivitasnya bersama Dave tadi, namun dia sudah harus buru-buru keluar dari sini.
“Ada apa?” tanya Dave bingung.
“Kousuke sudah menungguku di depan, aku harus menghampirinya.”
“Kousuke? Bagaimana dia tau jika kau ada di sini?”
“Aku juga tidak tau.”
Dave juga turun dari kasur dan memakai pakaiannya juga saat Dyllan sudah jalan menuju keluar kamar.
Benar saja, mobil Kousuke sudah terparkir tepat di depan pagar bagunan ini.
Dyllan berjalan menghampiri Kousuke dengan diikuti Dave dari belakang.
Melihat Dyllan berjalan ke arahnya. Kousuke langsung turun dari mobil dan segera membawa Dyllan masuk ke dalam mobilnya. Dia tidak membiarkan Dyllan mengucapkan sepatah katapun.
Setelah berhasil menyeret Dyllan ke dalam mobil, Kousuke menatap tajam kearah Dave yang sedang memperhatikan mereka dari jarak beberapa meter.
“Bagaimana kau bisa tau aku bersama Dave?” tanya Dyllan.
Kousuke tidak menjawab, pria itu hanya diam dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, bahkan dia
tidak peduli dengan keleksonan para pengendara lain karena mobil mereka yang melaju begitu cepat.
Kousuke membawa Dyllan turun dari mobil saat mereka sudah sampai di rumah milik Dyllan. Dia membawa Dyllan ke kamar tamu yang berada di bawah tangga.
Kousuke lalu melakukan hal yang sama pada Dyllan seperti yang Dave lakukan, dia menyudutkan Dyllan ke lemari dan mengunci pergerakan gadis itu dan tangan Kousuke sibuk membuka paksa pakaian Dyllan, tidak peduli dengan Dyllan yang terus mendorong tubuhnya agar menjauh.
Begitu pakaian Dyllan terlepas semua, Kousuke melihat banyak tanda bekas gigitan di tubuh wanita ini.
Mata sipitnya menatap Dyllan dengan dalam, seperti ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan, namun dia tidak bisa
mengatakannya.
Kousuke lebih mendekatkan lagi tubuhnya pada Dyllan, dengan perlahan dia menyusuri tubuh gadis itu, menimpa bekas gigitan serta bercak merah keunguan di tubuh itu dengan miliknya.
Dyllan yang merasa bigung mencoba menghentikan Kousuke, tapi Kousuke malah menghentakan pelan tubuhnya ke lemari, “jangan hentikan aku.” ucap Kousuke.
Dyllan menyandarkan kepalanya ke lemari, dia merasa bahwa dirinya tidak bisa lagi menghentikan Kousuke saat pria itu mengeluarkan jurus andalannya.
Lenguhan serta erangan mulai keluar dari bibir mungil Dyllan, dia bahkan sesekali meremas rambut Kousuke karena pria itu yang sesekali terlalu nakal bermain-main di bawah sana. tidak ada yang bisa melakukan hal sebaik ini yang membuatnya merasa sempurna selain Kousuke.
“Apa dia melakukan ini juga padamu? Hmm?” ucap Kousuke.
Dyllan tidak menjawab, dia mengarahkan kembali kepala Kousuke pada tubuhnya, meminta untuk Kousuke tidak berhenti melakukannya lagi.
.
.
.
.
"Maafkan aku." ucap Kousuke sembari membaringkan tubuhnya di sebelah Dyllan. dia merasa permainannya kali ini pada Dyllan terlalu kasar.
"Tidak apa-apa, aku menyukainya." ucap Dyllan sembari menutup tubuhnya dengan selimut.
***
“Kau sedang apa?” Dyllan menoleh ke arah sumber suara. “kau tidak melihat? Aku sedang menonton.” jawab Dyllan sembari menunjuk ke arah layar televisi.
Remaja dengan tubuh tegap dan mata yang sipit itu berjalan mendekati Dyllan, duduk di sebelah sang kakak sembari membawa sebuah toples berisi snack.
“Tidak biasanya kau ada di rumah, apalagi menonton TV di ruangan ini.” ucap Rian.
“Aku hanya bosan berada di luar rumah terus.”
“Bosan atau tidak diizinkan papa keluar rumah?”
Dyllan hanya menaikan kedua alisnya lalu mengambil beberapa snack dari toples yang dipegang Rian dan melahapnya.
“Kak…” panggil Rian.
“Hmm?”
“Apa aku boleh bertanya sesuatu padamu?”
“Ya, katakan saja.”
“Menurutmu, apa dia benar-benar mommy kita?”
Dyllan melirik ke arah Rian sejenak saat pertanyaan itu terlontar dari mulut sang adik.
“Aku rasa bukan.” jawab Dyllan lalu kembali fokus pada acara televisi.
“Semua temanku memiliki mommy yang hebat. Tapi kenapa kita tidak?”
Dyllan mengela napas kasarnya. Dia menoleh pada Rian dan menatap dalam sang adik. Tidak biasanya bocah ini mengatakan sesuatu seperti ini, biasanya dia akan lebih banyak diam.
“Lupakan saja dia, kita masih punya papa. Kau masih punya Zura untuk kau lindungi dan kau punya aku yang akan selalu ada untukmu. Jangan jadi lemah hanya karena wanita itu. Kita harus buktikan padanya bahwa hidup kita baik-baik saja tanpa terikat olehnya.” Dyllan menepuk pelan pundak Rian.
Rian tersenyum sembari menganggukan pelan kepalanya, “kau tau, aku senang memiliki saudari sepertimu walaupun terkadang kau sedikit menakutkan dan sangat menyebalkan. Tapi kau memang selalu ada saat aku butuh bantuan, kau juga menaikan derajatku sehingga tidak ada seorangpun yang berani menindasku lagi. Aku menyayangimu Dyllan.”
Dyllan tersenyum begitu tulus untuk pertama kalinya. “katakan saja apa yang kau butuhkan padaku, aku akan memberikannya untukmu.”
Begitu banyak bully-an yang diterima Rian dulu karena bocah itu yang belum terlalu mahir berbahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris dia hanya mahir dalam berbahasa Jepang, sehingga teman-temannya menganggap Rian berbeda dari mereka.
Namun, saat mengetahui bahwa sang adik menjadi bahan rundungan dan sering dikatakan 'aneh' oleh teman-temannya, Dyllan tentu tidak tinggal diam. Dia sedikit memberi pelajaran pada teman-teman adiknya dan dengan tegas mengancam mereka sehingga tidak ada yang berani menertawakan ataupun memandang aneh Rian lagi.
Pria itu bahkan memiliki banyak teman sekarang.