DADDY Or BABY ? (Psycho)

DADDY Or BABY ? (Psycho)
Daby 11



Dyllan sedang berada di depan lemari hendak memilih pakaian gantinya. dirinya penuh dengan noda darah saat melihat pertunjukan di basement tadi.


Dyllan sontak menoleh ke arah pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka. Ternyata itu Kousuke.


Kosuke memilih duduk di atas kasur sembari memperhatikan Dyllan yang kini hanya sedang mengenakan pakaian dalamnya saja.


“Jangan lihat aku dengan tatapan mesummu itu.” Dyllan dapat melihat pantulan diri Kousuke dari kaca lemarinya.


Kousuke hanya tersenyum tipis tanpa mengalihakan pandangannya dari rekannya. Dia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Dyllan.


Dyllan membalikan tubuhnya saat Kousuke sudah berdiri tepat di belakangnya.


Pria itu mengambil baju yang sedang dipegang Dyllan lalu melemparkannya ke atas meja, dia memperhatikan wajah Dyllan dengan lekat.


“Kau terlihat sangat cantik.” ucap Kousuke sembari menyentuh rambut Dyllan.


“Aku menyuruhmu datang ke sini untuk bicara.” ucap Dyllan.


Kousuke tersenyum kecil, dia mendekatkan bibirnya pada telinga Dyllan lalu membuka pengait bra yang Dyllan kenakan.


“Apa kau yakin hanya untuk bicara saja?” bisik Kousuke.


***


“Ibuku berhutang budi pada keluarganya, dan wanita itu meminta menikah denganku untuk bayarannya.”


“Jadi ternyata dia menyukaimu.”


“Kami teman masa kecil dulu, keluarganya menyelamatkan aku dan ibuku saat pemberontakan terjadi pada keluargaku, keluarga merekalah yang membiayai kami agar bisa kabur ke sini.”


“Jika kau berhasil menikahinya, maka kau akan kembali tinggal di Jepang kan?”


“Aku tidak menyukainya, aku hanya ingin bersamamu,” Kousuke mengelus lembut bahu Dyllan yang sekarang sedang duduk di pangkuannya. “aku tidak bisa menolak keinginan ibuku tapi aku juga tidak bisa mengabaikanmu.”


Dyllan menatap lekat wajah tampan itu. “aku atau ibu-mu?” tanya Dyllan.


Kousuke diam.


“Kau lebih pilih aku atau ibu-mu?” tanya Dyllan kembali.


“Apa maksudmu?” Kousuke hendak beranjak dari posisinya, namun Dyllan melarangnya, dia bahkan melingkarkan tangannya pada leher Kousuke.


“Jawab pertanyaanku. Aku atau ibumu? Ini kali pertama aku mengulangi ucapanku padamu sebanyak tiga kali."


“Dyllan, aku tidak bisa menjawabnya.”


Dyllan tersenyum kecil, “aku tidak suka dirimu yang ini.” Lingkaran tangan Dyllan kini beralih menjadi cekikan pada leher Kousuke.


Kousuke berusaha bersikap tenang walau dia kesulitan bernapas.


Dyllan semakin menguatkan cekikannya sampai akhirnya dia berhasil mengendalikan emosinya barulah cekikan itu terlepas dari leher Kousuke.


Kousuke mengambil napas dalam-dalam, dia juga memegangi lehernya yang memerah.


“Aku akan kembali ke rumah mommy.” ucap Dyllan. Dia mengutip pakaiannya yang berserakan di lantai dan menaruhnya di keranjang lalu memakai pakaian baru.


“Aku memilihmu.” ucap Kousuke saat Dyllan hendak keluar dari kamar.


Dyllan menghentikan langkahnya, dia membalikan tubuhnya kembali menghadap Kousuke.


Dyllan menggangguk sembari tersenyum kecil. “kau memilih orang yang salah.” ucapnya lalu pergi.


***


“Kakak....” Zura berlari menghampiri Dyllan memeluk kakaknya itu dengan sangat erat.


Dyllan bingung dengan tingkah Zura yang tidak seperti biasanya.


“Ada apa?” tanya Dyllan.


Zura hanya menunjuk ke dalam rumahnya, Dyllan tampak heran dan tidak lama terdengar suara pecahan kaca.


Dyllan menggendong Zura dan segera masuk ke dalam.


“Sudah ku katakan padamu berkali-kali, aku tidak bisa bersamamu lagi! Aku sudah menikah!” tegas Harumi pada seorang pria.


“Bukankah sebelumnya kita baik-baik saja? Kenapa kau meninggalkanku dan memilih menikah dengan orang lain?!” pria itu mengambil kembali gelas lalu melemparkannya ke lantai.


Suara bising gelas yang pecah membuat Zura sangat takut, dia memejamkan matanya sembari menutup kedua telinganya.


“Hei, kembalilah ke dalam kamar, dan kunci pintunya, kau mengerti?” Dyllan menurunkan Zura dari gendongannya. Zura menganggukan kepalanya lalu berlari menuju kamarnya.


“Kau gila ini rumahku keluar lah!” teriak Harumi.


Dyllan datang memasuki ruangan, mengambil belingan kaca dari lantai lalu berjalan menghampiri pria itu.


“Kau tidak dengar apa yang dikatakannya? Keluarlah.” ucap Dyllan.


“Aku tidak punya urusan denganmu, siapa kau?” tanya pria itu yang ternyata mantan kekasih Harumi.


“Larilah selagi kau bisa lari dariku, jangan datang ke tempat ini lagi. Kau mengganggu!” tegas Dyllan.


“Bajingan!!” pria itu kembali melemparkan gelas kaca, namun kali ini ke arah Harumi dan untungnya Harumi menghindar.


Dyllan menggenggam kuat belingan kaca yang dipegangnya, dia tidak peduli sudah berapa banyak darah yang telah tangannya keluarkan.


Gadis itu tersenyum kecil, dia mengangkat tangannya ke udara dan hendak menancapakan belingan kaca tersebut ke leher pria itu…


Namun, sayangnya Dave datang diwaktu yang tepat.


Dave mencegah tangan Dyllan lalu dia menarik Dyllan menjauh dari pria itu.


Pria itu tampak lebih emosi saat melihat Dave. ”jadi kau suami baru Harumi?”


Dave berjalan mendekati pria itu, “ya, aku suaminya, LALU APA HUBUNGANNYA DENGANMU BANGS*T!” Dave meninju perut pria itu dengan sangat kuat sehingga pria itu melenguh kesakitan.


“Keluar dari rumah ini! Jangan sampai aku menghabisimu di sini!” teriak Dave. Suara tingginya membuat desiran darah dalam tubuh Dyllan mengalir lebih cepat.


Dave menyeret pria itu dengan kasar keluar dari rumah.


Harumi menyandarkan tubuhnya ke dinding saat dia melihat darah bercucuran di lantai.


Dyllan membuang belingan kaca di tangannya lalu dia pergi menuju kamarnya.


Rasa sakit membuat dirinya merasa sempurna.


Dia tidak mengobati lukannya, dia bahkan memperhatikan aliran darah yang terus mengalir dari lukanya.


Jadi begini rasanya saat dia menyabet korbannya sehingga korbannya itu mengeluarkan darah yang amat banyak.


Dyllan tersenyum lebar, menikmati rasa sakit ini. Sebelumnya Kousuke tidak pernah membiarakan dirinya terluka sedikitpun.


Seketika senyuman Dyllan sirna saat pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


Dave datang dengan membawa kotak obat.


Dave menghembuskan napas kasarnya melihat kondisi Dyllan. Gadis ini benar-benar gila!


Pria itu melangkah menghampiri Dyllan, manarik tangan Dyllan yang terluka tanpa bicara sepatah katapun lalu dengan perlahan dia mengobati luka di tangan Dyllan.


Pria itu manatap Dyllan dengan lekat saat dia selesai mengobati luka tersebut. Dyllan terlihat begitu tenang terbalik dengan Dave yang terlihat begitu sangat khawatir.


“Jangan pernah bertindak bodoh seperti itu lagi, kau menyakiti dirimu sendiri.” ucap Dave.


“Aku baik-baik saja, ini bukan masalah untukku.”


“Tapi ini masalah untukku, aku mengkhawatirkanmu!”


“Aku baik-baik saja Dave, sungguh. Tidak apa-apa.” Dyllan tersenyum kecil. Senyum itu memang menandakan bahwa gadis itu terlihat sangat baik.


***


“Bagaimana dengan Dyllan? Apa dia baik-baik saja?” tanya Harumi saat Dave keluar dari kamar anaknya.


“Ya,” ucap Dave. “aku sudah memperban lukanya. Kau igin menemuinya?”


 “Hmm,” Harumi mengangguk pelan. “aku akan melihatnya sebentar.”


 Wanita itu menekan handel pintu kamar Dyllan dan membukanya dengan perlahan. Dengan langkah yang ragu dia masuk ke dalam kamar putrinya.


Dyllan menoleh ke arah Harumi, untuk apa Harumi ada di sini? pikirnya.


“Dyllan kau baik-baik saja?” tanya Harumi, dia mendekati Dyllan dan duduk di sampingnya.


“Siapa kau?” tanya Dyllan bingung.


“Apa maksudmu?”


“Tidak biasanya kau menanyakan kabarku.”


“Mommy melihatmu mengeluarkan banyak darah tadi.” ucap Harumi.


Dyllan tersenyum sinis, ini bukan mommy yang dia kenal.


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.” ucap Dyllan.


“Ya?”


“Jika suatu saat aku mati, apa kau akan sedih?” Mata Dyllan tampak begitu berbinar.


“Tentu, mommy menyayangimu kau tau itu kan?”


Dyllan menggelengkan kepalanya dengan tegas. “tidak, aku tidak tau itu. Kau hanyalah wanita egois di mataku.”


“Dyllan, mommy hanya---“


“Setidaknya ingat bahwa kau juga punya anak! Kau punya kehidupan yang lebih penting dari pada sosialitamu. Jangan pikirkan aku, pikirkan saja tentang Rian dan Zura mereka masih membutuhkanmu.” Dengan wajah yang memerah, Dyllan melangkah keluar dari kamarnya.


Dia juga butuh sosok ibu, namun dirinya sudah terbiasa hidup keras dan tidak berperasaan.


***


Hari sudah mulai gelap, gadis cantik itu memilih menghabiskan waktunya di sebuah taman yang sedang sunyi. Dia terus menatap ke langit. Pikirannya kacau, dia sedang tidak baik sekarang.


Dyllan mengabaikan panggilan dari Dave berkali-kali dia hanya ingin sendirian.


“Kau juga di sini?” Kousuke membuyarkan lamunannya.


Dyllan memasang wajah malas, dia memjamkan matanya sesaat.


“Kenapa kau di sini? kau menggangguku.” ucap Dyllan.


Kousuke meraih tangan Dyllan yang terperban, melihat dengan teliti tangan tersebut.


“Kenapa lagi dengan tanganmu?”


“Hanya tergores kaca, ini bukan masalah.”


“Aku tidak pernah membiarkanmu terluka selama ini, Dyllan. Namun, saat kau bersama pria itu, kau selalu mendapat banyak masalah.”


“Dave menyelamatkanku, aku sendiri yang membuat diriku terluka.”


“Apa kau menyukainya?” tanya Kousuke, “kau selalu membelanya.”


“Tentang Dave, itu bukan urusanmu. Biar aku saja yang menanganinya.”


Wajah Kousuke terlihat tidak suka dengan ucapan Dyllan barusan.


 “Aku akan membawa ibuku ke basement.”


“Untuk apa?" tanya Dyllan.


“Untuk membuktikan bahwa aku sunggguh-sungguh memilihmu.”


“Tidak perlu lakukan itu, kau terlalu sensitif, aku hanya bertaya saja padalan. Huffffhhhh... Buktikan saja dengan cara kau tidak akan pernah meninggalkanku.” Dyllan menoleh ke arah Kousuke.


“Tapi bagaimana jika kau yang meninggalkanku?”


“Tidak akan pernah ku lakukan. Aku juga akan mati jika kau mati. Itu janjiku padamu, tidak akan pernah ku ingkari.”


 Kousuke mengangguk pelan, “aku juga akan lakukan hal yang sama. tidak akan pernah ku ingkari janji itu.” Pria itu membawa Dyllan dalam rangkulannya.


“Aku percaya padamu.” jawab Dyllan.


***


“Bukankah sudah ku katakan, jangan pernah mengaitkan gadis itu lagi pada kasus ini!.” tegas seorang polisi dengan jabatan yang lebih tinggi kepada Adam.


“Aku hanya menanyakannya beberapa hal. Dia juga tidak keberatan untuk itu.”


“Apapun alasanmu, jangan pernah menemuinya lagi!”


“Pak, kau menerima suap dari ayahnya kan?”


Pria itu melotot tajam pada Adam.


“Ini adalah kasus yang sudah kita tangani bertahun-tahun dan kita tidak mendapatkan petunjuk apapun tentang pelakunya. Tapi sekarang kita punya gadis itu, kita belum pernah sedekat ini untuk menemukan bukti sebelumnya. Kenapa kau malah mengabaikan ini dan memilih uang suapan itu?!”


“Aku tidak mengabaikan kasus ini, kita akan tetap mencari pelakunya tanpa melalui gadis itu. Jangan pernah datangi dia lagi.”


“Kau menghilangkan kepercayaanku padamu, Pak.” ucap Adam lalu pergi.


“Dasar keras kepala!”


***


“Apa ini?” tanya Dyllan bingung saat Jane menyodorkan sebuah bingkisan padanya.


Jane tersenyum lebar, dirinya terlihat begitu gembira sekarang. “happy birthday!” ucapnya.


Dyllan menghela pelan napasnya, dia tersenyum kecil sembari mengambil bingkisan dari Jane.


“Kau pasti lupa bahwa ini hari ulang tahunmu kan?” ucap Jane sembari duduk di sebelah Dyllan.


“Hmmm….” gumam Dyllan sembari mengangguk.


“Selalu,” Jane memutar malas kedua bola matanya. “kenapa kau tidak pernah mengingat hari sepesial seperti ini?”


“Aku berharap aku tidak pernah dilahirkan, itu sebabnya aku selalu melupakannya.”


“Jangan bicara seperti itu,” Jane menyenggol sedikit pundak Dyllan. “kau orang yang kuat, itu sebabnya Tuhan memilihmu untuk dilahirkan."


“Tuhan memilih orang yang salah, Jane. Aku bukan orang baik."


“Ahhh, sudahlah kau membuat kepalaku pusing. Sekarang buka hadiahnya, aku ingin melihat ekspresimu.”


Dyllan mengangguk kecil lalu membuka hadiah dari Jane.


Sebuah sepatu berwarna hitam dan sedikit bercorak putih.


Dyllan tersenyum lebar, dia menyukai sepatu yang diberikan Jane padanya.


“Aku menyukainya terima kasih banyak.”


Jane mengangguk semangat sembari tersenyum lebar.


***


Dyllan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa sembari melempar pelan tasnya ke meja.


Hari ini sangat penat!


Kousuke tiba-tiba datang lalu mengecup bibir Dyllan. “selamat ulang tahun.” ucapnya.


Dyllan menutup telinganya kuat. “berhenti katakan itu! Aku sudah banyak sekali mendapat ucapan dari orag-orang."


“Kau tidak dapat hadiah dari papamu?” tanya Kousuke.


“Papa menaikan uang jajanku, itu sangat menguntungkan.”


Kousuke mengaguk pelan, uang jajan yang diberikan papanya sebelumnya saja sudah di atas normal, dan sekarang akan dinaikan. Sahabatnya ini akan semakin kaya saja!


“Aku punya hadiah untukmu,” Kousuke mengambil sebuah kotak di sakunya, dia membuka kotak itu di hadapan Dyllan. Dyllan tersenyum tidak percaya. Pria itu menarik sebelah tangan Dyllan lalu memasangkan cincin ke jari tengah Dyllan. “jangan pernah dilepas.” ucap Kousuke.


“Kau bahkan tau, aku tidak terbiasa dengan hal semacam ini.” Dyllan adalah orang yang anti mengenakan aksesoris di tubuhnya.


“Aku tau,” ucap Kousuke sembari mengangguk. “tapi kau harus terbiasa, karena ini pemberianku.”


“Okee….” jawabDyllan sedikit tertawa kecil.


“Aku ada satu hadiah lagi untukmu.”


“Apa?”


“Dia ada di basement. Kau harus ke sana sekarang dan melihatnya, aku yakin kau pasti menyukainya.” Kousuke menarik tangan Dyllan untuk ikut dengannya.


“Antusias sekali, kau bahkan tidak membiarkanku untuk mengganti pakaian dulu.” Dyllan mengikuti langkah Kousuke.


Dyllan melihat seorang wanita sedang di gantung dengan tangannya diikat ke atas, wajah wanita itu ditutupi dengan kain hitam.


Kousuke tersenyum pada Dyllan, dia tidak sabar untuk melihat ekspresi mengejutkan Dyllan nantinya.


Dyllan mengerutkan alisnya, Kousuke terlihat begitu bersemangat.


Dia melangkah mendekati wanita itu, memperhatikan kondisinya yang belum terluka sama sekali.


Dyllan membuka kain yang menutupi wajah wanita itu, seketika Dyllan tertawa kecil dengan ekspresi yang girang. Dia terkejut saat mengetahui siapa wanita ini. Gadis itu menoleh pada Kousuke dengan tatapan tidak percaya. “bagaimana bisa?” ucapnya.


“Kepalaku hampir pecah saat menangkapnya.” jawab Kousuke.


Dyllan kembali memperhatikan wanita itu, wajahnya menahan sakit karena kepalanya yang terluka dan wajahnya yang memar.


“Jal*ng SIALANNNN! Berani sekali kau menyentuhku!” teriak wanita itu.


“Aaahhh….” teriak Dyllan diiringi tawa. “sudah lama tidak mendengar suaramu teman lama.”


“SIALANNNN! Lepaskan dan hadapi aku! Jangan jadi pengecut seperti ini!”


“Hey! Aku mencari sudah lebih dari setahun. Dan saat Kousuke berhasil mendapatkanmu, kau minta dilepaskan? Kau kenal aku kan, aku tidak mungkin melakukan hal itu.”


“KAU TIDAK BERUBAH DASAR JAL*NG!”


Dyllan menampar wanita itu dengan sangat kuat.


Wanita itu meludahi wajah Dyllan


Dyllan tersenyum kecil lalu kembali menamparnya dengan kekuatan lebih.


Dyllan menghapus ludah wanita itu dengan lengan bajunya. Ini menyenangkan.


Joylin namanya, dirinya, Dyllan dan Kousuke bergabung pada kelompok rahasia, 'Azazel' nama kelompok tersebut. Sejak berumur 14 tahun Dyllan bergabung dalam kelompok peredar narkotika dan hal ilegal lainnya. Azazel adalah kelompok terkejam dan tiada tanding di kota ini. Paman Dyllan, si pemenggal kepala anjing juga bergabung dalam kelompok ini dahulu. tempat pemenggalan di belakang rumah neneknya adalah milik kelompok Azazel.


Dyllan pernah menjadi pengedar dan mengikuti latihan ekstra di sana. Dirinya yang sudah dibekali bela diri sejak kecil kala itu diasah lagi menjadi lebih tajam kemampuannya. Itu sebabnya Dyllan sangat kuat dan tidak takut pada apapun.


Semakin hari kemampuan Dyllan tidak diragukan lagi, dia juga dapat menghasilkan banyak keuntungan bagi kelompok itu sehingga Dyllan diminta menggantikan posisi Joylin yang saat itu menjabat sebagai asisten ketua, umur Dyllan baru menginjak 17 tahun bahkan waktu itu. Namun, Dyllan menolak karena dia mengenal baik Joylin dan wanita itu begitu sangat membanggakan posisinya menjadi asisten walaupun kala itu umurnya masih sebaya dengan Kousuke. Joylin anak yatim piatu, dia sudah bergabung dalam kelompok itu sejak sangat kecil. Dia adalah anak telantar yang diasuh dan diabdikan untuk kelompok tersebut.


Sayangnya Joylin menganggap penolakan Dyllan sebagai hal yang negatif dan tentu rasa iri hati.


Joylin lalu memilih Dyllan menjadi lawan tarungnya saat latihan, dia kalah dan hal itu semakin membuatnya tidak suka pada sosok Dyllan.


Joylin lalu berkali-kali mencoba menjatuhkan dan menjelekan nama baik Dyllan. Dyllan yang tidak tahan dengan sikap wanita ini, memilih keluar dari pasukan peredar narkotika dan pembantaian itu, dan berjanji akan membalaskan dendamnya pada Joylin.


***


Dyllan melangkah ke arah tirai, membuka kain tirai itu lebar-lebar dan mengambil sebuah pliers atau tang berwarna merah terang, dia kembali melangkah mendekati Joylin.


Joylin sangat terkejut melihat begitu banyak senjata di ruangan ini.


Dyllan menarik kursi lalu menaikinya, dia meraih jemari Joylin yang kini berubah warna menjadi biru pucat.


“Apa yang ingin kau lakukan?!”


Dyllan hanya tersenyum kecil, dia menjepit tang yang diambilnya tadi ke jari tengah Joyline.


“Kau benar-benar psikopat gilaaaa aaaahhhhhhhh….” Secara bersamaan dengan suara jeritan Joylin, Dyllan dengan kasarnya menghentakan serta mematahkan jari Joylin menggunakan tang berkali-kali hingga putus.


Darah Joylin kini sudah tidak dapat dikondisikan. Dyllan menyukai ini.


Dyllan turun dari kursi, memperlihatkan jari tengah yang putus itu pada Joylin.


Wajah Joylin memerah, ini sangat sakit!


“Kau menyukai Kousuke bukan? Minta tolonglah padanya, aku akan melepaskanmu jika dia membantumu.


Kousuke yang awalanya berdiri menyandar sembari menikmati tontonan, sontak dia langsung berdiri tegap “kenapa aku?” ucap Kousuke.


“Dia menyukaimu, dia pernah cerita padaku saat latihan dulu. Dia bilang kau cinta pertamanya.”


Kousuke menaikan kedua alisnya dia tidak tau hal itu dan tidak peduli juga.


Dyllan melangkah keluar, “aku menunggu di mobil.” ucap Dyllan pada Kousuke.


Kousuke mengangguk pelan, dia berjalan mendekati Joylin yang sekarang hanya dapat diam sembari menahan emosi.


Kousuke mengambil kain hitam tadi lalu kembali menutupkannya ke kepala Joylin.