
“Kau pulang saja bersama Rian dan Zura, mereka kelihatan sangat lelah. Untuk Dyllan biar paman saja yang akan mengantarkannya nanti. Paman masih ingin mengobrol dengannya.” ucap pria itu.
Kousuke melirik ke arah Dyllan menunggu reaksi Dyllan untuk ucapan sang paman tadi.
Dyllan menganggukan kepalanya pelan pada Kousuke, itu berarti dia setuju dengan ucapan pamannya barusan.
“Baiklah, aku pulang dulu.” ucap Kousuke pada paman lalu membawa Rian dan Zura pergi dari acara pernikahan yang super mewah ini.
“Paman ingin bicara apa padaku?” tanya Dyllan setelah melihat kepergian mobil Kousuke.
“Ikuti paman.” pria itu membawa Dyllan kembali ke dalam pesta, namun dia memilih tempat yang sedikit sunyi agar nyaman untuk mengobrol.
“Kau sudah berjanji pada paman untuk meninggalkan sifat burukmu dan berusaha untuk menjadi orang baik kan?”
“Ya, lalu?... Apa ada yang salah dengan janjiku dulu?” ucap Dyllan, dia selalu malas jika membahas tentang dirinya
pada sang paman.
“Paman melihat berita tentang wanita di bangunan tua, juga berita pembunuhan atlet. Itu bukan kau yang melakukannya kan?”
Hanya pamannyalah satu-satunya orang di keluarganya yang mengetahui sifat asli Dyllan. Dia sengaja membungkam mulutnya atas semua kekejian keponakannya itu untuk melindungi Dyllan dari hukum karena dia berpikir bahwa sifat keji Dyllan terbentuk karena dirinya sendiri. Sejauh ini dia juga berusaha untuk merubah Dyllan menjadi orang normal yang berperasaan walaupun usahanya itu selalu sia-sia.
“Bukan.” jawab Dyllan singkat.
“Dyllan, paman mohon dengarkan ucapan paman untuk kali ini. Kesenanganmu akan membawamu pada kesengsaraan, mungkin sekarang kau masih bebas, namun bagaimana jika suatu hari semua akan terungkap?”
“Tidak perlu khawatir padaku, urus saja diri paman sendiri. Akan ku jalani hidupku sesuai keinginannku.”
“Sadarlah Dyllan! Kau sudah dewasa sekarang! Berpikirlah yang jernih.”
Dyllan tersenyum sinis, dia menatap pamannya dengan begitu tajam. “akan ku sakiti siapa saja yang mencoba untuk mengatur hidupku walau itu paman sekalipun.”
Gadis itu beranjak dari duduknya pergi meninggalkan pamannya yang lagi-lagi hanya bisa pasrah.
Dyllan masuk ke ruangan toilet, dia membasuh wajahnya di wastafel, memandangi cermin yang sekarang sedang memantulkan bayangan dirinya.
Bagaimana bisa ada orang yang mencoba menghentikanku? Apa pria itu tidak bosan terus menasehatiku?
“Aku harus berbuat apa padamu, paman?” Dyllan memejamkan kedua matanya, mencoba menenangkan dirinya dari emosi yang mulai timbul.
Saat dirinya merasa mulai kembali stabil, Dyllan berjalan keluar dari ruangan toilet dan saat dia berada di depan pintu, tidak sengaja dia berpapasan dengan Dave.
Dave yang melihat Dyllan tiba-tiba berada di hadapannya segera mendorong tubuh Dyllan kembali masuk kedalam toilet.
.
.
.
Dyllan sontak mendorong tubuh Dave saat pakaian yang dia kenakan hampir terlepas.
“Jangan di sini.” ucap Dyllan sembari membenahi pakaiannya.
“Aku sudah tidak tahan lagi, acara pernikahan ini benar-benar membuatku frustasi.” Dave masih mencoba untuk merayu Dyllan, namun Dyllan tetap menolaknya.
“Temui aku setelah acaranya selesai di hotel dan kamar yang sama saat pertama kali kau membawaku waktu kita keujanan. Aku akan menunggumu di sana.” Dyllan meninggalkan Dave dan pergi dari pesta.
***
Harumi menatap bingung pada Dave yang sekarang sudah berubah status menjadi suaminya. Setelah selesai membersihkan dirinya, Dave memakai kembali baju pernikahannya tadi karena memang baju ganti milik Dave belum tersedia di sana.
“Kau mau kemana?” tanya Harumi bingung saat Dave mengambil kunci mobilnya di atas meja dan melangkah terburu-buru.
“Aku harus pergi, ada sesuatu yang tidak bisa aku tinggalkan sekarang. Maafkan aku, aku akan kembali secepat mungkin.” ucap Dave.
“Apa kau gila! ini hari pernikahan kita, yang seharusnya menjadi hari spesial untuk kita berdua! Tapi kau malah pergi demi urusanmu itu dan mengabaikanku?”
“Maafkan aku, aku benar-benar harus pergi sekarang. Kita masih punya banyak waktu,” Dave mengecup singkat kening Harumi, “istirahatlah kau pasti lelah.” ucapnya lalu segera pergi meninggalkan Harumi.
Tentu Harumi tidak menduga bahwa hal ini akan terjadi. Memang belakangan ini sifat Dave padanya sedikit berubah, Dave yang berubah menjadi sedikit cuek dan sering menghindar darinya, Harumi menyadari itu.
***
Dyllan membuka pintu saat bel berbunyi di kamar hotel yang dia pesan.
Gadis itu tersenyum sinis, “apa kau sangat tidak sabar sampai kau masih mengenakan baju pernikahanmu?” ucap Dyllan pada Dave.
“Sial! Kau selalu berhasil membuatku gila.” Dave mendorong Dyllan masuk ke dalam dan mengunci pintunya.
Dyllan menghindar saat Dave dengan wajah yang sudah tidak karuan melangkah mendekatinya.
“Bagaimana jika mommy tau bahwa suami barunya sedang berduan dengan anaknya di sebuah hotel? Apa kau tidak takut mommy akan marah? Padahal ini adalah malam pertamanya.”
“Jangan bicarakan siapapun saat kau sedang bersamaku.” Dave menyudutkan Dyllan ke tembok lalu dengan nafsu….
.
.
.
.
Erangan gila keluar dari mulut Dyllan dan Dave secara bersamaan. Betapa nikmat dan gilanya malam ini. Dave yang seharusnya melakukakannya bersama Harumi kini dia melakukan itu bersama Dyllan yang bahkan sekarang sudah berubah status menjadi anak tirinya!
Dave mengecup bibir Dyllan lalu ikut berbaring di sebelah Dyllan dari posisi tidihannya.
Dyllan menolehkan kepalanya ke arah Dave yang sedang mencoba mengontrol dirinya dan mengatur napasnya yang terengah-engah.
***
“Kau tinggallah di sini untuK sementara waktu, kau harus mengurus Zura. Mommy akan sibuk mengurus daddymu ditambah kegiatan mommy yang tidak bisa ditinggalkan.” ucap Harumi pada Dyllan saat dia sedang mengantar Zura kembali pulang ke rumah Harumi.
“Kalau begitu kenapa tidak biarkan saja Zura tinggal bersamaku dan Papa? Adikku pasti akan lebih terawat di sana.” jawab Dyllan.
“Tidak, Zura harus tetap di sini.”
“Kenapa? Kau sekarang sudah punya suami baru yang juga sangat kaya-raya bukan? Kanapa masih mengaharapkan uang dari papa dengan mengatasnamakan kebutuhan Zura?”
“Jaga ucapanmu Dyllan! Aku mommymu.”
“Ohh, kasihan sekali nasibku karena mempunyai mommy seperti dirimu.” Dyllan meninggalkan Harumi di ruang tengah dan kembali ke kamar Zura.
Percakapan antara ibu dan anak itu ternyata tidak luput dari perhatian Dave. Dave sekarang mengerti kenapa Dyllan begitu tidak menyukai mommynya sendiri.
***
“Kousuke?” Dyllan menghentikan langkahnya di sebuah cafe sederhana. Dia melihat Kousuke sedang duduk berdua bersama seorang wanita yang asing bagi Dyllan.
Dyllan memakai topi hoodie dan sedikit menutupi wajahnya dengan rambut panjangnya. Dia memilih meja yang berada tidak jauh dari meja Kousuke dan wanita itu.
Dyllan memperhatikan Kousuke dan wanita itu, mereka sedang berbincang cukup serius, namun sayang Dyllan tidak mendengar perbincangan mereka karena Dyllan yang sedikit menjaga jarak agar tidak ketahuan.
Kousuke terlihat cukup sabar mengahadapi sikap wanita asing itu yang sepertinya sedang marah dari raut wajahnya.
Dyllan mengeluarkan ponselnya mengirimkan pesan pada Kousuke tentang keberadaan sahabatnya, namun Kousuke berbohong dia mengatakan bahwa dia sedang berada di rumah ibunya. Hal itu membuat Dyllan curiga dengan hubungan kedua orang ini.
***
Sebelum pulang ke rumahnya, Dyllan menyempatkan untuk singgah ke sebuah salon. Dia memangkas rambutnya panjangnya menjadi pendek. Tidak ada alasan pasti mengapa dia memotong rambutnya dia hanya menginginkannya saja.
Kini wajah cantiknya tidak hanya terlihat menawan tapi juga terlihat sangat menggemaskan dengan rambut barunya, walaupun wajah dan sifatnya sangat bertolak belakang.
Dyllan membuka pintu pagar rumahnya. Dia tidak melihat adanya siapapun di rumah ini bahkan Kousuke tidak menugaskan anak buahnya untuk berjaga.
Saat dia sedang membersihkan sisa makanannya, Dyllan mendengar suara langkah kaki seseorang di rumahnya, itu pasti Kousuke.
“Dyllan?”
Dyllan menolehkan kepalanya ke belakang dan benar itu Kousuke. Sudah empat hari sejak pernikahan Harumi, kousuke dan Dyllan memang tidak saling bertemu.
“Ada apa denganmu?” tanya Kousuke bingung.
Dyllan membalikan tubuhnya, “apa maksudmu?” tanya Dyllan balik.
“Rambutmu? Apa itu?”
Dyllan tersenyum kecil sembari menggelengkan pelan kepalanya, “aku hanya ingin memotongnya saja.” ucap Dyllan
Kousuke berjalan mendekat pada Dyllan lalu menarik gadis itu ke dalam pelukan eratnya. Dyllan tentu bingung karena tidak biasanya Kousuke bersikap seperti ini tiba-tiba.
“Bisa kita bicara sebentar?” ucap Kousuke masih dengan memeluk Dyllan begitu erat yang dibalas anggukan oleh gadis itu.
***
Kousuke tersenyum melihat wajah baru sahabatnya ini, “kau cocok dengan rambut barumu.”
“Jangan tatap aku dengan wajah anehmu itu, aku tidak suka.” Dyllan menyandarkan kepalanya ke sofa, “apa yang ingin kau bicarakan padaku?”
Wajah Kousuke kembali berubah datar, “aku mungkin akan kembali ke Jepang untuk beberapa waktu.” ucap Kousuke suaranya terdengar tidak baik.
“Kau akan meninggalkanku?” Dyllan menolehkan kepalanya pada Kousuke.
“Tidak, aku akan kembali.”
“Pergilah, aku bisa mengurus diriku sendiri di sini.” ucap Dyllan.
Kousuke metap Dyllan dengan dalam. “aku pikir kau tidak akan mengizinkanku pergi.”
“Semua keputusan yang kau buat selalu benar, bahkan walau itu untuk hidupku sekalipun. Jika ada orang lain yang membuatmu merasa lebih nyaman, kenapa aku harus melarangmu untuk kenyamanan itu.”
“Apa maksudmu?”
Dyllan menatap langit-langit ruangan itu, dia diam sejenak. “aku akan baik-baik saja.” ucapnya.
Kousuke berdengus kecil, tidak ini bukan Dyllan!
“Kau tidak mau tau alasanku kenapa aku pergi ke Jepang?”
Dyllan menggelengkan kepalanya.
Kousuke menganggukan kepalanya pada Dyllan. “mungkin Dave telah berhasil menggantikan segalanya di hidupmu termasuk posisiku.”
“Jangan bawa Dave, ini tentang kau dan aku.”
“Aku akan membunuh pria itu sebelum aku pergi.” Kousuke hendak beranjak dari sofa namun Dyllan mencegahanya dan menarik tangannya untuk kembali duduk.
“Jangan sentuh dia. Dia tidak ada urusan apapun tentang kita.”
“Aku tidak peduli. Kau bahkan sudah sangat berubah hanya dalam 4 hari semenjak satu rumah dengan pria itu.”
“Kenapa kau bohong padaku?”
“Dyllan, jangan mengalihkan pembicaraan.”
“Kau bilang, kau sedang di rumah ibumu, namun nyatanya kau sedang berdua dengan orang lain.” Dyllan melemparkan ponselnya pada Kousuke yang sudah terpampang gambar Kousuke dengan wanita lain di layar ponsel Dyllan, “jika saja kau tidak berbohong padaku, mungkin aku tidak akan bersikap seperti ini padamu.” ucap Dyllan.
Kousuke tampak begitu terkejut saat melihat gambar dirinya dengan wanita itu. “dari mana kau dapat gambar ini?”
“Aku ada di sana.”
“Dyllan---“
“Ssssttt….” Dyllan mgancungkan jari telunjuknya pada Kousuke, “aku hanya berharap dia bukan orang yang salah untukmu.” ucap Dyllan lalu beranjak ke kamarnya.
Kousuke mengusap-usap kasar wajahnya. Dia tidak bisa menolak permintaan ibunya namun dia juga tidak bisa mengabaikan Dyllan.
“Maafkan aku ibu.”
***
“Aaaaaaa! Lepaskan aku! Sakitt… lepaskan aku!”
Dyllan mendengar suara jeritan di lantai bawah, dengan segera dia keluar dari kamarnya dan mengecek suara apa itu.
“Apa ini?” ucap Dyllan, dia melihat bercak seretan darah di lantai. Dyllan mengikuti arah darah itu dan ternyata menuju basement.
Pasti Kousuke!
Dyllan melangkah menuruni anak tangga dan benar saja seorang wanita sedang berusaha merangkak di bawah lantai dengan Kousuke yang sedang memegang seutas tali.
Dyllan bediri di depan pintu, memperhatikan kondisi basement-nya yang kini banjir dengan darah karena kaki wanita itu terluka parah. Namun, yang bikin bingung wanita ini adalah sosok yang Dyllan lihat waktu di cafe semalam.
Untuk apa Kousuke membawanya ke sini? bukannya dia akan pergi ke Jepang bersama wanita ini?
“Tolong aku, tolong hikkss….” Wanita itu memohon pada Dyllan.
Kousuke tertawa kecil, “kau memohon pada orang yang salah.” Kousuke menjambak rambut wanita itu dengan kuat sehingga wanita itu benar-benar berteriak kesakitan.
“Jika saja kau mendengar ucapanku dari waktu itu, mungkin nasibmu tidak akan seperti ini.” ucap Kousuke.
“クレイジーマンに行かせて!” (lepaskan aku pria gila!)
Wanita itu terus mengumpat pada Kousuke dalam bahasa Jepang.
“私はこの女性が好きです” (Aku suka wanita ini) ucap Dyllan.
Wanita itu kaget saat mengetahui bahwa Dyllan juga bisa berbahasa Jepang.
“Jangan terkejut seperti itu, papaku orang Jepang tentu aku bisa berbahasa Jepang,” ucap Dyllan seakan mengetahui isi pikiran wanita itu tentang dirinya. “kau lucu, biasanya orang yang dibawa ke ruangan ini akan berteriak meminta ampun bukannya malah mengumpat sepertimu.”
“ろくでなし!あなたとこの狂った男は同じであることが判明しました” (Diam kau bajingan! Ternyata kau dan pria gila ini sama saja.)
Dyllan malah tersenyum manis menanggapi ucapan wanita itu.
Kousuke melilitkan sebagian tali pada telapak tangan kiri dan kanannya. Dia lalu melilitkan tali itu ke leher sang wanita.
Suara jeritan serta pemberontakan wanita itu semakin menjadi-jadi.
Tanpa belas kasih, dengan kuat Kousuke menarik tali yang dililitkan ke leher wanita itu.
Wajah wanita itu tampak memerah dan mata sipitnya melotot keluar dia berkali-kali mencoba untuk bernapas, tapi tidak bisa dan gilanya semakin wanita itu kesakitan semakin kuat pula Kousuke narik tali tersebut hingga akhirnya beberapa detik kemudian, sudah tidak terdengar lagi suara serta pemberontakan wanita itu.
Kousuke melepaskan tali tersebut dari tangannya dan leher wanita itu. Terlihat tangan Kousuke memerah dan sedikit terluka. Namun lebih parah keadaan wanita itu, lehernya terluka parah hingga mengeluarkan darah.
Kousuke berjalan menuju meja, mengambil sebuah kapak lalu berdiri kembali di hadapan wanita yang sudah tidak bernyawa tersebut. Dan….
PAAAAKKKKKK
Suara kapak yang baru saja ditugaskan Kousuke untuk memutuskan kepala korbannya.
“Apa tontonannya menarik?” ucap Kousuke pada Dyllan.
Dyllan hanya tersenyum sembari memperhatikan cairan darah yang sedang mengalir membanjiri ruangan basement-nya.
“Setelah kau selesai membereskannya datanglah ke kamarku, aku akan menunggumu di sana.” Dyllan berjalan meninggalkan Kousuke dan mayat wanita itu.