DADDY Or BABY ? (Psycho)

DADDY Or BABY ? (Psycho)
Daby 03



Dyllan terbangun dari tidurnya saat suara dering di ponselnya berbunyi.


Dia melihat Dave yang juga sedang tertidur dengan nyenyak di sampingnya.


Dengan perlahan Dyllan turun dari kasur, berjalan ke arah tas ranselnya. Mengambil sesuatu dari dalam ransel itu lalu dia membuka pintu kamar hotelnya.


Sudah berdiri seorang pria yang tadi menemui Dyllan, si pelayan hotel itu. Namun, pakaian pria itu berubah menjadi lebihmformal dengan jaket hitam yang menutupi kemeja putih dan dasinya.


Dyllan memberikan kotak berwarna hitam dengan logo jam yang meunjukan pukul 6. Entah apa isi di dalam kotak berukuran setelapak tangan itu.


"Kau harus membekukannya." ucap Dyllan pada pria itu.


Pria itu hanya mengangguk lalu pergi begitu saja sembari membawa kotak berlogo jam yang Dyllan berikan tadi.


Dyllan berjalan ke arah jendela kamar hotel untuk menutup tirainya yang masih terbuka. Sejenak dia melihat ke luar jendela. Jalanan masih ramai ternyata walaupun hari yang sudah larut malam.


Dyllan kembali naik ke atas kasur, memandangi wajah teduh Dave yang sedang tertidur pulas.


Dengan hati-hati Dyllan mengarahkan jemarinya pada wajah tampan itu.


Dyllan menyentuh hidung Dave lalu turun ke bibir pria itu. Andai saja jika bukan untuk membalas dendam kepada mommynya, mungkin Dyllan sudah mengabaikan pria ini.


Dave sontak terbangun saat dia merasa tidurnya terusik.


Dengan segera Dyllan menarik tangannya sebelum pria ini sepenuhnya tersadar.


Dave duduk dari posisi tidurnya, menundukan kepalanya sembari mengusap-usap wajahnya.


Dia menoleh pada Dyllan yang sedang menatapnya.


"Kau sudah bangun?" tanya Dave pada Dyllan.


"Kembalilah tidur jika kau masih mengantuk." ucap Dyllan saat dia melihat mata Dave yang masih memerah.


"Aku lapar. Apa tidak ada yang mengirimkan makanan ke


sini?" tanya Dave.


Dyllan menggelengkan kepalanya pelan.


Dave menghembuskan napas kasarnya lalu dia meraih ponselnya. Dia mengetik pesan untuk seseorang.


Tidak lama datang seorang pelayan wanita sedang membawa makanan untuk mereka berdua.


Dave dengan segera menyantap makanan itu dengan lahap karena dia yang memang merasa sangat lapar.


Tapi Dyllan sama sekali tidak menyentuh makanannya dia hanya terus memperhatikan Dave.


"Kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak suka dengan makanannya? Biar ku pesankan makanan yang lain." ucap Dave saat melihat Dyllan hanya diam saja.


"Aku tidak begitu lapar." jawab Dyllan.


"Kau harus mencobanya ini enak sekali." Dave terus menyantap makanannya tanpa tau apa yang ada dalam pikiran Dyllan sekarang tentang dirinya.


Dyllan mengambil cup berisikan minuman dingin yang tersaji untuknya. Dia membuka tutup cup itu, namun bukannya meminumnya Dyllan malah dengan sengaja menumpahkan minuman itu pada celana Dave tepat pada pangkal paha atasnya.


"Ahhh, maafkan aku...." Dyllan berpura-pura bertingkah bahwa dirinya tidak sengaja menumpahkan minuman itu.


Dave sontak kaget dan menghentikan aktivitas makannya yang hampir selesai.


"Biar ku bersihkan." ucap Dyllan sembari mengambil sapu tangan putih yang ada di atas tampah makanan mereka.


Dyllan membersihkan celana Dave dengan kain itu, namun Dave merasa berbeda karna tangan Dyllan dengan perlahan berpindah tempat pada bagian tubuhnya yang lain.


Dave mulai menyadari bahwa Dyllan mencoba menggodanya saat tangan lentik itu mengusap bagian yang lain bukannya celana Dave yang tertumpah minuman.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Dave saat Dyllan terus memandangi wajahnya saja.


Dyllan mendekatkan bibirnya pada telinga Dave "aku ingin memakan dirimu saja, boleh?" Dyllan menggigit halus bibir bawahnya. "aku ahli dalam urusan ranjang," dan lagi-lagi Dave terus terganggu dengan tangan Dyllan yang nakal dan mungkin sekarang lebih liar. "kau ingin mencobanya bersamaku?"


Oke, sisi lain dari diri Dave keluar. Pria tampan itu terlihat terbawa suasana dengan rayuan Dyllan.


Dave menaruh tampah makannya kembali ke atas meja sebelah tampah Dyllan.


Lalu dengan perlahan dia membuka kancing kemejanya satu persatu sampai seluruh pakaian yang melekat pada dirinya terlepas semua.


Dyllan tersenyum melihat pemandangan yang ada di depannya. Entah apa arti senyuman itu hanya dia yang tau.


Harumi, kena kau. Pria-mu sedang berada dalam genggamanku sekarang.


.


.


.


Dyllan berjalan ke arah kamar mandi dengan tubuh polosnya, meninggalkan Dave yang masih sibuk mengatur napasnya.


Gadis itu menyalakan keran shower lalu mengguyur tubuhnya. Dave tidak begitu buruk ternyata, bahakan Dyllan menyukai permainan panas mereka tadi!


***


"Apa kau bersenang-senang semalam?" ucap seorang pria yang sedang bersama Dyllan.


"Ya." jawab Dyllan sembari memastikan koleksinya apakah masih utuh.


Kotak bergambar jam itu ternyata tidak hanya satu, namun ada beberapa di dalam sebuah lemari pembeku. Entah apa isi di dalam kotak itu, Dyllan terus memeriksa kotak itu satu per satu.


"Aku ingin mengenalkanmu pada seseorang." ucap Dyllan.


"Siapa?"


Dyllan mengembangkan senyuman tipis di bibir mungilnya, "tunggu saja, kali ini akan menarik." ucapnya.


"Ahhhh..." Pria itu menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi. "apa kau punya permaianan baru lagi sekarang?"


"Ya! Dan ini lebih seru dari sebelum-sebelumnya." ucap Dyllan dengan semangat.


Kousuke, namanya masih awam di telinga beberapa orang. Pria ini berdarah Jepang-Indonesia, sama seperti Dyllan. Waktu kecil dia sudah banyak menyaksikan berbagai kekejian dengan mata kepalanya sendiri termasuk pembantaian terhadap saudara laki-lakinya dan pembunuhan keji terhadap ayahnya juga penyiksaan dan kekerasan terhadap ibunya.


Kousuke dulu tinggal di Jepang dengan keluarganya yang harmonis. Sampai mereka memutuskan untuk pindah rumah karena alasan ekonomi keluarga. Namun, lingkungan yang dipilih sang ayah untuk dijadikan tempat tinggal adalah lingkungan yang salah.


Banyak gangster serta kasus-kasus keji yang sering terjadi di lingkungan tersebut. Sampai pada akhirnya ayahnya terlibat pertengkaran dengan salah satu tetua di lingkungan itu, sejak saat itu kehidupan keluarga Kousuke tidak lagi nyaman dan terjadilah pembantaian pada keluarganya oleh para pereman di sana.


Hal itu membuat ibu Kouseke memutuskan untuk kembali pulang ke negara asalnya, Indonesia. Dengan membawa sang putra agar terhindar dari gangguan masyarakat di sana.


Namun, kejadian keji itu tidak lepas begitu saja dari kehidupan Kousuke, bocah itu terlihat sangat cuek dan pendiam sejak saat itu. Dia juga sulit berinteraksi dengan orang lain.


Sampai pada akhirnya dia bertemu dengan Dyllan yang menurutnya cocok untuk dia lindungi dan sekaligus jadi perlindungan untuk dirinya.


Kedekatan Dyllan dan Kousuke pada awalnya tidak berjalan lancar. Namun, keseriusan serta wibawa kemisteriusan yang melekat pada diri Kousuke perlahan membuat Dyllan luluh, ditambah lagi Kousuke mengetahui semua jalan cerita Dyllan tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


Dan pada akhirnya mereka menjadi sangat dekat, bahkan Dyllan memberikan pekerjaan dengan gaji tinggi untuk ibu Kousuke di perusahaan sang papa. Kousuke banyak berhutang budi pada Dyllan sejauh ini. Namun Dyllan tidak memperdulikan hal itu, dia bahkan menganggap Kousuke sudah seperti keluarga sendiri karena Kousuke yang selalu ada untuknya kapanpun dan di manapun.


"Aku berharap aku tidak akan pernah meninggalkan rumah ini." ucap Dyllan.


Dyllan membangun rumah sederhana namun sangat luas di daerah pantai yang sedikit jauh dari jarak rumah papanya. Pantai ini tidak banyak diketahui orang-orang, jadi tidak heran jika lingkungan rumah ini terlihat begitu sepi. bahkan hanya ada rumah Dyllan yang berdiri kokoh di sini selain beberapa rumah kecil untuk para nelayan singgah.


Nelayan yang mencari ikan di pantai ini juga tidak banyak, hanya ada beberapa orang saja karena tempat ini yang sangat belum familiar bagi orang-orang.


***


Dyllan mengibaskan rambutnya yang tergerai ke punggungnya. Hari ini cuaca cukup panas, namun beruntungnya masih banyak angin kecil yang berlalu lalang jadi tidak begitu gerah.


Jane merasa frustasi dengan tugas kuliah hari ini. Dia menoleh Dyllan berharap temannya itu dapat membantunya. Dyllan sedang asik menyeruput minuman dinginnya lalu tanpa sengaja Jane melihat ke arah leher Dyllan yang sudah tidak ditutupi rambutnya lagi, dan Jane salah fokus dengan sesuatu yang menempel di leher temannya itu.


"Apa ini?"


Seperti cipratan cairan, namun apa?


Jane mengarahkan telunjuknya pada leher Dyllan untuk mengetahui noda apa itu. Betapa terkejutnya dia saat menyadari bahwa noda yang sekarang juga menempel di jari telunjuknya adalah cipratan darah.


Dyllan sontak memegang lehernya saat melihat ke arah jari Jane.


"Kenapa ada cipratan darah di lehermu?" tanya Jane dengan wajah bingung.


"Entahlah, mungkin itu bukan darah." jawab Dyllan.


Jane terlihat tidak yakin dia mencium noda yang masih menempel pada jarinya dan benar saja baunya anyir seperti darah.


"Ini beneran darah, Dyllan."


"Entalah, aku tidak tau darimana asalnya itu. Mungkin tanganku tadi terluka dan darahnya menempel saat aku memegang leherku." Kali ini alasan bodoh yang Dyllan ucapkan. Dia sendiri bingung dengan dirinya mengapa dia tidak menyadari bahwa ada cipratan darah yang menempel di lehernya.


"Sudah lupakan saja. Sebaiknya kau kerjakan saja tugasmu karena kelas akan dimulai sebentar lagi," Dyllan beranjak dari bangku taman kampusnya. "aku ke toilet sebentar." ucapnya lalu pergi begitu saja.


***


Dyllan membersihkan lehernya dengan tisu basah. Dia melihat dirinya pada pantulan cermin. Kenapa kali ini dia ceroboh seperti ini? Dirinya bisa saja terkena masalah dengan darah ini.


Dyllan dengan segera mengambil ponselnya di dalam saku


celananya, dia mengotak-atik handphone-nya untuk menghubungi Kousuke.


"Buang saja dia, aku tidak mau melihat bangkai saat aku pulang nanti." ucap Dyllan.


"Ya, baiklah. Aku akan menuju rumahmu sekarang." jawab Kousuke lalu mematikan sambungan panggilan.


Dyllan menghela napas kasarnya lalu handak berjalan keluar toilet, namun dirinya didahului dengan seorang wanita yang tidak asing baginya. Dia pernah berpapasan dengan wanita itu berapa kali dan kelihatannya wanita itu mempunyai sifat yang buruk dan suka mengoceh, tapi kenapa kali ini dia keluar dari dalam toilet dengan wajah bingung serta takut?


"Apa dia mendengar ucapanku tadi?" gumam Dyllan.


Dyllan kembali berjalan ke arah taman untuk menemui Jane, dia melihat gadis yang dia temui di toilet tadi sedang berbicara sesuatu pada Jane. Dan saat wanita itu tidak sengaja melihat kedatangan Dyllan dengan buru-buru dia pergi meninggalkan Jane.


Dyllan kembali pada tempat duduknya sembari memperhatikan wajah Jane yang terlihat aneh saat ini.


"Kau baik-baik saja?" tanya Dyllan.


"Apa ada bangkai di rumahmu?" tanya Jane pada Dyllan. Wajah gadis itu bahkan terlihat seperti tidak percaya dengan ucapannya sendiri.


"Ya, aku menemukan bangkai tikus di halaman belakang rumahku tadi pagi, dan aku menyuruh pembersih kebun untuk membuangnya." jawab Dyllan santai.


Ternyata kau mendengar pembicaraanku tadi.


***


Dyllan membuka pintu rumahnya dan sudah di sambut oleh Kousuke di dalam.


"Kau kelihatan sangat lelah sekali," Kousuke mengambil sebuah gelas lalu menuangkan air ke dalamnya dan dia memberikan itu pada Dyllan, "minumlah."


Dyllan mengambil gelas itu dan meminumnya sampai habis. Dia lalu membuka ponselnya dan menyerahkannya pada Kousuke.


"Aku tidak tau siapa dia, tapi dia kuliah di kampusku."


"Kapan kau ingin bertemu dengannya?" tanya Kousuke seakan mengerti dengan maksud tujuan Dyllan.


"Secepatnya. Aku harap kau tidak mengecewakanku."


Kousuke tersenyum kecil memandangi gambar wanita yang sedang tertampil di layar ponsel Dyllan.


Dyllan mengambil kembali ponselnya dari tangan Kousuke lalu beranjak dari duduknya. "aku istirahat dulu, hari ini sangat melelahkan." ucap Dyllan lalu melangkah menuju kamarnya.


***


Gadis itu merebahkan tubuhnya ke atas kasur setelah dia selesai membersihkan dirinya. Hari yang cukup menyebalkan, tapi dia yakin sebentar lagi dia akan bersenang-senang!


Dyllan memejamkan matanya sejenak tidak sengaja dia kembali terbangun saat ponselnya mendapati pesan masuk. Dari Dave ternyata.


"huffthhh... kenapa kau tidak lari saja dariku? Mungkin itu bisa menyelamatkanmu." gumam Dyllan.


Dyllan membuka pesan tersebut dan ternyata pria itu hanya menanyai kabarnya saja.


Basa-basi seperti apa ini?


"Apa kau ingin bertemu denganku? Kebetulan aku tidak ke kampus besok." Ketik Dyllan dalam pesan balasannya.


"Ya tentu." Pesannya segera terbalaskan.


Dyllan melempar ponselnya ke atas kasur. Bibirnya tersenyum lebar.


Apa pria itu tidak memperdulikan Harumi lagi sekarang?


***


"Kenapa kau terus memandangi ponselmu dari tadi?" Harumi menuangkan segelas jus jeruk lalu menyerahkannya pada Dave.


Dave hanya menggelangkan kecil kepalanya sembari tersenyum dan mematikan ponselnya lalu dia meneguk minuman yang diberikan Harumi.


"Sepertinya pamanku menyetujui jadwal yang kau sarankan untuk pernikahan kita." ucap Dave pada Harumi.


"Benarkah? Bagus dong." jawab wanita itu.


"Tapi kenapa kau membuat jadwal secepat itu? Kita bahkan belum seminggu bertunangan."


"Aku ingin lebih cepat untuk memiliki dirimu seutuhnya." Harumi menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Dave. Tampaknya wanita itu hendak menggoda Dave, namun kali ini Dave menolaknya.


"Aku harus pergi sekarang, mobilku mungkin sudah selesai diperbaiki." tolak Dave sembari berdiri dari duduknya menghindari Harumi.


Pria itu mengambil jaketnya yang tergeletak di kepala kursi lalu memakainya.


"Aku akan menghubungimu nanti." ucap Dave sembari mengecup singkat kepala Harumi lalu pergi begitu saja.


Tentu Harumi sedikit kecewa tapi harus bagaimana lagi?