
Dyllan membuka matanya perlahan, dia sudah terbangun dari tidurnya. Wanita itu melirik jam dinding dan ternyata ini sudah jam 5 pagi. Dyllan juga menemukan sebuah catatan di atas mejanya.
‘Sudah ku dapatkan. Ku tempatkan dia di ruangan favorite-mu.’ isi yang tertulis di kertas selembar itu.
Dyllan tertawa kecil, dia tidak menyangka bahwa Kousuke menuntaskan pekerjaannya secepat ini. Pria ini memang benar-benar dapat diandalkan.
Dyllan turun dari kasur dan segera pergi menuju tempat tersebut.
Dengan perlahan Dyllan menuruni anak tangga hendak menuju ruangan bawah tanah. Basement milik Dyllan terbilang cukup luas terdapat gudang di sana dan sebuah ruangan kosong yang hanya dapat dimasuki bebas oleh Dyllan dan Kousuke saja.
Dua pria tertunduk hormat pada Dyllan, pria-pria itu berjaga di depan pintu yang ditugaskan oleh Kousuke.
“Di mana Kousuke?” tanya Dyllan pada dua pria bertubuh cukup kekar itu.
“Tuan sedang ada urusan lain, Nona. Jadi dia pergi dan meminta kami untuk berjaga di sini.” jawab salah satu pria tersebut.
Kousuke memiliki banyak sekali kaki tangan di luar sana. dan itu semua dia pekerjakan untuk Dyllan.
Dyllan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan yang sangat gelap, dia lalu menekan saklar lampu dan menyalahlah 4 bola lampu secara serempak dan membuat ruangan itu bercahaya. Tapi, karena ruangannya sangat
besar 4 bola lampu tidak dapat menerangi dengan sempurna seisi ruangan, lampu yang dipasang juga bukan lampu dengan cahaya yang sangat terang jadilah keadaan itu membuat ruangan tersebut tampak sedikit redup.
Dinding ruangan yang berwarna putih sudah tidak utuh lagi warnanya, ruanganya cukup lebar dan terkesan menakutkan, dan yang paling mengerikan banyak sekali noda darah yang sudah mengering yang tersebar di lantai juga dinding ruangan.
Dyllan melihat sorang wanita sedang terikat di sebuah kursi dengan mulut yang dilakban dan mata yang ditutup dengan kain hitam.
Dia berjalan mendekati wanita itu lalu dia membuka penutup matanya.
Wanita itu mengerjapkan matanya berkali-kali karena silau. Berjam-jam sudah matanya tertutup dan baru sekarang kembali terbuka.
Saat pengelihatannya kembali normal, wanita itu menyadari bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di hadapannya, dia segera menoleh ke atas untuk melihat siapa orang itu.
Dan seketika air matanya tumpah saat dia mengetahui bahwa Dyllan-lah orangnya.
Dyllan tersenyum pada wanita itu, dia membuka lakban yang terpasang pada mulut wanita itu.
“Dy-Dyllan?” panggil wanita itu.
Senyum Dyllan beralih menjadi tawa. “kau mengetahui namaku?” tanya Dyllan.
“Kau cukup populer di kampus, mana mungkin aku tidak mengenalimu,” wanita itu mulai terisak, “Dyllan, selamatkan aku dari sini, ada seorang pria yang menculikku, aku sangat takut.” tangisnya mulai pecah.
Dyllan menganggukan kepalanya sembari tersenyum, “baiklah, aku akan membantumu keluar dari ketakutan ini.”
Harapan wanita itu sudah sangat besar agar Dyllan membantunya, tanpa dia ketahui bahwa Dyllan-lah dalang dari semua ini.
Dyllan membuka tirai berwarna hitam yang terpasang di dinding ruangan, dan ternyata isi di balik tirai itu adalah berbagai macam senjata.
“Kau ingin mati seperti apa? ada banyak sekali pilihan di sini.”
Wanita itu langsung lemas seketika saat dia melihat begitu banyak senjata berbahaya di sana ditambah lagi perkataan yang baru saja Dyllan ucapkan tadi.
“A-apa maksudmu? Lepaskan aku Dyllan, ku mohon... Bantu aku keluar dari sini, hikkss ….”
“Ini rumahku, mana mungkin aku membantumu keluar dari rumahku sendiri.” ucap Dyllan sembari mengambil sebilah pisau yang terlihat sangat tajam yang tersusun rapi di dinding tersebut.
Wanita itu semakin merasa ketakutan saat Dyllan berjalan ke arahnya dengan sebilah pisau yang cukup besar di tangannya. Dan seketika dia teringat dengan ucapan Dyllan di toilet kampus semalam.
Apa Dyllan seorang pembunuh? Apa bangkai yang dimaksudnya adalah bangkai manusia?
Wanita itu mulai menjerit tidak karuan, menangis terisak sampai terlihat seperti orang gila.
“Aku tidak menyukai mulutmu yang terlalu manis itu. Jika saja kau diam dan tidak memberitahu Jane apa-apa mungkin hidupmu akan lebih panjang dari ini.”
“Dyllan maafkan aku. Ku mohon, hikkss… Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku juga berjanji tidak akan memberitahu siapapun tentang hal ini. Ku mohon lepaskan aku! Lepaskan aku dan jangan sakiti aku! Ku mohon Dyllan hikkss… Hikksss….” Tangis wanita itu semakin menjadi-jadi.
Dyllan malah tertawa melihat calon korbannya bertingkah seperti ini. Dia menatap wanita itu dengan tajam seperti seekor serigala yang sedang menatap mangsanya.
“Dyllan, ku mohon jangan sakiti aku, ku mohon.” Wanita itu terus berusaha dan berharap agar Dyllan tidak berbuat hal yang mengerikan.
Dyllan berdiri di hadapan wanita itu sembari mengarahkan pisau yang dipegangnya pada leher wanita itu.
“Aku ingin bibirmu yang selalu mengoceh disetiap saat.” Suara Dyllan terdengar pelan, namun sangat menakutkan.
Dyllan melihat ke arah jam dinding yang ada di ruangan itu, ini baru jam 17.30. Dyllan tersenyum sinis, “kau beruntung masih mempunyai waktu 30 menit lagi, jadi gunakanlah waktumu untuk memohon ampunan dariku.”
Dyllan menarik kursi yang berada di sudut ruangan, lalu dia duduk di hadapan wanita itu dengan terus memperhatikan pisau yang dipegangnya dan wajah ketakutan wanita itu secara bergantian sembari menunggu waktu yang tepat.
“Dyllan hikkss… Ku mohon sadarlah. Jangan sakiti aku, aku ingin pulang hikkss….”
“Karena kau, Jane jadi menanyakan hal yang tidak pantas dia pertanyakan padaku.” ucap Dyllan santai.
“Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun. Ku mohon lepaskan aku. Kau membuatku takut….”
“Sudah seharusnya kau takut padaku.”
“Dyllan lepaskan aku, aku akan melakukan apapun yang kau perintahkan jika kau melepaskanku. Ku mohon Dyllan. Jangan berbuat hal yang buruk padaku….” Tangis serta beribu permohonan terus terucap dari mulut wanita itu dan hal itu semakin membuat Dyllan bersemangat.
Sudah hampir 15 menit mulut wanita ini tidak berhenti mengoceh, memohon pada Dyllan agar melepaskannya.
“Jika kau punya sedikit saja rasa kemanusiaan ku mohon lepaskan aku---“
“Sssttttt!” desis Dyllan tiba-tiba, “Sekarang katakan padaku bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Dyllan lepaskan aku! Ku mohon! Hikkss ….”
“Aku bertanya padamu bagaimana kau bisa ada di rumahku?! Siapa yang membawamu ke sini?” Dyllan menarik kursinya semakin dekat dengan wanita itu, “berhenti memohon dan katakan padaku sekarang.”
“Aku tidak tau. Tiba-tiba saja pandanganku gelap saat aku keluar dari cafe dan tiba-tiba aku ada di tempat ini.”
“Hutfffff… Kau tidak ahli dalam mengingat sesuatu ternyata.” Dyllan kembali menoleh pada jam dinding dan ternyata sekarang jarum jam tepat menujukan pukul 6 pas.
Dyllan tersenyum kecil, dia beranjak dari duduknya. Menendang kursinya ke sisi dinding lalu dengan segera dia menyabet lengan wanita itu dengan pisau yang dari tadi dipegangnya.
Tentu hal itu membuat sang wanita menjerit ke sakitan dengan diiringinya aliran darah yang keluar dari lengannya itu.
"Aaaaaaauw…." suara jeritan kesakitan wanita itu.
Dyllan berjalan kembali ke arah peralatan senjatanya yang tersusun rapi itu, dia mengambil sebuah alat yang tergeletak di atas meja, dia juga mengambil sebuah gunting dan sebuah batu yang berbentuk bulat sempurna dengan ukuran yang cukup besar dan sepasang sarung tangan.
Dyllan kembali menghampiri wanita itu. Dengan wajah datarnya dia menatap wanita itu dengan tajam, tatapannya sangat mengerikan.
Dyllan membuka paksa mulut wanita itu lalu menyanggah kedua sisi giginya dengan alat seperti yang dimiliki seorang dokter gigi saat hendak memeriksa mulut pasiennya, sang dokter pasti menyangga mulut pasien itu dengan sebuah alat agar terus terbuka lebar.
Dyllan memakai sebelah sarung tangannya lalu dia menarik lidah wanita itu dengan paksa.
“Aku berubah pikiran, aku rasa lidahmu lebih menarik dari bibirmu,” ucap Dyllan. “izinkan aku untuk memiliki lidahmu.”
wanita itu menggelengkan kuat kepalanya, mancoba menjerit sekuat yang dia bisa. Dia sungguh sangat ketakutan sekarang!
Tiba-tiba….
SERRRRRRRTTTTTTT
Suara gunting yang baru saja memotong sesuatu. Dan ya! Lidah wanita itulah yang di potong oleh Dyllan. Darah membanjiri penuh mulut wanita itu.
Dyllan terlihat sangat senang sekali saat melihat sebuah lidah yang berlumuran darah sedang berada di tangannya sekarang.
Dia tertawa terbahak-bahak diiringi dengan suara jeritan serta tangis wanita itu yang semakin kencang dan menjadi-jadi. Dia menahan rasa yang teramat sakit karena baru saja kehilangan lidahnya.
Dyllan membuka sarung tangannya yang sudah berubah warna menjadi merah akibat darah dengan potongan lidah yang sengaja dia simpan di dalam sarung tangan tersebut.
Dyllan mengambil batu besar yang tadi juga dibawanya. Dia mengarahkan batu itu ke atas hendak memukul wanita itu.
Teriakan semakin menjadi-jadi wanita itu menggelengkan kepalanya memohon pada Dyllan untuk berhenti menyakitinya.
Namun Dyllan bukanlah seorang manusia yang memiliki hati dermawan. Tanpa rasa ragu dan bersalah Dyllan melayangkan pukulan mautnya tepat pada lengan wanita itu yang tersobek tadi sehingga darah yang mengalir semakin banyak lalu Dyllan kembali mengangkat batu besar itu ke udara dan melayangkan pukulan mautnya yang kedua tepat pada kepala wanita itu dan …
Sudah berakhirlah hidup sang wanita.
Dyllan melemparkan batu yang berada di tangannya begitu saja. Setelah merasa cukup puas, Dyllan kembali mengambil pisaunya dan menancapkannya pada leher sang wanita untuk memastikan bahwa dia sudah benar-benar mati.
Dyllan mengambil sarung tangan yang berisikan lidah tadi lalu berjalan keluar dari ruangan dengan tubuhnya yang sudah berlumuran darah.
“Katakan pada Kousuke untuk membereskan semuanya, aku tidak mau melihat bangkai di sini.” ucap Dyllan pada dua penjaga yang masih setia berdiri di depan pintu tanpa bergeming sedikitpun.
Kedua penjaga itu mengangguk lalu menundukan sopan kepalanya pada Dyllan.
Siapa sangka, anak seperti Dyllan ternyata adalah seorang pembunuh kejam. Namun, itu semua tidak terlalu aneh jika di lihat dari latar belakang Dyllan dimasa kecil.
[Kisah masa kecil Dyllan]
Waktu Harumi sedang mengandung adik pertama Dyllan yang keguguran, Dyllan dititipkan dan dirawat oleh orang tua Harumi tepatnya pada ibu Harumi karena ayah Harumi sudah lama meninggal akibat sakit. Di rumah itu juga tinggal adik laki-laki Harumi.
Dyllan tidak bisa dititipkan pada kedua orang tua Joe karena ibu Joe yang memutuskan kembali tinggal di Jepang bersama adik perempuan Joe dan bibi mereka yang juga seorang janda, setelah papa Joe meninggal. Joe sudah
menawarkan agar ibunya tinggal bersamanya saja, namun sang ibu menolak karena keluarga sang ibu yang semuanya berada di Jepang, dia juga tidak mau menjadi beban untuk Joe karena dirinya yang sudah sakit-sakitan.
Waktu itu usia Dyllan masih menginjak 4 tahun. Dyllan yang biasanya hidup serba mewah kini harus hidup sederhana bersama neneknya.
Harumi tidak ingin mengurus Dyllan dan juga menjaga kandungannya secara bersamaan ditambah Joe yang juga sibuk bekerja. Jadi menitipkan Dyllan mungkin adalah keputusan yang tepat agar Dyllan tidak kehilangan perhatian. Tanpa mereka tau bahwa keputusan itulah yang menciptakan karakter mengerikan Dyllan sekarang.
Tidak jauh dari halaman rumah belakang sang nenek terdapat sebuah bangunan dan juga kandang yang cukup besar yang berisikan banyak anjing-anjing liar, mirip seperti peternakan anjing.
Lingkungan rumah neneknya juga tidak begitu baik karena banyak pereman jalanan yang tinggal di lingkungan itu. Kisah Dyllan dengan Kousuke sedikit mirip dan itulah yang membuat mereka dapat mengerti satu sama lain.
Hingga pada suatu hari Dyllan melihat sang paman pergi ke belakang rumahnya sembari memabawa sebuah kapak besar. Pamannya itu berjalan ke arah kandang anjing itu dengan beberapa orang yang sudah dulu sampai di sana.
Tanpa basa basi pamannya mengambil seokor anjing yang sudah disisihkan dari kawanan anjing lainnya lalu dia memenggal kepala anjing itu begitu saja menggunakan kapaknya sehingga kepala anjing itu putus dari badannya dan tiga orang yang lainnya pun melakukan hal yang sama.
Dyllan yang melihat kejadian itu bukaannya takut, gadis kecil itu malah semakin tertarik untuk terus memeperhatikan penggalan-penggalan kepala anjing berikutnya.
Ternyata itu bukanlah sebuah peternakan anjing melainkan sebuah tempat mengerikan bagi anjing-anjing yang kurang beruntung.
Mereka melatih semua anjing yang ada di kandang itu, jika anjing itu dapat terlatih dengan baik dan mudah tangkap, mereka akan menjual anjing itu dengan harga tinggi secara illegal dan jika anjing itu merupakan anjing yang sulit tangkap dan susah untuk dilatih, maka anjing-anjing itu akan dimutilasi lalu dagingnya juga akan dijual secara illegal.
Ternyata bukan hanya pemenggalan kepala anjing saja yang terjadi di tempat tersebut.
Disuatu hari Dyllan kembali menyelinap diam-diam mengikuti pamannya menuju ke gudang anjing.
Dengan kapak di tangannya, paman Dyllan berjalan santai tanpa mengetahui bahwa keponakan kecilnya itu sedang membuntutinya.
Setelah sampai di gudang, pamannya tidak melakukan pemenggalan anjing seperti biasanya, pamannya malah masuk ke dalam.
Lantaran tidak bisa ikut masuk, Dyllan menyusun sebuah batu agar dia dapat melihat ke dalam melalui jendela ruangan.
Mata Dyllan terus memeperhatikan ruangan itu setelah dia berhasil mengintip ke dalam. Begitu banyak cipratan darah di dalam ruangan, juga terdapat sebuah tirai hitam yang terbuka dan di balik tirai itu tersusun beberapa senjata mengerikan, persis seperti ruangan bawah tanah di rumah Dyllan. Ternyata gadis itu terinspirasi dari ruangan ini.
Dyllan juga melihat seorang wanita dan dua orang pria yang sedang terikat dan ditutup matanya. Dyllan masih bisa melihat bahwa ada beberapa luka memar di wajah orang-orang yang diikat tersebut.
Sedikit ada percakapan antara pamannya dan tiga orang yang biasa menemani sang paman saat memenggal kepala anjing.
Dyllan tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka lantaran suara seorang wanita yang terus menangis dan berteriak minta tolong.
Daerah belakang rumah neneknya masih tertutup seperti hutan dan hanya terdapat bangunan kandang anjing itu dan ruangan ini saja. Jadi tidak ada orang yang dapat mendengar suara-suara jeritan.
Seorang pria yang tidak Dyllan kenal melangkah mendekati satu pria yang terikat. Pria yang bertubuh tegap tersebut menyeret pria yang disandera agar sedikit menjauh dari yang lain. Dengan membawa kapak yang mirip dengan milik pamannya, pria kekar tersebut mendorong pria yang disandera sampai terjatuh dengan posisi miring ke lantai lalu pria kekar itu tanpa mengatakan apapun langsung mengibaskan kapaknya pada leher pria yang diikat, sangat mirip dengan yang biasa dia lakukan saat memenggal kepala anjing bahkan kepala pria yang terikat itu sampai benar-benar putus seperti kepala anjing
Dan seorang pria lainnya juga melakukan hal yang sama oleh salah satu sanderanya. Dia memenggal kepala pria itu juga seperti memenggal kepala anjing yang selama ini Dyllan saksikan.
Kini tiba giliran pamannya, Dyllan begitu antusias saat pamannya berjalan mendekati seoarang wanita yang tersisa itu.
Namun, saat pamannya beraksi, pamannya tidak melakukan seperti yang dua pria sebelumnya lakukan.
Pamannya membuang kapak yang biasa dia gunakan ke lantai, lalu mengambil sebilah pisau yang tersimpan di dalam baju sang paman. Dyllan mengenali bahwa itu adalah pisau dapur sang nenek. Pisau itu sangat tajam sehingga neneknya menggunakan itu hanya untuk memotong daging saja dan pisau itu sangat jarang terpakai walaupun selalu terpajang rapi ditempat penyimpanan.
Sang paman berlutut di hadapan wanita tersebut, dia menjambak rambut wanita itu ke bawah sehingga wanita itu mendongak ke atas sembari menjerit kesakitan.
“Andai saja kau bersikap sedikit lebih baik padanya, mungkin hidupmu akan lebih panjang dari ini.” ucap sang paman pada wanita itu.
Wanita itu menjerit tidak karuan dan memohon agar untuk tidak menyakitinya dan lagi-lagi suara rintihan serta permohonan yang terus wanita itu ucapkan membuat jantung Dyllan berdebar lebih cepat bahkan Dyllan seperti merasakan desiran darahnya yang melaju begitu cepat dalam dirinya. Dyllan menyukai ini.
Sang paman mengarahkan pisau ke leher wanita itu dan….
CUSSSSSSS!
Muncratan darah dengan deras berhamburan dari leher wanita itu. Pamannya mencabut pisau tersebut lalu kembali menancapkan pisau itu ke sisi leher yang lainnya sampai wanita itu mati barulah sang paman memenggal kepalanya.
Dyllan terus memperhatikan hal tersebut sampai pada bagian pemutilasian dia tetap setia berjinjit di atas batu untuk melihat semuanya berharap tidak ada satu kejadianpun yang terlewatkan olehnya.
Ternyata orang-orang itu juga melakukan hal yang sama pada daging manusia-manusia ini. Mereka menjualnya secara illegal atas perintah atasan mereka.
Dan sejak saat itu, keinginan Dyllan untuk melihat darah semakin meningkat. Dia juga ingin melakukannya sendiri.