
"Aku cukup yakin dia sekarat beberapa saat yang lalu, kenapa tiba-tiba pulih, lalu siapa sebenarnya ular ini." Gumam hiu itu yang kebingungan. Selain itu, dia merasakan kalo ular kecil di hadapannya saat ini telah benar-benar berubah.
Itu tidak seperti ular kecil yang dia kejar-kejar sebelumnya. Dia seperti menjadi makluk yang berbeda. Yang paling membuatnya bingung adalah nalurinya mengatakan kalo sosok kecil di depannya sangat berbahaya. Bahkan itu membuatnya sedikit takut.
Itu naluri alami seekor hewan ketika bertemu predator, kehidupan di alam liar benar-benar mengerikan. Jika anda bukan pihak yang memakan maka anda hanya akan menjadi yang dimakan. Penurunan gen dan kalkulasi seleksi alam selama jutaan tahun telah menyebabkan hewan-hewan berefolusi. Mereka memiliki naruli alami ketika merasa dalam bahaya.
Contoh saja seekor kelinci, anda tidak perlu memberi tau kalo harimau itu bahaya. Atau seekor tikus yang sejak lahir akan takut terhadap kucing. Ini adalah naluri alami yang diturunkan nenek moyang mereka dan tidak perlu ada yang mengajari.
[Ini pasti ilusi, racun itu pasti penyebabnya] Dia mengeram keras dalam hatinya mencoba melawan perasaan tidak nyaman ini. Perasaan merasa takut dengan hewan kecil itu sangat tidak termaafkan.
Ular hitam itu bahkan tidak memperhatikan perubahan perasaan hiu besar. Ular itu hanya diam di tempat dengan tenang seperti seorang Petapa. Sambil memejamkan matanya.
"Kau pasti memainkan trik denganku, aku tidak akan memaafkannya kali ini, sekarang matilah." Dengan Auman keras gelombang kejut yang kuat mengarah ke arah Sheng Feng. Serangan itu bahkan 3 kali lebih kuat dari pada yang sebelumnya. Hiu itu sepertinya tidak menahan sama sekali dan berniat menghabisi Sheng Feng dengan satu gerakan.
Merasakan serangan ke arahnya ular hitam itu membuka matanya berlahan. Dia nampak sangat tenang. Sekarang matanya berwarna ungu bersinar dengan cahaya lembut. Hal ini memancarkan keagungan tertentu yang membuat hiu besar ketakutan. Selain itu di antara kedua mata terdapa tato hitam mencolok menggambarkan seekor naga.
"Hu, seekor jendral daemon?" Ular hitam itu menatap hiu besar dengan jijik. Dengan sedikit kibasan ekornya gelombang kejut yang 3 kali lebih kuat itu hilang seketika.
"Apa? Siapa kamu?" Hiu itu merasa tidak tertahankan. Gerakan tadi sudah cukup mengkonfirmasi kalo apa yang ia rasakan itu benar.
Mendengar pertanyaan itu ular hitam itu hanya tersenyum dan berkata. "Aku adalah raja Seluru lautan!"
Hiu itu tidak menghiraukan ucapan acak ular kecil itu, Bagaimana seekor ular kecil berketa kalo dia raja lautan. Tapi yang jelas Hiu itu tau kalo sosok di depannya tidak lemah.
[Tidak aku bukan lawan] Dengan pikiran itu hiu besar langsung lari Tampa mempertimbangkan apapun. Ketakutan yang dia rasakan tadi seperti tidak palsu. Jadi keputusan terbaik adalah lari.
Meskipun itu memalukan untuk menjadi makluk yang hanya berani membuli yang lemah dan lari saat bertemu yang kuat. Tapi untuk apa anda melawan kalo anda tau akan kalah. Apa anda berbicara tentang kehormatan? Harga diri?
Hey, dia bukan kulivator manusia yang harus memikirkan wajah dan martabak. Apa dengan melawan keberadaan yang sudah jelas lebih kuat dari anda, akan membuat anda mendapatkan apresiasi? kehormatan?
Apa gunanya semua itu kalo pada akhirnya anda mati. Dia bahkan sering berpikir kalo kulivator manusia itu bodoh!
Dalam situasi ini melarikan diri adalah pilihan terbaik. Jika anda mati sekarang maka anda tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi jika anda mampu melarikan diri dengan nyawa anda, maka tidak ada kata terlambat untuk balas dendam.
"Mau lari?" Ular hitam itu mengangkat alisnya melihat hiu besar itu melarikan diri, dia tertawa kecil seperti melihat sesuatu yang lucu.
Ular itu membuka mulutnya lebar-lebar. Sesaat kemudian kekuatan hisap yang luar biasa muncul di mulut itu menyebabkan hiu besar yang sudah lari ratusan meter tertarik kembali kearah ular itu.
Hiu besar itu sangat panik saat tubuh besarnya meluncur dengan cepat. Keringat dingin bercampur dengan air laut. Ekspresi ketakutannya menjadi lebih serius.
"Kamu memaksaku untuk melakukan ini!" Teriak hiu itu dengan keras. Ketika dia sampai di tangan ular itu, dia tau kalo dia tidak akan memiliki ahkir yang baik.
Hiu itu langsung menghirup nafas dalam-dalam dan menahannya. Sambil menutup mata dan mulutnya rapat-rapat lapisan-lapisan es tipis mengembun di seluruh permukaan tubuhnya. Setelah beberapa saat tubuh besar hiu itu mengembang seperti ada yang meniup, itu tumbuh lebih besar dan lebih besar.
Melihat gerakan ini ular itu akhirnya menjadi serius, dia tau ini bukan hal yang baik. Dia langsung buru-buru menutup mulutnya tidak menghisap Hiu itu lebih dekat.
"Sayang, sudah terlambat." Hiu itu tertawa senang saat melihat ekspresi panik ular hitam. Dia bagaikan seorang teman yang memenangkan taruhan bola. Ekspresinya penuh kegilaan, seperti ini adalah kemenangan terbesar dalam hidupnya. Ekspresinya seperti mengatakan 'apa kau menyesal sekarang?'
Ular hitam belum sempat bereaksi, tapi hiu besar itu sudah 1 inci darinya.
"Baaaanggg!!"
Tubuh hiu yang sudah seperti balon itu akhirnya meledak. Ledakan yang sangat dahsyat yang menyebabkan air melompat setinggi 500 meter. Air itu kemudian membeku seketika menjadi tombak-tombak es yang indah. Tempat di mana hiu itu meledak telah menjadih kawah seluas 300 meter yang tutupi es. Dalam radius 12 kilometer sudah menjadi laut mati karena segala jenis kehidupan flora dan fauna mati begitu saja karena gelombang kejut ledakan, menyisakan daemon-daemon yang memiliki kekuatan. Lalu di susul dengan hujan es yang menyebabkan area dalam radius 15 kilo meter menjadi lautan es.
Di tengah-tengah kawah es seekor ular tergeletak seperti tidak bernyawa dengan tubuh yang di selimuti es. Seluruh tubuhnya di penuhi luka besar maupun kecil, sayangnya darah yang mengalir sudah lama membeku.
Angin badai es menyapunya tapi ular itu sama sekali tidak merespon. Secara perlahan es semakin tebal dan mengubur bangkai ular itu di bawah lapisan es.
Di istanah naga hitam Sheng Feng sekarang sedang duduk di singgasana. Menatap langit-langit istana dengan bingung.
"Di mana sebenarnya kakek itu?" Sheng Feng sangat kebingungan ingatan terakhirnya adalah saat dia di gigit hiu besar itu, kemudian tiba-tiba kesadarannya kembali ke istanah hitam ini.
"Jika jiwaku di sini apa artinya aku sudah mati?" Sheng Feng bertanya-tanya kenapa dia kembali ke istana ini.
Dalam benaknya dia selalu mengingat istana hitam ini, dan sosok kakek tua misterius itu. Bagaimanapun juga kakek itu adalah orang yang memberinya hidup.
Dia mungkin sudah lama tidak ke istanah ini namun ingatan tentang istana ini masih melekat di benaknya, bahkan dia merasa akrab dengan istana ini. Setelah mencari kakek tua itu di sudut-dudut istana Sheng Feng tidak menemukannya. Jadi dia mulai bermain-main dengan bosan. Sampai duduk di singgasana karena ingin merasakan bagaimana perasaan menjadi seorang raja.
"Ehhem, sepertinya kamu bersenang-senang." Saat Sheng Feng tenggelam dalam pikirannya sebuah suara yang akrab dengannya terdengar.
"Kakek!" Dengan reflek Sheng Feng langsung berdiri dan melihat ke sumber suara. Dia menemukan kakek tua yang dia temui 15 tahun yang lalu. Sosok ini benar-benar tidak pernah luntur dalam ingatannya.