
Sheng Feng benar-benar ketakutan. Meskipun sebelumnya dia pernah berkali-kali bertemu hewan yang kuat, bahkan beberapa membuatnya kesulitan. Namun baru kali ini dia memiliki perasaan tidak berdaya.
Perasaan kalo dia adalah makanan dan hidupnya bisa di ambil kapan saja benar-benar membuatnya tidak nyaman. Setelah beberapa hari di lautan Dia tau kalo kekuatannya telah bertumbuh sangat cepat.
Tubuhnya sekarang memiliki panjang 30 kaki, itu artinya kekuatannya sudah meningkat 2 kali lipat dari sebelumnya. Akan tetapi di hadapan kekuatan absolut hiu besar itu semua kekuatan dan perlawanan hanya menjadi omong kosong.
Dalam fisi Sheng Feng dia hanya melihat Hiu besar itu mendekatinya dengan santai. Mungkin hiu itu merasa kalo Sheng Feng sudah mati.
"Ah, kau masih hidup!" Hiu itu tampak terkejut merasakan aura kehidupan yang tampak dari Sheng Feng, meskipun itu seperti lilin yang akan padam kapan saja. tapi serangan tadi seharusnya cukup untuk membunuh Sheng Feng. Dia tidak pernah mengira kalo hewan kecil ini masih bisa bertahan.
Mungsu-mungsunya yang memiliki kekuatan setara dengannya akan terluka jika terkenah serangan itu.
Hiu itu tidak berpikir lebih jauh, ekspresi keterkejutan langsung berubah menjadi senyum menyeramkan. Seakan keterkejutan tadi hanyalah ilusi. "Hehe, karena kamu masih hidup maka ayah ini akan memakanmu secara perlahan, membiarkan kamu tau, apa itu yang namanya hidup lebih buruk dari pada kematian. Hahaha mungkin kamu akan memohon untuk di bunuh, tapi jangan mati terlalu cepat."
Sheng Feng hanya diam seperti mayat mendengar ocean hiu itu. Luka-luka yang dia alami membuatnya kesulitan berbicara. Melihat hiu itu memiliki fetis aneh untuk menyiksa mangsanya sebelum memakannya membuat Sheng Feng ketakutan. Mungkin itu juga alasan kenapa Hiu itu tidak menyerangnya secara langsung saat itu.
Tapi untuk alasan yang tidak di ketahui Hiu itu menggunakan teknik mematikan, berniat membunuh Sheng Feng. Untungnya fisik Sheng Feng cukup baik, sehingga dia masih bisa bertahan.
[Ah, mungkinkah beberapa mil kedepan bukan wilayah hiu itu] Sheng Feng tiba-tiba menebak kenapa hiu itu tidak membiarkan dia pergi lebih jauh. Setelah di alam liar cukup lama, dia tau kalo hewan-hewan kuat biasa menandai suatu wilayah kekuasaannya. Dalam wilayah kekuasaannya semua makluk di bawah kekuatannya adalah bawahannya, lebih tepatnya makanannya. Dan hewan yang memiliki kekuatan setara juga menandai wilayah lain.
Dan masing-masing predator biasanya tidak mau untuk mengganggu satu sama lain, kecuali jika itu di butuhkan. Selama makanan di wilayah mereka cukup banyak, lalu untuk apa bertarung dengan bertarung dengan hewan yang kuat. Kalopun dia menang, itu tidak menjamin dia keluar dari Medan perang Tampa luka sama sekali. Kalo dia terluka bukankah itu akan sulit untuk berburu di masa depan?
Ini sama seperti prinsip hanya ada 1 macan di 1 gunung. Jika 1 gunung memiliki 2 macan, maka mereka akan bertarung untuk memperebutkan wilayah. Itulah kenapa Hiu itu tidak mau mengejar lebih jauh.
Jika apa yang di pikirkan Sheng Feng benar. Itu berarti ada ada makluk lain yang memiliki kekuatan setara dengan hiu itu. Jika saja Sheng Feng bisa sampai sana, mungkin dia bisa selamat.
[Mungkin ada kesempatan] dengan pikiran itu Sheng Feng membulatkan tekatnya. Dia menggunakan seluruh kekuatan terakhirnya untuk langkah ini, dan berenang menjauh dari hiu itu.
"Mau lari?" Hiu itu bergerak cepat, langsung menggigit tubuh Sheng Feng. Bagaimanapun gerakan Sheng Feng tidak secepat sebelumnya, jadi dia segera ditangkap.
Sheng Feng mencoba melawan dan menggigit leher Hiu itu. Tentunya dengan bisa yang ganas yang ia latih bertahun-tahun. Ini adalah senjata pamukasnya dan selalu efektif membunuh hewan yang lebih kuat darinya.
Merasakan racun yang masuk ke tubuhnya membuat Hiu itu sedikit kesakitan. Tapi setelah beberapa saat racun itu di netralkan.
[Apa? Seberapa kuat dia?] Sheng Feng merasa tidak percaya.
"Usaha yang bagus nak, apa ada trik lain yang kamu miliki?" Sambil berbicara dia menggigit Sheng Feng lebih keras yang menyebabkan darah merah menyembur keluar. Menghirup aroma darah segar, hiu itu merasa tidak sabar untuk memakannya.
Di hadapkan dengan kematian di depannya, rasa sakit, tidak berdaya, penderitaan dan tubuh yang setengah mati, Sheng Feng hanya bergumam "apa aku layak untuk hidup?"
Pertanyaan itu tidak tau di tujukan untuk siapa. Apa itu orang tuanya di dunia sebelumnya, orang-orang yang meremekannya, teman-temannya yang membulinya, atau begal yang membunuhnya. mungkin orang tua yang di temui di istanah hitam itu yang membuat dia berenkarnasi, Raja Lele yang dia bunuh, atau penduduk desa yang selalu di ganggu olehnya. Dia benar-benar putus asa.
Segala jenis memori di putar dalam sekejap mata. Masa lalunya di dunia sebelumnya yang bahkan sudah di lupakan, di angkat lagi ke permukaan, membiarkan dia mengingat semua.
Dia merasa, baru kemarin dia lulus sekolah menenga dan mendapatkan beasiswa di universitas luar negri. Tampa dia duga waktu berlalu begitu cepat, membuat dia melalui banyak hal dalam waktu singkat. Dibunuh, dilecekan, dibully, dikucilkan, diburuh bahkan sekarang dia akan dimakan.
Setelah di ingat-ingat dengan benar, banyak hal telah ia laluhi. Entah itu di dunia sebelumnya atau di dunia saat ini. Tapi untuk apa semua ini? Untuk apa aku hidup? Bukankah pada akhirnya aku akan mati? Aku sudah pernah mati satu kali! Kenapa aku takut untuk yang kedua?
Sheng Feng menutup matanya pasrah atas kematiannya.
Tapi Sheng Feng merasa sedih, dia tidak tau kenapa dia sedih. Perasaan pahit memenuhi hatinya. Dia merasa ada sesuatu yang kurang, tapi dia tidak tau apa itu. hal ini benar-benar membuatnya tidak nyaman.
Apa? Ada apa denganku? Perasaan apa ini? Apa ada yang salah?
[Ah, mungkinkah aku mengecewakan?] Sheng Feng akhirnya tau kenapa dia merasakan seperti ini. Ini adalah penyesalan dan kekecewaan.
Dia kecewa karena tidak mampu membanggakan orang tuanya, Dia kecewa karena mati terlalu cepat sebelum mencapai tujuannya, Dan dia kecewa karena tidak mampu memegang sumpah yang ia buat di istanah hitam itu. Dia benar-benar kecewa terhadap dirinya sendiri karena tidak kompeten dalam hal apapun.
Dia sudah pernah bertekad di istanah hitam itu untuk menjalani kehidupan dengan bebas, meminum semua ahkohol, meniduri semua kecantikan, dan menjelajahi dunia tampa lawan. Jika dia pasrah atas kematiannya, bukankah dia membohongi dirinya lagi.
Di dunia sebelumnya dia telah membohongi dirinya sendiri, siapa yang bilang dia suka belajar? Siapa yang bilang dia tidak iri saat teman-temannya bermain di clup malam dan di temani wanita-wanita cantik.
Dia sebenarnya iri, hanya saja demi masa depannya, demi kebahagiaan orang tuanya, dan demi adik-adiknya. Dia rela membuang masa remaja untuk mimpinya. Yang pada akhirnya dia tidak menghasilkan apapun. Dia benar-benar mengecewakan.
"Aku sudah merasakan penyesalan sebelumnya, tapi tidak untuk yang ke dua kali!" Sheng Feng berteriak dalam hati. Membulatkan tekadnya lagi untuk melawan hiu besar yang menggigit tubuhnya. Dia menggeliat mencoba untuk lolos dari cengkraman Hiu itu.
"Mencoba untuk melawan?" Hiu itu mengejek melihat perjuangan Sheng Feng yang sia-sia.
Namun saat berikutnya membuat Hiu itu terkejut. Kekuatan besar meledak dari ular di mulutnya. Ular itu menggeliat liar menyebabkan dia terpaksa untuk melepaskan gigitannya.
"Apa?" Hiu itu hanya kebingungan, kenapa ular kecil ini menjadi kuat secara tiba-tiba.