
Musa masih saja terpikirkan oleh mimpi anehnya semalam. Ia bahkan tidak menggubris segala topik yang dibicarakan Liam. Kali ini ia tengah menyetir mobilnya, sementara Liam terus mengoceh seputar gol yang telah dicetak oleh pemain sepak bola idolanya, Cristiano Ronaldo, sejak bergabung dengan Al-Nassr FC di Liga Arab Saudi. Meski Al-Nassr belum berhasil meraih piala juara, Liam tetap akan mendukung tim itu, bagaimanapun ia tentu akan selalu memuji pemain andalannya meski sedang dalam masa-masa sulit sekalipun.
Dengan lagu-lagu Linkin Park di album Meteora dan Hybrid Theory yang terputar di sound tape mobilnya, Musa terus memikirkan Lyra, fokusnya kini juga pada lalu lintas kendaraan yang ia hadapi. Namun syukurlah mereka datang tepat waktu di kampus, bersamaan dengan ribuan mahasiswa yang hendak menyaksikan Grand Opening Pekan Olahraga Kampus di stadion olahraga kampus Para Den.
Baru saja sampai di stadion, mencari tempat duduk di mana mereka bisa duduk berdampingan dengan teman-teman yang mereka kenal, beberapa wanita centil datang menghampiri Musa dengan mengungkapkan seruan-seruan dukungan mereka, membuat Musa dan Liam bergidik ngeri. Yups, Liam turut tidak suka, bahkan sangat bersyukur karena tidak pernah diperlakukan sedemikian rupa; ia menganggap bahwa wanita-wanita yang mencari perhatian itu tidak memiliki harga diri.
"Musa, sayangku, cintaku, semangat ya buat futsal nanti, aku yakin tim futsal kampus kita akan menang!"
"Musa, you're the best, you'll be always my beloved one in this game,"
"Musa, jadi pacarku dong!"
"Musa, good luck, baby!"
"Musa, kalau tim futsal kita menang, kencani aku dong, aku siap kok kamu ajak ke manapun,"
Musa dan Liam menelan ludah saat menghadapi wanita-wanita lupa usia itu. Jika jenjang SMA mungkin masih dimaklumi karena pengaruh dari sinetron-sinetron televisi yang aktingnya alay kebangetan. Tapi please deh, mereka sudah kuliah; harusnya sudah mengerti situasi dan kondisi. Crush emang boleh, tapi kalau berlebihan seperti itu kan kesannya norak dan tidak mencerminkan karisma sosok mahasiswa.
"Udah, udah, jijik gua lihat muka lu pada!" seru Liam dengan tegas menegur para wanita centil itu. Ia pun menarik tangan Musa untuk segera duduk di deretan tempat duduk di mana banyak laki-laki sebaya mereka duduk di sana.
Perawakan Musa yang tampan dan gagah bak pangeran pada masa kerajaaan Nusantara lama wajar menjadi sorotan di mata kaum hawa Kampus Para Den. Terlebih lagi dia adalah sosok yang aktif berorganisasi dan memiliki jiwa sosial tinggi. Di samping menjadi bagian dari ESA (English Student Association) — sebutan untuk HIMA Prodi Pendidikan Bahasa Inggris serta tergabung di tim futsal kampus, ia merupakan anggota BEM FKIP (Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan). Musa juga terkenal sebagai seorang anak dari orang paling kaya nomor 4 di kota Para Den, bisa dengan hanya menerkanya melalui nama lengkapnya yang aneh: Formusa Centaurini.
Stadion olahraga kini dipenuhi oleh riuh sorak semangat para mahasiswa menyambut Pekan Olahraga Kampus Musim ke-72 yang mereka nanti nanti. Pekan ini juga diramaikan oleh para mahasiswa dari kampus-kampus lain yang tersebar di seluruh kawasan metropolitan kota Metro. Kampus Para Den telah menjadi tuan rumah pekan olahraga kurang lebih untuk yang ke-50 kalinya sejak diadakan. Setiap mahasiswa mulai meneriakkan nyanyian dan yel-yel mereka, bahkan semakin bersemangat ketika seorang wanita cantik berseragam almamater Kampus Para Den dan pria berkacamata yang visualnya biasa-biasa saja yang juga mengenakan almamater yang sama berjalan bersamaan menuju pentas tengah stadion, di mana terdapat dua mikrofon tersedia untuk mereka di sana.
"Good morning, everybody!" seru Mas Mulyo, salah satu dari dua orang yang kini akan menjadi MC (Master of Ceremony) acara itu.
"GOOD MORNING ..."
Seketika stadion yang ramai pun kini hening, menghormati sosok MC yang mulai menyampaikan kata-kata pembukanya di pentas tengah. Mbak Martha, di sisi Mas Mulyo saat ini, juga tersenyum begitu lebar; wajahnya tampak sangat cantik dan bercahaya, membuat setiap mahasiswa di dalam stadion mengagumi parasnya itu, terutama saat ia mulai berbagi dialog MC-nya dengan Mas Mulyo.
"..., baiklah, apakah kalian siap?!" seru Mas Mulyo pada setiap mahasiswa yang ada di stadion.
"SIAP!!!". Seruan pertanyaan Mas Mulyo itu disambut meriah olah ribuan hadirin, bahkan saat pria itu mengulangi pertanyaannya sebanyak 3 kali. Para mahasiswa benar-benar sangat menantikan Pekan Olahraga Kampus ini.
"Acara akan dibuka dengan tim Pemandu Sorak Kampus Para Den. Check it out!" seru Mbak Martha menggelegar ke seisi stadion, membuat para hadirin bersorak semakin meriah.
Sesaat ketika Mbak Martha dan Mas Mulyo turun dari pentas dan mulai meninggalkan arena tengah stadion, sekelompok gadis berseragam pemandu sorak yang minim tak sampai lutut mulai bergerombol memasuki lapangan. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar 22 orang.
Para anggota pemandu sorak yang fresh dan memiliki visual menarik itu mulai menampilkan gerakan kekompakan senam irama mereka, berpadu dengan slogan-slogan khas tim pemandu sorak. Musik beraliran dengan tempo bersemangat juga mulai diputar; lebih tepatnya "Faint" milik Linkin Park — yang mana para gadis mulai menari dan menampilkan atraksi mereka. Seiring penampilan para gadis itu, para penonton tak henti-hentinya bersorak ria. Suasana di dalam stadion benar-benar terasa hidup.
***
Di sisi lain, tepatnya di markas club teater. Masih saja ada seorang mahasiswa yang menyempatkan waktunya untuk berkunjung ke markas sendirian, alih-alih menghadiri acara pembukaan pekan olahraga di stadion. Ia adalah Lyra, ingin refreshing sejenak setelah semalaman penuh bergadang untuk penampilan drama musikalnya malam ini, ia telah menghafalkan rentetan lagu dan dialog yang cukup rumit, ia ingin menghibur dirinya pagi ini, selagi jam kuliah dikosongkan untuk pekan olahraga.
Sambil membaca kalimat per kalimat novel rilisan paling laris tahun ini, You've Reached Sam karya Dustin Thao yang masih berbahasa Inggris, Lyra larut dalam kisah cinta dua dimensi antara Julie dan Sam yang terhubung kembali setelah Sam meninggal dunia melalui telepon dari akhirat.
Penulis novel ini benar-benar keren. Bagaimana bisa dia sekreatif ini? batin Lyra saat telah selesai membaca seluruh bab novel.
Kira-kira kalau aku jadi penulis, gajiku berapa ya? pikirnya, masih sempat-sempatnya terpikirkan oleh tagihan rumah kontrakannya bulan ini dan biaya kuliahnya semester ini.
"Loh, Lyra, kamu nggak ikut nonton pembukaan POK?" tanya Rani, memasuki ruangan sambil membawa beberapa kardus besar berisi properti pementasan drama. Ia terkejut saat mendapati Lyra tengah bersantai di dalam markas sambil membaca novel.
"Nggak, aku lagi nggak mood," timpal Lyra, melirik sejenak ke arah Rani.
"Memangnya kamu nggak pengin dukung teman-teman seprodimu?" tanya Rani kemudian setelah meletakkan kardus-kardusnya. "Musa dan Liam ikut futsal kan? Terus Siska sama Johnny juga jadi perwakilan dance sport kampus. Anak-anak Bahasa Inggris loh kayaknya nggak ada yang nggak aktif, semuanya keren!" ujarnya.
Lyra terdiam sejenak. Apa yang dikatakan Rani memang benar. Tak ada satupun mahasiswa di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris angkatannya yang pulang-pergi kampus hanya untuk kuliah, mereka semua menonjolka kreativitas mereka masing-masing, entah itu dalam ekstrakurikuler kampus ataupun kegiatan berskala sosial yang diadakan oleh Kementeri Pendidikan, Riset dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) Kota Metro.
"Bukannya nggak mau dukung sih, Ran, tapi aku juga pengin waktu luang buat istirahat, mumpung nggak ada jam kuliah." ujar Lyra, mengutarakan maksudnya.
"Oh, aku jadi kamu mah mending nggak usah ke kampus, istirahat di rumah kan enak," timpal Rani. "Udah, ya, aku keluar dulu. Mau dukung anak-anak futsal!" serunya, keluar dari markas.
Kini Lyra kembali sendirian. Bayangan Rani tak lagi tampak di matanya. Kesepian mulai menemaninya di dalam ruangan. Tak ada hiburan apa-apa selain novel bergambar laki-laki dan perempuan yang saling bertelepon di tangannya itu. Bahkan ia telah selesai membacanya hingga tuntas. Ia bingung mau melakukan apa lagi.
Lyra pun mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya dan mulai mencari sesuatu yang bisa menghiburnya. Kini ia memeriksa Play Store, di mana ia bisa menginstal game yang ia sukai. Namun, ia juga bingung mau memilih game apa. Ia takut kalau sudah menginstal game dan memainkannya selama beberapa menit, ia bosan dan menghapus instalannya begitu saja. Itu akan sangat membuang-buang kuota data seluler yang ia miliki saat ini, terlebih-lebih lagi harga paketan data yang cukup mahal per bulannya.
***
Di atap stadion, Tom, mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris yang juga tergabung dalam Dewan Pers Kampus, mengenakan headphone dan mengambil alih seperangkat alat announcement radio; Ia kini berposisi sebagai announcer untuk setiap laga pertandingan selama enam jam ke depan.
Stadion semakin meriah terutama saat sesi futsal dimulai. Lagaknya futsal memang olahraga yang sangat digemari oleh kalangan mahasiswa di seluruh kawasan kota Metro, tak hanya Para Den. Bola digiring ke sana-kemari demi mencetak gol ke arah gawang. Para pemain futsal saat ini juga tampil dengan lincah dan bersemangat, meski juga beberapa pemain telah tertangkap jatuh berkali-kali saat berusaha merebut bola dari pemain lawannya.
Sesaat ketika Bayu, salah seorang anggota dari tim futsal kampus Para Den, berhasil merebut bola, ia pun berusaha menggiring bola dengan egois selama beberapa detik lalu mengarahkannya lurus ke arah gawang dan dengan keras menendang bola itu. Sayangnya tendangannya terlalu keras, membuat bolanya mengenai bagian atas gawang dan terpental ke belakang gawang.
"Oh, ternyata keras sekali tapi sangat jauh tadi sebuah tendangan dari Bayu, dia ini salah satu tukang gebuknya Para Den juga ya, Bayu memiliki tendangan keras tapi memang masih belum menemui .....,"
Setelah itu, bola berhasil direbut oleh tim futsal Ontario (tim lawan Para Den ronde ini), digiring oleh pemain lincah, Stefan Abdillah. Namun saat Stefan hendak menendangnya ke arah gawang, Musa dari tim Para Den berhasil merebutnya dan menggiringnya ke lain arah, lalu ia menendangnya ke arah Liam, membiarkan Liam yang mengarahkannya ke arah gawang.
"Bahaya kali ini, untung saja bisa direndam oleh Musa, lalu ke Liam. Liam mau menendangnya ke arah gawang dan ..."
Sayangnya Liam tidak berhasil mencetak gol. Bola yang hendak ia tendang ke arah gawang itu berhasil direbut oleh Lukman Nur Roziq dari tim Ontario, kemudian menggiringnya ke pemain-pemain Ontario lainnya tanpa membiarkannya terlempar ke pemain Para Den.
"Tapi ya tendangan Liam ini agak terburu-buru, ini kita menghadapi ..."
Hingga saat Stefan Abdillah berhasil mendapatkan bola, ia menendangnya dengan kuat ke arah gawang dan ...
"GOAL!!!!"
Tepuk tangan dan sorakan meriah memenuhi seisi stadion. Tim futsal Para Den mengalami kekalahan telak, sementara tim futsal Ontario berhasil mendapatkan pamor besar terutama saat Stefan Abdillah berkali-kali mencetak gol untuk yang ketiga kalinya, memberikan kemenangan luar biasa untuk tim futsal Ontario.
"Stefan Abdillah berhasil mencetak gol luar biasa dalam sejarah futsal pekan olahraga kampus ke 72 ini, ... Selamat kepada tim Ontario yang berhasil memenangkan pertandingan ini melawan tim Para Den dengan skor 3-0,"
***
Pukul 01.00 pm. Pekan Olahraga Kampus kloter pertama akhirnya usai dan akan dilanjutkan esok hari. Pekan ini akan dilaksanakan selama seminggu, mulai dari jam 9 pagi sampai jam 1 siang. Para peserta perlombaan bertema atletik dan permainan bola ini pun beristirahat di kantin kampus dan beberapa di antara mereka juga ada yang pulang ke tempat penginapan.
Di gazebo dekat Labolatorium Bahasa, tampak tiga laki-laki yang kini berjandom di sana; Musa, Liam dan Tom. Musa terlentang sambil memandang langit-langit gazebo, meratapi kekalahan timnya. Tom termenung di ujung gazebo, memperhatikan setiap orang yang lewat. Liam kini menatap ponsel, menonton video YouTube pertandingan sepak bola antara Uruguay dan Italia di Piala Dunia U-20 FIFA, sesekali ia heboh sendiri.
Tom yang hanya diam tanpa inspirasi pun mulai membuka ponselnya, berharap ada hiburan, seperti hanya yang saat ini dilakukan oleh Liam. Baru saja membuka ponsel, ia mendapatkan chat dari Lyra.
Lyra
Tom, temui aku di belakang panggung budaya.
Awalnya Tom heran, tak biasanya ia mendapatkan chat dari Lyra di luar adanya tugas kelompok. Namun, ia menyimpulkan bahwa mungkin ada sesuatu yang ingin diberitahukan Lyra padanya.
^^^Tom^^^
^^^Ok^^^
Setelah membalas chat Lyra, Tom pun mulai bangun dari duduknya.
"Mau ke mana, Tom?" tanya Liam, menanggapi Tom yang hendak pergi menuju suatu arah.
Musa masih memandangi langit-langit gazebo. Meski ia bisa mendengar segala percakapan di sekitarnya, ia tidak menggubris.
"Ini, Lyra nyuruh aku nemuin dia di belakang panggung budaya," jawab Tom.
"Oh, mau apa?" timpal Liam, bertanya.
"Entah," jawab Tom sambil mengangkat kedua bahunya.
Musa yang mendapati nama Lyra itu pun kini mengerutkan dahi. Melirik sejenak ke arah Tom, Musa mulai curiga, ia mulai berpikiran yang tidak-tidak antara Lyra dan Tom. Musa merasa aneh saat Lyra memiliki hubungan dengan laki-laki lain, ia hanya ingin sahabatnya itu dekat dengan dirinya seorang.
"Udah ya, aku cabut dulu!" seru Tom pamit pada Liam. Ia pun pergi menuju tempat yang disebutkan Lyra dalam chat, belakang panggung budaya.
Di sana, tampak Lyra dan Novia, dua anggota club teater, tengah membawa beberapa tiket drama musikal mereka. Lyra akan memerankan karakter Mrs. Baker, sedangkan Novia memerankan karakter Cinderella, yang mana kedua karakter itu cukup penting di dalam alur cerita Into the Woods yang akan ditampilkan pada pementasan drama nanti malam.
"Hai, Tom, sini!" seru Lyra antusias, melambaikan tangannya pada Tom begitu melihatnya dari arah kejauhan.
"Ini, tiket untuk teater kami nanti malam, tolong datang ya, bagikan sekalian sama anak-anak Bahasa Inggris lainnya. Makasih." ungkap Lyra saat memberikan tiga puluh lembar tiket untuk menonton teater kampus pada Tom.
"Oh oke, makasih juga ya tiket gratisnya," timpal Tom senang saat menerima tiket-tiket itu.
"Oh ya, ini titip sekalian, undangan buat fotografer anggota Dewan Pers, kemarin pimpinan redaksimu udah mengonfirmasi persetujuan kerja samanya dengan club kami!" seru Novia sambil memberikan selembar kertas folio dengan tulisan mirip surat pada Tom.
Sebelum Tom undur dari, beberapa mahasiswi dari prodi lain turut datang ke tempat itu untuk mengambil tiket teater.
"Udah, ya, aku pergi dulu. Sekali lagi makasih tiketnya!" seru Tom pamit.
"Iya, sama-sama," timpal Lyra tersenyum lebar ke arah Tom. Gadis itu memang ramah seperti biasanya. "Jangan lupa datang ya!".
Saat Tom kembali ke gazebo, ia hanya mendapati Liam duduk sendirian di sana.
"Loh, Musa ke mana?" tanya Tom sambil memberikan sebuah tiket untuk Liam.
"Tadi pamit pulang dulu, mau ngerjain tugas linguistik Mr. Witono katanya," timpal Liam.
"Loh, bukannya jam kuliah dikosongkan selama seminggu ya buat Pekan Olahraga?!" timpal Tom heran.
"Ya itu mah hak asasi Musa, mungkin aja dia udah tobat buat jadi rajin kan?" timpal Liam asal-asalan. "Btw, makasih tiketnya. Dari Lyra kan ya?" tambahnya saat menerima tiket dari Tom itu.
"Oh, terus minggu depan kira-kira kita beneran ada kelas Praktisi nggak sih? Kan jadwal Pekan Olahraga berlangsung seminggu?" tanya Tom.
"Mudah-mudahan aja libur, lagi malas ngelihat muka songongnya Bu Farrah aku," timpal Liam seenaknya, tanpa melihat-lihat situasi.
"Dengar dari anak-anak prodi lain sih kelas Praktisi itu bakal dibawain sama dosen tamu, Mrs. Farrah kayaknya nggak bakal ikut ngajar deh," ujar Tom.
"Ngomong-ngomong, kamu nggak ada keinginan pulang sekarang kah?" tanya Liam tiba-tiba sambil mematikan ponselnya. Ia menguap, mengantuk.
"Iya, aku udah capek," timpal Tom.
"Ya udah, pulang yuk!" seru Liam beranjak menghampiri Tom. "Mampir ke rumahnya Musa dulu ya, motorku aku tinggal di sana tadi sebelum ke kampus. Musa bawa mobil tadi," ucapnya saat mulai berjalan bersama Tom menuju ke tempat parkir. Mereka berdua kemudian saling berboncengan menggunakan motor milik Tom.
***
Di dalam kamarnya, Musa kini menangis seorang diri, memikirkan Lyra. Ia kini tak mengenakan baju, terlentang di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamarnya di saat matanya telah dipenuhi oleh air mata juga hidungnya yang perlahan mengalirkan ingus.
Di mata banyak orang, Musa adalah sosok tegas yang hampir tidak pernah tampak menangis. Yeah, jika ia ingin menangis memang ia selalu mencari waktu untuk sendirian. Bagaimanapun laki-laki juga manusia, yang pastinya memiliki emosi untuk menangis.
Mungkin Musa dan Lyra memang hanya sahabat, tapi rasanya ia telah terlanjur memiliki perasaan sayang terhadap gadis itu, walau tidak pernah memiliki ketertarikan seksual padanya. Baru dua hari ia tidak berkomunikasi dengannya pun itu cukup menyakitinya, ia takut bahwa persahabatannya ini akan putus selamanya.
..."Tiga hari untuk pembuktian kalau tidak ada apapun diantara kita,"...
Ucapan Lyra malam itu terus saja menghantui kepala Musa. Bahkan saat mengetahui bahwa Lyra memiliki hubungan yang cukup dekat dengan direktur club teaternya, Ken, ia merasa begitu kesal. Ia tak bisa menyimpulkan perasaan apa yang ia miliki terhadap Lyra.
Rintik demi rintik air mata mengalir perlahan dari pelupuk matanya, membuatnya dibuat bingung oleh emosinya sendiri. Musa pun memejamkan mata sejenak, membayangkan sesuatu yang indah. Sayangnya, bayangan Lyra selalu muncul di kepalanya, menyapanya dengan ramah di hari-hari sebelumnya saat mereka masih dekat.
"Hai, Musa!" seru Liam dan Tom tiba-tiba muncul di kamar Musa, sontak mengejutkannya, membuat lamunannya tentang Lyra pudar seketika.
"Ngapain kalian kemari?" tanya Musa heran. Ia pun segera bangun dari rebahannya. Namun matanya yang tampak sembab tentu tidak bisa membohongi keadaan.
"Loh, kamu habis nangis?" tanya Liam pangling. Ia tersenyum heran mendapati Musa yang kini tampak begitu imut layaknya remaja laki-laki yang baru masuk SMP.
"Masa ngunjungin temen aja nggak boleh sih, Mus?" sahut Tom. "Tadi udah izin pembantumu kok, katanya masuk kamarnya aja gitu," tambahnya.
"O, ya, jangan bilang siapa-siapa ya kalau aku lagi nangis," timpal Musa mencoba menyeka air matanya.
"Chill. Aku kemarin juga nangis kok pas dimarahin mamaku gara-gara uang jajan bulan ini udah habis. Benar, kan, Tom?" timpal Liam masih bersemangat.
"Iya, nangis sampai ngiler-ngiler nih anak kemarin," sahut Tom, menertawai Liam. Namun tampaknya Liam menganggapnya biasa, asalkan tak ada gadis yang melihat.
"Nggak ada cewek aja kok, Mus, tenang!" seru Liam sambil menepuk-nepuk pundak Musa.
"Ya, aku lagi pusing sih sebenarnya," timpal Musa.
"Memangnya kamu nangis kenapa, Mus? Perkara tim futsal kita kalah tadi ya?" tanya Liam penasaran.
"Nggak apa-apa kok, nggak ada apa-apa," timpal Musa yang kini sudah tidak menangis.
Liam memandang ke arah Musa dengan tatapan heran, mengangkat alisnya seolah-olah ia mencurigai sesuatu.
Tom tak sengaja melihat beberapa foto kebersamaan Musa dan Lyra di atas kasur. "Wow, foto kapan ini?" tanya Tom sambil mengambil salah satu foto. Tampak Musa dan Lyra duduk berdekatan sambil memamerkan mie instan yang mereka makan saat itu.
"Pas ulang tahun Lyra kemarin lusa," jawab Musa.
"Jangan bilang kamu nangis gara-gara Lyra," sahut Liam.
"Ngomong-ngomong, emang Musa sama Lyra kayak dingin banget di kampus dari kemarin. Kalian habis tengkar apa gimana?" sahut Tom.
Musa menggelengkan kepala, seraya mengatakan 'tidak'. Lalu ia mengambil beberapa foto dirinya dengan Lyra itu dan menyobek semuanya sebelum akhirnya ia buang ke tong sampah.
"Dia bukan sahabatku lagi!" seru Musa tegas. Kini ia benar-benar tahu apa yang harus ia lakukan agar tidak selalu bergantung pada gadis itu.
Liam dan Tom saling melirik satu sama lain.
"Sebenarnya kalian ada apa sih?" tanya Liam.
"Berarti nanti malam kamu nggak ikut nonton teater?" tanya Tom memastikan.
"Apaan sih, Tom. Kan pemeran teater nggak cuma Lyra doang," sahut Liam.
"Maksudnya?" tanya Musa heran.
"Loh, kamu nggak tahu?" tanya Liam heran.
"Enggak," timpal Musa yang masih belum memahami konteks.
"Nanti malam Club teater kampus kita dapat jatah tampil di alun-alun kota loh." ujar Liam.
"Ini Lyra juga udah ngasih aku tiket buat seluruh mahasiswa prodi Bahasa Inggris. Semuanya udah kebagian, kurang kamu ini." sahut Tom sambil memberikan selembar tiket pada Musa.
Kini Musa sedikit legah saat tahu kalau Lyra memanggil Tom tadi hanya untuk memberikan tiket-tiket.
"Gimana, kamu nonton nggak?" tanya Liam. "Kalau nonton, ayo bareng!" serunya.
Musa mulai menyalahkan dirinya sendiri. Ia kini menyesal telah menyobek semua foto-foto noraknya dengan Lyra, sementara ia sebenarnya masih menyukai gadis itu.
"Diam berarti iya," sahut Tom.
Malam harinya, tiga laki-laki itu pun berangkat bersama menuju alun-alun kota di mana panggung teater megah telah terbangun apik beserta segala dekorasi bertema fairy tale yang kreatif. Tak ada kursi di sana, hanya gelaran karpet plastik besar-besaran yang sekiranya dapat menampung ratusan penonton.
"Yuk ke tenda mereka, kasih dukungan buat Lyra!" seru Liam.
Tom mengangguk-angguk antusias.
"Musa nggak ikut nggak apa-apa, biar kami aja!" seru Liam.
"Hai, Musa!" sapa seorang laki-laki dari arah kejauhan.
Musa, Liam dan Tom pun mencoba memastikan penglihatan mereka saat sosok itu berjalan mendekat. Rupanya Arjun, salah satu teman dekat Musa dari Prodi Fisika Murni.
"Kalian nggak langsung duduk?" tanya Arjun. "Yuk duduk sama kami di sana!" serunya.
"Kami nyusul aja ya, aku sama Tom mau ke tendanya anak-anak teater dulu!" seru Liam.
"Loh, Musa nggak ikut emangnya?" tanya Arjun.
"Nggak mood katanya," timpal Tom.
Liam dan Tom pun bergegas pergi menuju tenda para anggota club teater yang kini sibuk menyiapkan penampilan mereka.
"Ya udah yuk, Mus, ayo ke sana!" ajak Arjun.
Di tengah jalan menuju tempat duduk yang disediakan Arjun, Musa tak sengaja menyenggol seorang gadis. Gadis itu awalnya mau marah, namun langsung membalikkan mukanya dan pergi begitu tahu kalau itu Musa. Cahaya di tempat duduk penonton memang gelap, tidak secerah sorotan lampu di langit-langit panggung. Jadi, Musa tidak bisa melihat siapa yang barusan disenggolnya itu.
***